Legenda Giok Kembar

Legenda Giok Kembar
75


__ADS_3

Lu wei? Siapa dia? Pemilik lidah lunak. Suhu. Oh, yeah burung beo yang pintar. Sebenarnya hal ini tidak terlalu sulit ditangani, hanya saja memunculkan rasa kesal. "Matamu tertutupi apa? Bukankah kau melihat aku di sana tadi? Tanganku tidak sepanjang itu." Dia membuat gestur menunjuk arah belakang. Membuat Xing'er yang tengah menahan tawa terekspos.


Namun, sepertinya si bebek itu tidak mempedulikan penampakan tersebut. Dia menjawab, "Kenapa harus tanganmu? Kau juga bisa mengeluarkan trik-trik yang tidak patut dilestarikan milikmu! Mengakulah! Jika kau memang butuh uang aku akan memberikannya secara cuma-cuma! Tapi jangan mencurinya! Itu tidak baik!"


Lagi, tawa mencuat kembali. Xing'er rupanya sangat-sangat menikmati kali ini. Kawan yang sesat memang. Bukannya menolong tapi malah tertawa terlebih dahulu. Wuihh, mengerikan!


"Kapan aku berkata kalau aku mencuri uangmu---selain ini? Ada tidak? Aku tidak mencurinya! Kau dengar itu? Atau perlu kubersihkan dulu telingamu?"


Oke, sabar, sabar. Orang sabar jidatnya lebar. Eh, tidak. Orang sabar rezekinya lebar.


Dari nadanya, sudah jelas Lu wei mulai lelah. Mendapati itu QingLing dengan berat hati mulai melangkah. Namun, wajahnya belum memunculkan tanda-tanda keseriusan.


"Ha! Kalau begitu berikan bukti kalau kau tidak melakukannya!"


Mulut Lu wei sudah terbuka, beberapa kata sudah siap mengudara. Namun, sebuah celetukan menarik habis semua mata. Termasuk raut menyebalkan Xing'er.


"Kenapa punyaku juga tidak ada? Bagaimana bisa hilang?!"

__ADS_1


Hal itu memancing para murid lainnya untuk melakukan hal yang serupa. Beberapa detik kemudian, semburan kata mengudara. Hampir tidak bisa dibaca dengan lengkap, tapi yang pasti itu berisi hal yang sama dengan celetukan sebelumnya.


Sepertinya mereka, bukan dia. Sebuah tepukan pada pundak menyadarknya, saat menoleh dia mendapati Xing'er yang rupanya sudah tobat.


Hey, kawan. Apa hanya aku di sini yang bodoh? Bisakah jangan ambigu kali ini dan seterusnya? Bisakah perkataanmu itu tidak berbelit-belit? Aku pusing, kau tahu?


Li na? Aduh, maaf melupakanmu. Maaf juga, hanya saja kau memang ditakdirkan bodoh kali ini.


Suasana riuh ini sedikit menyingkirkan rasa takut. Hanya saja, bagi Lu wei mulut mereka sangat menggoda untuk dijahit. Astaga, itu terlalu berlebihan.


"Jelaskan!"


"Cepat jelaskan!"


"Cepat jelaskan!"


Lu weiberdecak. Urat persegi imajiner saat ini bertengger dipelipisnya. "Si*lan, baiklah!"

__ADS_1


Dia mengatur nafas sebelum berkata disertai raut yang bisa membuat seseorang tenggelam karna auranya. "Kalian ingin tahu? Kalian benar-benar ingin tahu bagaimana uang kalian hilang? Jika kuberitahu, sudah pasti kalian akan mengelak tanpa pikir panjang."


"Aku sudah serius karna rautmu! Tapi mulutmu malah membuatku ingin menjitakmu!"


"Huh, beritahukan saja."


"Kami bahkan belum mendengarnya, lalu bagaimana bisa kau berpendapat secepat itu?"


"Aiyo, katakan saja."


Kekehan pendek mendahului perkataan. Bertepatan dengan itu angin menerbangkan poni Lu wei yang mengalir dengan acak tapi indah. Membuatnya bergoyang, menghasilkan getaran tersendiri bagi seseorang. "Saat sebelum riuh ini terjadi, apa kalian mendengar sesuatu?"


"Yang mana?"


"Kapan?"


Mata yang tadinya mencerminkan kesan terbuka, kini menciut memberi kesan malas. "Saat kalian meributkan siapa yang kaya siapa yang miskin, lalu saat aku berkata 'Diam' apa kalian mendengar sesuatu?"

__ADS_1


"S-suara apa?! Kau jangan menakutiku!"


__ADS_2