My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

Semua orang menunggu dr.Irawan untuk membacakan hasil tes kesehatan yang baru saja Regan lakukan bersama para tim medis yang ditemani langsung oleh Rehan yang menjabat sebagai Wakil Direktur Pelayanan Medik di Rumah Sakit Kusuma milik keluarganya.


Shinta dan juga Hendra turut datang di sana begitu mendapatkan telepon dari Melodi yang memberitahu mereka kalau Regan sudah siuman dan mengalami beberapa keluhan yang harus mereka tangani segera.


Mereka sudah tidak sabar dengan hasil rekam medik yang akan menunjukkan kondisi kesehatan Regan untuk saat ini. Tidak hanya Yona yang merasa terpukul, bahkan orang tua Regan merasa seperti baru saja tertimpa tangga untuk kedua kalinya begitu mendengar Regan kehilangan ingatannya sebagian.


Lelaki itu hanya mengingat seluruh ingatannya sampai tanggal 6 Mei dimana saat itu Regan dan Yona belum bertemu dan belum mengenal satu sama lain.


Dua perawat laki-laki mendorong ranjang Regan keluar dari ruang CT scan menuju ruang rawat lelaki itu lagi. Lili menghampiri Regan, memegang tangan lelaki itu.


"Regan ini Bunda, bagaimana kondisimu sekarang Sayang? Apa yang kamu rasakan biar dokter memberikanmu obat," ucap Lili terdengar sangat khawatir.


Regan tersenyum dan mengelus tangan ibunya.


"Bunda jangan terlalu banyak menangis, aku tahu saat ini mata Bunda pasti bengkak meskipun Regan tidak bisa melihat jelas wajah Bunda," ucap Regan kepada bundanya.


Yona menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan isakan menyayat hati yang mungkin saja semakin membuat bingung diri Regan. Yona berusaha sekuat tenaganya untuk mengontrol emosinya agar tidak memeluk Regan dan menangis dalam pelukan lelaki itu.


Ingin rasanya Yona menangis, berteriak, dan memaki diri Regan karena sudah berlaku kejam kepada dirinya dengan melupakan semua hal tentang Yona. Tapi apa daya Yona? Yona harus bekerjasama dengan semua orang untuk menjaga kesehatan Regan tetap stabil.


Suara isakan tidak bisa dibendung Shinta, wanita itu menundukkan kepalanya tidak sanggup melihat Regan dan putrinya harus mengalami kejadian yang sangat mengerikan seperti ini.


Kening Regan berkerut, lelaki itu menatap Shinta dari ujung rambut hingga kaki. Pikiran Regan tengah berusaha mati-matian mencari sosok yang rasanya sangat tidak asing baginya.


"Dia istrinya Om Hendra, teman Ayah dan Bunda. Regan pernah melihat foto Om Hendra di album foto pernikahan Bunda dan Ayah," jelas Lili sebelum anaknya semakin tersiksa.


Regan hanya mengangguk mengerti seraya berpikir mengingat wajah Shinta dan Hendra yang pernah dia lihat sebelumnya.


"Sudah saatnya pasien kembali ke ruangannya," ucap perawat itu diangguki semua orang.


"Kamu masuk saja ke dalam ruanganmu, Bunda di sini sama Ayah untuk melihat hasil pemeriksaan kondisi Regan," jelas Lili dijawab anggukan oleh Regan.


Kedua perawat itu mendorong ranjang Regan memasuki ruang rawatnya kembali. 


Sedangkan semua orang kini menatap cemas dr.Irawan yang keluar membawa amplop putih besar dan juga hasil gambar CT scan kepala Regan yang kini berada dalam tangan dr.Irawan.


"Bagaimana Sokter? Apa yang terjadi kepada putra saya?" tanya Lili menatap dr.Irawan penasaran.


Dr.Irawan membuka hasil CT Scan itu, menunjukkannya kepada semua orang.


"Ada masalah pada luka yang ada di kepala Regan. Bisa kita lihat ini, ini yang nantinya menghubungkan syaraf mata ke otak seperti mengirim sinyal lah bahasa awamnya. Karena disini ada kerusakan, fungsi otak yang harusnya bisa merekam wajah orang menjadi rusak. Ini disebut Prosopagnosia tipe Developmental yang mana pasien itu bisa menghafal orang dari rambut, bentuk tubuh, suara. Tapi terkadang mereka bisa mengenali wajah," jelas dr.Irawan kepada mereka semua.


"Maksud Dokter, anak saya tidak bisa mengenali wajah semua orang lagi?" tanya Septian memastikan.


Dengan sangat menyesal, dr.Irawan mengangguk.


"Kadang-kadang pasien Developmental bisa mengenali wajah tapi ya cuma beberapa menit atau bahkan beberapa detik saja," lanjut dr.Irawan.


"Lalu bagaimana dengan ingatannya yang hilang hanya sebagian Dokter? Apakah itu artinya Regan akan melupakan semua yang terjadi setelah tanggal yang dia ingat hingga saat dia membuka matanya?" tanya Yona dengan wajah sangat frustasi dan juga kalut.


Dr.Irawan kembali menunjukkan gambar di sana.


"Karena peradangan yang terjadi di otaknya, dia mengalami Amnesia Retrograde. Di mana dia bisa hanya kehilangan ingatan pada beberapa kurun waktu sebelum dia mengalami trauma di otaknya," jelas dr.Irawan membuat tubuh Yona limbung.


Dengan sigap Hendra memegangi tubuh Yona.


"Kamu harus tenang, Regan pasti akan sembuh dan mengingatmu," ucap Hendra kepada Yona.


Yona menatap dr.Irawan dengan tatapan menyayat hati.

__ADS_1


"Dokter, berapa lama kondisi Regan bisa pulih seperti semula?" tanya Yona dengan mata berkaca-kaca.


"Pasien membutuhkan waktu untuk mengembalikan fungsi otak mereka dan juga mengingatkan tentang beberapa kejadian yang dia lupakan. Termasuk mengenalkan wajah orang-orang terdekatnya yang bisa melatih otak pasien untuk mengenali wajah lagi," ucap dr.Irawan menjelaskan.


"Berapa lama?" tanya Lili menyela, dia tidak tahan melihat putranya mengalami hal seburuk itu. Bagaimana bisa Regan hidup dengan mengerikan seperti itu? Regan pasti sangat tersiksa karena tidak bisa melihat wajah orang-orang lagi.


Bagaimana wajah mereka di depan lelaki itu? Apakah wajah mereka datar? Ataukah wajah mereka terlihat samar dan ngeblur di mata lelaki itu? Membayangkannya saja membuat Lili tidak bisa berkata-kata lagi.


"Tergantung kondisi pasien, ada yang beberapa bulan membaik ada yang sampai tahunan. Yang terpenting jangan memaksa pasien untuk mengingat semuanya, itu malah memperburuk kondisi mental dan otak pasien. Bisa menyebabkan kejang dan kematian. Jadi semua pihak diharapkan untuk menahan diri jangan memaksa pasien untuk mengingat apapun," pungkas dr.Irawan mewanti-wanti para keluarga agar tidak memaksakan kehendak mereka.


Sudah banyak kasus dimana orang-orang terdekat pasien memaksakan pasien untuk mengingat kejadian yang dia lupakan tapi malah berdampak buruk bagi pasien dan banyak yang berakhir koma hingga meninggal dunia.


"Apa yang akan terjadi kalau aku bilang bahwa aku calon tunangannya dan dua hari sebenarnya kita akan menikah?" tanya Yona kepada dr.Irawan.


"Kamu akan kehilangan lelaki yang kamu cintai selamanya," jawab dr.Irawan bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi wanita itu.


Yona meluruh ke lantai bersamaan dengan air matanya yang kini terus saja mengalir dari matanya seperti air mata itu tidak memiliki batas untuk berhenti. Entah sudah berapa banyak air mata yang Yona keluarlan dalam enam hari ini. Wanita itu tidak pernah lelah menangisi Regan yang sekarang tidak mengingat dia sama sekali.


Betapa sakitnya menjadi Yona. Pertunangannya yang dibatalkan, kerugian besar yang harus keluarganya tanggung untuk menutup biaya pertunangan yang batal, lalu ancaman menjadi tersangka yang bisa tersemat pada nama Yona kapan saja, dan juga kenyataan yang harus dia terima bahwa Regan tidak mengingat tentang dirinya.


Itulah perjuangan, dan ini yang harus Yona rasakan dan harus Yona terima untuk memperjuangkan cinta yang sudah terlanjur bersemayam dalam jiwa dan raganya. Maju dia hancur, sedangkan mundur dia sudah terlanjur lebur.


Melodi mensejajarkan tubuhnya dengan Yona, wanita itu berjongkok di lantai dan memeluk Yona dengan erat. Melodi tidak bisa melakukan apapun untuk membantu sahabatnya. Melodi tidak mampu menolong Regan karena Melodi tidak memiliki keahlian sulap yang bisa menyembuhkan orang dengan sekali berucap. Melodi hanya berdoa untuk Yona dan Regan agar diberikan kekuatan menghadapi cobaan yang kini menerpa hubungan mereka.


Sama seperti pohon tumbuh, dia tidak mungkin bertambah tinggi dan bertumbuh besar tanpa ada hujan angin yang membuat akar pohonnya bertambah kuat. Cinta sama halnya, siapapun yang mampu dan bisa melewati semua cobaan yang datang, merekalah pasangan beruntung yang bisa saling menguatkan tanpa menjadikan masalah untuk alasan pergi.


"Duniamu tidak runtuh hanya karena ini, bangun dan bantu lelakimu mengingat semuanya. Sama halnya dengan kamu Yona, Regan pasti sedih jika tahu bahwa dirinya melupakan sosok wanita tangguh yang mencintainya," isak Melodi tidak tahan lagi untuk menyembunyikan rasa haru dan ibanya kepada Yona.


Kedua wanita itu menangis, Melodi paham benar bagaimana perasaan Yona. Melodi hanya berharap, bahwa badai akan cepat berlalu bersamaan dengan tumbuhnya ranting yang baru.


*


"Apa tidak silau, Nak?" tanya Lili menghampiri Regan.


Regan menoleh kearah ibunya dan tersenyum, "Bagaimana kata dokter? Regan sakit apa Bunda?" tanya Regan membuat Lili menghela napasnya.


Lili memegang bahu Regan, kemudian mengelus kepala putranya meskipun anak semata wayangnya itu sudah bukan anak-anak lagi. Anak tetaplah anak, bagi orang tua mereka tidak pernah tumbuh dewasa dan selalu diperlakukan seperti mereka masih kecil.


"Katanya itu efek operasi di kepala Regan," jelas Lili.


"Bunda pasti berusaha tersenyum kan? Ck, Regan tahu Bunda berbohong," kekeh Regan tapi malah terdengar sangat kecut.


Lili tertawa kecil, bahkan dalam kondisinya sekarang Regan masih memikirkan perasaan Lili dan berusaha untuk menutupi kegelisahan hati lelaki itu.


Dalam hati Regan, lelaki itu benar-benar berada dalam titik kehancuran yang tidak bisa lagi dia jelaskan. Regan tidak bisa melihat wajah orang tua dan teman-temannya. Semua orang terlihat sama, hanya gaya rambut, postur tubuh, dan suara mereka yang terlihat berbeda di mata dan telinga Regan.


Entah penyakit apa yang sudah menghinggapi dirinya. Dan mimpi apa yang sudah dia alami hingga mengalami hal naas seperti ini.


Siapa wanita itu? Kenapa suara wanita dalam mimpinya sama persis dengan suara wanita yang ada di ruangan rawatnya ketika Regan bangun? Siapa dia?


"Oh ya Bunda, wanita yang ada di sini saat Regan sadar. Apakah wanita itu ada di sana tadi?" tanya Regan mengerutkan keningnya penasaran.


Lili mengerutkan keningnya. "Wanita yang mana?" tanya Lili.


"Yang rambutnya segini," ucap Regan menunjukkan panjang rambut Yona.


Itu Yona!


"Oh dia Yona, anaknya Om Hendra dan Tante Shinta. Kenapa?" tanya Lili memastikan, berharap Regan juga mengingat tentang Yona.

__ADS_1


"Regan merasa tidak asing dengan wanita itu," jawab Regan terdiam.


Tentu saja kamu tidak asing dengan Yona, Regan. Dia wanita yang akan kamu nikahi setelah pertunangan kalian. Dia wanita yang sudah kamu cintai hingga kamu melupakan image yang sudah kamu bangun selama ini. Dia wanita pertama kali yang menjadi first kissmu. Dia juga wanita yang sudah membuatmu kalang kabut hanya karena beberapa saat saja kamu tidak melihatnya di matamu.


Kenapa sekarang matamu justru tidak mengenali wanita itu? Matamu dulu selalu candu ingin melihatnya setiap saat. Kenapa otakmu bisa semudah itu melupakan wanita yang selalu wara wiri dalam ingatanmu? Padahal dulu tidak ada waktu bagimu tanpa memikirkan segalanya tentang Yona. Kamu tidak bisa berkonsentrasi ataupun melanjutkan aktifitasmu jika tidak ada kabar dari wanita itu.


Apakah itu tidak terlalu kejam? Seharusnya kamu menyimpannya di hati, bukan di otakmu saja.


Regan menyerngit, rasanya dada Regan serasa sakit begitu mengingat suara yang ada dalam mimpinya. Mungkin setelah ini Regan akan meminta dokter memberikannya obat penenang. Bisa saja semua ini karena trauma yang otaknya terima setelah kecelakaan yang menimpanya.


Ketukan di ruang rawat Regan membuat Regan dan Lili menoleh di sana. Shinta, Hendra dan Yona berjalan masuk ke dalam ruang rawat Regan seperti para penjenguk pada umumnya.


"Itu keluarga Om Hendra datang," ucap Lili kepada Regan.


Shinta, Hendra dan Yona berjalan menghampiri Regan yang duduk di kursi roda menghadap ke balkon luar ruang rawat lelaki itu.


"Kami membawakan bingkisan untuk Regan, semoga Regan lekas membaik," ucap Shinta dengan sangat berat.


Bagaimana tidak berat? Biasanya mereka akan saling menyapa dengan akrab dan kini mereka harus berlagak seakan mereka orang lain yang tengah menjenguk Regan sebagai teman dari orang tua lelaki itu.


Yona mengibaskan tangannya, berusaha menahan air mata yang kini ingin jatuh dari matanya.


Regan menatap Yona, meskipun lelaki itu tidak bisa melihat wajahnya. Tapi kulit putih bersih, rambutnya yang terurai, dan juga tubuh proposional milik Yona nampaknya memberitahu Regan kalau wanita itu mungkin sangat cantik. Ah sayang sekali Regan tidak bisa melihat wajahnya barang sekali saja.


"Maaf merepotkan kalian," ucap Regan kepada Keluarga William, khususnya kepada Yona yang sama sekali belum berkenalan dengan Regan.


Regan mendongak menatap Yona secara terang-terangan.


"Sepertinya kamu tidak asing lagi di mataku?"


'Tentu saja, aku dulu bahkan hampir mencolok matamu karena melihat barang pribadiku,' jawab Yona didalam hatinya.


"Putri tante ini model Internasional, dia bekerja sama dengan agensi di Perancis," jawab Shinta memberitahu.


Regan berdecak kagum, tidak menyangka jika wanita itu seorang model. Pantas saja penampilannya terasa pas padahal Yona tidak memakai pakaian yang glamour atapun mewah. Hanya memakai celana jeans dan blouse simple namun sangat cantik di tubuh wanita itu.


"Siapa namamu?" tanya Regan kepada Yona.


'Siapa namaku? Dasar lelaki bajingan,' umpat Yona dalam hatinya.


Yona menghapus air matanya kasar. Wanita itu menatap Regan dengan tidak percaya. Sepertinya Regan benar-benar serius dengan penyakitnya. 


"Kamu benar tidak mengenalku?" tanya Yona dengan suara serak, membuat semua orang menatapnya dan menggeleng.


Yona tidak boleh mengatakan kebenaran apapun kepada Regan. Yona harus menahan diri sampai Regan mengingat tentang ingatan yang telah lelaki itu lupakan sendiri.


Regan manutkan alisnya bingung, tidak mengerti dengan pertanyaan yang Yona ajukan kepadanya.


"Apa maksudmu?" tanya Regan.


"Tidak, aku hanya bertanya apa benar kamu tidak mengenalku. Padahal ada beberapa produk terkenal di Indonesia yang menjadikanku brand ambasador mereka," jelas Yona dijawab anggukan oleh Regan.


Para orang tua bernapas lega karena Yona mampu menahan dirinya.


"Namaku, Yona Anantasya William," jawab Yona menatap Regan sangat lekat.


Yona Anantasya William? Regan tersentak, lelaki itu memegang dadanya yang berdetak sangat kencang. Regan tidak mengerti kenapa dadanya berdetak sekencang itu hanya karena mendengar nama Yona? Bukankah ada banyak nama yang lebih keren dari nama wanita itu? Kenapa rasanya dada Regan berdetak sekencang ini dan hatinya terasa hangat.


Air mata Regan tiba-tiba saja menetes, dengan cepat Regan menghapusnya. Regan tidak tahu apa yang kini merasuki tubuhnya hingga bisa menangis hanya karena mendengar nama dari wanita itu.

__ADS_1


'Ada apa ini? Siapa wanita itu sebenarnya?'


__ADS_2