Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
57


__ADS_3

Reputasi, harga diri, serta kesopanan juga aturan yang menjerat guru itu dikalahkan oleh rasa marah.


Lu wei kembali tertawa saat melihat semua itu runtuh. Sebuah kuas yang dilempar kepadanya membuat rasa puas menghinggapi sanubari. Sayangnya itu tak menyerempet sedikitipun, oleng ke satu sisi mengenai jidat lin qili


Aduh, aduh, malang sekali si A-li.


Rasa geram memburamkan mata, membuat otak menjadi buta. Pak tua, agaknya anda harus segera peka!


"Kau! Salin dan catatlah aturan yang ada dalam buku putih di hatimu! Kau benar-benar meresahkan! Anak muda jaman sekarang sudah sangat berani, tidak bisa dibiarkan! Tidak bisa dibiarkan! Ini tidak baik! Tidak baik! Tidak baik." Semakin kesini semakin melirih. Memperjelas bahwa rasa marah telah membuatnya lelah.


Tidak baik, tidak baik, tidak baik. Hello, calon abu, sampai kapan mulutmuĀ  menggumamkan kata itu? Sampai liurmu hilang?


"Baiklah."


Oh, satu lagi! Pak tua itu tersadar akan sesuatu. "Jangan hanya disalin! Renungkan! Amalkan! Dan lestarikan! Dasar meresahkan!" Tangan itu dengan tegang mengacungkan jari telunjuknya, nafas yang terhempas juga semakin berat serta keras.

__ADS_1


Lu Wei sudah hendak melangkah pergi, tapi terhenti saat kalimat dengan nada tinggi menusuk telinganya. Huh, apa-apaan meresahkan? Dia itu mengesankan oke! Mengesankan, bukan meresahkan!


"Jika itu, aku tidak yakin."


Cengirannya tampaknya berperan sebagai minyak bukan gula kali ini. Guru itu bertambah geram, asap putih imajiner seolah-olah menguap dari tubuhnya. "Harus! Tidak ada kata tidak!"


"Tapi kau mengatakan tidak."


"KELUAR!"


Bro, bro kepalamu. Hah, sudahlah kawan. Kau semakin menggemaskan saja dari hari kehari. Betapa tidak sopannya memanggil guru seakrab itu. Sepertinya otaknya bertambah tidak simteris.


Senyum dipaksa untuk tidak merekah. Namun tetap saja mata para pemirsa tidak bisa dikelabuhi. Mendapati reaksi akhir dari guru itu membuat kebanyakan murid diteror rasa geli, ingin tertawa tapi tidak bisa.


Lu wei membungkuk dengan sopan seraya berkata, "Baik."

__ADS_1


Meski bukan tawa tapi tetap satu keluarga, cekikikan yang ditekan sedemikian lirihnya tidak bisa tertahan akhirnya tersiar. Murid-murid yang melihatnya merasa sangat ingin memuji 'kesopanan' Lu wei.


Sesat! Kalian sudah sesat! Jangan ditiru para pemirsa!


Bagaimanapun tindakan seperti itu tidaklah patut dicontoh. Seorang murid haruslah bersikap baik, hormat juga patuh. Poin ketiga tentu saja dilakukan jika gurunya tidak sesat. Jika guru sesat otomatis anak didiknya juga sesat. Namun, sayangnya mahkluk hidup ini juga bingung mana yang sesat?


Beberapa langkah lagi Lu wei akan sepenuhnya berbeda ruangan. Langkah terhenti, dia melirik satu orang.


Membungkuk, dia menyerangkan satu tusukan jari pada pipi lin qili yang masih tercenung. "Selamat tinggal." Nada jahil itu menyadarkan si empu, tapi agaknya dia belum sadar sepenuhnya. Mata yang berkedip cepat itu membuat Lu wei melahirkan tawa.


Baru beberapa langkah dia keluar sebuah sergahan kembali menggelegar.


"Kalian lihat apa! Kembali kepelajaran!"


Oke, akhirnya itu meledak. Lu wei tergelak sampai rasanya ususnya bergetar. Heh, dasar sesat.

__ADS_1


Lu wei melipat tangan di depan dada, gelengan kepala menjadi pendahulu kata. "Putih dan hitam, memang pasangan abadi. Siapa bilang mereka bersebrangan? Mereka bersandingan! Bahkan kadang bercampur! Membedakan saja sudah sulit apalagi memisahkan! Takdir juga tidak bisa memisahkan. Dia bilang memberantas? Apa dia pikir itu semudah bernafas? Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? Memberantas, sampai kiamat pun tidak akan berakhir!" Dia menjeda untuk mengambil nafas. Lelah juga berbicara sepanjang itu dengan nada menggebu-gebu.


__ADS_2