Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
42


__ADS_3

Li na peka akan itu. Dia sendiri sudah berusaha lepas dari siksaan ini. Akhirnya setelah beberapa kekuatan ia tambahkan dalam usaha, dia akhirnya terlepas.


Li na menyingkir, menciptakan jarak beberapa langkah. Batinya menjerit saat rasa sakit bertambah melejit, Argghhh!


Hampir saja! Jika rasa malu tidak menjadi lem bagi mulutnya sudah dipastikan erangan dengan keras menggelegar. Dia bisa kehilangan muka, oke! Siapa yang tadi unggul melawan lawan di pihak ini? Dia! Lalu akan ia apakan wajahnya jika dia menenjukan ekspresi sakit?


Sepertinya serangan tadi cukup berpengaruh pada tubuhnya.


Kedua sejoli di samping kirinya itu masih diam. Dua-duanya sama-sama memendam kemarahan, untuk hal yang berbeda.


Saat ini li na seperti sedang menonton video dengan kualitas 144 mp, pandangannya buram. Pening mendera bagian kepala. Sejurus kemudian, tubuhnya kembali limbung.


Tentu tidak sampai mencium tanah, kawan. Ada banyak stok pangeran di sini, lalu untuk apa khawatir?


Benar saja, qing ji bergerak secepat kepakan sayap nyamuk. Menangkap, lalu menarik tangan Li na. Membuatnya jatuh dalam rengkuhannya.


"Huh, untung tidak jatuh." Setelah bersyukur, dia membersihkan peluh yang mengalir di sekitar pelipisnya.


Sepasang anak dan ibu menghampirinya. lin qili mengulurkan tangan seraya berucap, "Kemarikan."

__ADS_1


Tidak ada alasan untuk membangkang.


Tubuh li na kini terbaring di tanah, dengan paha lin qili menjadi bantal. Sementara An chi tengah sibuk menjelajahi, dan menulusuri aliran meridiannya. Mencoba mencari suatu kesalahan.


Ya, memang ada. Tidak salah, ini dia.


Lin qingxuan yang memang tidak ada minat berkomunikasi dengan seseorang di depannya, memilih menyerong mendekati kerumunan.


Wajah itu tenang, dengan bulu mata yang melenting menawan. Sangat nyaman untuk dipandang. Namun, raut pucat tetap terlihat di wajah rupawan itu, memberikan kesan melankolis.


Sebuah emosi melintas sepintas di netra terang lin qingxuan.


Lin qili sedikit was-was saat melihat lipatan di dahi ibunya. Dia memutuskan untuk bertanya, "Ibu, apa yang salah?"


"Racun, dia terkena racun."


Sontak rasa sedih tidak bisa disembunyikan lagi. Rasa kekhawatiran dan ketakutan mendominasi dalam ucapannya. "R-racun? Racun jenis apa?"


Pandangan An chi goyah, sedetik setelahnya dia menatap seraya memberi jawaban. "Racun tidur."

__ADS_1


Mendengar itu, lin qili tidak bisa tidak bergetar. "L-lalu racun tidur yang mana?"


"Semuanya."


••••


Bising menggelitik telinga membuat si empu membuka mata.


Li na mengerang saat suara-suara ramai itu mengganggu tidurnya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah, tentu saja keramaian.


Untuk sejenak, dia masih termenung, saat otaknya sudah bangun sepenuhnya dia menjerit. Aku dimanaaa!!!


Kacang itu mahal, kawan. Kasihan sekali padahal good looking.


Hey, ini bukan perkara itu. Namun, rasanya dia seperti berteriak pada televisi. Orang-orang yang di dekatnya atau hanya sekedar melewatinya sama sekali tidak menunjukan tanggapan verbal maupun fisik untuk teriakannya.


Li na berdecak. Kakinya ia bawa, menelusuri tiap jangka tanah. Mencoba mencari setidaknya seseorang yang bisa ditanyai.


Buang-buang persediaan kata saja! Dia bahkan sudah beberapa kali menyerangkan gombalan pada laki-laki yang berada di sekitar pandangan. Sayangnya, mereka tetap tidak menunjukan respon apapun.

__ADS_1


Apa ini, apa yang terjadi?


__ADS_2