
Sepeninggalan Hendra dan Shinta, Yona hanya terdiam tidak tahu harus melakukan apa untuk melepaskan diri dari kungkungan tangan Regan. Sepertinya lelaki itu tidak akan melepaskan tubuhnya meskipun telah susah payah Yona mencobanya berkali-kali.
Mata lelaki itu terpejam, memeluk Yona dengan erat seakan takut kalau Yona akan meninggalkan dirinya secara tiba-tiba. Regan mencium aroma tubuh Yona yang sangat menenangkan bagi dirinya. Sedangkan Yona harus mati-matian menahan dirinya untuk tidak terkecoh dengan situasi mereka saat ini.
Dalam satu kamar yang sama, satu ranjang yang sama, dan hanya mereka berdua dengan kondisi pintu kamar yang tertutup rapat. Bisakah kalian bayangkan bagaimana posisi Yona saat ini? Wanita itu sampai memejamkan matanya berkali-kali untuk menghilangkan pikiran buruk dari dalam otaknya.
Meskipun Yona belum mengganti baju untuk tidur, tapi pelukan hangat Regan mampu membuatnya terasa nyaman dan begitu tenang. Wanita itu merasakan kantuk yang langsung menyergapnya begitu saja. Tidak peduli di mana sekarang mereka berada. Yona malah asyik menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Regan mencari kehangatan di sana.
Regan menggeliat, lelaki itu melihat Yona tidur nyaman di sampingnya seperti seorang bayi yang telah mendapatkan kenyamannya. Regan memberanikan diri menatap wajah Yona, menyusuri lekuk wajah wanita itu dengan lembut. Lelaki itu mencium kening Yona sekilas, lalu turun ke kedua mata Yona, mencium hidung Yona, dan jatuh ke bibir mungil milik Yona.
Lelaki itu menciumnya sekilas, mengecup pelan bibir itu hingga sang pemiliknya membuka matanya.
“Kamu tidak tidur?” tanya Yona menatap Regan.
Mata Regan berbinar. ”Mana bisa tidur aku jika satu ranjang dengan wanita secantik dirimu, kamu menggoda imanku Yona,” ucap Regan membuat wajah Yona bersemu merah.
“Benarkah? Apa perlu aku pergi ke kamarku?” tanya Yona menatap Regan, meminta jawaban dari lelaki itu.
Regan terdiam, tidak bereaksi sama sekali. Yona mengendurkan tangan Regan, wanita itu beranjak turun dari ranjang orang tuanya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Regan ketika melihat Yona berjalan kea rah pintu.
“Ke kamarku, ini kamar Daddy dan Mommy. Kamu gila memasuki kamar orang tuaku dengan seenaknya,” jawab Yona membuat Regan terbelalak.
“Aku masuk ke kamar orang tuamu? Yang benar saja kamu pasti bercanda kan?” tanya Regan membelalakkan matanya.
Yona menggeleng, wanita itu menunjuk foto pernikahan orang tuanya yang sudah lebih dari 50 tahun lamanya terpajang di sana tanpa pernah diubah sama sekali.
“Itu lihat, kamu menerobos masuk kamar orang tuaku. Ckckck, kamu ini gila sekali,” umpat Yona membuat Regan langsung bangkit dari posisinya.
Lelaki itu berjalan kea rah Yona, menggandeng tangan wanita itu untuk keluar dari kamar orang tua Yona. Regan menarik tangan Yona, dan wanita itu hanya mengikutinya tanpa bertanya mau kemana dan untuk apa.
“Kamarmu di atas kan?” tanya Regan mengadahkan wajahnya ke lantai atas rumah Keluarga William.
Yona mengangguk, tanpa aba-aba sebelumnya Regan langsung membopong tubuh Yona sampai wanita itu tersentak dan mengerjapkan matanya berkali-kali.
“Hei apa yang kamu lakukan hah?” pekik Yona meronta untuk meminta Regan menurunkannya.
“Ke kamarmu, untuk apa lagi?” tanya Regan membuat Yona membelalakkan matanya.
“Lepaskan aku Regan, untuk apa kita ke kamarku? Kamu tidur di kamar tamu saja,” teriak Yona tanpa peduli jika orang tuanya atau penghuni pavilion rumahnya akan terbangun ketika mendengar teriakan wanita itu.
“Husttt, kamu mau seluruh orang berlari ke lantai atas dan mendengar kita bermain malam ini?” tanya Regan membuat Yona semakin terbelalak.
Enak-enak? Apa maksud lelaki itu? Kenapa Regan semakin gila hingga berpikiran semengerikan itu. Mungkinkah itu pertanda bahwa Regan lelaki normal yang mungkin bisa timbul gejolak naf*su asmara dalam dirinya?
Astaga Yona belum mempersiapkan semuanya, dia juga tidak tahu trik dan tips-tips untuk enak-enak pertama kali. Terkutuklah wahai video mantap-mantap yang sama sekali belum pernah Yona lihat dari awal baligh hingga umurnya mencapai 25 tahun.
“Em Regan, sepertinya kamu terlalu mabuk, Kamu meracau tidak jelas,” ucap Yona mencoba untuk membuat Regan sadar dari kegilaannya.
“Kamu yang membuatku gila Yona,” ucap Regan membuat Yona bungkam seribu bahasa.
Regan menaiki anak tangga satu per satu hingga mereka sampai di anak tangga paling atas. Regan seperti tidak kuwalahan membawa Yona dalam gendongannya. Regan menurunkan Yona tepat di depan pintu kamar wanita itu.
“Aku atau kamu yang membukanya?” kata Regan menunjuk pintu kamar Yona.
Yona membuang wajahnya malu, bagaimana ini jika Regan benar-benar melancarkan aksinya untuk mereka berdua saling menyatu satu sama lain dalam gejolak api asmara yang timbul?
“Baiklah, aku saja yang membukanya,” ucap Regan membuka pintu kamar Yona sampai wanita itu menoleh dengan cepat kea rah Regan.
Matilah dia!
Regan menarik tangan Yona, mengajak wanita itu memasuki kamar. “Yaaa, lepaskan aku,” pekik Yona saat Regan menariknya dengan paksa.
Regan benar-benar dipenuhi dengan gejolak nafsu api asmara, lelaki itu mengunci pintu kamar Yona.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan?” pekik Yona membelalakkan matanya menatap Regan.
“Kamu tidak mengerti maksudku?” ucap Regan dengan tatapan membara kepada Yona.
Lelaki itu berjalan mendekat ke arah Yona, Yona semakin terhimpit sekarang. Wanita itu mencoba mencari akal untuk bisa pergi dari kamarnya demi menghindar Regan yang saat ini tengah kehilangan kewarasannya.
“Regan, aku belum siap,” ucap Yona tergagap.
Wanita itu menatap Regan dengan tatapan mengiba, Regan berjalan mendekat kea rah Yona.
“Kenapa? Kita juga akan menikah Yona. Cepat atau lambat kita akan melakukannya kan?” tanya Regan membuat Yona terdiam.
Iya memang benar cepat atau lambat mereka akan melakukannya, tapi tidak sekarang. Yona belum melakukan perawatan untuk bagian kesurgaannya. Yona rasanya malu jika lelaki itu melihatnya sebelum waktu yang tepat.
Regan membuka dua kancing atas kemejanya, Yona yang melihatnya langsung membuang muka dari sana. Yona tidak ingin melihat tubuh atletis Regan hingga memancing hawa naf*su asmara yang akan berdampak kehilangan kesadaran atas batasan keduanya.
“Tatap mataku Yona,” pinta Regan namun tidak dihiraukan oleh Yona.
Lelaki itu memegang wajah Yona, lelaki itu memberikan kecupan di pipi Yona hingga membuat Yona menahan napasnya sejenak. Regan menangkup wajah Yona, mencium kedua kelopak mata milik wanita yang sangat cantik itu.
Dada Yona bergemuruh hebat, dirinya tidak tahu harus membalas apa untuk situasi mereka berdua saat ini. Yona memejamkan matanya, menikmati semua gelegar aneh yang kini melingkupi dadanya. Semua yang kini Regan pegang terasa sangat candu baginya. Kecupan di belakang telinga wanita itu membuatnya mengerang penuh kesyahduan.
Kali ini Regan mengadahkan wajah Yona dengan tangannya, memberikan kecupan lembut di bibir Yona. Semakin lama semakin dalam, dan Yona membalas pagutan bibir Regan dengan tidak kalah agresifnya. Mereka berdua telah kehilangan batas-batas mereka, api gejolak asmara sudah memenuhi diri mereka masing-masing.
Tidak butuh waktu lama, kancing kemeja Regan telah lepas semua karena tangan Yona. Begitu juga dengan pakaian Yona yang kini merosot ke lantai, teronggok begitu saja di sana. Regan dengan brutal menciumi seluruh lekukan kulit bak porselin itu dengan penuh gejolak batinnya.
Suara desahan panjang melengking bagaikan irama merdua lagu kesusastraan cinta sejati. Suara napas mereka berderu, saling beriringan seirama tanpa peringatan. Lelaki itu dengan cepat melepaskan celananya, dengan lihai dirinya membuka pengait keindahan di gundukan milik Yona.
Dengan pelan, Regan menciumi kulit polos milik Yona. Hanya menyisakan celana dalam mereka berdua yang masih menutupi bagian kenikmatan mereka berdua.
Yona membalikkan tubuhnya. “Aku malu,” bisik Yona dengan wajah yang sudah memerah.
Regan memeluk tubuh itu dari belakang, memberikan cap kepemilikan di leher jenjang Yona hingga wanita itu mengerang. Regan membalikkan tubuh Yona, menatap tubuh polos itu dengan tatapan memujanya.
“Kamu sangat indah sayang,” bisik Regan menciumi leher Yona sampai wanita itu mendesah, melengking begitu penuh kenikmatan.
“Aku akan melepaskannya,” ucap Regan berbisik, tangannya sudah beraksi menurunkan satu helai pakaian yang masih ada di tubuh Yona.
Yona hanya mengangguk saja, wanita itu menikmati setiap sentuhan yang Regan berikan kepadanya. Yona memejamkan matanya, beginikah rasanya kenikmatan duniawi yang banyak orang rasakan?
Ah, Yona benar-benar menimatinya, dirinya begitu suka dengan semua yang Regan lakukan pada tubuhnya. Belaian itu sangat manja, membuat Yona tidak tahan lagi menunggu terlalu lama.
Dengan berani, Yona membuka celana penutup benda panjang yang sangat pas di mata Yona. Entah kegilaan macam apa yang kini terjadi pada diri Regan dan Yona. Mereka berdua berusaha menahan gejolak itu, namun sia-sia saja. Ada sesuatu yang mendorong mereka berdua untuk segera dituntaskan, saling memuaskan diri satu sama lainnya.
Regan sangat frustasi, wanita di depannya ini sangat menyiksanya setiap kali mereka bersama. Barang milik Regan selalu saja tegang setiap kali wanita itu ada di dekatnya. Regan tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menahan gairah panas dalam dirinya.
Rasa penasaran akan kenikmatan itu membuat keduanya memberanikan diri untuk saling merasakan satu sama lain. Suara lenguhan, des*ahan, dan juga suara-suara penuh kenikmatan memenuhi kamar Yona malam ini. Regan tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, lelaki itu merebahkan tubuh Yona ke ranjang. Decakan kagum lagi-lagi keluar dari mulut Regan menatap tubuh mengagumkan milik Yona tanpa cela maupun bekas luka sedikitpun di tubuh wanita itu.
“Bolehkan?” tanya Regan meminta izin lebih dulu kepada Yona.
“Emh, iyah,” jawab Yona dengan suara tidak tertahankan lagi.
Regan segera menyusul Yona ke ranjang, lelaki itu mulai melakukan kegiatan asmaranya dengan Yona. Bibir Yona terasa kelu, rasa perih di bawah sana bercampur kenikmatan menjadi satu kesatuan membuat Yona tidak tahu harus melakukan apa selain mengikuti permainan Regan mala mini.
Ahhh … sepertinya Yona tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak mendesah karena rasanya di bawah sana sangat menyenangkan, penuh cinta dan juga bercampur jadi satu dengan gejolak asmara keduanya.
Inikah rasanya bercinta? Rasa bahagia yang kini menyelimuti hati Yona dan juga Regan. Mata Regan menatap bibir Yona melengkung keatas, bersama kenikmatan yang mereka bawa satu sama lain. Regan bahagia, wanita itu hari ini menyerahkan kehormatannya kepadanya. Tidak ada yang membahagiakan dari pada ini, mereka begitu dekat, sangat lekat sampai tidak terpisahkan satu sama lain.
“Emhh, tidak muat Yona,” ucap Regan dengan usaha memperdalam hubungan mereka.
“Aku suka,” ucap Yona dengan desahan yang tidak tertinggal.
Regan mengangguk. ”Yona,” de*sah Regan ketika merasakan kehangatan luar biasa nikmat di dalam sana.
Regan memajukan tubuhnya, mencium bibir Yona dengan sama ganasnya dengan pergulatan mereka. Yona menelan ludahnya, memerintahkan lidahnya untuk bergerak mengikuti lidah Regan yang kini membimbingnya. Tubuh Regan kembali tersentak maju, bersamaan dengan gerakan tubuh mereka yang seirama.
__ADS_1
Yona tidak menyangka jika Regan akan memperlakukannya selembut itu, Akhhh. Lihat saja bagaimana Regan menciuminya dengan lembut, bermain dengan sangat baiknya untuk menyelesaikan pergulatan panas mereka demi menuju puncak kenikmatan hakiki.
“Sedikit lagi Sayang, akhh ini begitu nikmat,” ucap Regan melengkingkan desahannya berkali-kali.
“Iya Regan, aku suka, aku suka gerakanmu. Ini enak sekali,” ucap Yona tidak mau kalah.
“Oh Ya Tuhan Yona, kenapa kamu begitu nikmat dan hangat. Arkh ....” desah Regan ketika lelaki itu mencapai kenikmatannya.
Sebuah sentakan di bahu Regan membuat lelaki berjingkat kaget, matanya terbelalak bersamaan dengan keringat yang menggenang di keningnya. Lelaki itu menatap ke sekeliling ruangan.
“Ah sialan hanya mimpi!” umpat Regan membuat wanita yang kini berkacak pinggang di depannya menatapnya penuh tanya.
“Apa yang sedang kamu mimpikan?” tanya Yona memicingkan matanya menatap Regan penuh curiga.
Regan mengerang, sesuatu yang hangat keluar dari celananya. Astaga, kenapa mimpi itu terasa begitu nyata?
Regan menatap Yona, ah betapa indahnya tubuh wanita itu saat polos tanpa memakai sehelai benang sekalipun yang menutupinya. Buah dada Yona yang sangat pas di tangan Regan, sekaligus lubang kenikmatan yang begitu hangat menjepit kepemilikan Regan. Ah, Regan bisa gila jika membayangkan mimpinya semalam.
“Regan, apa yang sedang kamu mimpikan?” tanya Yona penasaran.
Regan menggeleng, lelaki itu tidak mungkin memberitahu Yona jika dirinya tengah bermimpi melakukan adegan panas dan saling menyatu. Bisa-bisa Yona akan marah besar dan mengatainya sebagai lelaki mesum.
“Oh Ya Tuhan Yona, kenapa kamu begitu nikmat dan hangat. Arkh!” ucap Yona menirukan ucapan Regan dalam tidur lelaki itu.
Mata Regan membulat sempurna. “Siapa yang berkata seperti itu?” tanya Regan menatap Yona berpura-pura jika itu bukan dirinya.
“Siapa lagi menurutmu selain kamu?” tanya Yona mendengus sebal.
“Kamu ini kenapa membangunkanku pagi-pagi hah? Suka sekali mengganggu mimpi indah orang lain,” cibir Regan menendang selimutnya kasar.
Lelaki itu menatap seluruh ruangan, keningnya menyerngit karena itu bukan kamarnya ataupun kamar Yona.
“Kamu tidak membawaku ke hotel kan? Atau jangan-jangan semalam kamu mencari kesempatan dalam kesempitan?” tuduh Regan kepada Yona membuat wanita itu mendengus.
“Aku? Mencari kesempatan dalam kesempitan? Kamu itu yang bermimpi syur tentang diriku! Lagi pula kenapa kamu menyebut namaku dalam desahanmu hah? Kamu pasti sedang menjadikanku objek gilamu kan?” tuduh Yona menatap Regan penuh curiga.
Yona memicingkan matanya.“Sedikit lagi sayang, akhh ini begitu nikmat,” ucap Yona menirukan ucapan Regan yang terdengar menggelikan di telinganya.
Niat Yona ingin membangunkan Regan, tapi lelaki itu malah mengigau hal-hal menjijikkan bagi Yona. Mungkin setelah ini Yona akan membawa Regan untuk melakukan ruqiyah agar otaknya yang mesum bisa segera hilang dari pikirannya.
“Ih kamu menjijikkan sekali,” ucap Yona bergidik ngeri menatap Regan.
“Siapa? Aku? Kamu itu yang berpikiran buruk. Aku, aku hanya,-“ Ucapan Regan terhenti, “di mana kita sekarang?” tanya Regan menatap Yona.
“Di kamar orang tuaku, kamu menerobos masuk ke mari saat mereka tertidur,” jawab Yona membuat Regan berjingkat dari posisinya.
“Kamu seriusss?” pekik Regan dengan mata membulat sempurna.
Yona mengangguk, tapi tatapannya jatuh pada celana Regan yang kini seperti tersiram air di bagian kel*minnya.
“Kamu ngompol?” tanya Yona menunjuk celana Regan.
Regan menutupinya dengan cepat sebelum Yona mengolok-ngolok dirinya.
“Tidak, ini hanya saja-”
“Kyaaaaaa kamu pagi-pagi mimpi basah ya?” pekik Yona menutup wajahnya dan dengan cepat berbalik memunggungi Regan.
Wajah Regan memerah malu, sialan dia pasti akan diejek habis-habisan oleh Yona setelah ini.
-----
HAYOOOOO SIAPA YANG BACANYA SAMBIL BAYANGIN ABANG REGAN SAMA UNNIE YONA NAENAK BENERAN? 🤣🤣🤣🤣
KALIAN TERTIPU SAMA AUTHOR, WKWKWKWK😛😛😛
__ADS_1
BTW, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN FOLLOW YA.. TIYA TUNGGU MBEB-MBEB SEKALIAN😘❣️❣️❣️