
78
Perut lu wei benar-benar bergejolak. Tangannya gatal ingin melakukan hal kriminal. "Tidak peduli! Aku tidak peduli! Aku tidak mendengar! Aku sedang bernafas!"
Wohoo jawaban yang indah, kawan! Tapi sayang sekali itu tidak bisa menjawab kebingunganku!
Xing'er menyela, "Saranku, kalian jika diberi kesempatan untuk hidup, rajin-rajinlah bersedekah." Orang tua ini rasanya ingin jualan popcorn saja, barangkali si Xing'er ini akan memborongnya. Dari sekian wajah, hanya dia yang menyunggingkan senyum.
Eh, ralat. Maksudku semua wajah yang uangnya tercuri. Sedangkan yang tidak tercuri, binar syukur terpampang hampir jelas. Beberapa dari mereka bahkan seperti menorehkan suatu kalimat, 'Aku beruntung tidak membawa uang, aibku tidak terbuka'.
Sudah mengerti bagaimana konsepnya, 'kan?
"Orang pelit akan mati terlilit, orang pelit akan mati karna sembelit, kenapa begitu? Karna mereka kebanyakan harta, menimbunnya dalam perut dan tidak membaginya! Terlilitlah! Terlilitlah!"
Ini slogan atau mereka sedang unjuk bakat paduan suara? Tapi terdengar sedikit bagus, ya, mengerikan. Li na sedikit merasa geli-geli takut dengan kata-kata itu. Orang pelit akan mati karna sembelit. Pertanyaannya, dia sering sembelit apakah dia juga pelit? Tidak, tentu tidak, dia hanya tidak punya yang bisa dibagi.
__ADS_1
"I-ini, i-ini apa yang harus dilakukan?"
Lu wei menjawab, "Pasang perisai, jang---"
"Arghhh."
"Kenapa rasanya sesak sekali."
"Lambungku kenapa seperti di pelintir."
Tak hanya desisan, aduan, paparan kesakitan, tanda tanya yang melingkupi kepala yang mengudara, beberapa murid mulai tumbang satu persatu. Satu menyusul dan satunya lagi menyusul. Menyisakan beberapa orang saja yang masih dalam kondisi normal.
"Berikan sedekah, berikan sedekah, berikan sedekah, jika tidak ada uang nyawa saja tidak masalah. Berikan sedekah, berikan sedekah, dengan begitu senyum kami merekah."
Setelah beberapa tubuh ambruk, nanyian yang tadinya berisi hal-hal mengerikan, kini berganti---ya memang tidak terlalu banyak, sih---permintaan yang terdengar sederhana. Ya, sederhana karna meminta sedekah saja.
__ADS_1
Salah seorang murid yang bahkan seperti sudah mandi keringat memaparkan kata. "A-ada baiknya jika guru di sini, aku akan memanggilnya."
Sebuah dengusan ikut terpaparkan. Lu wei terkekeh lirih sebelum menjawab, "Awas di belakangmu."
"A-apa?! Apa?! Apa yang ada di belakangku?! Ibuuu ahhhh."
Dia ingin melancarkan ide bulus pada seseorang yang lebih berakal bulus? Heh, kau bercanda atau bagaimana?
Lu wei ingin tertawa sampai otaknya jatuh ke lutut saja rasanya, tapi sayangnya suasana tidak seindah tawanya.
Lain halnya dengan Xing'er, dia tertawa tertahan sehingga tidak terlalu jelas bagaimana tawanya. Entah itu, wahahahhaha atau bhahahahha, yahahahah, ahahahaha Lu wei tidak tahu.
Murid lain bertanya, "S-sebenarnya aaa ibu---" Sebuah lengan hampir saja menggapai pundaknya. Meski array sudah dipasang demi mencegah masalah baru timbul, tapi tetap saja jaminan keamanan nyawa belum sampai seratus persen. Dia berlari ke arah tengah, kemudian melanjutkan, "S-sebenarnya mereka hantu jenis apa?"
Xing'er, lu wei, lin qili, serentak menjawab, "penagih harta."
__ADS_1
Tak hanya desisan, aduan, paparan kesakitan, tanda tanya yang melingkupi kepala yang mengudara, beberapa murid mulai tumbang satu persatu. Satu menyusul dan satunya lagi menyusul. Menyisakan beberapa orang saja yang masih dalam kondisi normal.