Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
177


__ADS_3

"Shige ...."


"Shijie ...."


"Hey ...."


Sejak kapan perkataan Li na mempunyai suami? Bagaimana bisa beranak seperti ini?


Tidak terlalu mencuri otak, Li na masih mengatur nafasnya yang bergemuruh. Menyadari sesuatu, dia berdecak.


Menepuk-nepuk bajunya sepertinya tidak berguna, tetap kotor, harus mandi. Dia berpikir cuci muka mungkin akan membuatnya lebih baik.


Saat dia mendongak, sebuah kendi hampir saja mencium keningnya. Wajah Lin qingxuan menjadi pemandangan kedua.


Meski tanpa kata, li na sudah tahu. Menggapai kendi itu, dia akhirnya berterimakasih. "Terimakasih, Yang Mulia." Air yang ada hanya cukup untuk memuaskan satu tenggorokkan. "Eh, ini sudah hab---"


"Aku sudah minum."


"Oh."


"Sebenarnya, bagaimana bisa seperti ini?"


Lagi-lagi li na berdecak. Pandangannya mengecil dan dia mulai menguap. "Aiya, A-Li, jangan dulu bertanya-tanya, masih ada hari, besok saja." Kata terakhir dicampur dengan menguap.

__ADS_1


Lin qili mengeluh. "A-Wei berattt." Bukannya menyingkir, li na malah semakin menyenderkan diri. Bergumam tidak jelas dengan pandangan yang semakin menyempit.


Lin qili bukanlah orang yang mudah semena-mena, mana mungkin akan menghempaskan dirinya, Li na tentu tenang. Namun, sentakan sebuah teriakan mendatangkan gelombang kejut yang edan.


Li a melatah, berakhir mengumpat pelan.


"BISAKAH SESEORANG MEMBERIKAN PENCERAHAN?!"


Ada, seseorang yang memegang lilin. Itu akan membuatmu cerah daripada menggunakan krim pencerah. Oke,  dia memang selalu kumat. Tidak boleh heran.


Seseorang dengan pawakan pendek itu, tampaknya ....


"Ah, Tuan Jin, besok masih ada hari. Saksi-Saksi sepertinya terlalu lelah untuk mengeluarkan kata."


Tuan Jin! Astaga! Bagaimana bisa aku lupa?


Sudut mulut Tuan Jin membentuk senyum kecil. Seseorang seperti Li na tidak akan menyebutnya senyum kecil.


"Siapa yang tahu besok masih ada matahari atau tidak? Kejadian seperti ini haruslah dengan sigap dihadapi. Menunda wakt---"


"Apakah setengah jam saja tidak boleh?"


Mendengar nada itu, air muka Tuan Jin diguncang riak yang cukup banyak. Dia terkekeh pendek dan menjawab lebih pelan. "Yang Mulia, anda tahu jawabannya."

__ADS_1


Lin qingxuan menurunkan tirai di matanya. Menunduk dan kembali apatis.


Tawa canggung tersiar. Dengan sopan Ilin qili memilih menunjukan perilaku lain. Dia tersenyum sejenak. "Tidak enak rasanya membicarakan hal penting sambil seperti ini. Apa Tuan Jin tidak keberatan duduk di sana?" Perkataannya menunjuk tangga kayu yang berjarak setengah meter dari gerobak. Jelas tangga itu sudah terlihat seperti bukan tangga.


Mengingat tempramen lelaki tua di sampingnya itu, lin qili idak berharap banyak. Namun, setelah beberapa detik berlalu ditemani suara tangan yang menepuk kayu, lin qili melukiskan raut yang lebih baik.


"Sekarang sudah enak. Bisakah yang tua ini diberitahu?"


"A-wei--"


"Baik, baik!" Dia akhirnya membuka mata sepenuhnya. Duduk silang dengan raut cemerlang. "Intinya, ini di luar kendali!"


"Memangnya kau punya kendali apa?"


Orang tua ini begitu menggemaskan. Karna li na anak baik, dia memilih mengalah. "Oh, bukan! Bukan di luar kendali, tapi di luar ekspektasi."


"Baik, cer---"


"Tunggu kami!"


Akhirnya gerobak bobrok itu dikelilingi orang-orang dengan kepala terisi tanda tanya. Berdesakkan dan memasang raut haus rasa tahu.


Li na menghela nafas. "Begini, aku dan Yang Mulia datang ke area ini untuk hiburan, dari pertengahan siang---atau malah tepat siang? Aku lupa. Intinya, kami datang sebelum matahari terbenam. Awalnya, pasar ini tidak terlalu ramai di siang hari, tapi makin ke sini, pasar makin ramai."

__ADS_1


__ADS_2