
Satu tangannya terangkat, sebuah kabut menutupi objek. Samar-samar li na bisa melihatnya. Sebuah kendi? Sepertinya.
Tuan Muda feng menghela nafas sebelum berdecak. "Tapi sayangnya, sepertinya aku tidak akan mendapat rentangan tangan yang lebar, jadi karna aku lapar di perjalanan apa salahnya mengisi energi sebelum mengeluarkan energi?"
Sudah, tak bisa ditampung lagi. Gerakan seringan angin, pedang dingin itu dengan cepat menyusutkan jarak dengan target.
Si gila itu bahkan ditemani cengengesan, sengaja menggoda pedang dengan menggesekan pelan ke tenggorokannya. Melihat raut penuh amarah yang ditekan itu tampaknya sesuatu yang memuaskan bagi Tuan Muda feng .
Jari telunjuk dan jari tengah ia rapatkan, mengangkatnya. Kemudian menggeser posisi bilah pedang dari pandangan matanya.
"Oh, benar-benar ingin bertarung denganku ya? Bukankah seharusnya aku yang emosi karna kau sudah merebut sesuatu yang seharusnya milikku? Putra mahkota?"
Aliran listrik imajiner seolah-olah hadir di dalam jarak tatapan mereka. Saling bertarung, menyengat, dengan kebencian yang sarat.
Satu decakan menganak, Tuan Muda feng sudah tidak punya alasan untuk berbasa-basi lagi. Dengan gerakan cepat aliran spritual yang sedari tadi bersarang dan berkembang di telapak tangannya ia lempar, tepat menuju perut lin qili
__ADS_1
Dan, blam!
Pupil li na membesar pesat. Entah karna refleks atau hal lain, saat detik pertama dia melihat kilat dari serangan, secara tidak sengaja dia ikut melepaskan tembakan. Dan hasilnya mungkin harusnya memang seperti itu.
Serangan Tuan Muda Feng lenyap diujung jalan. Alhasil, Pihak putih maupun hitam sama-sama terkena dampak dari wujud refleks li na.
Hanya saja satu pihak sedikit lebih baik. Lin qingxuan buru-buru di tangkap oleh ketiga orang dipihaknya. Sedangkan sang lawan mundur dengan cepat, menyeret debu tanah bersamanya. Untung saja dia masih bisa berdiri.
Li na? Dia sedang membatin, mengagumi kemampuannya sendiri. Aku sehebat itu? Sungguh? Ah, tentu saja! Lu wei ini bukankah juga mendapati julukan giok biru semasa perguruan? Oh ya! Tingkat kultivasinya bahkan sama dengan mumi es itu! Uhuuuu aku keren! Yuhuuu!
Tertatih-tatih, dia mencoba mendekat. Menyedihkan. Kaki yang dipaksa berjalan, disertai senyuman bengis itu ... Uhhh!
"Tak kusangka, nona ini sepertinya bukan gadis yang hanya pandai beradu mulut." Setelahnya, dengan sangat lirih Tuan Muda feng mengeluarkan umpatan khasnya.
Saat mendengarnya samar-samar li na agak bingung. Kenapa umpatannya aesthetic sekali? Lupakan.
__ADS_1
"Tapi apa ini berpengaruh padaku?"
Dimulai! Yee! Dimulai!
Denting pedang mendengung, angin mengikuti pedang. Ringan, namun mematikan.
Jurus demi jurus diadukan. Serangan demi serangan saling bertabrakan, menyerang dan berusaha menangkal serangan lawan.
Kali ini giliran li na yang bertarung jarak dekat. Mata melawan mata.
Pupil dalam li na mencoba mengebor isi dari netra Tuan Muda feng. Hanya satu yang sedari tadi ia dapat, kebencian yang mengalir bersama darah.
Hanya beberapa detik sebelum akhirnya Tuan Muda feng menyentak tangan, membuat pedang yang sedari tadi di tahan oleh pedang li na terbebas dari tekanan. Li na berkelit mundur, kemudian berputar.
Belum sepenuhnya li na berpindah ke belakang, tangannya menangkap lengan si lawan. Memutarnya, mengurungnya dipunggung dengan tubuhnya sebagai penutup. Gerakannya secepat bersin. Seringan capung di atas air.
__ADS_1