
Seluruh petugas medis telah masuk ke dalam ruang operasi. Beberapa dari mereka mempersiapkan berbagai peralatan dan memanggil dokter spesialis anestesi yang ada di Rumah Sakit Kusuma yang tengah bertugas.
Rehan hendak masuk ke dalam ruang operasi, namun dengan cepat Dokter Gustin Justavo menghadangnya.
“Keluarga tidak boleh mengoperasi pasiennya sendiri,” ucap Dokter Gustin Justavo menatap Rehan penuh arti.
“Aku akan berusaha untuk tenang, kalian akan kewalahan dengan tim medis sekarang ini. Beberapa tim medis dari bangsal bedah sedang melakukan operasi besar. Kalian tidak mungkin menanganinya sendiri,” jelas Rehan kepada Dokter Gustin Justavo.
Dokter Gustin Justavo menggeleng, tetap tidak memperbolehkan Rehan untuk masuk ke dalam Akhirnya Rehan mengalah dan melangkah keluar meskipun dirinya telah melakukan sterilisasi.
“Rehan, apa yang terjadi? Kenapa kamu keluar?” tanya Lili cemas karena Rehan keluar dari ruang operasi.
“Itu keputusan yang baik agar kamu tidak mengacaukan jalannya operasi di dalam sana,” ucap Fernando seakan menjawab pertanyaan dari ibunda Regan.
Semua orang tentu saja tidak ingin Rehan berada di ruang operasi dengan kemungkinan bisa kehilangan kontrol atas dirinya karena pasien yang tengah dia operasi adalah sahabat baiknya sendiri. Lebih baik Rehan berada di luar bersama seluruh orang yang kini turut mendoakan jalannya operasi Reganera Abimanyu Luois.
Yona hanya diam membisu, wanita itu memejamkan matanya. Mengirimkan doa sekali lagi kepada Regan untuk menjadi dinding kokoh pertahanan lelaki itu agar tidak roboh.
Regan, kumohon jangan menyerah di persimpangan jalan. Kita sudah berjuang sejauh ini hanya untuk bersatu.
Dokter spesialis anestesi berjalan ke arah ruang operasi.
"Dokter Madina." Rehan berjalan mendekati Dokter Madina.
"Anda tidak ikut di dalam?" tanya Dokter Madina ketika melihat Rehan berada di ruang ruangan.
Rehan mengangguk. "Saya titipkan teman saya padamu, Dokter," ucap Rehan.
Dokter Madina adalah salah satu dokter spesialis anestesi terbaik di bangsal bedah. Tentu saja Rehan harus percaya bahwa operasi ini akan berjalan lancar karena ditangani oleh dokter-dokter hebat yang akan menangani Regan.
"Tentu saja, jangan khawatirkan itu," ucap Dokter Madina tersenyum lembut.
__ADS_1
Dokter Madina berjalan masuk, namun langkahnya terhenti ketika matanya bertatapan dengan mata Yona yang kini basah oleh genangan air mata.
Seakan memahami apa yang Yona katakan lewat tatapan mata wanita itu, Dokter Madina tersenyum dan mengedipkan matanya. Yona harus percaya, bahwa Regan akan baik-baik saja setelah operasi ini dijalankan.
Dokter Madina langsung menuju ruang sterilisasi untuk mengambil baju operasi dan kebutuhan yang dia perlukan. Setelah itu Dokter Madina melangkah masuk ke dalam ruang utama operasi.
"Berikan aku catatan medisnya," ucap Dokter Madina sebelum memberikan bius kepada Regan.
Seorang perawat memberikan catatan medis Regan kepada wanita itu. Raut wajahnya berubah ketika membaca rekam medis lelaki yang saat ini tengah terkapar tak berdaya di ruang operasi menunggu tangan para ahli menyelamatkan nyawanya.
"Dokter Irawan, ini sangat berbahaya untuk kondisi pasien saat ini," ucap Dokter Madina menatap Dokter Irawan dengan tatapan tak percaya.
"Kita harus mengambil langkah sebelum segalanya terlambat. Sekarang atau tidak sama sekali," jawab Dokter Irawan kepada Dokter Madina.
Semua orang tahu benar bahwa kondisi Regan tidak dalam keadaan yang baik dan layak untuk berada dalam meja operasi. Namun mereka harus segera mengambil keputusan demi menyelamatkan nyawa lelaki itu sebelum semuanya terlambat.
“Berikan aku waktu lima menit untuk menentukan,” ucap Dokter Madina, terlihat begitu khawatir akan jalannya operasi yang menurutnya sangat membahayakan pasien.
“Bersihkan rambut pasien,” ucap Dokter Gustin Justavo meskipun belum mendengarkan jawaban dari Dokter Madina.
Sekalipun Dokter Madina tidak berani ikut serta dalam operasi ini, maka Dokter Gustin Justavo tidak akan tanggung-tanggung memberikan obat biusnya sendiri karena lelaki itu telah paham benar segala macam tekhnik operasi dalam praktek maupun teorinya.
Perawat lelaki langsung menggunduli rambut Regan hingga habis tak tersisa. Setelah itu mereka mengambil CT-Scan secara kilat, memasangkan beberapa alat dalam tubuh Regan selama operasi berlangsung.
Dokter Irawan mulai membuat garis-garis medis yang akan menjadi pertanda dalam pembedahan tempurung kepala milik Regan.
“Doa kali ini, saya yang akan memimpinnya langsung,” ucap Dokter Gustin Justavo, memimpin doa sebelum melakukan operasinya.
Suami dari Olivia menatap Regan yang kini tengkurap di depannya. Lelaki itu menghela napasnya kasar.
“Mess,” ucap Dokter Gustin Justavo memberikan komando kepada asisten bedahnya untuk memberikan alat-alat bedah yang dia butuhkan.
__ADS_1
Butuh waktu untuk membuka tempurung kepala Regan. Selagi mereka melakukan tugasnya, di luar ruangan seluruh keluarga juga tengah melakukan tugasnya, mendoakan keselamatan Regan dan juga kelancaran jalannya operasi.
“Hisap,” ucap Dokter Gustin Justavo.
Darah yang menggenang di sana langsung terhisap oleh alat penghisap dan langsung terbuang ke dalam tabung kaca yang telah disediakan. Dokter Gustin Justavo dengan perlahan dan juga teliti membuka lapis demi lapis kepala Regan, mencari bagian kerusakan yang akan mereka perbaiki atau mungkin akan mereka angkat jika memang tidak bisa lagi untuk dibiarkan bersemayam dalam kepala Regan.
Satu jam telah berlalu, pengangkatan jaringan yang rusak sudah selesai di lakukan. Kini DOkter Gustin Justavo hanya perlu menjahit kembali bagian yang telah dia buka sebelumnya.
“Bagaimana tekanan darah dan denyut jantungnya?” tanya Dokter Gustin Justavo tanpa menoleh ke arah layar.
“Stabil Dokter,” jawab Dokter Madina mengamati layar komputer yang menghubungkan dengan kondisi tubuh Regan saat ini.
“Oke Regan, berjuanglah bersama kami di sini,” ucap Dokter Gustin Justavo, seakan bisa berbicara dengan Regan yang kini tengah berada dalam obat bius.
Tittt … titt … titt… Suara pacu jantung itu kini terdengar begitu nyaring.
Semua petugas medis menoleh ke arah sana.
“Sepertinya ada pendarahan,” ucap Dokter Irawan diangguki setuju oleh Dokter Gustin Justavo.
Mereka dengan cepat menangani pendarahan yang saat ini tengah terjadi. Raut wajah panik kentara jelas di wajah semua petugas medis yang ada di dalam sana.
Regan, kamu mendengarkanku kan? Kamu harus segera bangun. Aku terlalu lama menunggumu di sini.
Yona merem*as tangannya begitu gugup, berkali-kali wanita itu menoleh ke arah pintu masuk ruang operasi berharap mereka segera selesai dan membawa kabar baik untuk semua orang.
Yona, kalau aku tak lagi bisa membuatmu tersenyum. Bisakah kau tersenyum padaku untuk yang terakhir kali?
Titttttttttt….
“Hisap!” teriak Dokter Gustin Justavo meminta asisten bedahnya untuk secepatnya menyelesaikan operasi yang telah mereka mulai kali ini.
__ADS_1
Semua petugas medis terlihat begitu tegang. Dada Yona rasanya berdenyut begitu sakit. Keringatnya bercucuran dengan derasnya. Yona mungkin tak akan sanggup hidup tanpa lelaki yang kini bertaruh nyawa di meja operasi.