
Siapa sangka, pengakuan cinta keluar dari mulut Yona terlebih dahulu. Waktu yang dihabiskan wanita itu bersama Regan nampaknya membuahkan benih cinta di.dalam hatinya. Kini, benih itu mau tidak mau tubuh besar hingga berbunga di dalam hati wanita itu.
Yona begitu gelisah setiap hari dengan perasaan aneh yang dia tahan selama ini. Yona begitu takut mengungkapkan rasa itu kepada Regan. Yona terlalu malu untuk mengakui kekalahannya atas egonya yang menolak keras jatuh cinta dengan Regan, lelaki yang telah orang tuanya jodohkan dengannya, dan juga lelaki yang menjadi dosennya di beberapa mata kuliah yang tengah dia tempuh.
Yona mengaku kalah, hatinya memenangkan pertarungan gila ini. Yona tidak tahan lagi menahan perasaannya sendiri. Wanita itu mengungkapnya tanpa kesadaran penuh kepada Regan.
“Regan, sepertinya aku mencintaimu. Bagaimana ini?“ Dengan bibir bergetar dan juga detak jantung yang berdegup kencang, Yona mengungkapkan isi hatinya kepada Regan di depannya.
Yona mendongak, memberanikan dirinya menatap Regan.
“Katakan sekali lagi,“ ucap Regan menatap Yona dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan. Lelaki itu merasakan getaran dalam hatinya saat Yona mengatakan kalimat yang sudah dia tunggu-tunggu selama ini.
Tapi Yona tengah mabuk, ucapan wanita itu bisa saja hanya racaunnya saat tidak sadar. Yona sedang dalam kondisi tidak sadar penuh saat mengatakannya. Benarkah Yona mencintainya?
Tubuh Yona limbung, dengan sigap Regan menangkapnya. Jika seketika saja Regan telat mungkin tubuh Yona akan tersungkur di lantai. Regan membopong tubuh Yona ke ranjang, menyelimuti tubuh wanita itu dengan selimut.
Regan menghela napasnya panjang, baru saja Regan berharap apa yang dia dengar adalah kenyataan. Namun dengan tidak sadarnya Yona membuat Regan mendesah kecewa, semua ucapan Yona hanya gumam’an orang mabuk yang tidak sadar.
Ya, Yona tidak benar-benar mencintai Regan.
Regan keluar dari kamar itu, lelaki itu menuju wastafel yang dapur apartemennya. Lelaki itu mengambil wadah untuk mengambil air, Regan mencari kain pengompres untuk membersihkan tubuh Yona yang berkeringat.
“Jadi babu lagi,“ cibir Regan menggelengkan kepalanya.
Setiap kali wanita itu memiliki acara, pasti Regan akan berakhir menjadi babu. Contoh saja saat terakhir project wanita itu dan saat ini, Regan menjadi babu wanita itu dadakan.
Regan membuka pintu kamar apartemennya, matanya terbelalak saat melihat Yona melepaskan blazer yang dia kenakan. Wanita itu hanya memakai tangtop dan juga celana kain yang masih melekat di kaki jenjangnya.
“Wanita ini!“ geram Regan hingga giginya menggeretak.
Regan menaikkan selimut itu hingga menutupi dada Yona. Yona menggaruk kepalanya, mengacak rambutnya, panas yang menjalar di tubuhnya membuat wanita itu menyingkap selimut itu lagi.
Regan berdecak, tidak taukah Yona bahwa sekarang dia di kandangnya buaya? Kenapa wanita itu malah ingin membangunkan buaya yang tertidur pulas dibawah sana.
__ADS_1
“Enghh panas sekali,“ gumam Yona masih memejamkan matanya.
Wanita itu mulai menyentuh celana panjangnya, dengan cepat Regan mencekal tangan Yona. Lelaki itu mulai membasuh air yang dia campur dengan es batu keseluruh wajah, leher, dan tangan Yona. Dengan telaten Regan membasuhnya perlahan, mengurangi hawa panas yang tengah Yona rasakan saat ini.
Yona mulai tenang, wanita itu kembali terlelap dengan tenang. Regan mengusap wajahnya frustasi, dia harus keluar dari kamar itu sebelum Yona mulai menggila lagi. Yona sangat menggoda imannya sebagai lelaki.
Regan beringsut keluar dari kamar apartemennya, menutup pintu kamar itu. Regan memilih untuk merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamunya yang cukup besar untuk dia jadikan tempatnya tidur malam ini.
“Sial, baju gantiku di dalam kamar!“ umpat Regan saat menyadari belum mengambil baju santainya di dalam kamar yang kini Yona tempati.
Haruskah Regan memakai celana formalnya dan juga kemeja panjangnya yang sudah dia pakai sejak pagi tadi? Kenapa Regan tidak kepikiran mengambil baju gantinya lebih dahulu sebelum keluar dari kamarnya.
“Ambil, tidak, ambil, tidak, ambil?” ucap Regan kepada dirinya sendiri. Mempertimbangkan apa yang akan dia lakukan kini.
Akhirnya Regan memutuskan untuk mengambil baju gantinya. Regan menyipitkan matanya saat membuka kamar itu. Lelaki itu melihat celana panjang Yona tergeletak dilantai, Regan bisa memastikan bahwa wanita itu kini hanya memakai celana dalamnya dan juga tanktopnya saja.
“Jangan menoleh, jangan menoleh,“ ucap Regan meberikan perintah kepada dirinya sendiri.
Regan dengan segera membuka pintu lemarinya, mengambil satu pasang atasan dan bawahan yang santai hingga nyaman untuk lelaki itu pakai tidur malam ini.
Dering di ponsel Yona membuat Regan berjingkat kaget, ponsel itu berada di meja kecil yang ada di samping ranjang. Regan hanya melirik tas itu, takut jika pemandangan yang dia hindari akan membuat matanya ternoda. Tapi dering ponsel itu tidak berhenti begitu saja, mungkinkah itu daddy atau mommynya Yona?
Regan berjalan mundur, matanya sengaja dia tutupi dengan baju yang ada di tangannya. Lelaki itu merogoh ponsel Yona yang ada di dalam sana. Regan mengambil nafasnya, nama ‘Daddy Galak’ tertera di layar ponsel Yona.
Apa yang harus aku katakan saat ini?
Sial, Regan justru menggeser tombol hijau disana hingga muncul waktu panggilan yang tengah berjalan.
“Kamu belanja ke Negara mana hingga jam segini belum pulang?” teriak Hendra marah disana.
Regan menahan napasnya begitu mendengar teriakan marah dari Hendra.
“Ha-halo Om, selamat malam. Ini Regan, Om,“ ucap Regan memejamkan matanya.
“Regan? Om kirain Yona. Yona sama kamu kah?”
__ADS_1
“Iya Om tadinya, ini tas Yona tertinggal di mobil Regan,“ jawab Regan mencari alasan.
“Yona ke mana memangnya, kenapa tasnya ada di mobilmu?” Hendra nampaknya penasaran.
“Tadi Regan jemput Yona di tempat belanja Om, terus Yona diminta Nadia menginap di rumahnya,“ jelas Regan mengelus dadanya yang bergetar.
“Kenapa Yona tidak bilang sama om atau tante? Mommynya menunggunya sejak tadi,“ ucap Hendra penuh kekhawatiran.
Bagaimana bisa menelepon? Membuka mata saja aku tidak yakin Yona bisa melakukannya saat ini!
“Baru saja Regan mau menghubungi Om Hendra, Yona tadi telepon pakai ponsel Nadia minta Regan bilangin ke Om Hendra kalau Yona menginap di rumah Nadia,“ jelas Regan.
Enghhh, lenguhan Yona membuat Regan menganga. Bisa-bisanya wanita itu melenguh saat dirinya mati-matian mencari alasan di depan daddynya? Ingin rasanya Regan melempar Yona ke keluar apartemennya.
“Suara siapa itu, Re?”
“Bunnn, TVnya kecilin dong. Sudah malam ini,“ teriak Regan seakan-akan tengah berbicara dengan Lilian.
Hendra mengangguk di tempatnya. “Yasudah, salam untuk ayah dan bundamu ya,“ ucap Hendra sebelum menutup panggilannya.
Regan bernapas lega, berbicara dengan Hendra jauh lebih menantang daripada berbicara dengan dosen pembimbingnya. Ayah mertua memang mengerikan bagi anak mantu mereka. Regan bergidik ngeri membayangkan jika tadi Regan tidak berhasil membohongi Hendra. Apa yang akan terjadi pada Yona? Yona mungkin akan didepak dari rumahnya.
Tangan Yona menggantung di lantai, tubuh wanita itu berada ditepi ranjang. Mungkin jika Yona bergerak sedikit lagi tubuhnya akan tergeletak di lantai.
Regan meringis, dia mengusap wajahnya frustasi. Yona menguji kesabarannya lagi dan lagi.
“Tahan Regan tahan, pantang bagimu menjamah wanita mabuk,“ gumam Regan mengangkat tubuh Yona hingga berada di tengah ranjang.
Yona merangkul leher Regan saat lelaki itu mengangkat tubuhnya, Regan tersungkur diatas Yona. Kulit Regan bersentuhan langsung dengan kulit Yona.
Deg…deg…deg.
-------
Hellooo jangan lupa vote yahh untuk dukung novel ini jadi pemenangnya 🙏
__ADS_1
Makasihh semuanyaa 🙏❣️