Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
184


__ADS_3

Sementara orang-orang dibuat geram karna perkataan orang tadi, lain halnya dengan Lin qili yang merasa jika perkataan orang tadi tidak salah. "Itu tidak salah. Ada kemungkinan."


Gempuran rasa takut membuat orang tadi menggigil. Tanpa kendali, dahinya membentur tanah beberapa kali. "Yang mulia, yang rendah ini salah, mohon beri hukuman."


Begitulah gambaran Li na jika dia ada di posisi yang sama. Menunduk dan bersujud. Takut kepala akan tercabut dengan instant.


Lin qili  tersentak. "Eh, tidak usah sep---"


"Aiyaa, pangeraaaannnn! Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Ada yang luka? Biarku obati ...."


Li na melambatkan kunyahan. Menoleh hanya untuk melepehkan kata dengan lirih. "Si Ayam itu, heh." Kemudian kembali setia pada camilan.


Sekonyong-konyong,Jin Huang sudah ada saja di antara dirinya dan Lin qingxuan. Matanya yang seperti anggur terlihat terlalu jernih karna air yang menggenang siap jatuh.


Duduk dengan raut tidak tenang disertai tangan yang terangkat, yang di mana jarinya bergetar menahan greget.

__ADS_1


Ingin menyentuh, tapi enggan mendapat enyah.


Sudah pasti, tidak akan terbantahkan lagi. Angin yang tiba-tiba lewat semakin membekukansuasana


Semua kata yang terlontar dari bibir kecil tapi indah milik Jin Huang hanya diberi balasan hening.


Jin Huang tentu tidak marah pada sosok yang dia jadikan atensi utama, melainkan malah memarahi yang lain yang juga di sampingnya. "Hey, kau! Bekerjalah dengan baik! Satu goresan artinya sepuluh pukulan!"


Kunyahan kacang sontak tersembur, li na benar-benar tersedak ketidakpercayaan. Mengusap bibir dengan marah, dan membuka bibir hendak memprotes. Namun, dengan berat hati dia menelan amarahnya. Berakhir menggoyangkan ekor dan menjulurkan lidah. "Maaf, maaf, maaf, maafkan hamba yang tolol ini, Yang mulia, hukuman apapun jika itu pantas diberikan, hamba rela menerimanya."


Tunggu, "hukuman apapun jika itu pantas diberikan, hamba rela menerimanya" Kenapa harus dipersopan?


Tuan Jin cepat mendekat. "Anakku, kau memang sangat perhatian. Jauh-jauh datang saat meditasi di paviliun mutiara persik hanya untuk ini, yang mulia kaisar dan selir juga ratu pasti senang. Benar bukan, Yang mulia?"


Yang mulia ada dua, jadi ambigu.

__ADS_1


Mengetahui apa hal buruk yang menanti, lin qili memilih mencegahnya dengan menjawab cepat. "Tentu saja! Mereka pasti senang. Nona Jin, berbahagialah."


Sesuatu jika sudah dilihat beberapa kali akan membosankan dan menyebalkan. Namun, Li na yakin orang-orang itu baru pertama kali melihatnya, tapi langsung bereaksi seolah sudah melihatnya setiap hari. Benar-benar mengagumkan.


Hal-hal manis yang ada di sebelah kiri hanya menjelajahi telinga kiri tanpa bisa tertelan otak.


Bosan, Li na akhirnya menggaet lengan Lin qili. Berbisik, "A-Li, ayo jalan-jalan." Dia menarik orang itu untuk ikut menjauh, tentunya dengan kehati-hatian.


Selamat menikmati destinasi dengan impresi alam kuburan.


Dia mengatakan "Ayo jalan-jalan" Dengan entengnya! Seolah yang bisa dilihatnya adalah hal-hal indah.


Lin qili sudah telat jika ingin menolak. Dia hanya pasrah diseret-seret seperti itu.


Li na membawanya ke arah yang di mana rumah-rumah sudah terlihat jarang. "A-Li, kau tahu aku merindukanmu!!!"

__ADS_1


Sudah dipastikan apa tindakan yang ia lakukan saat mengatakan itu.


Lin qili tersenyum lalu dia melakukam yang lain.


__ADS_2