
Suatu keterkejutan yang luar biasa mendapati Regan berani datang kerumah keluarga William setelah kesalahpahaman yang terjadi di antara keduanya beberapa saat yang lalu.
Hendra dan Yona menoleh, memandang Regan yang kini berdiri dengan wajah pucat didepan mereka. Keringat dingin lelaki itu menandakan bahwa Regan tengah cemas akan sesuatu. Tentu saja Regan khawatir tentang perjodohannya dengan Yona.
Seperti tidak ingin membuang waktu lagi, Regan memutuskan untuk menemui Yona dirumahnya. Berharap wanita itu akan melunak ketika keduanya berbicara dengan kedua orang tua Yona.
Regan benar-benar tidak tahu, kenapa Yona mengatakan itu disaat Regan merasa bahwa hubungan mereka dapat berjalan baik dari waktu ke waktu.
Yona menggelengkan kepalanya, tidak percaya apa yang dia lihat kini. Apakah Regan sengaja kerumahnya untuk mencari pembelaan dari orang tua Yona?
Tentu saja, lelaki ini sangat licik, batin Yona menilai dan menelisik rencana lanjutan dari lelaki itu.
Yona menatap Regan malas, wanita itu memalingkan wajahnya. Enggan menatap lelaki yang sudah membuat moodnya berantakan hari ini.
Sekarang bagaimana rasanya diacuhkan oleh Yona? Bagaimana rasanya saat Yona enggan menatapnya lagi? Salah siapa Regan lebih memilih menatap wanita lain dibandingkan Yona.
Regan sangat melukai perasaan Yona sebagai seorang wanita. Tidak tahukah Regan, bahwa banyak lelaki yang menatap Yona dengan tatapan memuja? Andai saja Regan lebih peka terhadap perasaan Yona.
Hendra menatap Regan dan Yona bergantian. Putrinya membatalkan perjodohan, dan yang satunya menolak membatalkan perjodohan diantara mereka. Kisah mereka berdua lebih rumit dari yang dibayangkannya. Rasanya dulu kisahnya dengan Shinta tidak serumit ini.
"Aku tidak mengiyakan keinginanmu, Yona," ucap Regan dengan napas terengah-engah.
Yona menatapnya tak percaya, dia yakin ucapan Regan akan membuat daddynya terpengaruh dan tidak akan mendengarkannya. Kenapa juga Regan harus repot-repot datang kerumahnya setelah mengacuhkannya begitu saja.
Ah, mungkin Yona harus mengingatkan Regan betapa jahatnya lelaki itu tadi.
Yona mendengus, dia memalingkan wajahnya. Tidak ingin menatap wajah lelaki yang membuatnya hancur dalam sekejap. Regan memang luar biasa!
"Kenapa kamu kemari?" tanya Yona sinis.
"Yona!" Hendra memperingati Yona untuk bersikap lebih baik kepada Regan.
Hendra tidak ingin Yona dan Regan berselisih paham seperti itu. Jika semua bisa diselesaikan dengan baik, kenapa tidak?
"Ya ya yaa, bela saja calon menantu impian Daddy. Sekalian, Daddy buat anak perempuan lagi nikahkan dengan dia," ucap Yona tidak bisa menyangkal kekesalan di hatinya.
Tampaknya Yona sangat marah dengan kejadian beberapa jam yang lalu. Kecemburuan di hati Yona membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Mungkin sebaiknya Regan tidak perlu datang kerumah Yona, lebih baik lelaki itu memberikan waktu untuk Yona menjernihkan pikirannya sejenak.
__ADS_1
Tidak seperti sekarang, mereka saling berhadapan seperti ingin saling membunuh saja. Yona dengan tingkat kemarahannya, dan Regan dengan kebingungan yang luar biasa.
Kedatangan Regan ke rumah Yona bukan solusi yang baik untuk saat ini. Tapi Regan tetaplah Regan, lelaki itu tidak mau memperlarutkan masalah. Dia ingin masalahnya menjadi jelas dan bisa dia selesaikan sesegera mungkin tanpa harus bersikap kekanakan seperti ini.
Hendra menatap Regan dengan kasihan. Dari wajah Regan bisa dia lihat wajah kalut disana. Mengingatkannya akan masa mudanya dulu.
"Lebih baik kalian bicara di dalam," ucap Hendra menarik Regan, mendorong lelaki itu masuk ke kamar putrinya.
Mata Yona terbelalak, bagaimana jalan pikiran daddynya hingga membiarkan lelaki asing masuk ke dalam kamar putrinya yang statusnya masih perawan.
"Daddy!" teriak Yona ketika Hendra mengunci mereka di dalam kamar.
Yona menggedor pintu kamarnya, Yona tidak mau harus berbicara dengan patung es tidak berperasaan seperti Regan.
"Ada apa itu?" tanya Shinta saat mendengar gedoran kencang di pintu.
Mendengar kekacauan dari lantai atas, Shinta menyerahkan pekerjaan dapurnya kepada asisten rumah tangganya. Dia berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Yona yang berteriak memanggil daddynya.
Kening Shinta menyerngit melihat suaminya berdiri didepan kamar Yona dengan memijit pelipisnya.
Dengan berlari kecil Shinta menghampiri Hendra di sana.
"Dad, dia melakukan kesalahan lagi hingga kamu menguncinya?" tuduh Shinta menatap suaminya, sebagai ibu Shinta sangat khawatir atas setiap hal yang terjadi pada putrinya, anak bungsu keluarga William yang sangat kekanakan meskipun usianya sudah dewasa.
"Mommy! Mommyyyy, keluarkan Yona, Yona tidak mau satu ruangan dengan alieeen ini!" teriak Yona dari dalam kamarnya.
Shinta mendekat k earah Hendra, Hendra menggelengkan kepalanya. Pertanda untuk Shinta jangan membukakan pintu untuk Yona.
"Biarkan mereka bicara," ucap Hendra membuat Shinta mengerutkan keningnya.
"Mereka? Yona dengan siapa?" tanya Shinta penasaran.
"Ada Regan di dalam," ucap Hendra.
Shinta terbelalak, jadi suaminya mengunci Yona dan Regan di dalam sana. Hanya berdua saja?
"Apaaa? Kamu membiarkan putrimu satu ruangan dengan lelaki yang belum menjadi suaminya?" tanya Shinta menatap suaminya tak percaya.
"Haisshh, sudahlah. Kalian ini sama saja, ayo jangan ganggu mereka," jawab Hendra menarik Shinta menuju lantai bawah, meninggalkan Yona dan Regan didalam kamar.
__ADS_1
"Tapi bagaimana-"
Terlambat, Hendra menarik tangan Shinta untuk menjauh dari kamar Yona. Memberikan ruang untuk Yona dan Regan membicarakan masalah yang terjadi di antata mereka berdua.
Regan duduk di sofa yang ada di kamar Yona. Lelaki itu menatap arsitektur kamar Yona. Mengagumi bagaimana cara Yona menata barang-barangnya sehingga terlihat sangat menarik di matanya.
Pandangan Regan jatuh pada foto Yona semasa kecil, lelaki itu tersenyum.
"Gendut," gumam Regan tersenyum.
Yona berlari menutupi figura foto masa kecilnya, dia menatap Regan marah.
"Gendut kamu bilang?" tanya Yona tak terima.
Regan tersenyum melihat ekspresi kesal Yona. " lApa yang membuatmu tersenyum? Kau gila?" tanya Yona kesal.
"Kamu, alasanku tersenyum," jawab Regan sontak membuat Yona menelan ludahnya.
Wajah wanita itu memerah, ucapan Regan sukses membuatnya blushing. Sialan, bisa-bisanya tubuh Yona bereaksi seperti itu di depan Regan. Bikin malu saja!
"Yona, apa kesalahanku sebenarnya?" tanya Regan serius.
Regan berjalan ke arah Yona, membuat wanita itu mundur ke belakang menjauhi Regan.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Yona gugup.
Jarak mereka semakin dekat, Regan semakin mempersingkat jarak di antara keduanya. Yona memilih menghindar, namun cekalan tangan di tangan Yona membuat Yona tidak bisa berkutik lagi.
Regan menarik Yona, membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Kau ... jangan pernah meninggalkanku," ucap Regan dengan suara serak. Memeluk Yona dengan erat.
Tubuh Yona menegang, pelukan Regan sukses membuat pikirannya kacau. Bagaimana mungkin lelaki itu seenaknya saja memeluknya dengan situasi seperti itu.
Tiba-tiba saja tubuh Regan limbung, mereka jatuh ke ranjang. Tubuh Regan menindih tubuh Yona di bawahnya. Mata Yona terpejam ketika tubuhnya terpental bersama tubuh Regan.
Perlahan, mata Yona terbuka. Regan tidak sadarkan diri.
Regan pingsan!
__ADS_1
"Daddy ... Mommy! Regan pingsannnn!" teriak Yona memanggil orang tuanya di luar sana.