My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Selamat Ulang Hidup


__ADS_3

Regan dan Yona keluar dari lift dengan bergandengan tangan, meskipun langkah kaki Regan tidak sekuat dulu karena otot-ototnya yang masih terasa kaku, namun kaki lelaki itu mampu berpijak dan melangkah dengan normal seperti khalayak umumnya. Lili dan Septian telah menunggu mereka berdua di dalam lift.


Regan membukakan pintu mobil untuk Yona, mempersilahkan Yona masuk ke dalam mobil.


“Sebenarnya siapa yang baru keluar dari rumah sakit?” gumam Regan kepada dirinya sendiri karena merasa lucu akan perlakuannya kepada Yona.


Bukankah seharusnya Yona yang membukakan pintu untuk Regan? Dirinya memang lelaki paling pengertian di dunia ini. 


“Regan baru pakai lipstick ya?” tanya Lilian menoleh ke belakang.


Septian mengikuti arah pandang istrinya. Keduanya terkikik geli melihat sudut bibir Regan yang menyisakan bukti nyata ciumannya bersama dengan Yona. 


Yona menatap Regan dengan cepat, wanita itu segera mengeluarkan tissue dari dalam tasnya. Mengelap lipstiknya yang ternyata tertinggal di bibir lelaki itu. Haish, betapa malunya Yona karena lagi-lagi tertangkap basah oleh para orang tua. Setelah ini, Yona tidak akan menanggapi godaan-godaan Regan agar dirinya tidak masuk ke dalam masalah.


“Yona, kamu sih cium-cium aku. Cari-cari kesempatan dalam kesempitan aja,” ucap Regan membuat Yona melebarkan matanya.


Septian dan Lili hanya tersenyum geli, mereka juga pernah muda, selama Regan dan Yona tidak melewati batas kewajaran maka dia dan suami tidak akan mempermasalahkan apa saja yang pasangan itu lakukan.


Meski begitu, untuk mengantisipasi hal-hal buruk bisa terjadi, keluarga Regan dan Yona sepakat untuk secepatnya menyelenggarakan pernikahan mereka berdua.


“Bunda jadi ngadain pesta penyambutan?” tanya Regan penasaran.


Lili mengangguk membenarkan. “Iya, bukannya kamu sudah dikasih tahu ya kita akan ngadain pesta penyambutan kecil-kecilan,” jawab Lilian kepada putranya.


Berita baik tidak mungkin Lilian tahan untuk keluarganya sendiri. Wanita itu telah menyiapkan seratus paket sembako untuk diberikan ke wilayah masyarakat menengah ke bawah yang memang tengah membutuhkan tidak jauh dari tempat tinggal mereka.


Keluarga Regan selalu membuat acara doa setiap sebulan sekali di beberapa panti asuhan berbeda guna mendoakan keselamatan Regan. Akhirnya, doa-doa tulus banyak orang telah dijabah Tuhan hingga Regan bisa kembali lagi bersama dengan keluarga besar mereka.


“Bagaimana dengan Machiko, Yona? Dia akan datang kan dengan orang tuanya?” tanya Lilian yang begitu gemas dengan sosok Machiko.


“Sepertinya Machiko tidak akan melewatkan acara hari ini karena ada Nayna di sana,” jawab Yona memancing tawa ketiga orang dewasa di dalam mobil.


“Dia benar-benar polos, dasar bocah,” ucap Regan terkekeh geli.

__ADS_1


Regan ingat benar, sewaktu Machiko curhat dengan dirinya. Bocah itu bercerita bahwa Nayna tidak menerima coklat yang selalu dia bawa ketika keluarganya mengatakan akan mengadakan acara bersama dengan keluarga Corlyn.


Mengapa bocah seumur Machiko sudah merasakan ketertarikan kepada seorang gadis cantik seperti Nayna? Entahlah, Regan juga tidak habis pikir kalau mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.


Beberapa mobil mewah terparkir di halaman rumah keluarga Regan, tentu saja mereka semua tahu siapa yang datang menyambangi rumah mereka sebagai tamu undangan pada hari ini. Keluarga serta sahabat yang ingin menyambut kedatangan Regan kembali ke rumahnya. 


“Ayo,” ucap Yona menggandeng tangan Regan untuk memasuki rumah lelaki itu.


“Itu mobil Grandma Ian,” pekik Nayna berbinar.


Sisil hendak menegur Nayna yang berlari keluar, tapi sudah telat bocah itu lebih dulu berlari menuju uncle kesayangannya.


“Uncle Regan!” pekik Nayna dengan matanya berbinar bahagia.


“Nayna.” Regan merentangkan tangannya, menangkap tubuh gadis mungil untuk dia dekap erat.


“Uncle, Nayna merindukan Uncle Regan,” ucap Nayna penuh ketulusan.


Regan tersenyum, terlihat jelas bagaimana wajah cantik Nayna kelak ketika gadis itu menjelma menjadi wanita dewasa. Sangat cantik, dengan raut wajah menuruni sang daddy, ditambah perpaduan gen dari Cecilia yang begitu luar biasa menurun pada putrinya.


Yona menganga, tidak tahu reaksi keponakannya akan seperti itu.


Regan melepaskan pelukannya kepada Nayna.


“Im sorry, Boy,” jawab Regan mengangkat tangannya ke udara, pertanda lelaki itu meminta ampun kepada Machiko.


Machiko menghentakkan kakinya kesal. “Uncle, Uncle menghianatiku dan Aunty Yona!” kesal Machiko berlari masuk ke dalam rumah Regan untuk mengadu kepada ibunya.


Yona tersenyum geli, sedangkan Regan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal berusaha memahami kelabilan anak tunggal pasangan Marva William dan Ariana Kusuma.


“Dia kenapa, Uncle?” tanya Nayna bingung.


“Machiko hanya tidak suka Uncle dekat denganmu, Sayang,” jawab Regan mengelus puncak kepala Nayna.

__ADS_1


Wajah Nayna berubah menjadi kesal. “Ih, dia pasti temennya setan kan, Uncle? Kata Mommy, kita enggak boleh pilih-pilih teman, yang pilih-pilih temen bakalan jadi temennya setan,” jelas Nayna menirukan kalimat mommynya.


“Eh?” ucap Regan dan Yona bersamaan. Pasangan dewasa itu menggelengkan kepalanya, tidak mengerti bagaimana jalan pikiran para anak-anak.


“Ayo masuk,” ucap Yona menggandeng Regan dan Nayna masuk ke dalam rumah Regan.


Sisil yang tengah menggendong Zio langsung berdiri ketika mendengar suara teriakan Nayna bahwa Regan sedang berjalan masuk ke dalam rumah.


“Welcome home, Regannn,” pekik semua orang meniup terompet khas ulang tahun.


Wajah Regan terlihat begitu kebingungan.


“Kalian benar-benar membuat pesta penyambutan seperti pesta ulang tahun?” tanya Regan menatap semua orang tidak percaya.


Mereka tertawa. “Bukannya ini usul darimu, Re?” tanya Lilian balik.


Regan menepuk keningnya, sejak kapan perkataannya dianggap serius oleh semua orang?


“Uncle, tiup lilinnya,” pekik Nayna dengan bersemangat.


Tiup lilin? Yang benar saja!


“Tapi ini bukan hari ulang tahun Uncle, Nayna,” jawab Regan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“No, kita harus tiup lilin. Iya kan Mommy?” tanya Nayna meminta persetujuan mommynya.


Sisil hanya mengangguk seraya terkekeh geli. Mana ada pesta penyambutan mendadak berubah seperti pesta ulang tahun anak-anak? 


“Ayo Uncle tiup lilinnya,” pekik Nayna bertepuk tangan dengan meriah.


Tidak ingin mengecewakan wajah bahagia semua orang, lelaki itu akhirnya mengalah dan meniup lilin ulang tahun yang kini berada dalam tangan Viona.


“Selamat ulang hidup, Regan,” ucap semua orang dengan kompak.

__ADS_1


Selamat ulang hidup, eh? 


__ADS_2