My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Derita Regan


__ADS_3

"Regan, kamu tidak tidurkan?" tanya Yona, kepalanya mendongak melihat Regan yang kini berbaring di sofa kamar hotel.


"Hmmmm," jawab Regan entah sudah keberapa kalinya.


Yona melarangnya untuk tidur, Yona meminta Regan menjaganya sampai dia bisa tertidur lelap.


Bayangan kejadian penculikan beberapa tahun lalu membuat dada Yona bergemuruh. Matanya berkaca-kaca mengingat saat-saat itu yang sangat menakutkan.


"Regan, kamu pernah diculik? " tanya Yona tiba-tiba.


Regan menatap Yona. "Tidak pernah."


"Kamu tahu rasanya diculik?" tanya Yona dengan pandangan kosong.


"Mana aku tahu, aku kan tidak pernah diculik"


"Gelap, sesak, tanganku gemetaran saat itu" ucap Yona membuat Regan menegang. Regan menatap Yona dengan seksama, mendengarkan cerita wanita itu lebih dalam lagi.


"Sebenarnya, alasan Daddy dan Mommy memintaku berhenti karena aku pernah diculik saat itu," jelas Yona.


"Kamu melewati begitu banyak kejadian dalam hidupmu," jawab Regan.


Air mata Yona meluruh kembali, Regan beranjak dari sofa untuk mendekat ke arah Yona. Memeluk Yona dan menenangkannya.


"Sekarang tidak apa," ucap Regan mengisi pikiran Yona dengan hal-hal positif.


Yona mengangguk, entahlah. Dada bidang Regan menjadi tempat terbaiknya untuk menangis meluapkan isi hatinya. Regan menggenggam erat tangan Yona, mencium punggung tangan wanita itu.


"Kamu aman, hmmm," ucap Regan, mencium puncak kepala Yona hingga wanita itu memejamkan matanya.


"Terimakasih, sudah mau mendengarkanku," ucap Yona mendongak menatap Regan.

__ADS_1


"Sudah menjadi tugasku," jawab Regan tersenyum.


Regan menyentuh wajah Yona, kedua tangannya menangkup wajah Yona. Regan mencium kening Yona.


"Mulai sekarang pikiranmu hanya akan diisi dengan kenangan-kenangan yang baik," ucap Regan.


Lalu Regan mencium kedua kelopak mata Yona. "Mata ini hanya boleh menangis karena bahagia."


Hingga kemudian bibir Regan mencium bibir Yona sekilas.


"Dan bibir ini hanya akan berbicara yang baik-baik," ucap Regan.


Yona menarik tengkuk Regan, wanita itu seperti terhipnotis atas ucapan Regan yang menggetarkan hatinya. Yona ******* bibir Regan dengan mesra.


Regan tersenyum dalam hatinya, pertanda bahwa hubungannya dan Yona semakin erat.


Regan tidak mau kalah, lelaki itu membalas ciuman Yona dengan baik. Regan sangat pandai dalam hal mengingat ciuman panas yang pernah dia tonton sebelumnya.


"Tidur saja di sini," ucap Yona malu-malu.


Mata Regan berbinar, lelaki itu segera merebahkan dirinya disamping Yona.


Yona menempatkan guling ditengah-tengah mereka, menjadi pembatas bagi mereka.


"Selamat malam," ucap Yona memunggungi Regan di belakangnya.


Regan memicingkan matanya, mereka dua orang dewasa tidur diranjang yang sama, hanya ada mereka berdua, dan sedang hujan. Apakah Yona tidak memiliki pekiran yang sama dengannya.


Sedang hujan, sangat deras dan juga dingin. Bukankah seharusnya mereka saling menghangatkan satu sama lain?


Berbeda dengan Regan yang sibuk dengan pemikirannya. Yona justru sudah terlelap dalam tidurnya. Kelelahan setelah aktivitas panjangnya seharian penuh ini.

__ADS_1


Regan bangkit dari tidurnya, mengecek wanita yang kini tidur di sampingnya.


"Huhh, sudah tidur lagi l," keluh Regan ketika mata Yona telah terpejam sempurna.


Rupanya hanya Regan yang memiliki pemikiran liar dan sensual. Yona tidak memiliki pemikiran apapun selain tidur. Kasihan sekali Regan malam ini.


Satu jam berlalu, mata Regan masih belum bisa terpejam. Lelaki itu sudah berusaha sekuat hati untuk memejamkan matanya.


Sebuah lengan yang melingkar di perutnya semakin membuat jantung Regan berdetak tidak karuan. Yona memeluknya, lebih tepatnya merangkulnya seperti guling.


Dan lagi, kaki Yona melingkar di pinggangnya. Kaki wanita itu mengenai 'senjata' Regan yang sejak tadi tegang karena berdekatan dengan Yona seintim itu.


Regan mengusap wajahnya frustasi, semalaman ini pasti akan menjadi malam yang sangat panjang untuk dia lewati. Semakin Regan mencoba melepaskan kaki dan tangan Yona. Semakin erat wanita itu melingkarkan kaki dan tangannya pada tubuh Regan.


Regan menghela napas, mimpi apa dia kemarin malam sampai menghadapi situasi sesial itu.


"Yona?" panggil Regan mencoba membangunkan Yona, berharap wanita itu mengerti posisinya saat ini.


"Yon?" panggil lelaki itu lagi.


"Emhhh berisik," keluh Yona disusul tamparan tangannya pada mulut Regan.


Regan tersentak kaget, sudah membuatnya dalam posisi sesulit itu, ditambah Yona menampar mulutnya tanpa sadar.


Huhhh, Regan harus menderita semalaman ini.


Regan hendak beranjak dari tempat tidur, tapi Yona semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan wanita itu semakin mendekat kearahnya. Yona menarik tangannya, dia jadikan bantal untuk menyangga kepala wanita itu.


Astaga Yona, tidak taukah dia bahwa Regan tengah mati-matian menahan gelora batinnya untuk tidak menyentuhnya malam ini? Kenapa wanita itu justru memancing Regan untuk berbuat yang lebih jauh kepadanya.


Lihat saja betapa frustasinya wajah Regan saat ini. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Jika ada air es, biarkan dia mandi dengan air es malam ini meskipun cuaca saat ini mampu membekukannya. Regan benar-benar frustasi dibuatnya !

__ADS_1


__ADS_2