
Kemari, orang tua ini akan memberitahumu. Selain dari kenikmatan menyaksikan raut tersiksa dari seseorang yang menjadi salah satu ajang balas dendam miliknya, rasa ingin unjuk diri juga menghiasi.
Huh, kau menjadikan hal yang bagi beberapa orang mengerikan sebagai panggung pentasmu? Kau yakin kau waras?
"Aku hanya ingin membayar biaya masuk. Anggap saja ini liburan yang cukup mengesankan."
"Mengesankan dengkulmu!"
"Otakmu miring berapa senti?"
"Otakmu sedang berlibur di lutut?"
"Mengesankan?!"
"J-jangan!"
Kalimat terakhir sungguh semakin memperjelas apa yang tidak bisa ditutupi. Jin Huang mengulang kata beberapa kali. Perutnya dari detik hingga detik semakin terasa tidak nyaman, memaksa erangan untuk unjuk diri.
Hanya saja, itu malah membuat hal yang berseberangan terjadi. Bukannya menebalkan array, jari Lu wei justru bergerak turun semakin cepat.
__ADS_1
Para murid lantas mendekatkan diri, membentuk lingkaran kecil di antara punggung yang saling sapa. Hanya tersisa tiga orang dengan alasan yang berbeda yang masih setia untuk tetap singgah di tempatnya.
Tangan-tangan pucat mulai mencuat, lubang-lubang array yang tadinya tertutupi tanpa cela kembali terbuka. Nyanyian yang tadinya mulai meredup, kini kembali membombardir gendang telinga.
Hal yang membuat sebagian otak murid di sana gatal ialah, kenapa sepertinya para hantu itu hanya sebuah objek yang ditarik suatu objek? Mereka menyapu pandangan, dan benar saja. Jin Huang.
Opini itu semakin meyakinkan saat si meresahkan membenarkan. "Kalian tidak perlu angkat ginjal, mereka hanya menyerang yang pantas diserang."
"Kenapa jadi ginjal?"
"Kurasa lebih indah angkat kaki."
Acuh? Tentu saja tidak, Lu wei sedang menunggu sebuah kalimat dari seseorang. Akan sangat menyenangkan jika gendang telinganya diberi kehormatan mendengar kalimat itu dari seseorang itu.
"Lu wei, sialan!"
Wahahahahhahahah!
Siapa dia? Bukan dia, tapi mereka. Ya, li na dan Lu wei memang satu jiwa. Bagaimana itu? Apa kau puas, Bung? Tidakkah rasa bersalah mencolek sedikit saja hatimu? Astaga, jin Huang terlalu sopan untuk mengatakan itu, t-tapi k-kau malah membuatnya melakukannya!
__ADS_1
Aku puas! Aku puas! Wahahahahha!
Aduh, aduh, Lu wei memang meresahkan, tapi kenapa aku menyukainya juga? Bah! Apa pentingnya! Ini sebuah keberuntungan! Karaker yang di dalam novel digambarkan sungguh sangat anggun kini mengumpat! Lu wei memang sesuatu! Wahahahahhaha.
Kalimat yang baru saja mencuat dari si anggun itu memang menggetarkan ginjal, tapi demi menjaga kesan angkuh yang menjadi khasnya, Lu wei terpaksa hanya menerbitkan senyum miring.
Bertepatan dengan itu, desing pedang melengking menusuk pendengaran. Pedang di tangan, tapi jiwa agaknya hampir melayang. Kuda-kuda sudah terpasang, hanya saja kurang kokoh jika keyakinan tidak menjadi fondasi.
Geraman, erangan, lolongan, cekikian, rasanya tak mampu jika mengukur berapa banyak si pencipta suara, juga berapa banyak itu mengasilkan debaran jantung yang menggila.
Namun, ketegangan hanya mampir tidak sampai singgah. Bagaimana bisa? Itu karna Lu wei berkata benar. Mereka hanya menyerang yang pantas diserang.
Ya, jin Huang sudah lenyap dari pandangan dikarenakan lingakaran tubuh menenggelamkannya. Nyanyian juga menangkal adanya suara untuk terdengar.
"N-nona! Kamu dimana!"
Oh, rupanya masih tersisa orang yang peduli padanya---astaga kejam sekali---
Salah seorang murid laki-laki berjalan cepat ke arah Lu wei. Bagaimana bisa itu diketahui? Tentu saja karna matanya kelewat fleksibel---huh, dia melirik lewat sudut mata. Tentu saja sebuah kata kembali mengudara.
__ADS_1