Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
76


__ADS_3

"K-kurasa memang ada suara tadi."


"Apa? Kenapa aku tidak mendengarnya?"


"Suara kentutku, ya?" Perkataannya memang membuat perut terpelintir, tapi murid ini setidaknya tidak terlalu seperti itu. Dia menyenggol lengan temannya menggunakan siku. Lalu berkata, "Hey, apa kau menggunakan gelang kaki? Atau sesuatu yang menimbulkan suara gemerincing?"


Temannya menjawab ditemani kernyitan dahi. "Tidak, aku tidak pakai gelang kaki. Lagipula jika aku memakainya, bukankah seharusnya sudah terdengar dan sudah disadari sebelum ini?"


Murid yang bertanya mengangguk. "Benar juga."


Tangan yang sedari tadi memeluk dada terangkat, menabrakan keduanya sehingga bunyi tercipta. Lu wei menaikkan volume suara, membuat semua jiwa mengahadapnya. "Ahh! Baiklah! Karna perkataanku ini seharusnya menghasilkan uang, aku akan menunjukan bukti yang lebih efektif."


Setelahnya, dia melangkah ke arah kerumunan di belakang si Bebek. Dia bertanya, "Apa ada di antara kalian yang uangnya tidak tercuri?"


"Aku tidak membawa uang."


"Ya, aku juga."


"Aku juga."


Lu wei menunduk, setelahnya dia bergumam samar hampir seperti khayalan. "Kalian beruntung."

__ADS_1


Satu alisnya terangkat saat sebuah ide---usulan, mungkin---melintasi otaknya. Dia mengangkat wajah. Netranya bertabrakan dengan netra terang lin qingxuan. "Hey, kau. Apa kau punya uang?"


"Tidak tahu."


Tawa tidak bisa lagi li na tahan saat Lu wei akhirnya menarik nafas panjang kemudian menghempasnya dengan kasar. Semoga dewa menimbunmu dalam rasa sabar.


"Yang mulia, dia bahkan tidak menyebut namamu atau julukanmu, dia juga tidak pasti sedang bertanya padamu. Lalu kenapa kamu menjawabnya?"


Bhahahah iya juga! Jin Huang, kau melancipkan lidahmu di mana? Hahahahaha astaga! Mampus!


Lin qili tersedak, tapi kemudian memodifikasikannya menjadi batuk. Dia berkata, "Maaf, aku tersedak udara."


Seusai itu dia tersadar untuk melakukan sesuatu. Dia menegur, "Itu tidak sopan, Nona Muda jin."


Menggaruk, hampir tersedak, tersedak, menendang kerikil, bersiul ringan. Ada banyak yang dilakukan para pendengar untuk menyembunyikan fakta kalau mereka mendengar.


"Huh, aku tidak berminat merebutnya. Tapi aku ingin mengkonfirmasi satu hal.


Benar, aku bertanya pada calon suamimu juga calon kakak iparku itu."


Decakan menjadi jawaban pihak lawan. Jin Huang menjawab, "Tidak sopan jika bertanya tanpa---"

__ADS_1


"Setidaknya, sebutlah nama."


Raut bangga terlukis samar di wajah ji  Huang. Dia mengangguk dan mengulangi perkataan jin Xiang. "Setidaknya, sebutlah nama."


Sebelum menjawab, Lu wei mengangkat satu alis. "Nama, ya ...."


Entah nyata atau tidak, tapi sepertinya kepala lin qingxuan sedikit bergerak ke bawah. "Ya, nama."


Hening akan bertahan jika Lu wei tidak memiliki keinginan mengancurkan. Dia terkekeh sangat singkat. "Kalian tahu, apa yang membuat kalian terdengar cocok dari segi nama?"


Nada yang membalut dibumbui rasa senang. Tentu saja jin Huang yang menjawab. "Apa?"


"Nama kalian sama-sama aneh---aku jujur, maka hargailah."


Aneh? Oohh! Aku tahu! Wahahahaha iya, cocok! Namanya bagaimana, ya aduh.


Mendapati itu jin Huang lantas menyergah, "Sembarangan! Tapi terimakasih."


Aih?


Sunyi kembali mengisi, tidak! Hanya mampir. Mata jin Huang membulat saat menangkap adanya pergerakan yang memicu golakan api dihatinya. "Kau! Kau kau mau apa!"

__ADS_1


Kakinya hendak melangkah hendak mencegah, tapi tercegah saat matanya menangkap lin qili yang mengangkat tangan. Tidak perlu, begitulah yang ia tangkap.


Sembari tangannya menggerayang di tubuh lin qingxuan, dengan santai dan acuh tak acuh


__ADS_2