
Disaat semua orang sudah kembali ke rumah William mengantarkan Yona pulang ke rumahnya dan menjemput baby Zio dan baby Valeria yang mereka titipkan bersama Shinta dan pelayang rumah Keluarga William. Tapi tidak dengan Fernando dan Nadia, mereka justru mampir ke ruangan Rehan yang berada di lantai dua Rumah Sakit Kusuma.
Fernando dan Nadia memiliki berbagai pikiran tentang kondisi Regan saat ini. Sebagai seorang dokter, Fernando yang memang mengambil spesialis dalam nampaknya tahu benar apa yang sahabatnya itu alami saat ini. Tanpa Rehan jelaskan, Fernando bisa menebak dengan keahlian lelaki itu sendiri.
Tok..tok.tokk..
Rehan yang baru saja menyenderkan punggungnya ke sofa tamu di ruangannya langsung menegakkan punggungnya.
“Masuk!” ucap Rehan.
Mendengar jawaban dari lelaki itu sontak saja pasangan Nadia dan Fernando melenggang masuk kedalam ruangan Rehan yang membuat Rehan menaikkan alisnya bingung.
“Bukannya kalian udah pulang?” tanya Rehan menatap keduanya bingung.
Nadia dan Fernando duduk didepan Rehan. “Ada yang pengen kita bicarakan,” ucap Fernando tentu saja dijawab anggukan setuju dari Nadia.
“Ada apa? Kalian mau nikah besok? Bukannya masih bulan depan?” tanya Rehan menatap kedua teman baiknya itu dengan tatapan curiga.
“Tentang Regan,” jawab Fernando membuat Rehan spontan menatap ke arah pintu ruangannya memastikan pintu itu tertutup dengan sempurna.
Rehan berdiri, lelaki itu mengambil dua kaleng minuman dingin dari dalam kulkas dan memberikannya kepada Nadia dan Fernando. Mereka berdua menerimanya dan mengucapkan terimakasih. Pandangan Nadia tertuju pada pigura foto berukuran 10R yang terpajang di samping foto Rehan dengan Melodi. Rasanya dada Nadia terasa hangat melihat wanita yang tengah tersenyum didalam pigura itu, senyuman teman baik Nadia yang tidak bisa Nadia lupakan hingga sekarang.
Sebenarnya, ada yang ingin Nadia katakana pada Rehan. Tapi karena wanita itu yang meminta menyembunyikannya jadi Nadia harus mengikuti keinginan teman baiknya itu.
‘Apa kamu bahagia di dunia barumu Olivia?’ bisik Nadia dalam hatinya yang tidak tahu lagi bagaimana jalan pikiran sahabatnya itu.
Tapi benar juga, jika Nadia mengungkap kebenaran ini sekarang bisa jadi pernikahan Rehan dan Melodi berada diambang kehancuran. Dan juga, keluarga Olivia pasti akan membuat keributan dan saling menuntut atas pihak yang terlibat. Nadia akan menyimpannya sendiri, dan membiarkan waktu yang nantinya akan membuka segala kebenaran yang sudah Olivia tutupi sampai saat ini.
“Apa yang ingin kalian tanyakan?” tanya Rehan menatap mereka berdua dengan pandangan serius.
Fernando menghela napasnya. “Aku pernah menangani pasien seperti Regan, bedanya pasienku terjatuh dari lantai dua proyek,” ucap Fernando membuat Rehan mengubah posisi duduknya.
Rehan meneguk minumannya hingga tandas setengah, lelaki itu menghela napasnya panjang.
“Aku sudah melihat hasil CT scan kepala Regan,” ucap Rehan.
Baik Nadia maupun Fernando nampak sangat tertarik dengan apa yang akan Rehan katakan. Mereka menatap Rehan penuh minat sambari mendengarkan kalimat yang akan terucap dari mulut lelaki itu.
“Lalu apa?” tanya Nadia kesal karena Rehan malah menatap mereka balik seperti enggan membagi informasinya kepada Nadia dan Fernando.
Rehan mengusap wajahnya frustasi, “Ada masalah dengan bagian belakang kepalanya” jawab Rehan menghembuskan napasnya kasar.
“Basis Cranii?” tanya Fernando menatap Rehan memastikan.
“Hmm, sepertinya,” jawab Rehan langsung membuat Fernando menghirup napas dan mengeluarkannya dengan kasar.
Nadia menatap kedua lelaki di depannya.
“Heiii jangan bicara bahasa kedokteran, aku tidak ngerti,” omel Nadia yang sangat kesal dengan Rehan dan Fernando yang menggunakan bahasa kedokteran di depannya.
“Kamu saja yang jelaskan,” pinta Rehan kepada Fernando.
Fernando menatap Nadia serius. “Aku akan bicara serius jadi dengarkan aku,” ucap Fernando.
“Ih apaan sih kenapa malah bikin merinding gini, jangan-jangan kamu mau ngelamar aku di sini ya?” tanya Nadia yang merasa geli sendiri dengan tatapan mata Fernando.
Fernando menyentil hidung Nadia dengan gemas, wanita itu memang selalu suka menyela ucapannya.
“Dengarkan aku, Basis Cranii itu kerusakan yang terjadi di daerah dasar tulang tengkorak, area itu meliputi daerah tulang mata, hidung, dan telinga. Itu karena robekan selaput otak yang paling fatal di antara yang lainnya,” ujar Fernando menjelaskan dengan bahasa awam yang mudah dimengerti oleh Nadia.
“Apa? Kalian serius?” pekik Nadia dengan matanya terbelalak tidak menyangka dengan penjelasan dari Fernando.
Tidak mungkin!
“Kalian pasti salah menganalisa!” ucap Nadia menggelengkan kepalanya.
Kedua lelaki itu mendesah pasrah, analisis mereka sepaham dan juga memang benar itu yang terjadi. Tidak mungkin Rehan dan Fernando salah memberikan analisis mereka dengan semua gejala dan juga gambar CT scan Regan yang sudah Rehan konfirmasi kepada dokter yang menangani Regan.
__ADS_1
“Keluarganya tahu?” tanya Nadia kepada Rehan.
“Pihak kami tidak bisa menyimpulkan sebelum melakukan observasi kepada pasien saat dia sudah sadar nanti,” jelas Rehan.
Nadia membuka minuman kaleng di depannya, wanita itu meneguk minuman yang Rehan suguhkan kepadanya hingga tandas. Ini mungkin akan menjadi berita paling menyedihkan dan paling menyesakkan dada bagi mereka semua.
“Kakimu saja butuh satu tahun lebih untuk bisa kembali normal,” kata Fernand mengingatkan Nadia akan kecelakaan yang pernah menimpanya.
“Jika tulang kaki saja selama itu, bagaimana dengan tulang tengkorak yang lebih rapuh dari segi teksturnya?” jelas Fernand melanjutkan.
“Yona dan keluarga Regan pasti sedih jika mendengarnya,” lirih Nadia tidak sanggup membayangkan ekspresi wajah Yona dan keluarga Regan jika mengetahui kebenaran ini.
“Kita harus merahasiakannya sampai Regan siuman nanti,” ucap Rehan disetujui semua orang.
Nadia menghela napasnya panjang, kalau memang itu cidera yang paling parah apa yang akan terjadi pada Regan nantinya?
“Lalu apa yang terjadi pada Regan kalau memang dia mengalami Basis Cranii itu?” tanya Nadia penasaran.
“Ada banyak kasus seperti ini, diantara mereka kemungkinan kehilangan ingatan sebagian, ada juga yang tidak bisa mencium bau, tuli, bahkan ada yang buta dan tidak bisa mengenali wajah.”
“Kalian seriussss?” pekik Nadia kembali berteriak saking terkejutnya.
Tidak bisa mengenali wajah? Ini gila! Mana mungkin di dunia nyata ada kasus seperti itu? Setahu Nadia hanya ada dalam drama yang bisa mengalami hal seperti itu. Tapi mendengar jika ada kasus serupa dan ada di dunia nyata membuat Nadia sangat terkejut.
Tidak tidak, Regan akan segera sadar dan hanya memiliki sakit kepala biasa tanpa memiliki keluhan apapun. Nadia sangat tahu bagaimana Regan, lelaki itu pasti baik-baik saja.
“Lelaki itu keras kepala, tidak mungkin akan retak hanya karena pukulan linggis,” beo Nadia membuat kedua lelaki di sana menatapnya heran.
“Mana bisa kata ungkapan kamu terapkan dengan kasus real? Terkadang kamu juga bisa bercanda,” cibir Rehan mendengus mendengar Nadia membandingkan ungkapan kata ‘Keras Kepala’ yang hanya kiasan dengan ‘Kepala yang keras’.
“Berhenti saling berdebat, kita doakan saja yang terbaik untuk Regan,” ucap Fernando melerai Nadia dan Rehan.
Perihal gaun dan jas yang sudah Yona dan Regan pesankan dengan keluarga mereka juga, keluarga Yona sudah memberikan Nadia uang untuk membayar pesanan mereka meskipun pertunangan Yona dan Regan telah gagal dilakukan. Padahal Nadia sudah bersikeras untuk menolaknya karena tahu apa yang menimpa mereka adalah musibah. Dan semua gaun dan jas yang dia buat bisa dia jual lagi dengan ukuran pembeli yang nanti bisa dia modifikasi sendiri.
Namun keluarga Yona nampaknya merasa tidak enak setelah memaksa Nadia menyelesaikan pesanan mereka secepat mungkin dan kini mereka gagal melangsungkan pertunangan. Yona tidak ingin merepotkan siapapun dan membuat orang-orang merasa dirugikan atas musibah yang menimpanya. Semua yang dia pesan untuk pertunangan itu tetap dia ambil karena mereka telah membayar dimuka, bahkan DP senilai ratusan juta untuk menyewa tempat telah raib dan sudah mereka ikhlaskan.
“Orang kena musibah kok disalahin, dasar aneh!” cibir Nata menoleh kesamping kirinya dimana Sisil duduk disampingnya.
“Ih Sisil niat kita juga gitu, tapi Regan nggak enak udah ngerepotin kalian mulu” kata Yona menjelaskan.
“Bagus kalau Regan dasar diri,” kekeh Nata membuat Sisil melotot garang kearah suaminya yang memang suka seenaknya sendiri kalau ngomong.
Mobil yang mereka tumpangi beriringan dengan mobil yang Viona dan Racka naiki. Mereka menuju rumah Yona untuk mengantarkan pulang wanita itu dan menjemput anak-anak mereka di rumah keluarga William.
Nata menghentikan mobilnya mendadak saat kerumunan wartawan dan awak media malah semakin bertambah didepan gerbang rumah mereka.
“Ada apa ini? Bukankah seharusnya mereka sudah pergi tadi?” tanya Nata kepada Sisil dan Yona.
Dibelakang mereka, Viona dan Racka juga terlihat sangat kebingungan melihat rumah keluarga William yang semakin ramai dipenuhi oleh wartawan dan awak media.
“Bukannya tadi sudah pergi ya mereka? Kenapa balik lagi dan makin tambah?” tanya Viona kepada Racka yang duduk disampingnya.
Racka menggeleng dan menghendikkan bahunya tidak mengerti.
“Atau mungkin Yona salah bicara?” tebak Racka balik bertanya.
“Mana mungkin, dia kan bicara sesuai dengan apa yang kuasa hukumnya rangkai,” jawab Viona yang merasa sangat aneh dengan keadaan sekarang.
Mata mereka terbelalak begitu mendengar seorang wanita yang terlihat sudah sangat sepuh bersama dengan anak kecil berusia lima belas tahunan menangis di sana.
“Jangan pikir kalian kaya, kalian bisa menghakimi anakku semau kalian. Keluarrrr, pertanggung jawabkan perbuatan putri kalian!” teriak wanita sepuh itu.
Ibu dan anak dari Nardi datang kesana setelah mendengar konferensi pers yang Yona lakukan di rumahnya. Karena itu, cucunya yang tak lain anak Nardi menjadi bullyan dan bahan ejekan teman-temannya disekolah.
“Keluar, Tuan Williammm, lihat cucuku yang sudah kalian jauhkan dari ayahnya!” teriak wanita itu lagi.
Yona terpekik pelan di tempatnya, dia tidak menyangka keluarga Nardi akan seberani itu datang ke rumahnya padahal posisi Nardi lah yang salah. Semua tidak akan menjadi serunyam ini jika saja Nardi dan temannya itu tidak berniat untuk melakukan perampokan kepada Regan dan Yona.
__ADS_1
“Mana buktinya jika anakku merampok?Adakah barang atau harga anak dan calon menantu kalian yang diambil mereka? Keluar, Tuan Wiliaammmmm!” teriak wanita itu seperti tanpa kenal lelah.
Sisil mendengus, tentu saja tidak ada yang hilang karena Regan dan Yona lebih dulu melakukan perlawanan dan memanggil polisi sebelum mereka menusuk Regan dan membawa mobil Regan untuk mereka bawa kabur.
“Aku harus turun dan menjawab semua yang ibu itu tuduhkan kepadaku,” ucap Yona merasa tidak tahan lagi menjadi pihak yang harus bersembunyi padahal Yona tidak merasa melakukan kesalahan apapun.
“KALIANNN KELUARGA KAYA YANG DZOLIMMMMM!” pekik ibu Nardi semakin membuat Yona dan yang lainnya terheran-heran dibuatnya.
Viona menelpon Sisil. “Ya Vi?” tanya Sisil kepada Viona.
“Kalian mundur saja, biar aku dan Racka yang ambil anak-anak. Tidak mungkin Yona kembali ke rumahnya dikondisi yang seperti ini,” ucap Viona.
“Baiklah,” jawab Sisil akhirnya.
Sisil menatap suaminya. “Kita putar balik,” perintah Sisil kepada Nata.
Kemudian Sisil menoleh ke belakang, menatap Yona yang nampak syok dengan keadaan yang ada di depan matanya.
“Kamu sementara tinggal sama kami, nggak apa apa kan?” tanya Sisil kepada Yona.
Yona mengangguk. “Kurasa itu bukan ide yang buru,k” jawab Yona dengan tatapan nanar menatap ke arah depan gerbang rumahnya.
“Semua pasti akan terbongkar secepatnya, kita hanya menunggu hasil investigasi dari kepolisian,” ucap Sisil menenangkan Yona.
Mobil yang mereka tumpangi berbalik arah meninggalkan rumah Keluarga William, kini giliran mobil yang ditumpangi Viona dan Racka yang menerjang para wartawan dan awak media di sana.
Racka menurunkan kaca mobilnya. “Maaf Mas, bisa beri kami jalan?” ucap Racka dengan tangannya menangkup seperti meminta pengertian mereka.
Mereka semua minggir, begitu pula ibu Nardi dan anak Nardi. Viona dan Racka bisa masuk kedalam rumah setelah pengawal rumah itu membukakan gerbang untuk membiarkan mobil Racka masuk kedalam sana.
“Gila, mereka apa tidak punya pikiran? Punya anak rampok kok dibela? Apa nggak kasihan sama anak si Nardi yang bakal ke cap anak perampok?” cibir Viona menggelengkan kepalanya tidak mengerti.
“Namanya juga ibu Vi, mereka tidak terima mendengar anaknya diberitakan buruk,” jelas Racka kepada istrinya.
Di sisi lain, mobil Nata dan Sisil melaju ke rumah utama Keluarga Corlyn yang sementara akan menjadi tempat persembunyian Yona hingga pihak kepolisian menyatakan dirinya tidak bersalah.
“Menurut kalian aksi pembelaan diriku salah?” tanya Yona kepada Sisil dan Nata.
Mereka berdua kompak menatap Yona lewat kaca tengah mobil, mereka spontan saja menggeleng karena menurut mereka itu bukan kesalahan.
“Ibarat kata, Regan atau perampok itu yang jadi korban. Sabar, sebentar lagi pasti prosesnya akan selesai,” ucap Sisil menenangkan Yona memberikan semangat kepada sahabat baiknya.
Tidak ada yang menyalahkan Yona, semua orang mengerti dan paham bagaimana posisi Yona saat itu. Semua orang pasti berpikir menyelamatkan nyawa orang terdekatnya bagaimanapun caranya termasuk dengan melukai orang yang berniat melukai orang yang kita cintai.
“Pertunanganku batal, dan dia sampai sekarang belum membuka matanya. Rasanya aku ingin menggantikan posisi Regan,” isak Yona membuat suasana mobil itu merasa canggung.
Tiba-tiba saja ponsel Nata bergetar, nama Rehan tertera dilayar ponsel lelaki itu.
“Bro elo di mana?” tanya Rehan di sana dengan suara yang terdengar cemas.
“Di jalan, ada apa?” tanya Nata balik.
“Elo sama Yona nggak? Gue dari tadi hubungin Yona belum juga ada jawaban.”
“Iya ini dia masih sama gue dan Sisil. Ada apa?” tanya Nata penasaran karena tumben-tumbennya Rehan menanyakan sosok Yona.
“Regan gerakin tangannya,” ucap Rehan memberikan informasi kepada Nata.
“Hahhh? Elo serius monyet?” pekik Nata dengan mata berbinar bahagia.
“Iya, cepetan ke sini” ucap Rehan sambari menutup teleponnya.
Nata menatap Sisil dan Yona. “Kabar bahagia, Regan menggerakkan tangannya,” ucap Nata membuat Sisil dan Yona terbelalak.
“Ini bukan mimpi kan?” tanya Yona kepada Nata dan Sisil.
“Ini nyata Yon, Rehan yang menelpon barusan,” jawab Nata membuat Yona mengulum senyumnya bersamaan dengan air mata bahagia yang menitik di pipinya.
__ADS_1