
Yona berlari mengitari seluruh isi rumahnya, wanita itu ke sana ke mari mencari sosok Regan yang tidak diketahui dimanapun kini keberadaannya. Yona berlari membuka kamar tidur tamu, tapi tidak ada juga. Lalu Yona membuka kamar mandi yang ada di lantai bawah. Tidak ada Regan, dan tidak ada tanda-tanda lelaki itu masuk ke kamar mandi.
Lalu Yona berlari menuju pintu belakang, tapi pintunya masih terkunci rapat pertanda bahwa Regan tidak melewati pintu itu.
“Atau mungkin dia masuk kamarku?” pikir Yona dengan cepat berlari ke lantai dua rumahnya untuk mencari Regan di kamarnya.
Yona membuka pintu kamarnya kasar, “Regan?” panggil Yona ketika wanita itu memasuki kamarnya. Kaki Yona melangkah menuju kamar mandi.
“Regan kamu di dalam?” panggil Yona mengetuk pintu kamar mandinya.
Tidak ada sahutan sama sekali, wanita itu membuka pintu kamar mandinya dan tidak menemukan Regan di sana. Yona menghela napasnya panjang, “kemana lelaki itu,” gumam Yona berpikir kemana Regan saat ini.
“Mungkinkah lelaki itu hilang disembunyikan makhluk halus?” pikir Yona menebak kemungkinan yang terjadi.
“Ah mana mungkin ada makhluk halus yang mau menyembunyikan lelaki mengesalkan seperti dia,” ucap Yona mendengus.
Wanita itu melempar tasnya, menghentakkan high heels yang dia pakai sembarangan. Yona merebahkan tubuhnya ke ranjang dengan kasar. Yona menatap langit-langit kamarnya, membayangkan kemana kiranya lelaki itu pergi dan menghilang.
“Dia tidak mungkin terjebur kolam renang kan?” pikir Yona.
Wanita itu dengan cepat membuka jendela kamarnya, kebetulan sekali jendela kamarnya menghadap langsung ke kolam renang rumahnya yang lumayan luas. Wanita itu mendesah lagi, pertanda Regan tidak ada di sana.
“Aaaaaaaaaa,” pekikan suara mommynya membuat Yona berjingkat kaget.
“Mommy!” ucap Yona berlari keluar kamar dan menuruni tangga untuk segera menuju kamar orang tuanya.
Yona membuka pintu kamar orangtuanya, mata Yona terbelalak melihat Regan tidur di tengah-tengah daddy dan mommynya.
“Mommy, daddy?” panggil Yona membuat mereka berdua.
Shinta melebarkan matanya, begitu juga Hendra yang terbangun tiba-tiba karena teriakan istrinya yang membahana.
“Kalian belum memakai pakaian, haishh,” keluh Yona berbalik karena melihat daddy dan mommynya masih polos tanpa memakai pakaian apapun.
Shinta dan Hendra langsung memunguti pakaian mereka yang berserakan, dengan cepat mereka memakainya meskipun Shinta tidak memakai celana dalam dan br* miliknya. Shinta menghampiri Yona, menatap anaknya dengan tatapan bingung.
“Yona, kenapa Regan bisa tidur di kamar mommy dan daddy?” tanya Shinta menatap Yona bingung,
__ADS_1
Yona sendiri tidak tahu mengapa Regan tiba-tiba masuk ke kamar orangtuanya. Pasalnya, Yona hanya meninggalkan Regan sebentar untuk mengantarkan Fernando dan Nadia sampai ke depan rumahnya.
Yona menghendikkan bahunya tanda tidak tahu, “Yona mana tahu mom, Regan tiba-tiba saja tidak ada di ruang tamu. Makanya Yona mencari Regan kemana-mana eh nggak ada. Tahu-tahu ada di kamar kalian,” jelas Yona kepada mommynya.
“Astaga mommy sampai kaget, dia tiba-tiba tidur di tengah-tengah kami,” ucap Shinta mengelus dadanya yang masih gemetaran karena kaget.
Sedangkan Hendra menatap Regan lekat, “kalian habis minum ya tadi?” tanya Hendra memicingkan matanya tajam kepada Yona.
“Oh hanya sedikit,” jawab Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Sedikit apanya, masa sampai teler begini dibilang sedikit. Ngaco kamu ini Yon,” ucap Hendra marah, lelaki itu tidak suka jika tidurnya diganggu, kecuali oleh panggilan alam seperti bagian bawahnya yang tiba-tiba bangun minta jatah dari istrinya.
“Lah kan Yona nggak tahu Regan bakal masuk sini da, lagi pula kalian kan sudah selesai itunya jadi nggak mengganggu dong?”
Pletak, Hendra menjitak kepala Yona hingga anaknya mengaduh kesakitan.
“Daddy kekerasan anak nih,” keluh Yona mencebikkan bibirnya kesal.
“Kamu ini otaknya rusuh terus, sana bawa Regan keluar dari kamar ini,” ucap Hendra mendorong Yona untuk segera membawa Regan keluar dari kamarnya dan sang istri.
“Emangnya Regan barang apa pakai disuruh bawa segala, daddy ini tidak memanusiakan manusia tahu nggak sih,” cibir Yona berjalan kearah Regan.
“Regan, woeee Regannnnn,” teriak Yona di telinga Regan.
Lelaki itu menggeliat, Regan malah menarik Yona hingga wanita itu tidur di sampingnya. Yona terbelalak, bisa mati dia dalam posisi begini, apalagi orang tuanya kini menatap Regan dan Yona dengan mata membulat sempurna.
“Yaa Regan lepaskan aku!” pekik Yona mencoba memberontak melepaskan dirinya dari Regan.
Lelaki itu tidak merespon sama sekali, Regan justru menarik tubuh Yona hingga wanita itu mendekat ke dada bidangnya.
“Diamlah, aku sangat nyaman dengan posisi kita sekarang,” ucap Regan tanpa sadar.
Kedua orang tua Yona menatap mereka dengan mata mendelik tajam, berani-beraninya Regan dan Yona berpelukan seperti itu di depan mereka setelah membuat keributan menyusup masuk ke kamar Hendra dan Shinta.
“Yona, kalian!” geram Hendra berniat menarik Yona dari dekapan Regan, tapi Shinta menghentikannya.
“Sudahlah, kita tidur di samping saja,” ucap Shinta enggan merusak momen langka itu.
__ADS_1
“Kamu membiarkan putrimu tidur dengan lelaki yang bukan mukhrimnya? Astaga ibu macam apa kamu ini?” ucap Hendra memutar bola matanya kesal.
Shinta mendelik tajam, “kenapa bawa-bawa ibu macam apa? Kamu tidak ingat aku sudah melahirkan dua anakmu dari kewanitaanku?” sahut Shinta tidak terima.
“Bukankah itu memang kewajibanmu?” jawab Hendra sama tidak terimanya karena diolok-olok oleh istrinya.
Shinta mendengus kesal, “hebat sekali kamu membicarakan kewajiban di depanku, lalu kenapa kamu mempertanyakan ibu macam apa aku ini?” tanya Shinta berkacak pinggang.
“Berisikk!!” pekik Regan membungkam mulut Hendra dan Shinta.
Wuahhh hebar sekali Regan berani mengumpat seperti itu kepada calon mertuanya. Tidak takutkah lelaki itu jika restu Hendra dan Shinta dicabut saat itu juga?
“Aku mencintaimu Yona,” ucap Regan mencium puncak kepala Yona meskipun mata lelaki itu terpejam.
Yona memejamkan matanya, dia sudah berusaha keras meronta melepaskan tubuhnya dari pelukan Regan. Tapi lelaki itu semakin memeluknya erat.
“Regan, lepaskan aku!” teriak Yona namun tidak dihiraukan oleh Regan.
“Kenapa kamu selalu berteriak, aku mengantuk, dan kepalaku sangat pening. Selamat tidur,” ucap Regan memberikan kecupan hangat di kening Yona.
Sedangkan Hendra dan Shinta memutar bola matanya jengah melihat pemandangan di depannya. Benar sekali orang mabuk tidak akan ingat daratan yang dia pijak. Buktinya saja Regan bertingkah seolah-olah dunia hanay miliknya dan Yona seorang.
“Ayo, kita keluar. Aku kepanasan ada di kamar ini,” ucap Hendra menggandeng tangan Shinta keluar dari kamar mereka.
“Daddyyy, mommyyyy, kalian mau kemanaaa?” pekik Yona ketika pintu kamar orang tuanya di tutup dari luar.
“Memanggil penghulu untuk kalian!” sahut Hendra dari luar ruangan.
Oh shitt, besok Yona dan Regan pasti akan mendapatkan kesialan baru lagi. Apalagi mommynya yang memang sudah sangat tidak sabar untuk menikahkan Yona dan Regan.
“Tidurlah, semoga mimpi indah,” jawab Regan membuat Yona semakin kesal.
“Mimpi indah apanya kamprettt!” pekik Yona begitu kesal kepada lelaki itu.
----
HAIII JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN FOLLOW AKUN AUTHOR YA
__ADS_1
INI TENGAH MALAM AKU UPAYAIN UP, TOLONG BERIKAN APRESIASI UNTUK AUTHOR LEWAT LIKE, KOMEN, MAUPUN FOLLOW AKUN AUTHOR.
MAKASIH SEMUAA, SELAMAT MEMBACA.