
Manik mata coklat gelap itu melebar sempurna. Bagaimana tidak, Yona begitu terkejut di saat tiba-tiba suara Regan mengintrupsi dirinya. Mulut Yona menganga, menelan salivanya dalam-dalam. Beberapa kali Yona mengerjapkan matanya, kenapa bisa Regan membuka matanya di waktu yang tidak tepat?
Aish, betapa malunya Yona jika Regan sampai tahu bahwa dirinya sedang membaca novel yang memiliki adegan mantap-mantap. Bisa-bisa Regan mengatai dirinya sebagai wanita cabul, mesum, dan juga sa*ngean.
Astaga, apa yang harus Yona jawab atas peratanyaan yang Regan tanyakan kepada dirinya?
“Regan, kamu sudah sadar?” tanya Yona menghampiri Regan di tempat tidurnya.
Yona mengecek seluruh tubuh Regan. “Ada yang sakit?” tanya Yona sekali lagi.
Bagaimanapun juga, Regan baru membuka matanya untuk pertama kali. Tentu saja Yona harus cemas atas apa yang terjadi kepada lelaki itu. Yona menggenggam tangan lelakinya. Ditatapnya penuh cinta kekasih yang baru saja membuka matanya untuk pertama kali.
“Regan, dua doaku terkabul pada hari ini,” lirih Yona dengan matanya berkaca-kaca.
Tangan Regan mencoba untuk meraih wajah Yona, namun tubuhnya begitu lemas. Mungkinkah itu efek karena terlalu lama berbaring di ranjang pasien selama satu tahun? Bahkan tubuh Regan rasanya remuk tidak karuan rasanya. Belum lagi luka jahitan di kepalanya yang harus dicabut benangnya jika kondisinya telah membaik.
“Apa saja itu?” tanya Regan dengan lirih.
Regan menatap wajah Yona dengan penuh kerinduan. Betapa rindunya Regan pada diri Yona. Wajah yang selalu dia harapkan hadir dalam mimpi panjangnya selama ini. Wajah yang membuat Regan bisa bertahan sekuat itu hingga Tuhan memanggilnya untuk kembali bersama orang-orang yang dia kasihi.
“Kau membuka mata, dan aku orang pertama kali yang kau lihat saat matamu terbuka lagi,” jawab Yona menundukkan kepalanya.
Isak tangis pada akhirnya lolos dari mulut Yona. Saat ini Yona tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Kebahagiaan yang membuncah dalam hatinya tak akan mampu untuk dia utarakan sebagai sajak dalam setiap puisi romansa masa kini.
“Maafkan aku,” lirih Regan menggenggam erat tangan Yona.
Yona memeluk erat pinggang Regan. Menumpahkan air matanya dengan mendekap erat lelaki yang selama ini sangat dia rindukan.
“Aku … aku takut kehilanganmu,” lirih Yona terisak.
Dielusnya puncak kepala Yona dengan lembut. “Maafkan aku, Yona,” jawab Regan dengan suara serak. Entah sudah berapa banyak air mata yang telah menetes dari mata kekasihnya. Regan sungguh merasa berdosa atas segala air mata dan juga kesakitan Yona dan keluarganya karena dirinya.
“Tidak, jangan meminta maaf. Aku yang salah,” isak Yona hingga air mata membasahi selimut Regan.
“Maaf sudah membuatmu khawatir selama ini.”
Yona mendongak, mata mereka bertemu. Tersirat kerinduan yang begitu dalam pada netra mereka berdua.
“Perlu aku panggilkan dokter untuk mengecek kondisimu, Regan?” tanya Yona memastikan Regan tidak merasa kesakitan.
Regan menggeleng dengan lemah. “Tidak perlu, aku hanya butuh melihatmu di dekatku agar kondisi tubuhku segera membaik,” jawab Regan tersenyum lembut, membuat wajah Yona merona malu.
Jika seperti ini, Regan jadi teringat pertanyaannya kepada Yona yang belum dijawab oleh wanita itu.
__ADS_1
“Tadi kamu sedang baca apa?” tanya Regan menatap Yona dengan menelisik.
Sontak saja wajah Yona menjadi pias, detak jantung Yona berdetak tidak karuan rasanya.
Apa yang harus aku jawab? Haruskah aku menjawab jujur kalau aku tadi membaca novel mantap-mantap? Tidak-tidak, aku tidak akan menjawab jujur. Regan bisa membuatku mati kutu kalau sampai dia tahu apa yang sedang aku baca.
“Ah … itu? Itu novel kisah anak SMA, biasalah genre teen berantem-berantem begitu,” sahut Yona dengan memalingkan tatapan matanya, tidak berani menatap mata Regan untuk saat ini.
Regan membuka alat bantu pernapasan yang sudah satu tahun lamanya menemani lelaki itu, membantunya untuk bernapas selama ini.
“Oo, jadi anak SMA bisa membuat kamu sampai menjerit?” tanya Regan menahan senyumnya.
Yona menatap Regan dengan kesal. Baru saja situasi terasa begitu damai, kini lelaki itu mulai memancing perkara yang membuat Yona kesal setengah mati.
“Aku akan menghubungi Bunda sebentar,” ucap Yona dengan sinis.
Berdiri dari sana untuk mengambil ponsel yang saat ini tergeletak di atas meja tunggu. Yona segera menghubungi Lilian, memberitahu ibu dari Regan bahwa putranya telah membuka mata. Tentu saja itu kabar baik kedua kalinya dalam seharian ini. Mereka harus membagikan sembako kepada masyarakat kecil sebagai rasa syukur mereka atas kembalinya Regan bersama-sama lagi dengan mereka.
“Aw, aw,” ringis Regan memegangi kepalanya.
Yona menoleh dengan kilat, wanita itu segera menghampiri Regan yang kini menunjukkan ekspresi wajah kesakitan.
“Kepalamu sakit? Di mana? Bagian mana, Regan?” tanya Yona dengan paniknya.
Yona menatap Regan dengan tatapan membunuh. Andai saja lelaki itu bukan pasien saat ini, mungkin Yona akan mendaratkan jurus seribu cubitan mautnya pada tubuh Regan. Hmm, beruntunglah Regan untuk kali ini.
“Kamu tidak ingin menciumku?” tanya Regan menatap Yona, mengerutkan keningnya.
“Ti—dak,” jawab Yona melipat tangannya ke depan dada.
Suara pintu masuk terbuka membuat keduanya menoleh. Di sana terlihat Lili dan Septian berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam ruang rawat Regan.
“Regan,” lirih Lili ketika matanya beradu pandang dengan mata putranya.
Yona menyingkir, memberikan ruang kepada Lilian untuk melepas kerinduan kepada Regan. Ibu dan anak itu saling berpelukan bergitu erat, lalu disusul Septian yang tidak kuasa menahan rasa haru dalam dirinya. Keluarga itu saling berpelukan, melepaskan kerinduan terpendam mereka selama ini.
“Apa perlu Bunda panggil Dokter Irawan untuk memeriksamu lagi, Regan? Hasil CT-Scanmu sangat baik, sebentar lagi jahitan di kepalamu akan dilepas,” jelas Lilian mengelus puncak kepala Regan dengan lembut.
“Apa yang dokter katakan tentang kepala Regan, Bunda?”
Lili meraih tangan Regan. “Tidak ada, Tuhan hanya memberikanmu waktu istirahat setahun ini. Semua akan baik-baik saja,” jawab Lili meyakinkan Regan bahwa kondisi tubuhnya baik-baik saja.
Regan mengangguk, tentu saja Regan tahu bahwa ada yang tidak beres dengan kepalanya sampai-sampai dia koma selama satu tahun dan harus menjalani operasi di saat dirinya masih koma tidak sadarkan diri.
__ADS_1
“Biarkan Regan istirahat, Sayang,” ucap Septian mengingatkan istrinya untuk membiarkan Regan istirahat sambil menunggu Dokter Irawan kembali melakukan pengecekan fisik lelaki itu.
“Regan sampai lelah istirahat selama ini,” jawab Regan membuat Lili dan Septian tertawa karena ucapannya.
Mata Regan justru fokus pada sosok Yona yang saat ini terlihat merapikan novel-novelnya. Satu ide terlintas dalam benak Regan.
“Bunda mau membacakan novel untuk Regan? Regan rindu dongeng sebelum tidur yang selalu Bunda ceritakan setiap malam,” seloroh Regan membuat Yona menghentikan aktivitasnya.
Wanita itu menoleh dengan cepat, matanya menyipit curiga dengan rencana dalam otak Regan. Yona heran sekali, baru saja lelaki itu mendapatkan kesadarannya tapi Regan justru terlihat bersemangat membuat Yona menjadi kesal.
“Novel? Novel yang mana?” tanya Lili nampak menyetujui ucapan putarnya.
Regan mengulum senyumnya, menatap Yona. “Yona, novel anak SMA yang tadi kamu bicarakan tadi tolong kasih ke Bunda,” pinta Regan tersenyum lembut.
“Hah?” pekik Yona tanpa sadar, mulutnya menganga saking terkejutnya.
“Genre teen? Bunda tidak tahu kalau Yona suka genre teen,” jawab Lilian tersenyum lembut.
Yona bengong di tempatnya.
“Yona? Berikan novelnya sama Bunda,” kata Regan mengingatkan Yona.
Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Apa yang harus aku lakukan? Bisa malu kucing aku kalau sampai Bunda dan Ayah tahu isi novel yang aku baca. Aish sialan!
“Bawa sini, Yona,” pinta Lilian menyodorkan tangannya, meminta novel yang kini berada di tangan Yona.
“I-iya Bunda,” jawab Yona dengan gelagapan.
Lilian tersenyum, matanya menilai blurb yang ada di belakang novel itu.
“Ini berkisah tentang apa?”
“Mantap-mantap,” jawab Yona dengan spontan.
Wanita itu langsung menggigit bibir bawahnya, merutuki kecerobohan dan kelemesan mulutnya karena bisa keceplosan menjawab bahwa novel itu adalah novel adult romance. Tawa meledak dari mulut Septian dan Lili, sedangkan Regan mati-matian menahan tawanya melihat wajah Yona yang kini memerah karena malu.
----------------
HAY HAYYYY AUTHOR DATANG LAGI NIH MENYAPA KALEANNNN SEMUANYAAWWW.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN JUGA VOTE SEBANYAK-BUANYAKNYA BIAR AUTHORNYA RAJIN UPDATE, HEHEHE.
__ADS_1