
Di bawah guyuran air yang keluar dari shower, pasangan itu nampaknya sangat menikmati setiap cumbuan yang mereka lakukan saat ini. Wanita itu mengerang saat bibir Regan menuruni lehernya, memberikan kecupan lembut-kecupan di sana. Tubuhnya terasa panas, wanita itu kini benar-benar sampai di puncak libidonya.
Regan menatap mata Yona yang membara saat ini, lelaki itu berusaha sekuat tenaganya untuk menahan dirinya agar tidak melampau batasnya sebagai seorang lelaki sejati yang hanya akan menyentuh wanitanya ketika dia sah dalam ikatan pernikahan yang suci. Bukannya takut atau kurang nyali, Regan hanya menghargai Yona sebagai seorang wanita.
Bagaimanapun, Yona adalah wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya, menjadi surga untuk anak-anak mereka nantinya. Regan tidak ingin merusak wanita itu ataupun mengecewakan kepercayaan Yona.
Regan sadar, ini semua bukan nafsu Yona secara sadar. Wanita itu tengah dalam kondisi mabuk dan terpengaruh oleh pil perangsang sialan itu.
“Regan, aku tidak tahan lagi,” lirih Yona menahan hawa aneh dan gejalar yang tidak biasanya hadir di tubuhnya saat ini.
Yona mere*mas tangannya sendiri, wanita itu merasa malu mengatakan hal seperti itu kepada Regan. Tapi apa daya Yona, wanita itu mungkin akan gila sebentar lagi jika hasratnya tidak tersalurkan saat ini.
“Aku tidak bisa sayang, maafkan aku,” jawab Regan mencium kening Yona.
“Ahh, karena wanita-wanita yang mengerubungimu tadi lebih sexy dari pada diriku? Begitukah?” tanya Yona tanpa sadar.
Regan menatap Yona, lelaki itu menyentuh wajah Yona.
“Tidak ada yang lebih sempurna dari dirimu Sayang. Hanya saja, aku ingin pertama kali melakukannya denganmu saat hubungan kita sudah sah,” jelas Regan.
“Pembohong!” sentak Yona menatap Regan dengan matanya berkaca-kaca.
Yona menunduk, wanita itu menangis di sana. Entahlah, dia merasakan rasa sesak di dadanya saat mengingat kedekatan Regan dengan para wanita disana. Dan kini, Regan menolaknya dengan tegas. Mungkinkah Yona kurang sexy?
“Pergi dari siniiiii!“ teriak Yona mengusir Regan dari kamarnya.
Wanita itu keluar dari kamar mandi dan masuk kedalam kamarnya, menguncir dirinya dari dalam. Yona meluruh dibelakang pintu, wanita itu menangis terisak. Ini pertama kalinya dia mengajak seorang lelaki untuk melakukannya. Kalaupun Regan mau, itu adalah pengalaman pertama mereka.
Yona menatap dirinya dari pantulan kaca, apa kurangnya dirinya hingga ditolak oleh Regan? Tidak tahukah Regan betapa tersiksanya Yona saat ini karena libidonya tidak terpenuhi? Astaga, Yona baru menemukan lelaki sepolos itu hanya Regan seorang.
“Apa karena aku kurang sexy? Payudaraku kurang besar? Regan memang lelaki ********!“ isak Yona menatap dirinya dari pantulan kaca di sana.
Regan menatap pintu kamar Yona dengan nanar, lelaki itu mengetuk pintu kamar Yona.
“Ganti bajumu, aku akan kembali ke kamarku,” ucap Regan tidak tahu lagi bagaimana bisa menghadapi Yona.
Di sisi lain Regan sangat khawatir membiarkan Yona sendirian didalam kamarnya dan takut jika lelaki yang dia temui tadi mendatangi Yona untuk melakukan hal-hal buruk kepada wanitanya. Tapi di sisi lain, Regan harus membatasi kedekatan mereka saat ini karena Regan tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi diantara mereka berdua.
Regan menoleh sekilas ke arah kamar Yona, nampaknya Yona benar-benar marah karena penolakannya. Dengan langkah gontai, Regan meninggalkan kamar Yona dan masuk kedalam kamarnya.
Mendengar suara pintu tertutup, Yona langsung keluar dari dalam kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu. Regan meninggalkannya, lelaki itu membiarkannya sendirian di sana.
“Keterlaluan, hiksss,“ isak Yona menghapus air matanya kasar.
Yona merasakan tubuhnya menggigil, wanita itu menatap gaunnya saat ini. Pantas saja, gaunnya basah karena Regan mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower kamar mandi.
Lebih baik Yona mengganti bajunya, wanita itu segera membuka lemari dan mencari baju ganti untuk dia kenakan. Bayangan Regan yang bermesraan dengan para wanita di kapal membuat darah Yona mendidih.
“Jadi dia meninggalkanku untuk para wanita itu hahh?” teriak Yona mengacau tidak jelas dengan berbagai bayangan buruk tentang Regan dan para wanita di kapal pesiar yang tadi menggoda Regan.
Pikiran Yona jadi tidak tenang, dia harus mencari Regan setelah Yona mengganti bajunya.
♥
Ketukan di pintu kamarnya membuat Regan yang tengah berdiri di balkon kamarnya mengalihkan pandangannya. Siapakah yang bertamu di jam seperti ini? Ini adalah waktu untuk mereka semua beristirahat.
Sejak tadi Regan berdiri di balkon, untung saja kamar Yona dan Regan bersebelahan. Jadi Regan bisa siaga untuk scenario terburuk saat Yona berteriak jika ada yang menyusup kedalam kamar wanita itu.
“Ya tunggu sebentar,“ teriak Regan membuka kamar tidurnya dan berjalan menuju pintu utama.
Lelaki itu terbelalak, di sana Yona berdiri dengan wajah memerah. Dan lihatlah, apa yang tengah wanita itu pakai? Atasan crop tanpa lengan dan juga bawahan rok span yang hanya menutupi setengah paha wanita itu.
“Hei Yona, apa yang kamu pakai sekarang?” pekik Regan menarik Yona untuk masuk ke dalam kamarnya.
Regan menganga melihat kelakuan wanita itu yang selalu ada-ada saja ketika dia mabuk. Yona mendorongnya hingga Regan terduduk di sofa ruang tamu.
“Kamu menolakku karena kamu pikir tubuhku tidak sexy bukan?” tanya Yona menatap Regan dengan pandangan menusuk.
__ADS_1
“A-aku tidak mengatakan tubuhmu tidak sexy,“ jawab Regan tergagap saat tangan Yona mulai bergerilya menyusuri wajahnya.
Wanita itu mulai nakal, dengan berani Yona duduk di pangkuan Regan dan melingkarkan tangannya di leher Regan. Tanpa berpikir panjang, Yona mendaratkan ciuman panasnya di leher Regan hingga lelaki itu mengerang.
‘Lihat saja, apa sekarang kamu bisa menolakku?’ batin Yona tersenyum penuh kemenangan begitu melihat wajah Regan yang bersemu merah karena ciuman-ciuman Yona saat ini.
Tangan Yona mengelus kepala Regan, wanita itu mengecup kening Regan. Lalu turun ke mata, hidung dan berakhir di bibir lelaki itu. Mereka kembali melanjutkan ciuman panas mereka ke season kedua setelah ciuman panas mereka di bawah pancuran air shower.
Yona mengulum senyumnya, kali ini Regan tidak mau kalah. Lelaki itu membalik posisi mereka hingga kini Yona yang berada di bawah lelaki itu. Regan menyusuri wajah dan leher Yona dengan panas. Darahnya seakan mendidih melihat Yona seagresif itu kepadanya.
Mungkinkah ini sebuah keuntungan untuknya? Atau malah sebuah mala petaka bagi Regan?
“Aku menginginkanmu,” risau Yona menggigit kecil leher Regan sampai lelaki itu mengerang.
“Sialan! Aku bisa kehilangan kewarasanku!“ sentak Regan mengakhiri ciuman panas mereka sebelum otaknya menggerakkan tubuhnya untuk melakukan ‘itu’ dengan Yona.
Ada raut kekecewaan diwajah Yona saat Regan bangkit dari posisinya, lelaki itu berbalik memunggungi Yona.
“Regan?” ucap Yona lirih namun bagi indera pendengaran Regan terdengar seperti sebuah desahan yang sangat sexy dan membuat kejantanannya mengeras sekarang.
“Lepaskan aku sebelum aku tidak bisa mengontrol diriku,” pinta Regan mencoba melepaskan pelukan Yona.
Yona tidak mengindahkan perkataan Regan, dalam otak Yona yang terpenting hanya menyalurkan hasratnya saat ini.
“Jangan salahkan aku jika kamu memaksa,” ucap Regan mengusap wajahnya kasar.
Lelaki itu berbalik menatap Yona, tiba-tiba saja tubuh Yona limbung.
Hoekkkkkk, wanita itu mengeluarkan isi perutnya di sana. Regan meringis begitu bajunya terkena muntahan Yona. Dengan sigap Regan memegangi tubuh Yona sebelum wanita itu tersungkur di lantai yang sangat dingin.
“Kepalaku sangat pusing,” lirih Yona memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
Regan membopong tubuh Yona, membaringkan wanita itu di ranjang.
“Aku akan meminta pelayan membawakanmu obat pengar,“ ucap Regan menuju telepon kamarnya dan menghubungi pihak resepsionis.
Regan menekan tombol angka satu disana yang menghubungkannya dengan meja resepsionis.
“Baik Pak, mohon ditunggu,“ jawab sang resepsionis kapal pesiar.
Regan menatap wajah Yona yang terlihat sangat pucat, wanita itu menggigit bibirnya dengan tubuhnya yang terlihat sangat gemetaran. Mungkinkah itu adalah efek samping dari obat perangsang yang kenalan Yona campurkan kedalam minuman Yona? Jika benar, maka lihat saja nanti. Regan akan memberikan lelaki itu pelajaran karena berani-beraninya membuat Yona dalam kondisi seperti ini.
Tidak berapa lama, seorang petugas kebersihan datang ke kamar Regan. Wanita paruh baya itu memberikan obat pengar dan juga teh hangat kepada Regan.
“Maaf merepotkan Anda, tapi bisakah anda membersihkan muntahan tunangan saya?” pinta Regan dengan sangat sopan kepada wanita yang lebih tua darinya.
“Tentu saja, saya tidak merasa direpotkan karena ini sudah menjadi tugas saya,” jawab wanita itu menunduk menghormati Regan selaku tamu dan penumpang kapal pesiar di mana dia mencari nafkah.
Regan membangunkan Yona, meminta wanita itu untuk meminum obatnya untuk meredakan pengar yang dia rasakan.
“Apakah tunangan Anda hamil?” tanya petugas kebersihan yang tidak tahu jika Yona tengah mabuk.
Regan menatap Yona sejenak, suatu hari nanti dia berharap jika Yona benar-benar akan melahirkan anak kembar untuknya seperti ramalan lelaki tua ketika mereka berada di Bath.
“Iya, anak kembar,” ucap Regan tersenyum geli dengan kehaluan yang menyergapnya secara spontan.
Petugas kebersihan itu ikut tersenyum.
“Tugas saya sudah selesai Pak, saya undur diri. Permisi.”
“Tunggu,” ucap Regan menghentikan wanita itu.
Regan mengambil dompetnya, memberikan tip untuk petugas kebersihan itu karena telah membersihkan kekacauan Yona meskipun itu memang sudah menjadi tugasnya. Apa salahnya memberikan tips untuk mereka yang giat bekerja?
“Mmm.mmm.mmm,“ tubuh Yona menggigil.
Padahal Regan sudah mengambil satu selimut lagi didalam lemari, tubuh wanita itu terus menggigil kedinginan. Anehnya, suhu tubuh Yona sangat panas.
__ADS_1
“Yona, kamu tidak apa-apa?” tanya Regan merasa cemas.
Yona tidak menjawab, Regan mengambil kaus kakinya yang masih tersimpan di dalam kopernya dan memakaikannya di kaki wanita itu. Regan dengan cepat mengganti bajunya yang terkena muntahan Yona, inilah yang membuatnya sangat kesal dan juga jengkel jika Yona mabuk. Seharusnya Regan lebih ketat mengawasi Yona saat wanita itu berada di pesta-pesta yang tidak luput dari minuman keras.
Semua ini adalah kesalahan Regan, lelaki itu merutuki kesalahannya sendiri karena lengang saat Yona meminta izin pergi ke kamar mandi.
‘Lalu kamu pikir akan ikut bersamanya masuk kedalam kamar mandi, begitu?’ batin Regan berbicara.
Lelaki itu meraih tangan Yona, mengusap-usap tangan wanita itu berharap Yona merasakan kehangan lewat gesekan kulit keduanya. Yona meringsut, wanita itu beberapa detik membuka matanya dan tersenyum kearah Regan sebelum Yona kembali terlelap.
Regan mengelus puncak kepala Yona, lelaki itu tersenyum geli melihat Yona berpakaian minum bahan hanya karena cemburu melihatnya berada ditengah-tengah para wanita tadi.
“Tidak perlu memakai sesuatu yang mencolok, aku tetap bisa mengenali dirimu,” ucap Regan mencium tangan Yona.
Mata lelaki itu terasa berat, dia melirik jam dinding yang tergantung disana. Pantas saja, waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi waktu setempat. Lelaki itu berangsur naik ke ranjang, menenggelamkan dirinya bersama Yona dibawah dua selimut tebal berharap tubuhnya menemukan kehangatan disana.
Tubuh Yona bergerak, wanita itu berbalik menghadapnya.
“Aku mencintaimu, Regan,” gumam Yona dalam tidurnya.
Bibir lelaki itu menyunggingkan senyumnya, diraihnya tubuh wanitanya dan memeluk wanita itu erat. Regan membiarkan tangannya dijadikan bantal oleh Yona, tangan lelaki itu melingkar di perut Yona.
Tanpa sadar, Yona tersenyum. Rasanya dia tidur ditempat yang paling nyaman selain pelukan mommy dan daddynya saat dia kecil dulu. Pelukan hangat dada bidang lelaki itu membuat Yona merasakan kehangatan yang berbeda.
“Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu,” jawab Regan mendaratkan ciumannya di kening dan pelupuk mata Yona yang kini terpejam.
Mereka berdua saling menghangatkan diri satu sama lain. Yona meringkuk seperti bayi di pelukan Regan.
♥
“Enghhhhh, amhhhh,“ erang Yona saat sinar matahari yang sangat menyilaukan membangunkan tidurnya yang sangat nyaman.
Wanita itu menarik selimutnya, menutupi wajahnya agar tidak terkena pantulan sinar matahari.
“Apa ini?” mata Yona terbuka sempurna saat merasakan benda panjang dan tegang di bawah sana.
Yona terbelalak, wanita itu menoleh ke sampingnya. Mulutnya menganga melihat Regan tidur menghadapnya dengan tangan lelaki itu dia jadikan sebagai bantal. Pandangan Yona beralih kebawah sana yang tanpa sengaja wanita itu genggam.
“Jangan menggoda adikku sepagi ini Yona,” ucap Regan dengan suara seraknya.
Wanita itu berjingkat ketika sadar apa yang telah dia pegang. Yona menyibak selimutnya dengan kasar.
"Kyaaaaaaa, apa yang kamu lakukan di sini?” teriak Yona memenuhi seisi ruangannya.
Yona menatap tangannya, aishhh sialan tangannya memegang sesuatu yang sangat keramat menurutnya.
“Apa sih, berisik sepagi ini,“ cibir Regan tanpa mau membuka matanya.
“Berisik katamu? Kamu masuk ke kamarku ya?” tuduh Yona.
Detik selanjutnya Yona mengamati interior kamar itu, ada yang berbeda. Sofa kamarnya berwarna cream, sedangkan ini berwarna biru laut. Lalu ingatan Yona kembali ke kejadian semalam.
“Tidak mungkin,” ucap Yona menggigit bibirnya.
Wanita itu menutup mulutnya, wajahnya berubah menjadi merah begitu mengingat betapa gilanya wanita itu ketika merayu Regan untuk menjamah tubuhnya.
“Itu bukan aku,” ucap Yona seakan berbicara dengan dirinya sendiri.
Yona menatap Regan yang masih tertidur dengan tenang di sana. Tidak mungkin dia serendah itu meminta Regan untuk meniduri dirinya? Gilaaaaa, ini akan menjadi sejarah untuk hidupnya karena bersikap seagresif itu dengan lelaki.
Yona memukul kepalanya, bisa-bisanya dia berkelakuan seperti itu. Ini sangat memalukan, sungguh memalukan baginya.
Tiba-tiba saja mata Regan terbuka, lelaki itu menatapnya dengan kening berkerut.
“Kepalamu tidak apa-apa kan?” tanya Regan khawatir karena Yona memegang kepalanya dan memukulnya beberapa kali.
“Regan, aku tidak memperkosamu kan?” tanya Yona menggigit bibirnya cemas.
__ADS_1
Regan berpikir sejenak, Yona menggelengkan kepalanya berharap apa yang ada dalam pikirannya tidak benar-benar terjadi.
“Jangan jawab, jangan jawab. Aaaaaaa!” pekik Yona berlari keluar dari kamar Regan, meninggalkan Regan sendirian di sana dengan tatapan gelinya.