
Belum, belum rileks bahkan. Lu wei merasakan keganjalan di belakang, dengan cekatan dia memutar badan sekaligus badan yang ia bopong. Satu kepala kembali tertendang dengan tanpa sengaja. Oknum yang diam-diam mendekati itu terhuyung beberapa langkah, menyeret debu tanah.
Jubah putih terlihat tidak bagus jika dipakainya. Karna wajahnya, wajahnya hampir sama putihnya dengan kain yang melekat ditubuhnya. Bukan, bukan muka dengan wajah seputih kertas tapi karna wajahnya itu sangat pucat.
Lu wei tanpa sadar bergumam, "Wajahnya sedikit tidak asing."
"Tentu saja, itu mantanmu!"
Jawaban dari si Shidi itu membuat Lu wei menghadapkan muka sepenuhnya agar bisa mendengar lebih lanjut. "Benarkah? Aku bahkan sudah lupa."
Shidi itu berdecak. "Jika kau tidak lupa itu baru boleh dipertanyakan. Dia mantan ke seratus, seratus empat puluh lima. Ya, benar."
"Kau benar-benar mempertahatikanku, ya?" Jari-jari tangannya tak bisa dicegah dalam berbuat usil. Ketek si Shidi diserang tusukan jari maut miliknya. Mengakibatkan umpatan dilakukan.
Interaksi itu masih belum berakhir, tapi tiba-tiba diakhiri oleh sesuatu. Semua hantu yang ada terhempas jauh karna suatu serangan.
Siapa itu? Coba tebak. Tentu saja bukan Lu wei, tapi seseorang yang sering membuat Lu wei, berhadapan dengan amarah. Iya, orang-orangan sawah itu, Lin qingxuan
Tak hanya sampai di situ, array terpasang dengan cepat, apik, serta tanpa basa-basi.
__ADS_1
Lu wei mengangguk seraya berkata, "Baguslah, meringankan pekerjaanku." Setelahnya dia meringankan beban di tangannya, dengan cara menjatuhkan si beban. Shidi tadi mengeluh akan tidak epicnya acara pelepasan dirinya.
Lu wei menepuk-nepuk bagian tubuh yang kotor, ditemani mulutnya yang bertutur. "Bagaimana, apa ada yang sudah puas dan berakhir pelep---"
"Berhenti!"
"Cocotmu, heh!"
"Diam atau kubanting?!"
"Sembarangan."
Salah satu murid memecah tenang dengan bertanya, "Yang tadi itu apa?"
"Aku tak tahu dan tak ingin tahu."
"Siapa juga yang ingin tahu, aku ingin daging."
Murid yang tadi menggaet kepala murid yang menjawabnya, dengan lengannya. "Bukan begitu, Bodoh!"
__ADS_1
Namun, bukan itu yang menjadi atensi Lu wei saat ini. Melainkan hal lain. Semu merah, bibir yang bergetar, raut tertekan semua itu membuatnya penasaran. Lu wei berhenti bersikap acuh tak acuh. "Kenapa dengan kalian?"
Kini dia menoleh, mencoba memastikan apa hal yang sama tertoreh di wajah si Shidi. Benar saja, malah lebih parah warna merahnya.
"Apanya yang ada apa?" Itu murid yang tadi, nada yang digunakan juga berbeda saat beromong kosong tadi.
Lu wei menunjuk setiap kepala. "Muka kalian menunjukkan sesuatu yang mengerikan."
"Memang mengerikan."
"Mimpi burukku dulu hanya menyebabkan aku mengompol tapi ini bahkan lebih buruk dari itu."
"Aku lebih suka yang nyata."
"Aku merasa dipermainkan."
"Hal yang terjadi tadi adalah penipuan." Akhirnyaa! Akhirnya ada jawaban yang membuat Lu wei tercerahkan, terimakasih, Xing'er.
"Penipuan? Berapa uang yang dikeluarkan? Kalian sungguh murah hati dan bodoh sampai terjeb---"
__ADS_1
Xing'er menyerobot dengan sinis. "Bukan itu, Bodoh! Kenapa isi kepalamu itu hanya uang, hah?! Penipuan di sini itu ... Ituu .... "