My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Ini Milik Kekasihku


__ADS_3

Mata cantik wanita itu kembali meneteskan air matanya. Rasa sesak yang kini dia rasakan, tumpah begitu saja menyeruak bersama dengan turunnya rintik air dari langit yang kini membasahi bagian bumi. Aroma air hujan itu sangat menenangkan, namun tidak juga membuat wanita itu merasa lebih baik dari sebelumnya..


Yona, wanita itu menatap lurus ke depan meskipun pandangan matanya terasa kabur oleh air mata yang terus saja menggenang di pelupuk matanya. Isakan demi isakan keluar dari mulut wanita itu, menandakan bahwa dirinya benar-benar terluka saat ini.


Seharusnya Regan tidak pantas menyebutnya menggoda banyak lelaki. Yona akan terima, jika Regan tidak mengenali dirinya atau mungkin tidak memiliki bayangan kenangan apapun tentang Yona. Tapi bisakah lelaki itu lebih mengerti tentang Yona. Apakah di mata Regan diri Yona seperti itu, menggoda banyak lelaki?


"Awas saja, aku tidak akan sudi melihat wajahnya lagi," isak Yona menghapus air matanya dengan kasar.


Yona teringat, ada danau di dekat sana. Wanita itu segera memutar balik arah untuk menuju danau yang dulu pernah menjadi tempatnya membolos saat dirinya duduk di bangku SMP bersama teman-temannya.


Rupanya, danau itu masih sama seperti dulu. Hanya saja jalanannya sudah baik, banyak pedagang dan juga tempat duduk yang lebih memadai disana untuk para pengunjung. Yona keluar, wanita itu membuka bagasi mobilnya mengambil payung dari sana.


Wanita itu melangkahkan kakinya menuju danau, memilih duduk di salah satu kursi kosong. Yona menatap lurus ke depan, melihat rintik air hujan yang jatuh mengenai danau. Suara rintik hujan, dan juga dinginnya cuaca sangat menenangkan bagi wanita itu.


Dihapusnya dengan kasar air matanya, Yona mengambil batu dan melemparnya ke muka danau.


"Dasar lelaki bajing*n! Kamu pikir dirimu siapa hahhhh?" Teriak Yona masih dengan mata berkaca-kaca.


Yona terisak, pungungnya bergetar hebat menandakan bahwa wanita itu tengah menangis.


"Beraninya kamu mengataiku wanita penggoda banyak lelaki? Memangnya siapa dirimu lelaki berengs*k yang bahkan tidak mengenal tunangannya sendiri! Kamu pikir aku peduli jika kamu tidak mengingatku? Aku tidak peduli sama sekali!" Kesal Yona merem*s tangannya dengan marah, memukul-mukul kakinya sendiri saking kesalnya.


"Hiks...hiks, lelaki sial*n tidak tahu diri," isak Yona mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Setelah beberapa menit mengumpat dan meluapkan segala kekesalan di hatinya, wanita itu mengambil napas sekali lagi menetralkan detak jantungnya yang kini berdetak tidak karuan karena marah.


Yona mengadahkan wajahnya ke langit, membiarkan air hujan turun langsung mengenai wajahnya.


"Kamu tidak takut make-up mu luntur?" Tanya seseorang membuat Yona menoleh.


Seorang lelaki, mengalungkan kamera di lehernya. Yona menyipitkan matanya, menilai siapa lelaki itu. Yona jadi lebih waspada sejak kejadian yang menimpa dirinya dan Regan waktu itu.


"Kamu Yona kan? Tersangka percobaan pembunuhan?" Tanya lelaki itu duduk tanpa permisi di samping Yona.


"Sepertinya kamu tidak update berita, namaku sudah bersih dari tuduhan itu," jawab Yona menatap kesal lelaki itu.


Lelaki itu menoleh, "Benarkah? Aku sepertinya kurang update tentang berita para pesohor negeri ini."


Yona menghendikkan bahunya acuh, tidak peduli sekaligus tidak berniat meladeni ucapan lelaki asing itu.


"Aku dengar kamu sudah tidak menerima tawaran modeling lagi, sayang sekali padahal aku ingin kamu menghiasi kameraku," ucap lelaki itu menatap Yona.


Wanita itu sontak saja menoleh, bukan karena ucapan lelaki itu. Melainkan karena lelaki itu berniat menjadikannya modelnya. Padahal tidak semua fotografer bisa menjalin kerjasama dengan sang manager.


"Kamu mengenalku?" Tanya Yona penasaran.


"Kamu salah satu bintangnya France Agency bukan?" Tanya lelaki itu membuat Yona membelalakkan matanya lebar.


"Kamu, siapa?" Tanya Yona penasaran.


"Aku? Aku hanya fotografer keliling saja. Hahaha, senang bisa bertemu langsung dengan dirimu," kekeh lelaki itu menyodorkan tangannya pertanda ingin berkenalan dengan Yona secara resmi.


Yona menerima uluran tangan lelaki itu dan menaikkan alisnya penasaran.


"Kamu bisa membuka web milikku, Joseph Photograpi," jawab lelaki itu yang kini diketahui bernama Joseph.


Yona mengangguk, "Aku Yona, Jeseph?" Tanya Yona dijawab anggukan oleh Jeseph bahwa benar itulah nama dirinya.


"Kamu seorang fotografer?" Tanya Yona penasaran, wanita itu memindahkan payungnya dari tangan kanan ke tangan kirinya karena lelah.


Joseph mengambil payung itu, kini lelaki itu yang sukarela memegangi payung milik Yona untuk mereka berdua berteduh.


"Tidak juga, aku seorang pelukis yang melukis gambar-gambar dari jepretanku sendiri," jelas Joseph membuat Yona melebarkan matanya takjub.


"Benarkah? Kamu sudah memiliki galery sendiri?" Tanya Yona penasaran.


Joseph menangguk, "Aku punya satu galery di Inggris."


Yona berdecak kagum, air matanya kini telah mengering digantikan dengan tatapan takjubnya akan sosok Joseph.


"Kamu tidak kedinginan duduk disini?" Tanya Joseph kepada Yona.


Jujur saja, wanita itu sudah menggigil kedinginan. Sebenarnya Joseph tidak sengaja melihat Yona di sana. Lelaki itu sedang mencari inspirasi baru untuk lukisannya dan sesuatu membuat lelaki itu menjatuhkan pilihannya di danau ini.


"Sebenarnya aku sudah kedinginan," kekeh Yona menggosok tangannya, bahkan sebagian dari roknya sudah basah karena air hujan.


"Aku tadi berteduh di sana, tapi aku tidak yakin wanita sepertimu berkenan duduk di warung sederhana seperti itu," ucap Joseph menunjuk warung makanan dan minuman di tepi danau.


"Tidak apa, ayo kita berteduh disana," ucap Yona mengangguk bersemangat.


Joseph tersenyum, lelaki itu berdiri mempersilahkan Yona untuk jalan lebih dahulu dengan dirinya yang kini mengekor di belakang wanita itu dan memegangi payung agar mereka berdua tidak basah oleh air hujan.


"Bajumu basah, ini pakai saja jaketku," ucap Joseph menyodorkan jaketnya yang tadi berada di dalam tasnya yang sengaja dia tinggal di warung.


"Apakah tidak apa-apa?" Tanya Yona merasa tidak enak kepada Joseph.


"Santai saja, aku tidak akan mengambilnya ke rumahmu kok," ucap Joseph membuat Yona tertawa.


Joseph memanggil pelayan warung disana, meminta Yona untuk memesan minuman hangat atau mungkin makanan untuk mengisi perutnya.


"Emmm, hujan gini enaknya apa ya?" Tanya Yona kepada dirinya sendiri, seakan menimang apa yang akan dia pilih.

__ADS_1


"Mie rebus?" Ucap Yona dan Joseph bersamaan.


Mereka berdua saling menatap dan terkekeh, tidak menyangka jika selera mereka sama.


"Hei kita satu selera ternyata. Aku pesan mie rebus satu ya mbak, kuah pertamanya dibuang saja. Cabainya banyakin hehe,"


"Sama, aku juga mbak." Jawab Yona menyamakan pesanannya dengan Joseph.


Joseph menatap Yona, ada rasa kagum dalam diri lelaki itu akan pribadi Yona yang tidak pilah-pilih tempat makan. Biasanya, wanita-wanita seperti Yona hanya makan di resaurant mewah dan berkelas.


"Kamu tidak malu makan di tempat seperti ini?" Tanya Joseph penasaran.


"Malu? Kenapa?" Tanya Yona balik dengan kening berkerut karena bingung.


"Siapa tahu ada paparazi yang mengikutimu," ucap Joseph.


"Kalau itu terjadi mungkin berita akan menyabar jika aku berselingkuh di warung mie dari tunangan yang melupakan diriku," jawab Yona membuat Joseph terbahak.


"Aku baru ingat, kamu akan bertunangan tapi batal ya? Kasihan sekali" ejek Joseph membuat Yona mendengus.


"Jangan mengejekku, aku takut dirimu akan mengalami hal yang sama," ucap Yona membuat Joseph melebarkan matanya.


Pesanan mereka telah siap, keduanya nampak berbinar dengan mie kuah yang kini berada di depan mereka.


"Selamat makan," ucap Yona diangguki Joseph.


Yona menikmati mie kuah di hadapannya dengan bersemangat.


"Hmmm ini lezat sekali," ucap Yona menyuapkan satu sendok kuah mie itu masuk ke dalam mulutnya.


"Kamu terlihat seperti orang yang sudah lama tidak makan mie instan," ucap Joseph menatap Yona dengan tatapan geli.


Yona mendongak menatap lelaki itu, Yona mengangguk membenarkan ucapan Joseph.


"Benar sekali, selama lima tahunan aku tidak makan mie instan," jawab Yona tersenyum.


*


Hujan telah reda, waktu juga sudah berlalu dengan cepat. Kini jam menunjukkan pukul lima sore waktu setempat. Yona harus segera pulang ke rumah sebelum orang rumah menanyakan di mana dia berada.


Kebetulan sekali, ponsel Yona kini mati karena batrainya telah habis.


"Aku akan mengembalikan jaket milikmu nanti kalau sudah dicuci," ucap Yona kepada Joseph.


Duduk berdua dalam waktu yang lumayan lama membuat keduanya nampak akrab dan saling mengenal satu sama lain. Pribadi Joseph memang sangat menyenangkan dan mudah sekali akrab dengan orang lain. Itulah salah satu alasan kenapa Yona bisa mudah bercerita dengan lelaki itu yang baru saja dia temui beberapa jam yang lalu.


Joseph menyodorkan kartu namanya, "Kamu bisa menghubungiku lewat itu."


"Cepat kembali, siapa tahu tunanganku sudah mengingat dirimu," ucap Joseph dengan kekehan menggodanya.


"Sial*n, jangan menggodaku," umpat Yona melambaikan tangannya memasuki mobilnya.


Yona mengklakson, dijawab lambaian tangan dari Joseph.


"Hati-hati di jalan, senang bertemu denganmu," ucap Joseph tersenyum.


Sudah lama sekali, lelaki itu ingin menjadikan Yona salah satu model lukisannya. Baru saja dia ingin mengajukan kontrak ke agensi wanita itu, Yona lebih dulu keluar dari dunia yang telah membesarkan namanya.


"Semoga kita bisa bertemu lagi di waktu dan di kesempatan yang lebih baik lagi," harap Joseph begitu mobil Yona hilang dari pandangan matanya.


Yona melihat sosok Joseph dari kaca spion mobilnya, wanita itu tersenyum lembut. Tidak menyangka akan bertemu dengan lelaki yang menyenangkan seperti Joseph.


"Tidak sia-sia aku hujan-hujan datang ke danua, aku bertemu pelukis hebat seperti dirinya," kekeh Yona merutuki keberuntungannya.


Karena Joseph, mood Yona telah kembali. Wanita itu sudah melupakan Regan yang sangat-sangat menjengkelkan bagi dirinya.


"Sepertinya lelaki kurang ajar itu butuh diberikan pelajaran. Oke kita lihat saja, apa itu yang dimaksud dengan menggoda banyak lelaki!" Geram Yona merem*s setir mobilnya dengan tatapan mata marah seakan-akan ingin meluluh-lantahkan Regan dengan sekali remukan.


Kurang satu belokan lagi mobil Yona sudah memasuki pelataran komplek mewah rumahnya. Wanita itu mengerutkan keningnya saat pagar rumahnya terbuka. Yona menurunkan kaca mobilnya,


"Pak, ada siapa? Kenapa gerbang dibiarkan terbuka?" Tanya Yona kepada salah satu security rumahnya.


"Ada Den Regan, kayaknya nyari Non Yona," jawab security itu membuat Yona menaikkan alisnya.


Mau apa lagi lelaki itu mencari dirinya sampai ke rumahnya? Bukankah bagi Regan dirinya hanya wanita yang suka menggoda banyak lelaki? Ah playgirl namanya kalau tidak salah.


Yona memarkirkan mobilnya di samping mobil daddynya. Wanita itu keluar dari mobilnya dan berlari kecil memasuki rumahnya. Yona memberikan salam, membuat sosok lelaki yang menantinya sejak tadi menoleh.


Regan berdiri dan menghampiri Yona, mata lelaki itu memicing melihat jaket yang kini tersampir di pundak Yona. Sepertinya itu jaket limited edition yang dia lihat di majalah yang ada di meja baca ayahnya.


"Kamu habis dari mana? Aku menunggumu satu jam di sini," ucap Regan membuat Yona mendongak menatapnya dengan senyuman miring.


"Untuk apa kamu menungguku?" Tanya Yona bertanya.


"Aku...aku hanya ingin menemuimu, dan meminta maaf," jawab Regan menatap tepat di manik mata indah milik Yona.


Mata teduh yang membuat Regan ingin mendekap wanita itu sangat erat. Meskipun Regan tidak bisa melihat wajah dan membedakan wajah orang, tapi Regan bisa melihat mata seseorang dan mengenalinya, meskipun terkadang dirinya sama sekali tidak bisa mengenali orang-orang di sekitarnya.


"Ah, aku pikir kamu mengingatku," ejek Yona menyunggingkan senyumnya miris.


Regan mencekal tangan Yona, "Aku mengingatmu."

__ADS_1


Jawaban Regan tentu saja membuat Yona terbelalak. Tapi benarkah apa yang kini dia dengar? Lelaki itu pasti hanya bercanda dan mempermainkan perasaannya saja.


"Aku mengingatmu, wanita yang setiap malam ingin aku dengar suaranya sebelum mata sial*nku ini terpejam. Aku mengingatmu, wanita yang selalu aku pikirkan dengan otak yang telah kehilangan ingatannya. Aku sudah mengingat wanita yang menurut otak dan mataku ini menjadi candu bagi mereka," jawab Regan panjang lebar.


Yona sudah tahu, Regan tidak akan mengingat siapa Yona. Regan tidak akan mengingat sedalam apa lelaki itu telah menyentuh hati Yona.


"Apa kamu ingat siapa diriku?" Tanya Yona dengan matanya nanar.


Hendra yang baru saja selesai mandi dan ingin menghampiri Regan untuk berbincang santai menghentikan langkahnya sejenak. Lelaki itu berbalik arah saat mendengar Yona dan Regan tengah berbicara penting.


Hendra tahu, sekuat apapun Yona menahan dan serapat apapun Yona menyembunyikan perasaannya wanita itu akan meledak pada suatu waktu. Mana ada wanita di dunia ini yang tahan terlupakan oleh orang yang dia cintai? Mana ada wanita yang tahan melihat lelaki yang dia cintai memandangnya seperti orang asing dan menganggap Yona hanya orang lain dalam hidupnya.


"Yona sudah pulang," ucap Hendra memberitahu istrinya yang mau menghampiri Regan, berniat menemani lelaki itu menunggu kepulangan Yona.


Shinta menengok kearah Yona dan Regan,


"Mereka bertengkar?" Tanya Shinta kepada Hendra.


"Sepertinya begitu, sudahlah biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri," ucap Hendra menggandeng tangan istrinya untuk kembali masuk ke dalam kamar mereka, meninggalkan pasangan mengenaskan itu sendirian di sana membicarakan tentang kisah yang tidak pernah bisa orang lain mengerti.


Regan terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia benar-benar tidak tahu siapa Yona, dan apa yang telah terjadi diantara keduanya.


"Kalau begitu, maukah kamu membantuku mengingat tentang dirimu Yona?" Tanya Regan memohon, tidak tahu lagi harus berbuat apa lagi.


Yona tidak boleh membantu Regan mengingat kejadian masa lalu mereka dengan paksa. Yona tidak ingin membahayakan nyawa Regan hanya karena keegoisan Yona semata.


"Pulanglah," ucap Yona malas bersitegang selalu dengan lelaki itu.


"Yona, dengarkan aku."


Regan memohon di depan Yona, setidaknya jika memang mereka berdua memiliki kenangan di masa lalu biarkan Regan mengingatnya kembali dan menebus segala kesalahannya di mata wanita itu.


Regan sangat bingung, kenapa Yona sampai semarah itu dengannya hanya karena Regan tidak mengenali wanita itu. Apakah yang telah Regan lupakan? Sumpah demi apapun juga, Regan ingin mendapatkan ingatannya kembali apapun resiko yang akan dia hadapi nantinya.


"Berhenti di tempatmu Yona!" Ucap Regan membuat Yona yang hendak meninggalkan lelaki itu menghentikan langkahnya.


Yona menoleh ke belakang, menatap Regan dengan raut wajah bingung.


"Bukankah aku sudah memintamu untuk pulang? Kamu harus beristirahat, sebelum kondisi kesehatanmu memburuk," ucap Yona kepada Regan.


"Aku tidak akan pulang, sebelum kamu menjawab pertanyaanku," ucap Regan membuat Yona menyerngit bingung.


Regan berjalan mendekat kearah Yona, lelaki itu mendekap tubuh Yona dengan erat. Tubuh Yona menegang seketika, Yona tidak tahu kenapa lelaki itu tiba-tiba saja memeluknya seerat itu.


"Kalau aku melupakan kenangan tentangmu, bisakah kita membuat kenangan baru lagi yang lebih baik dari kenangan sebelumnya?" Tanya Regan lirih.


Yona menatap Regan, menelisik mata lelaki itu untuk mencari kebohongan atas apa yang telah Regan ucapkan. Tidak ada! Lelaki itu benar-benar serius atas ucapannya.


Kilatan percakapannya dengan Dokter Irawan membuat Yona melepaskan pelukannya dengan Regan. Wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Apa yang akan terjadi kalau aku bilang bahwa aku calon tunangannya dan dua hari sebenarnya kita akan menikah?" Tanya Yona kepada dr.Irawan saat itu.


"Kamu akan kehilangan lelaki yang kamu cintai selamanya."


Tidak, Yona tidak ingin kehilangan lelaki itu untuk selamanya. Yona tidak ingin membuat lelaki itu dalam bahaya ataupun celaka karena dirinya. Sudah cukup dengan kesalahannya yang berakibat fatal atas kesehatan Regan. Yona tidak akan mengulang kesalahannya untuk ke dua kalinya.


"Aku mohon, pulanglah Regan."


Yona menundukkan kepalanya, berkata kepada Regan dengan lirih karena tidak berniat menatap mata lelaki itu lebih dalam lagi. Yona tidak sanggup melihat mata Regan yang kini menatapnya dengan tatapan memohon.


"Jawab pertanyaanku lebih dulu, apa hubungan kita di masa lalu?" Tanya Regan bersikeras.


Yona tertawa, "Hubungan apa yang kamu maksud? Kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Seperti yang kamu ingat, kamu pertama kali melihatku saat dirimu membuka mata," jawab Yona tersenyum kecut.


"Bohong, kamu pasti berbohong kan?" Teriak Regan tidak percaya dengan apa yang telah Yona ucapkan kepada dirinya.


"Untuk apa aku berbohong? Aku juga tidak mengenalmu sebelumnya," jawab Yona menetralkan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang.


"Pembohong, kamu hanya menutupi semuanya."


Regan menatap Yona tidak percaya, lelaki itu kini beralih dengan jaket yang Yona kenakan. Jaket yang membuat Regan berpikir, tentang siapa pemilik jaket itu.


"Siapa pemilik jaket itu?" Tanya Regan sekali lagi.


"Apa urusanmu?" Tanya Yona menatap Regan.


"Apa itu milik kekasihmu?" Tanya Regan dengan darahnya yang kini mendidih.


Yona terbelalak, tapi di detik selanjutnya wanita itu mengangguk, membenarkan bahwa jaket yang dia pakai adalah milik kekasihnya.


"Ya, ini milik kekasihku." Jawab Yona membuat Regan tersentak kaget.


Kenapa? Kenapa hati Regan terasa sangat sakit mendengar jika wanita itu telah memiliki kekasih, dan itu bukan dirinya!


----


*TEMEN-TEMEN JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN + FOLLOW AKUN AUTHOR YAA 🙏🙏


MINTA BANTUAN JUGA ISI PERFORMA 'CINTA DAN BENCI' BINTANG LIMA YA SEKALIGUS BAGI LIKENYA UNTUK NOVEL CINTA DAN BENCI. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM SEMOGA LOLOS KONTRAK JUGA YAA, AMINNN 🙏🙏🙏😊


TERIMAKASIHHH SEMUANYA, MAMPIR DI CHAT STORY 'PASANGAN RUWET' ❣️❣️*

__ADS_1


__ADS_2