
"Tugas yang saya minta kirim email sudah semua?" tanya Regan memecah keheningan di kelas yang kini lelaki itu ampu.
Mahasiswa Regan tampak mengangguk menjawab pertanyaan dari sang dosen. Kecuali satu mahasiswa, yang kini tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Yona meringis, entah kenapa jika soal tugas dan tugas wanita itu sering sekali lupa. Padahal tugas yang diberikan Regan kepada para mahasiswa penempuh Magister Managemen tidak terlalu sulit dan menyusahkan.
"Total yang masuk ada empat puluh tujuh, bukankah kelas ini ada empat puluh delapan mahasiswa?" tanya Regan sontak saja membuat seluruh mahasiswa berkasak kusuk.
Untuk menutupi belangnya, wanita itu ikut memasang wajah penasaran siapa yang belum mengirim tugas. Yona tertawa didalam hatinya, memangnya Yona kira jika Regan tidak akan tahu siapa yang belum mengumpulkan tugas jika dia sudah mengecek satu per satu email yang masuk.
"Yona, bisa uraikan jawabanmu? Singkat saja," ucap Regan menatap Yona yang kini tengah berbincang dengan teman samping bangkunya.
"Hah?" pekik Yona terbelalak saat lelaki itu menunjuknya.
Regan memang musuh abadinya, dia telah berubah seperti biasanya padahal saat Yona pergi ke Inggris lelaki itu sok-sokan berbicara manis didepannya. Huh, Regan memang suka membual !
"Kamu sudah mengerjakan atau belum?" tanya Regan menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Sudah Pak," gagap Yona dengan mata terlihat sangat panik.
Regan mengulum senyumnya, lelaki tahu benar jika Yona tidak mengirim tugas atau mungkin tahu apa tugas yang dia berikan.
Yona menghela napasnya panjang. "Saya belum mengirimnya, Pak," jawab Yona menekuk wajahnya.
"Kenapa belum? Lupa atau memang malas?" celetuk Regan lagi
"Lupa, Pak. Kan manusiawi ya," jawab Yona membuat seluruh teman sekelasnya terkekeh.
"Kamu alasannya lupa terus, sebenarnya apa yang kamu ingat dalam otakmu?" kesal Regan saat ekspresi wajah Yona terlihat sangat santai meskipun wanita itu kemungkinan mendapat nilai jelek dari tugas yang tidak dia kumpulkan dan mempengaruhi nilai akhirnya nanti.
"Pak Regan, siapa lagi?" ucap Yona sengaja membuat Regan gelagapan.
Seluruh teman sekelas Yona langsung riuh bertepuk tangan, mereka tahu benar bahwa Dosen mereka dan Yona sering terlibat pertengkaran seperti kucing dan tikus.
"Begitukah?" tanya Regan menatap Yona menantang.
__ADS_1
"Undangannya jangan lupa ya, Yon," kekeh teman sekelasnya.
Yona tersenyum, wanita itu nampak berbinar tanpa tahu kesalahannya.
"Tenang saja, semua aku kasih undangan," ucap Yona mengacungkan jari jempolnya ke semua teman-temannya yang berasal dari kalangan umur berbeda dan juga beraneka ragam pekerjaan.
"Baiklah kalau kamu mengumumkan berita pernikahan kita lebih cepat, untuk semuanya kami akan melakukan pesta pertunangan secepatnya dan akan menikah tidak lama dari tanggal pertunangan," Yona terbelalak menatap Regan.
Lelaki itu kini memasang wajah dengan senyuman simpul yang terlihat begitu mempesona di wajah tampannya.
"Atau kamu mau kita langsung menikah saja, Yona?" tanya Regan membuat mata Yona melebar sempurna, mulut wanita itu sampai menganga tidak percaya mendengar ucapan dari Regan.
"What, jadi kalian serius?" tanya teman sekelas Yona menatap Regan dan Yona terbelalak.
Jika dosen dan mahasiswa saling mencintai di kalangan strata satu, maka sang dosen akan terkena pelanggaran kode etik. Tapi ini aturan yang berbeda, kelas Magister tidak memiliki kode etik seperti itu. Dosen dan mahasiswa sah-sah saja jika saling mencintai.
"Tentu saja, minggu depan atau bulan depan kita menikah, Sayang?" tanya Regan mengulum senyumnya.
__ADS_1