My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Suamiku


__ADS_3

Langkah kaki lelaki itu terlihat begitu tergesa-gesa, nampaknya kerinduan yang telah mengakar dalam hatinya akan sosok wanita yang begitu dia cintai tidak bisa lagi dia bendung lebih lama. Sudah beberapa hari, Regan mencoba menahan dan menahan dirinya agar tidak bertemu dengan Yona selama mereka menjalani prosesi pingitan dan lain sebagainya.


Ada hari di mana Regan merasakan rindu tak tertahan, meminta Yona keluar dari rumahnya dan lelaki itu menatap wanitanya dari kejauhan. Hanya melihat dari jauh saja sudah membuat hati Regan menjadi hangat.


Suara kekehan geli dari banyak orang tidak membuat Regan malu menjemput wanita yang saat ini telah berubah statusnya menjadi seorang istri. Istri dari Regan, menjadi Nyonya Abimanyu Louis tentu saja. 


“Oh shit! Aku lupa,” keluh Regan menghentikan langkah kakinya.


Regan sepertinya tidak tahu di mana letak kamar rias yang mereka maksudkan. Sial*n memang, kenapa juga Regan tidak bertanya lebih dulu sebelum memutuskan untuk menemui istrinya di kamar rias. Kalau seperti ini, dia malah akan bermain petak umpet saja.


Akhirnya, Regan merogoh ponsel dari dalam saku jasnya. Lelaki itu menekan tombol panggilan di layar ponselnya pada kontak milik Nata.


“Awas saja kalau dia enggak angkat,” ucap Regan karena hafal benar tabiat dari sahabatnya yang satu itu.


Kening Nata berkerut ketika ponsel miliknya bergetar.


“Dari siapa?” tanya Sisil terlihat penasaran.


Nata menghendikkan bahunya, kemudian merogoh ponselnya yang kebetulan dia simpan di saku jas hitam yang saat ini dia kenakan.


“Dari Regan, kenapa dia telepon?” jawab Nata bingung.


Bukankah Regan baru saja melangkah keluar dari ruangan resepsi untuk menemui Yona?


“Angkat saja, mungkin Regan butuh referensi memulai adegan,” seloroh Racka tanpa merasa malu dengan orang-orang di sekitarnya.


Viona menyikut perut bidang suaminya, merasa malu dengan kalimat blak-blakan yang suaminya lontarkan tanpa melihat situasi saat ini.


Nata menggeser tombol hijau, menyambungkan panggilan teleponnya dengan Regan. Durasi panggilan mulai berjalan, menunjukkan bahwa panggilan telah tersambung.


“Hallo? Di mana kamar riasnya?” tanya Regan di seberang sana tanpa basa-basi terlebih dahulu.


Toh percuma juga melakukan basa-basi dengan Nata and the gengs. Mereka lebih dari paham dan hafal sampai ke akarnya arah pikiran Regan saat ini.


Nata terkekeh, lelaki itu bertanya kepada Sisil.

__ADS_1


“Regan tanya, di mana kamar riasnya,” ucap Nata menyerahkan ponsel miliknya kepada sang istri.


Sisil mengulum senyumnya geli. “Hallo Regan? Yah, payah sekali kamu sampai tidak bisa menemukan istrimu,” ejek Sisil membuat Regan mendengus di tempatnya.


“Matikan saja kalau kalian ingin menggodaku, jawab pertanyaanku yang tadi,” ucap Regan menghardik.


“Hm baiklah, kamu lurus saja mengikuti lorong, ada tulisan fitting room,” jelas Sisil.


“Yona ada di sana?” tanya Regan memastikan.


Sisil mendengus. Kalau Yona tidak ada di sana untuk apa Sisil menjelaskan kepada Regan? Terkadang orang-orang bucin memang tidak bisa berpikir dengan logis.


“Kalau Yona tidak ada di sana untuk ap-“ Kalimat Sisil terputus. Regan dengan cepat menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilannya. 


“Bagaimana?” tanya yang lain merasa penasaran.


“Dia mematikan panggilannya,” jawab Sisil kembali menyerahkan ponsel Nata.


Regan berjalan dengan langkah dua kali lebih lebar dari biasanya. Lelaki itu tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi. Regan ingin segera menemui Yona, merengkuh istrinya ke dalam pelukannya.


“Sepertinya, statusmu telah berubah baru saja,” ucap Ariana menatap adik iparnya dengan senyuman mengembang di bibirnya.


Mata Yona berbinar bahagia. “Benarkah, Kak?” tanya Yona kepada Ariana.


Ariana mengangguk. “Dia dalam perjalanan menjemputmu,” kata Ariana semakin membuat Yona merasakan kegugupan mendera dirinya.


Pintu terbuka dengan kasar, di sana berdiri Regan yang kini menatap Yona dengan pandangan entahlah, Ariana sendiri pernah melihat tatapan itu ketika Marva telah menunaikan kewajibannya, menjadikan dirinya istri yang sah secara agama dan negara.


Ariana melenggang keluar. “Jangan lama-lama, kalian harus menyapa para tamu undangan yang sudah datang,” ucap Ariana memberikan pesan kepada Regan dan Yona agar mereka berdua tidak keblabasan sampai melupakan para tamu undangan yang telah menyempatkan waktu datang ke acara resepsi pernikahan mereka berdua.


Pintu kamar rias kembali tertutup. Regan melangkah ke depan, semakin mengikis jarak di antara dirinya dan juga Yona.


“Istriku,” lirih Regan dengan suara parau.


Yona berlari menerjang tubuh Regan, memeluk tubuh tegap milik suaminya dengan erat.

__ADS_1


“Terimakasih, Regan,” lirih Yona, suaranya mulai serak karena air mata yang mulai meluruh membasahi pipinya.


Regan mengelus puncak kepala Yona, menciumnya, menghirup aroma wangi dari rambut istrinya. Aroma yang membuat Regan terasa candu untuk terus menciumnya lagi dan lagi.


“Kamu tidak memanggilku dengan benar, Sayang,” ucap Regan, Yona hanya memukul dada bidang suaminya karena malu.


Yona merasa hari ini seperti mimpi bagi dirinya. Bersatu dengan Regan tentu saja tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya kala itu. Sebelum Yona bertemu dengan Regan, Yona merasa bahwa dirinya akan memiliki suami dari kalangan entertaintment seperti dirinya. Namun pada hari ini, Yona sadar benar bahwa Tuhan memang sudah mengatur sedemikian rupa jodoh seorang umat untuk saling melengkapi dan menutupi kekurangan satu sama lain.


Regan menyentuh dagu Yona, menuntun wajah wanita itu untuk mengadah menatap matanya. Wajah yang selalu dia rindukan akhir-akhir ini.


“Aku merindukanmu,” lirih Regan.


Lelaki itu mencium kening Yona, lalu turun ke netra wanitanya. 


“Aku merindukan mata ini, mata yang selalu menatapku dengan penuh cinta,” ucap Regan membuat darah Yona seakan berdesir hebat.


Yona memejamkan matanya, saat bibir lembut Regan menyapa setiap inchi kulit wajahnya dengan begitu lembut, sangat memabukkan sekali.


“Dan, bibir ini,” lanjut Regan, meraba bibir Yona dengan sensual sampai Yona menahan napasnya beberapa detik.


Regan mendaratkan kecupan kecil pada bibir Yona.


“Istriku tidak merindukan diriku?” tanya Regan kepada Yona.


Wanita itu mengangguk. “Aku merindukanmu,” jawab Yona.


Regan menarik tengkuk Yona, memberikan kecupan pada bibir wanita itu. Kedua mata itu saling beradu, terbuai atas kebahagiaan yang saat ini mereka rasakan.


“Masa bodoh dengan lipstickmu yang tidak akan sempurna lagi,” kata Regan, menyerobot bibir Yona, menerobos masuk menggunakan lidahnya.


Cecapan demi cecapan terasa seperti guyuran madu murni yang baru saja dipanen dari pekarangan. Yona melingkarkan tangannya pada leher Regan, mengikuti rima gerakan bibir Regan, saling mencecap satu sama lain dengan penuh gairah yang membara membakar jiwa keduanya.


“Panggil aku dengan benar, istriku,” pinta Regan sekali lagi.


“Suamiku,” jawab Yona.

__ADS_1


Detik selanjutnya, Regan kembali mencecap bibir semanis segara madu milik Yona. Mengelus leher Yona dengan gerakan sensual sampai Yona merasa terbang di atas awan. Hari ini, Yona telah sah menjadi milik Regan seutuhnya.


__ADS_2