
Kulit putih berseri dari wanita yang sudah berubah statusnya satu minggu lalu itu kini terpampang nyata, mengekspose kulit indahnya dengan dress santai tanpa lengan yang saat ini dia pakai. Sunglasses berwarna coklat bertengger pas di hidung mancungnya. Bibir ranumnya nampak sangat menggoda dengan polesan lip gloss berwarna plum yang sangat menantang.
Di sampingnya, sang suami menggenggam erat tangannya. Perasaan bahagia keduanya rasakan karena pada akhirnya telah saling memiliki satu sama lainnya. Regan beberapa kali menoleh menatap wajah ayu istrinya yang rasanya tidak sudi dia bagi pada mata lelaki lain yang mungkin menatap istrinya dengan lapar.
“Sayang, kenapa kamu harus bersolek segala? Kita hanya ke rumah pamanmu, lalu jalan-jalan di dekat Jempatan Pulteney saja,” keluh Regan merasa tidak rela jika istrinya menjadi pusat perhatian para lelaki.
Membayangkan Yona dulu menjadi pusat perhatian para lelaki ketika istrinya menjadi seorang model dengan berbagai produk yang dia bintangi. Perasaan cemburu begitu saja memenuhi benak Regan untuk saat ini.
“Bagaimana kalau kita kembali ke rumah saja, Sayang? Aku tidak suka kamu jadi pusat perhatian di sini,” ucap Regan nampak gelisah.
Mereka berdua memilih mengendarai mobilnya sendiri tanpa seorang sopir keluarga William. Yona dan Regan terlihat sudah tidak asing lagi dengan Kota Bath, Inggris.
“Lihat ke depan, Regan. Aku tidak ingin ada berita pengantin baru meninggal karena kecelakaan dalam moment bulan madu mereka,” cibir Yona menegur suaminya.
“Satu kali, kamu berhutang satu kali karena memanggil nama suamimu,” tegur Regan membuat Yona menggigit bibir bawahnya.
Kenapa juga mulut Yona selalu kelepasan memanggil suaminya dengan nama? Sungguh tidak sopan dan juga tidak enak untuk didengar.
“Ups, sorry,” ucap Yona meringis menatap suaminya.
Regan hanya memutar bola matanya. “Di mana rumah pamanmu, Sayang?” tanya Regan menoleh menatap Yona.
Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah sudah berapa lama Yona tidak mengunjungi rumah pamannya meskipun dirinya dan keluarganya beberapa kali wara-wiri di Kota Bath.
__ADS_1
“Ck, pantas saja Pak Mulyono tidak meluluskanmu di mata kuliahnya semester kemaren. Kamu lemah dalam hafalan,” cibir Regan membuat mulut Yona menganga tidak percaya.
“Oh suamiku tersayang, saat ini kamu sedang mengejekku karena mengulang pada mata kuliah Pak Mulyono? Tidakkah kamu sadar diri suamiku? Aku jarang masuk ke kelas Pak Mulyono karena menunggu putra tidur, alias dirimu!” sahut Yona membela dirinya sendiri. Tidak terima jika Regan meremehkan kemampuan menghafalnya.
Bukan tanpa alasan, Yona mengulang mata kuliah Pak Mulyono karena dua alasan. Yang pertama mata kuliah dimulai pukul tujuh lebih lima puluh menit, yang kedua Yona selalu bergadang semalaman suntuk demi menjaga kondisi vital Regan dalam patokan baik-baik saja. Lalu apa hubungannya? Tentu saja ada, karena menunggui lelaki yang saat ini telah menjadi suaminya hingga fajar menyingsing, Yona selalu saja bangun pukul sembilan pagi. Bisa dipastikan bahwa Yona tidak pernah mengikuti mata kuliah Pak Mulyono setiap hari Selasa.
Lalu Regan dengan seenak jidatnya mengatainya lemah dalam hafalan? Benar-benar cari musuh lelaki itu!
“Kamu juga tidak benar-benar mengguku, aku tahu kamu mencari tempat sepi dan senyap untuk membaca novel-novel milikmu yang kebanyakan isinya mengandung adegan mantap-mantap. Iya kan?” tuduh Regan menatap istrinya dengan tatapan menelisik.
What to the hell? Regan mengskak matt Yona sampai wanita itu kicep tidak bisa membuka mulutnya lagi.
“Itu … itu bukan novel mantap-mantap seperti yang ada dalam otak mesummu itu! Jangan mengada-mengada,” jawab Yona memberikan pembelaan.
“Oh ya, lalu apa isinya? Kenapa aku tidak menemukan novelmu di manapun?” beo Regan memicingkan matanya, merasa heran karena empat hari dirinya tidur di kamar istrinya tapi tidak menemukan novel-novel yang sangat ingin dia sidak di depan istrinya.
“Belok kiri!” pekik Yona secara tiba-tiba saat jalanan rumah pamannya terlihat di depan sana.
Regan segera mengerem mobilnya mendadak, menghentikannya karena lampu lalu lintas telah berubah menjadi merah tanda bahwa semua pengemudi harus berhenti sampai warna lampu berwarna hijau.
“Sayang, pernahkah kamu menginginkan hidup di negeri orang? Memulai hidup baru dengan pengalaman baru?” tanya Yona kepada Regan.
Lelaki itu menoleh menatap istrinya.
__ADS_1
“Why? Kamu ingin tinggal di mana memangnya?” tanya Regan kepada Yona.
“Aku ingin di Korea Selatan, menghirup udara yang sama dengan Raja Lee Gon,” jawab Yona menatap jalanan di depannya. Membayangkan dia menghirup udara yang sama dengan Lee Min Ho yang saat ini membintangi drama bertema kerajaan modern, romance historical. Drama yang membuat Yona sempat menolak sentuhan Regan karena episode terbarunya baru saja tayang di salah satu stasiun televisi swasta.
“Dalam mimpimu saja!” sahut Regan dengan sensi.
Yona tertawa, wanita itu memukul lengan suaminya dengan gemas.
Kening Yona berkerut, Regan tiba-tiba saja meraih ponselnya.
“Hallo? Pastikan drama korea di stasiun televisi Flyflik tidak bisa tayang lagi di sana,” perintah Regan kepada sosok di sana.
Mulut Yona menganga tidak percaya, bagaimana mungkin Regan sampai meminta seseorang untuk memboikot drama kekasih halunya hanya karena ucapannya yang jelas-jelas cuma iseng saja?
“Sayang, kamu tidak serius dengan perintahmu kan?” tanya Yona dengan matanya melebar sempurna.
“Kenapa? Kamu tidak terima? Menikah saja sana dengan dia di dunia halu,” jawab Regan kesal setengah mati saat Yona membicarakan lelaki lain meskipun dia hanya aktris pemeran drama yang istrunya sukai.
Tapi tetap saja dia lelaki, dan yang paling parah karena itu pula Yona menolak sentuhannya sampai Regan harus meredam libi*do dalam dirinya dengan mandi air dingin pada pukul sebelas malam. Astaga, membayangkannya saja sudah membuat Regan emosinya naik sampai ke ubun-ubun.
Memang parah para wanita ketika menggandrungi sosok Oppa Korea. Haruskah Regan berprofesi sebagai actor drama romance bucin agar Yona mengaguminya?
“Aku hanya bercanda. Tinggal di manapun, asalkan ada dirimu di sana maka aku akan merasa nyaman dan bahagia,” ucap Yona tersenyum, merangkul lengan suaminya mesra. “Aku hanya ingin kita berdua, tanpa memberikan celah untuk orang ketiga masuk dalam kehidupan kita,” lanjut Yona, memberikan kecupan di pipi Regan.
__ADS_1
Suatu saat nanti, kita pasti menemukan seseorang yang membuat kita yakin bahwa dia adalah sebaik-baiknya pilihan yang mampu membuat kita tetap menetap. Tanpa sempat berpikir untuk berpindah tempat.
Yona menemukannya, seseorang itu … Reganera Abimanyu Luois.