Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
61


__ADS_3

59


Jadi, saat dia ingat hari ini hari apa, dia tidak ragu siapa yang memberi hal ini pada sang kakak. Interogasinya tadi hanya sekedar omong kosong yang dikeluarkan demi meredakan gejolak mengumpat miliknya. Hitung-hitung pemanasan


"Apa?! Pergi?! Jangan harap!" Gadis itu mengalihkan pandangan, memandang orang-orangan sawah yang menyenangkan untuk dipandang.


Kalimatnya berisi pengaduan, dan diyakini adanya pengharapan akan perhatian. "Pangeran, telinga anda cantik pendengaran anda sudah pasti tidak bisa diragukan lagi .... "


Tidak diragukan dalam hal yang mana? Bisa mendengar dengan baik atau sebaliknya? Tolong jangan ambigu, kawan. Lebih baik gamblang saja, seperti tajam? Atau kuat? Itu lebih baik. Entah sudah berapa kali dia mengomentari kalimat-kalimat yang keluar dari mulut orang-orang di zaman ini, li naa heran kenapa begitu berbelit-belit seperti belut sawah? Tidak bisakah tho the point saja?


" ... Anda pasti sudah mendengar apa yang diucapkan gadis kasar itu 'kan? Bukankah, jika dibiarkan akan semakin tidak bisa dikendalikan? Menghina anggota keluarga istana merupakan pelanggaran besar! Pangeran, meski hamba bukan siapa-siapa hamba tetap tidak rela jika Anda dihina sedemikian rupa." Nadanya? Pernah dengar nada yang digunakan para penggoda lelaki? Legit-legit begitulah ... Tapi sayang legitnya itu bisa membuat orang mual.


Oh, jangan lewatkan pose menggigit bibir juga raut yang dibuat malu itu.


Bagaimana reaksi kalian, para pembaca?


Maaf saja, tapi MC tersayang tidak mempedulikan apa yang terjadi di belakang. Dia dan satu orang dirangkulannya sudah ada agak jauh di depan sana.

__ADS_1


Menyadari tidak adanya gubrisan dari pihak yang dipuja juga pihak yang dicela, gadis tadi menciut. Rasa malu memenuhi otaknya.


"Jiejie, tadi aku menemukan banyak cacing. Mau ikut menangkap ikan denganku? A-li juga nanti katanya ikut."


"Iya, tapi nanti jangan terlalu kasar menusuk ikannya."


Awalnya, kata 'iya' sudah cukup untuk menghadirkan senyum, tapi kalimat selanjutnya membuat tawa mencuat.


Hey, ususku kejang tolong.


Undang-undang mana yang menetapkan aturan seperti itu? Jika menggunakan bom itu sudah pasti tidak boleh, tapi di Zaman ini belum ada yang menggunakan metode itu. Hanya ada tombak, lalu jika tidak keras menusuknya apa bisa ikannya tertusuk? Mungkin hanya akan menyerempet dan lecet, begitu?


Lu wei masih tertawa. "Baik-baik."


"Tidak boleh."


Menyurut sudah raut indah di wajah Lu wei. Kesengitan tak mampu disembunyikan. Langkah terhenti begitu juga dengan tawa.

__ADS_1


Suhu dingin menyelimuti perkataannya. "Apa hakmu mengatakan itu?"


"Tidak boleh ada yang pergi."


"Tolol."


Siapkan pemadam kebarakan, kawan! Atmosfernya semakin panas saja! Agaknya kedua kandidat sudah siap berdebat juga bergelut!


Oh, ingat masih ada satu orang dengan aura menenangkan. Lu shi beserta suara lembutnya.


"A-Wei."


Sang empu yang dipanggil menoleh membuat Lu shi melanjutkan kata. "Kau pergi dengan A-li saja kali ini, aku akan menemani lain kali."


Decakan terlontarkan, kekesalan terpampang jelas dari kerucutan bibir. Lu wei tidak tahan untuk


mendesah sebal. "Ahh, jiejiieee."

__ADS_1


Baiklah, menurutlah anak manis kakakmu telah melakukan anggukan pemaksaan. Mau tak mau, juga karna dirinya lelah berdebat dia memilih mengiyakan saja. "Baiklah."


Namun, barangkali otak orang-orangan sawah itu bermasalah. Lima kata kembali ia keluarkan. "Tidak boleh ada yang pergi."


__ADS_2