
Lihatlah pagi ini, entah dosa apa Regan sampai menghadapi kelabilan sikap ibu hamil seperti Yona. Wanita itu tiba-tiba menangis tanpa diketahui apa penyebabnya. Yona terus saja memukul lengan suaminya yang kini berbaring di sampingnya, diam saja tanpa berniat membalas ataupun bertanya atas kesalahan apa yang telah dia perbuat sampai Yona menangis seperti itu.
Huh, tidak perlu bertanya apa kesalahan Regan. Wanita memang begitu, maunya cuma menang sendiri dan paling benar sendiri.
“Jahatnya,” isak Yona menghapus air matanya dengan kasar.
Regan hanya diam membisu, membiarkan ibu dari calon anak-anaknya untuk melampiaskan amarahnya kepada lelaki itu. Biarlah Regan remuk redam asalkan Yona bisa bahagia, mengenaskan sekali hidup Regan.
Wanita itu meringset turun dari ranjangnya, membuang wajahnya begitu kesal. Wajahnya bengap, menangis sejak pagi sampai-sampai Regan tersentak dari tidurnya dia kira penampakan di pagi hari. Ternyata, ini lebih menyeramkan dari sebuah penampakan makhluk astral.
“Sayang, sebenarnya apa lagi kesalahanku?” tanya Regan memberanikan diri bertanya pada singa betina yang tengah siap mencakar siapa saja yang mengganggunya.
“Salahmu? Apa semua lelaki akan berpura-pura lupa ingatan setiap kali mereka melakukan kesalahan?” tanya Yona balik.
Baiklah, Regan melupakan satu hal. Wanita itu note paling canggih di dunia ini. Sekecil apapun kesalahan para lelaki, mereka akan terus mengingat hari, jam, menit, bahkan hitungan detikannya sekalipun. Sungguh, kaum wanita sangat mengerikan jika tengah murka.
“Iya makanya katakan saja apa kesalahanku,” jawab Regan dengan sabar. Membiarkan Yona menjelaskan apa kesalahannya sampai istrinya yang cantik itu sampai menangis dan mengacuhkannya.
“Kamu pernah berkomentar di kolom komentar adiknya Nata, si Tasya. Iya kan?” tanya Yona bersungut-sungut.
Mata Regan melebar, dari mana Yona tahu kalau Regan mengomentari postingan instagram Tasya. Astaga, jangan-jangan wanita itu menyadap ponselnya?
“Dari mana kamu tahu?” tanya Regan menatap istrinya bingung.
Selain note paling canggih, wanita juga sangat jeli melebihi detektif dalam memecahkan suatu rahasia. Tapi komentar itu bukan rahasia sebenarnya. Tasya sudah seperti adik sendiri bagi Regan. Sudah lama sekali mereka tak bersua, tentu saja Regan ingin menyapa adik dari Nata, sahabatnya.
Apa salahnya menyapa? Lagipula Regan tidak memiliki pikiran aneh-aneh atas diri Tasya. Regan hanya ingin bertegur sapa saja, tidak lebih.
“Kamu cemburu sama Tasya?” selidik Regan mengulum senyumnya geli.
Rupanya istri tercintanya tengah cemburu. Seharusnya Regan menyadarinya sejak awal kalau Yona mudah cemburuan semenjak kehamilannya yang pertama.
“Dia adiknya Nata, Sayang. Masa kamu cemburu sama bocah? Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri.” Regan memeluk tubuh Yona dari belakang.
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Ada batasan bagi seorang istri untuk cemburu dengan suaminya?” Yona memicingkan matanya kesal. "Tetap saja kamu mengomentari postingan wanita lain, aku tidak suka!" hardik Yona.
Regan menggeleng. “Tidak ada, sudah ya jangan marah-marah terus. Lebih baik kamu mandi, nanti kita sarapan. Kamu mau kita sarapan di mana? Di rumah Melodi?” Regan mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut.
Di mana yang Regan maksud bukan rumah makan atau café, melainkan rumah teman-teman mereka. Kehamilan Yona sangat aneh, lebih aneh dari yang teraneh sekalipun. Mana ada Yona meminta sarapan berkeliling dari satu rumah temannya ke rumah teman mereka yang lainnya. Untung saja semua teman-temannya sangat baik dan begitu welcome pada kedatangan dirinya bersama Yona.
Regan juga telah kembali pada aktivitas kesehariannya. Lelaki itu tetap mengajar dengan mengambil jam mengajar mulai jam 9 pagi sampai jam 2 siang. Regan hanya tidak ingin melewatkan moment-moment lucu pada kehamilan Yona meskipun sering kali istrinya sangat mengesalkan sekali.
“Aku tidak ingin makan di rumah siapapun,” jawab Yona melipat tangannya, menekuk wajahnya sebal.
“Hm … lalu kamu makan di mana?” tanya Regan memainkan rambut Yona.
“Aku ingin memasak sendiri, kamu harus menghabiskannya,” ucap Yona membuat Regan membulatkan matanya.
Bisa kejang-kejang Regan kalau menghabiskan makanan buatan Yona. Dia akan terkena diabetes dadakan karena masakan Yona terasa sangat manis, entah dari mana Yona menemukan resep-resep laknat itu.
“Biar aku saja yang memasak, kamu cukup duduk manis saja di meja makan sambil menunggu suamimu yang tampan ini memasak makanan spesial buat kamu,” usul Regan.
“Sudah ah aku mau ke dapur,” kata Yona melepaskan tangan Regan dari perut buncitnya.
Tangan Regan terhempas, wajahnya seketika lesu. Regan harus menyiapkan diri memakan makanan yang Yona masak. Adakah tutor masak yang siap les privat mengajari istrinya memasak?
“Sayangg? Yona? Arkhh,” pekik Regan mengacak rambutnya dengan frustasi.
Sambil menunggu wanitanya tengah memasak dengan antusias, Regan memilih menunggu istrinya di meja makan dengan tangan menyangga kepalanya. Raut wajah Regan begitu lecek, seperti koran yang baru selesai digunakan untuk alas gorengan. Lelaki itu mengelus perutnya, memberitahu isi perutnya untuk menyiapkan diri memakan masakan istrinya.
Senyuman bahagia Yona rupanya menjalar pada wajah Regan, lelaki itu ikut tersenyum melihat rona bahagia pada wajah Yona. Gerakan tangan wanita itu yang kini tengah bergelung pada masakannya terlihat seperti pemandangan paling indah di dunia ini.
Kenapa kian hari wanita itu semakin cantik dan memikat Regan sampai bertekuk lutut pada dirinya. Regan bahkan tidak bisa jauh dari Yona, lelaki itu setiap jam sekali selalu mengecek ponselnya, melakukan video call pada Yona untuk memastikan bahwa Yona dan jabang bayi dalam kandungannya baik-baik saja.
“Makanan sudah siapp,” ucap Yona begitu riang.
Regan berdiri dari tempatnya, lelaki itu membantu mengambil piring dari tangan Yona, tidak ingin terjadi apapun pada Yona dan kandungannya.
__ADS_1
“Sayang, aku hanya hamil, bukan lumpuh. Kamu tidak perlu selalu membantuku,” keluh Yona merasa risih selalu diperlakukan layaknya nyonya besar bagi Regan.
“Kamu kan ratu di hatiku, Sayangku,” jawab Regan mencium pipi Yona hingga semburat merah muncul di wajahnya.
Regan menatap hidangan di meja, padahal di depan mereka sudah tersedia lauk pauk yang telah dimasak asisten rumah tangga keluarga William. Tapi Yona masih kukuh meminta masak makanannya sendiri.
“Wuahh, nasi goreng sosis,” ucap Regan dengan wajah berpura-pura bahagia.
Padahal dalam hatinya lelaki itu menangis, sudah bosan dengan nasi goreng karena Yona selalu membuat masakan yang sama setiap kali dia ingin memasak. Fix, setelah ini Regan bakalan menghubungi Chef Renata buat jadi tutor memasak untuk Yona.
“Ayo, dimakan.” Yona terlihat sangat antusias, kehormatan bagi seorang istri bisa memasak makanan untuk suaminya meskipun Yona sendiri tidak tahu bagaimana rasa masakannya di lidah Regan.
Regan meraih sendok, memasukkan satu suapan nasi goreng ke dalam mulutnya. Ekspresi wajah Regan berubah.
“Kenapa?” Yona menatap suaminya dengan penasaran.
“Ini enak sekali,” jawab Regan mengulum senyumnya.
“Really? Kamu ketagihan?” tanya Yona terlihat sangat antusias.
Lelaki itu mengangguk, menelan nasi goreng buatan Yona tanpa merasakannya di indra perasanya.
Yona mengambil pirinnya, menuangkan separuh nasi goreng miliknya kepada Regan.
“Kamu makan saja, aku mau buat salad buah habis ini,” kekeh Yona merasa bahagia karena Regan selalu memberikan apresiasi pada masakannya.
Regan ikut terkekeh bersama Yona, menertawakan kesialannya karena tidak pernah tega mengatakan masakan buatan Yona terasa manis seperti nasi ditaburi gula dan kecap. Melihat istrinya tersenyum bahagia saja sudah membuat Regan hidup sehat dan juga merasa menjadi lelaki paling beruntung di dunia ini.
Seburuk apapun masakan istrinya, seorang suami wajib menghargai usaha istrinya untuk meluangkan waktunya memasak. Entah, meski nanti para suami bisa sakit perut seharian penuh atau mungkin mual tidak jelas.
“Kalau tahu kamu akan sangat menyukai masakanku, aku akan setiap hari memasakkan sarapan untuk kamu, Sayang,” ucap Yona bergelayut manja di lengan suaminya.
Bunuh saja aku, Sayang!
__ADS_1