
Syukurlah, itu yang mungkin tergambar pada hati Yona ketika mommy dan daddynya pulang lebih cepat dari perjalanan bisnis mereka. Setidaknya, Yona tidak merawat Baby Zio seorang diri di dalam rumahnya hanya dengan beberapa pelayannya saja. Wanita itu menghembuskan napas leganya, ketika Baby Zio begitu dekat dengan Shinta, sang mommy.
“Untung saja kalian pulang tepat waktu,” ucap Yona dengan helaan napas lega yang keluar dari mulutnya.
Shinta menatap Yona dengan kesal. “Kenapa? Kamu pasti tidak bisa menelateni Baby Zio yang tampan ini ya?” tanya Shinta sambari mencium pipi gembul Zio yang kini ada dalam dekapannya.
“Astaga Mommy, bagaimana mungkin aku bisa menelateni seorang bayi. Sedangkan melahirkan anak saja aku belum pernah,” pekik Yona merebahkan tubuhnya di sofa panjang ruang keluarganya.
“Tuh lihat Aunty Yona, dia enggak bisa merawat kamu. Makanya dia enggak nikah-nikah,” ucap Shinta mengajak Baby Zio berbicara.
Seperti mengerti kalimat yang terucap dari mulut Shinta, Baby Zio tersenyum sumringah hingga membuat gemas Shinta. Wanita dua anak satu cucu itu menciumi wajah Baby Zio saking gemasnya. Putra dari pasangan Sisil dan Nata memang menyita perhatian banyak orang. Bocah yang digadang-gadang akan mewarisi separuh kekayaan ibunya, ditambah dengan kekayaan milik sang ayah dari keluarga Dirga Pratama.
Baby Zio akan menjadi anak paling beruntung di dunia berada di tengah keluarga Corlyn dan Dirga yang begitu mengutamakan keluarga di atas segalanya.
“Yona heran sama Sisil, duit bejibun enggak habis-habis kenapa dia enggak menyewa suster untuk merawat anak-anaknya?” tanya Yona kepada ibunya.
“Kamu kan belum memiliki anak, jadi tidak tahu bagaimana kekhawatiran Sisil akan kondisi anaknya. Dia juga tidak sembarangan menitipkan anak-anaknya. Kamu tahu sendiri, Baby Zio mungkin akan meneruskan cambuk kekuasaan keluarga mereka. Tidak aneh kalau Sisil tidak mempercayakan anaknya pada sembarang orang,” jelas Shinta panjang lebar.
Iyakah? Apa semua ibu akan berpikir begitu? Pantas saja mommynya mengurus sendiri dirinya dan sang kakak meskipun mereka termasuk keluarga konglomerat yang kekayaannya tidak akan habis hanya untuk menyewa ratusan baby sitter untuk anak-anak mereka.
“Makanya cepet nikah, biar merasakan sendiri,” sindir Shinta membuat Yona gelagapan.
“Ih Mommy mau ngusir Yona dari rumah ya makanya nyuruh Yona nikah cepet-cepet,” jawab Yona tidak terima.
“Iya lah, kamu tu ngabisin makanan di rumah saja. Mending melihara sapi bisa dijual, melihara kamu bikin bangkrut saja ngabis-ngabisin duit,” cibir Shinta.
Yona melebarkan matanya, apa-apaan mommynya ini. Kenapa wanita itu malah menyandingkan dirinya dengan sapi? Benar-benar keterlaluan mommynya!
Baby Zio menguap, memberi tanda kepada dua wanita dewasa yang merawatnya bahwa dirinya sudah mulai mengantuk.
“Mommy bawa Baby Zio ke kamar dulu,” ucap Shinta diangguki Yona.
Sepeninggalan sang mommy, Yona menatap langit-langit ruang keluarganya. Begitu senyap, hanya ada dia, sang mommy dan Baby Zio. Rumah akan terasa hidup ketika keluarga kakaknya datang ke Indonesia, tentu saja rumah akan menjadi lapangan bermain secara tiba-tiba karena kehadiran Machiko keponakannya.
“Rumah akan ramai kalau aku punya anak kayaknya,” gumam Yona memikirkan jauh ke depan.
__ADS_1
Yona meraih benda persegi yang ada di atas meja. Wanita itu mendengus ketika tidak ada pesan masuk ataupun panggilan dari Regan yang masuk ke ponselnya. Memangnya sedang sibuk apa lelaki itu sampai-sampai tidak menghubunginya seharian.
Baru saja Yona memejamkan matanya, suara dering di ponselnya membuat Yona sontak membuka mata. Wanita itu menatap layar yang tertera di layar. Bibirnya mencebik melihat sosok yang baru saja dia bicarakan menghubungi dirinya.
“Panjang umurnya ni orang,” gumam Yona.
Yona tidak akan mengangkat panggilan itu dengan cepat, kalau dia segera menggeser tombol hijau di layar bisa ketahuan jika wanita itu sedang menunggu panggilan dari Regan. Bisa malu Yona.
Yona berdeham dan mengeser tombol hijau di layar ponsel miliknya. “Hallo?” sapa Yona dengan menetralkan debaran di jantungnya.
Kenapa aku berlagak seperti wanita yang baru saja kasmaran? Memalukan sekali!
“Kamu di rumah kan?” tanya Regan di seberang sana.
Suara kasak-kusuk orang membuat Yona menyipitkan matanya. “Kamu di mana sekarang? Kenapa ramai sekali?” tanya Yona penasaran.
“Aku sedang keluar sekarang, kamu di rumah?”
Yona mengangguk dengan refleks. “Iya, aku di rumah sekarang,” jawab Yona.
“Memangnya apa?”
“Rahasia lah, kamu akan melihatnya nanti di rumah,” jawab Regan membuat rasa penasaran pada diri Yona semakin kuat.
Apa kira-kira?
“Sebentar, berikan aku cluenya,” ucap Yona berharap dia bisa menebak sesuatu yang special itu.
“Em apa ya, manis dan sedang dicari banyak wanita mungkin.” Regan tersenyum geli di seberang sana, sedangkan Yona hanya mencebikkan bibirnya kesal.
Panggilan terputus secara tiba-tiba. “Wuah, dasar tidak tahu sopan santun!” umpat Yona menatap layar ponselnya yang kini menggelap.
Yona mengusap kasar wajahnya, kebetulan di saat yang bersamaan pelayan rumah Yona melewati dirinya.
“Mbak tunggu,” panggil Yona menghentikan langkah pelayan rumahnya.
__ADS_1
“Iya Non, Non Yona butuh sesuatu?” tanya pelayan rumah Yona.
“Bukan, aku mau bertanya,” jawab Yona menggelengkan kepalanya. Yona menatap pelayan rumahnya, lalu berkata “Sesuatu yang manis dan dicari banyak wanita saat ini apa ya?”
Pelayan rumah Yona nampak berpikir akan pertanyaan yang Yona lontrakan. Sesuatu yang manis dan sedang dicari banyak wanita. Tentu saja hal-hal yang sedang trending di kalangan wanita saat ini.
“Berlian Non, para artis lagi heboh arisan berlian,” jawab pelayan rumah Yona membuat Yona melebarkan matanya.
Berlian? Regan akan memberikan dirinya berlian? Woww, tumben sekali.
“Ya sudah Mbak boleh pergi,” ucap Yona diangguki pelayan rumahnya.
Senyuman bahagia kini terukir di wajah Yona. Ah betapa bahagianya Yona kalau sampai Regan benar-benar memberikan dirinya berlian. Suara deru mobil memasuki pelataran rumah keluarga William. Bisa Yona tebak, itu pasti mobil Regan. Yona segera merapikan penampilannya, wanita itu menatap wajahnya dari pantulan kaca lemari hias yang ada di sana.
“Kenapa aku deg-deg’an begini mau dikasih berlian,” ucap Yona merem*s tangannya gugup.
Yona langsung melangkahkan kakinya menuju pintu utama kediamannya. Sesekali, Yona menghembuskan napas panjang guna menghilangkan kegugupannya.
Regan berdiri di depannya dengan senyuman merekah di bibir lelaki itu. “Baby Zio mana?” tanya Regan karena tidak melihat anak sahabatnya bersama Yona.
“Ditidurin sama Mommy,” jawab Yona membuka pintunya lebar agar Regan bisa masuk.
Regan menyerahkan satu bungkus paper bag dari salah satu mall di Bandung. Lelaki itu tersenyum seperti biasanya.
Benar-benar berlian kah?
“Apa ini?” tanya Yona penasaran.
“Sesuatu yang manis dan sedang dicari banyak wanita. Es krim viennetta,” jawab Regan membuat mata Yona melebar hingga mau keluar dari tempatnya.
Es krim viennetta?
-------------
JANGAN LUPA UNTUK TEKAN LIKE DAN KOMENTAR, KARENA LIKOM KALIAN MEMPENGARUHI FREKUENSI UPDATE'AN NOVEL INI 🙏🙏🙏
__ADS_1
SEMAKIN BANYAK, SEMAKIN SEMANGAT NULISNYA AKYUUU ❣️❣️❣️