Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
149


__ADS_3

Memusatkan pikiran sejenak dan warna biru tua mengalir dari ujung telunjukanya. Berjatuhan layaknya hujan dan mencairkan layaknya api.


Es-es itu mencair tanpa membuat tangan li na kebas. Saat sudah dipastikan hanya ada air yang menggena"ng, dia berniat berhenti tapi Bm?m mencegahnya.


"Jangan berhenti, ini masih air es, belum hangat."


"O-oohh."


Hening lagi. Sungguh, jika saja suasananya tidak seperti akan mencekiknya, hening ini tidak akan terlalu menyiksa.


Saat uap hangat menyapa tangan, li na akhirnya bisa bernafas lega.


"Sudah hangat."


Lin qingxuan bergumam membenarkan.

__ADS_1


Peka, tentu saja harus! Secepat kedipan mata Li na sudah membungkuk dan berkata, "Saya pergi."


Saat jarak dirasa sudah jauh, Li na menghela nafas sesamar mungkin. Mengutuk diri yang terpesona akan pohon di belakang itu. Dia menimang sesuatu, apakah kemungkinan dia bisa mandi di sana? Uh, itu sepertinya akan estetik. Kulitnya yang bersih dan berkilau lembut akan sangat mempesona dibelai air.


Pintu kayu hanya berjarak satu betis dengan dirinya, tetapi sebuah suara membuat Li na terpaku dan berakhir membalik.


"Sabun."


"Oh, b-benar, s-saya lupa." Li na melangkah cepat, sebenarnya ingin berlari, tetapi mengingat ini kamar mandi dia tidak ingin jatuh konyol atau malah bertambah konyol.


Namun, sedari tadi mata bergulir belum ada gumpalan yang bisa menciptakan busa. Dia baru sadar, memang tidak ada.


"Masih banyak."


Muka Li na saat ini sama dengan tanda tanya, kepala miring beberapa derajat. Jawaban dari Lin qingxuan membuat kepala itu tidak lagi miring.

__ADS_1


"Pakai bunga."


Sungguh, jika saja kesabarannya tidak diberi semangat tadi, sudah dipastikan Lu na akan membalikkan bak mandi dan memiringkan mulut Lin qingxuan, sedangkan dirinya akan menyinyir, "Tidak bisakah kau berkata jelas?! Kau tidak mengetahui banyak kata atau lidahmu terlalu kaku?! Benar-benar emas di perairan!"


Namun, ini adalah kenyataan, bersikaplah yang seharusnya agar kepala terjamin keamanannya. Li na tidak punya gerakan lain selain memetik bunga.


"Ambil agak banyak." Li na tentu saja mengangguk dan memetik lebih banyak.


Bunga begonia hampir saja tercabut jika saja sebuah kata tidak mencegahnya. "Rasa anggur, hanya ambil bunga krisan."


Anggur biasanya ungu, maka Li na mengambil yang ungu. Tentu saja keheranan menemani proses memetik. Sekali lagi, apakah aku ini ketinggalan zaman? Krisan itu biasanya dibuat untuk teh, benar? Sekarang itu untuk sabun!


Setelah semua detik berisi perintah dan kepatuhan berakhir, barulah muka Li na yang tadinya seolah tertiban titan menjadi seringan kentut nyamuk.


Bunyi pintu tertutup membuat bibir tidak bisa terkatup, dan membentuk senyum, sedangkan tangan mengelus dada pertanda lega. Kepalanya masih aman, apalagi yang perlu dikhawatirkan? Dia berjalan ke arah tempat duduk dan berakhir duduk. Menyangga wajah dan melamun.

__ADS_1


Sejujurnya Li na ini berada dalam kebingungan mendalam, ada waktunya dia merasa jika kepalanya hilang dia akan tenang karna kemungkinan dia akan kembali ke dunianya. Namun, ada masanya juga dimana dia berpikir, dia masuk ke dunia ini juga karna takdir, jika dia menghilangkan kepala bukan tidak mungkin dia akan bernasib sama lagi---tidak kembali ke dunianya atau masuk ke dunia lain lagi.


Lamunan Li na dihancurkan saat mata yang menyorot mangkuk tidak lagi melihat uap.


__ADS_2