
44
Ini lagi, untuk apa harus ada aroma ini? Menyebalkan sekali. Huh, apa masalahnya?! Membuat sedikit keributan tidak masalahkan?!
Jika di sini aku diposisikan sebagai hantu, apakah aku akan merasa panas saat ditempeli jimat? Aiyaaa.
Maaf saja, kau tidak perlu menjadi hantu atau setan untuk merasakan rasa panas ditempeli jimat. Karna pada dasarnya kau memang---- ekhem. Demi kenyamanan, kalimat ini hanya bisa sampai di sini saja.
Aroma itu menggelitik hidung li na, memikat menggoda. Tanpa keraguan sedikitpun, li na berlari mengikuti jejak aroma yang ada di udara.
Eh kenapa tidak bisa lanjut? Apakah ada bug? Heyy, ayo bergerakkk arghh!
Pernah mengalami AFK? Bagaimana rasanya? Ingin baku hantam dengan sinyal?
Ya, Kira-kira begitu perpadanan kekesalan li na. Tubuhnya seperti menabrak array, tak bisa menembus seincipun dari posisinya. Daya tarik kuat dari belakang juga sepertinya menjadi faktor kenapa dia seperti ini.
__ADS_1
Sebenarnya ada apa sih?! Apa ini wujud balas dendam gravitasi padaku? Astaga! Bergeraklah arghhhh!!
Berhati-hatilah, jangan terlalu keras. Makhluk hidup ini khawatir ada yang bisa keluar dari belakang karna usahamu itu.
Tuhan memang pengasih. Akibat dari kerasnya usaha itu, pada serangan ketiganya dia menembus angin dengan mudah bahkan sampai terhuyung-huyung. Untung saja wajahnya tidak mencium tanah.
Wah, wah! Siapa yang begitu sopan mempermainkan orang seperti ini? Mencoba mencari kemungkinan itu, li na manatap penuh selidik pada orang yang sekiranya terlihat mencurigakan.
Setelah beberapa kali bergulir, netranya menangkap satu sosok yang memiliki semua kriteria tersangka.
Apakah ....
Kan ....
Tepat dugaan. Sepertinya memang seperti ini konsepnya. Lalu apa susahnya? Hanya menunggu Lu wei bergerak, maka dirinya akan otomatis mendapatkan haknya.
__ADS_1
Masalahnya adalah bagaimana membuat lu wei e itu tau? Bagaimana cara li na membuat lu wei melangkah sesuai keinginannya? Hoho, sayang sekali, tampaknya dendeng itu hanya bisa ditatap saja tidak bisa dinikmati.
Dugaan yang sudah berganti kenyataan itu membuat mulut li na melahirkan erangan. Jadi, siksaan baik dari cacing perutnya yang meronta minta jatah, serta keterbatasanya dalam melangkah dia hanya bisa berjongkok di titik itu seperti gembel. Memajukan bibir, menatap sebal para kerumunan, terutama pada kedai kecil tempat dendeng itu dibuat.
Entah karna keberuntungan atau karna kemurahan dewa, saat li na tidak sengaja meninju udara kosong dia menyadari panjang tangannya itu melebih garis lurus tadi. Dia sontak berdiri, mencari keberadaan Lu wei untuk memperkirakan beberapa langkah lagi yang bisa ia lewati.
Dia bersorak saat menemukan di mana tepatnya Lu weierpijak. Apakah nasibnya seberuntung dan sebaik itu? Di sana, tepatnya di kedai dendeng lu wei tengah mengantri.
Dengan ini tidak lagi susahkan? Haahaha aku memang beruntung!
Dengan kegembiraan yang membeludak di hatinya dia berlari tanpa memikirkan keselamatan. Dia limbung
tepat menabrak lu wei.
Hasil yang didapat begitu mengejutkan sampai-sampai rasa besi menyeruak di tenggorokan mendesak untuk dikeluarkan.
__ADS_1
Yap, selamat, li na! Kau terjebak!
Ya, tubuh transparan miliknya itu kembali terkunci sama seperti pada saat ia diperlihatkan memori Lu wei saat pertama kali waktu itu