
Kedua wanita cantik itu berdiri didepan rak buku bagian management di perpustakaan kampus mereka. Yona berkacak pinggang, mencari satu per satu judul perihal management operasional bank yang diminta oleh Regan.
Naomi berjongkok, melihat lebih dekat nama-nama buku berserta pengarangnya disana. Siapa tahu ada judul yang kelewatan untuk mereka baca.
"Kita udah lima belas menit mencari tapi kok belum nemu juga ya Na? Apa itu dosen ngerjain kita?" Tanya Yona menoleh menatap Naomi yang kini berjongkok disana.
Naomi hanya menghendikkan bahunya tidak tahu. Sekalipun Regan hanya mengerjai mereka berdua, yang penting Yona dan Naomi sudah berusaha mencari buku yang lelaki itu maksud meskipun akhirnya tidak ada yang tahu.
"Eh kenapa kita enggak download di play store aja?" Usul Yona kepada Naomi.
"Emangnya ada?" Tanya Naomi berdiri dari tempatnya.
Yona mengajak Naomi untuk duduk, Yona mengeluarkan ponselnya dan mencari judul yang dikatakan Regan di google play store. Yona mengscrool hasil yang muncul dari pencariannya.
"Ini, ini bukan?" Pekik Yona menunjukkan ponselnya kearah Naomi.
Naomi melihatnya, membaca dengan cermat nama pengarang ebook itu dan melihat sinopsis yang tersedia disana sebelum mereka mengunduh ebook itu dan membayarnya sesuai harga yang sudah tertera disana.
"Iya, ini langdung download. Waktu kita tinggal tiga puluh lima menit lagi" ucap Naomi meminta Yona untuk secepatnya mengunduh ebook disana.
"Kamu nggak ngunduh juga?" Tanya Yona saat melihat Naomi duduk santai tanpa mengambil ponselnya dari dalam tas wanita itu.
"Punyaku kan bukan android" jawab Naomi menunjukkan ponselnya yang baru dia keluarkan dari dalam tasnya.
Yona hanya mengangguk, wanita itu kembali fokus dengan langkah-langkah yang harus dia tempuh untuk mensukseskan unduhannya akan ebook tersebut. Yona melihat jam yang ada di pojok kiri ponselnya, waktu terus saja berjalan.
"Huhhhh, dosen itu memang suka mencari masalah denganku" ucap Yona dengan mendelosorkan kepalanya ke atas meja yang ada diperpustakaan. Tangannya mengetuk-ngetukkan diatas meja, menimbulkan bunyi 'tak tak tak' disana.
Matanya kembali melihat persentase unduhan didalam ponselnya. Yona berbinar bahagia ketika unduhan ebooknya telah selesai dilakukan setelah dirinya membayar lewat kartu kredit miliknya.
"Kamu bawa kertas?" Tanya Yona kepada Naomi.
Naomi menggelengkan kepalanya, dan itu membuat Yona mendesah. Dia juga tidak membawa peralatan tulis apapun karena Yona selalu memfoto PPT yang dosen terangkan kepada dirinya dan menyimpannya di flashdisk.
Yona menatap sekelilingnya, mencari mahasiswa yang bisa mereka mintai kertas dan bolpoint untuk sementara.
"Eh itu ada mbak mbak, sana kamu minta atau ganti pakai uang" ucap Yona menyuruh Naomi mendatangi mahasiswa yang mungkin saja seumuran dengan mereka.
Naomi menatap wanita yang ditunjuk Yona, keningnya berkerut melihat wanita yang nampak tidak asing baginya.
"Oh si sundel!" Ucap Naomi menggertakkan giginya kesal.
"Siapa? Kenal?" Tanya Yona penasaran melihat raut wajah Naomi yang awalnya nampak kalem dan tenang kini berubah menjadi kesal dengan ekspresinya menahan kemarahan.
"Dia kan yang jadi selingkuhannya si Bram" ucap Naomi merem*s tangannya marah. Andai saja ini bukan di perpustakaan, Naomi mungkin akan menjambak rambut wanita itu dan menghajarnya habis-habisan.
Yona yang mengerti situasi saat ini memilih mengalah dan berjalan menuju wanita yang menjadi selingkuhan dari mantan kekasih Naomi.
"Permisi mbak" sapa Yona membuat wanita itu menoleh.
Sejenak wanita itu menatap kagum wajah Yona yang putih berseri.
"Hah? Oh iya ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita itu.
"Boleh minta dua kertas polionya? Sama bolpoint sekalian dua" tunjuk Yona pada tumpukan polio yang masih kosong didepan wanita itu.
"Iya boleh, silahkan. Ini ambil saja" ucapnya menyodorkan dua lembar polio dan bolpoint kepada Yona.
Yona menerimanya dan tersenyum,
"Saya tidak akan mengembalikannya, tapi saya akan menggantinya dengan uang saja sebagai ucapan terimakasih saya" ucap Yona merogoh uang lima puluh ribu dari kantong rok jeansnya.
Wanita yang menjadi selingkuhan mantan kekasih Naomi menolaknya.
"Tidak usah, saya ikhlas kok. Lagi pula saya juga masih ada cadangan" ucapnya menolak uang yang Yona sodorkan kepadanya.
"Kalau begitu terimakasih" ucap Yona tersenyum.
"Emm, boleh tahu apa resep kulit wajah dan kulit tubuh anda bisa seputih ini?" Tanya wanita itu dengan sorot mata kagum. Tubuh wanita itu sudah putih dan juga berkilau, tapi sangat terlihat jika putihnya tubuh milik wanita itu adalah buatan semata.
Yona tersenyum, "Resepnya jangan mengambil milik orang lain. Saya permisi" ucap Yona mati-matian menahan tawanya yang serasa ingin meledak melihat wajah kebingungan milik wanita itu.
Yona menarik tangan Naomi, "Kita pergi sekarang" kekeh Yona menyeret paksa Naomi untuk mengikutinya.
"Kamu kenapa sangat senang sekali?" Tanya Naomi kebingungan.
__ADS_1
"Aku baru saja memberikan wanita itu pelajaran, kita kerjakan ini di kantin saja" ucap Yona diangguki Naomi yang kebingungan dengan gelagat aneh temannya itu.
Mereka berdua tergelak tiba-tiba, entah apa yang kini Yona dan Naomi pikirkan tapi keduanya sepertinya sedang sibuk dengan pikiran mereka sendiri hingga bisa tergelak dengan tiba-tiba.
"Kamu memikirkan apa?" Tanya Yona masih dengan tawa kecil menghiasi wajahnya.
"Aku membayangkan wajah sundel yang kebingungan" jawab Naomi dengan terkekeh.
"Sama, aku yang melihatnya sendiri pengen ngakak rasanya" jawab Yona membuat keduanya kembali tertawa disana.
Kini mereka sudah sampai di kantin kampus mereka yang terlihat cukup lengang karena ini bukan jamnya makan siang.
"Jam berapa ini?" Tanya Yona.
"Jam 10 pas" jawab Naomi.
Mereka berdua saling menatap, detik kemudian mereka langsung duduk di kursi panjang yang ada disana. Yona segera membuka hasil download'an ebook itu.
"Cepetan!" Ucap Naomi tidak sabar karena Yona terlihat masih menggeser-geser ponselnya mencari ebook yang baru saja dia download tadi.
"Ah ini dia" ucap Yona menaruh ponselnya di tengah-tengah mereka berdua.
Yona dan Naomi tidak membuang waktu lagi. Mereka berdua dengan cepat menulis judul, nama pengarang, dan sub bab yang akan mereka ringkas seringkas-ringkasnya.
"Baiklah dosen sialan, aku akan meringkasnya sesuai perintahmu" ucap Yona dengan tatapan matanya serius membaca perparagraf yang ada disana.
"Kenapa elu cepet banget bambang!" Keluh Naomi yang baru saja menulis satu kalimat tapi Yona sudah mengganti slidenya hingga Naomi menghentikan tulisannya.
Yona menoleh kearah tulisan Naomi, "Kan kita disuruh meringkas, kenapa kamu jelaskan lagi?" Tanya Yona kepada Naomi.
Naomi melihat hasil tulisan Yona, wanita itu terbelalak melihat Yona hanya menulis judul per bab yang wanita itu tulis disana.
Naomi meletakkan bolpoinnya dan menatap Yona.
"Sudahlah kita menyerah saja" ucap Naomi membuat Yona menatapnya.
Yona melihat jam di ponselnya, wanita itu mendesah karena jam kuliah mereka telah selesai.
"Bodo amat, gue laper mau pesen makanan" ucap Naomi menyerah. Wanita itu memanggil pelayan kantin untuk memesan makanan.
Mereka berdua memilih makanan, sedari pagi baik Yona maupun Naomi belum makan apapun juga. Perut mereka rasanya keroncongan berdemo untuk segera mereka isi.
Yona tersenyum sangat manis, meskipun tahu Regan tidak akan bisa melihat senyuman di wajah Yona untuk waktu yang dekat.
"Sudah pak, tapi kami mau makan sebentar." Ucap Yona menyenggol lengan Naomi, mengajak temannya itu untuk bersekongkol.
"Iya pak kami kelaparan sejak tadi pagi" ucap Naomi mendukung ucapan Yona.
Bukannya pergi, Regan malah bergabung dengan mereka berdua. Regan duduk di kursi kosong yang ada didepan Yona dan Naomi.
"Pesankan saya makanan" ucap Regan menatap Yona.
"Bapak mau apa?" Tanya Yona kepada Regan.
"Bawa buku menunya kesini" jawab Regan.
Yona memanggil pelayan kantin, tapi Regan berdecak menatap Yon.
"Saya kan nyuruh kamu, kenapa kamu malah manggil pelayannya?" Tanya Regan menyilangkan kakinya.
Yona berdiri dari tempat duduknya dengan setengah hati. Ah melayani Regan saat ini mungkin saja membuat soto sapinya akan dingin dan tidak enak lagi untuk dia makan.
Yona melangkah kearah meja kasir, meminta pelayan memberikannya buku menu beserta note untuk pesanannya.
"Bapak mau pesan apa? Ini buku menunya" ucap Yona menyodorka buku menu dengan wajahnya menahan kesal.
Regan mengangkat tangannya, "Bacakan saja untukku, aku malas membaca" ucap Regan membuat mata Yona terbelalak.
Yona berdeham dan mengambil napasnya panjang untuk mengatur emosinya agar tidak meledak sekarang juga dan membunuh Regan dengan garpu yang sekarang ada di meja makan.
"Daftar makanan, omlet sosis, omlet telur, chiken teriyaki, ati gongso, ayam gongso, jamu crispy, ayam crispy saus barbeque balado dan asam manis, mie goreng, mie godok, soto ayam, soto sapi, soto keledai, sup kadal, dan masih banyak lagi"
"Hah? Soto keledai? Sup kadal?" Tanya Regan memastikan pendengarannya tidak salah.
Yona menatap Regan dengan wajahnya berpura-pura bingung, "Siapa yang kayak keledai dan kadal pak? Bapak?" Tanya Yona menahan senyumnya.
__ADS_1
Naomi menundukkan wajahnya dan menutup mulutnya geli.
"Kamu mengejek saya?" Tanya Regan dengan ekspresi wajahnya marah.
"Tidak tidak pak, saya kan hanya mengulangi ucapan bapak" ucap Yona membela dirinya.
Regan mendengus, lelaki itu mengambil soto sapi milik Yona.
"Sudahlah saya makan punyamu saja, sana kamu pesan lagi. Saya lapar menghadapi mahasiswa seperti kamu" ucap Regan membuat Yona dan Naomi ternganga.
'Dasar dosen sialan, dia baru saja membuatku seperti pelayannya, dan sekarang dia memakan makananku tanpa rasa penyesalan sama sekali?' umpat Yona didalam hatinya.
Regan memicingkan matanya menatap Yona, "Kamu tidak memesan lagi? Atau kamu mau satu mangkuk untuk kita berdua?" Tanya Regan memastikan.
Yona mengerjapkan matanya dan berdecih, "Dalam mimpimu saja pak" jawab Yona memutar bola matanya kesal.
Yona berjalan kearah kasir, memesan satu soto sapi lagi dan minuman hangat untuknya. Wanita itu kembali ke mejanya menghampiri Naomi dan juga Regan disana.
"Yona, tehnya sudah tidak hangat lagi. Bisakah kamu memesankan minuman yang hangat untukku?" Tanya Regan.
"Baik yang mulia" jawab Yona dengan tatapan membunuhnya.
Sabar Yona sabarr, kamu sedang diuji dengan kelakuan lelaki itu. Bukankah kamu sudah sangat hapal dan juga khatam dengan tingkah menyebalkan milik lelaki itu? Ditambah lagi otak dan pikiran lelaki itu sedang trouble, jadi kamu harus lebih sabar lagi menghadapi kelakuan nyeleneh Regan.
"Satu teh hangat lagi buk" ucap Yona diangguki pelayan kantin kampus.
Yona duduk kembali disamping Naomi, wanita itu menatap tajam Regan yang kini tengah memasukkan sendok demi sendok nasi kedalam mulutnya. Yona mendengus, apakah lelaki itu tidak akan mengucapkan terimakasih kepada Yona?
"Terimakasih untuk makanannya" ucap Regan yang sepertinya tahu apa yang kini ada dalam otak Yona.
"Sama sama" jawab Yona memalingkan wajahnya tanpa menatap Regan.
"Aku baru tahu soto sapi disini enak" ucap Regan memberikan penilaiannya akan soto sapi yang kini dia makan.
Pelayan mengantarkan soto sapi pesanan Yona dan dua teh hangat yang sudah Yona pesan. Yona menyodorkan teh hangat itu kepada Regan.
"Kemarikan, aku mau yang sedotannya warna merah" ucap Regan menunjuk gelas yang saat ini Yona pegang.
Baru saja Yona ingin meminumnya, tapi Regan sepertinya memiliki seribu satu cara untuk membuat Yona kesal. Dan itu seperti hiburan menyenangkan untuk Regan sendiri.
Yona dengan malas menyodorkan gelasnya, Regan menerimanya dan tersenyimum. Lelaki itu meminumnya perlahan, dan detik selanjutnya Regan juga meminum teh hangat yang berada di gelas kaca yang tadi dia tolak.
"Ah rasanya sama saja, kamu minum saja ini punyamu yang tadi" ucap Regan kembali menyodorkan teh hangat itu kepada Yona.
"Maksud bapak saya minum bekas bapak?" Tanya Yona dengan matanya melebar tidak menyangka.
"Kenapa? Saya tidak punya penyakit menular" jawab Regan dengan entengnya, menyeruput kembali teh hangat yang kini dia pegang dan bersendawa pertanda bahwa dirinya sudah kenyang.
"Hahaha tidak bukan begitu, saya akan meminumnya" ucap Yona dengan wajah berpura-pura bahagia.
'Aku akan mencekikmu dan membiarkan tubuhmu dimakan cacing tanahhh. Dasar gurita darattttt!' teriak Yona didalam hatinya.
Yona mati-matian menahan dirinya agar tidak kehilangan kesabarannya sekarang.
'Tarik napasss, hembuskannn' ucap Yona mengatur napasnya yang terasa sangat sesak karena emosinya sekarang.
"Kamu sudah menemukan buku yang saya bilang tadi?" Tanya Regan menatap Yona dan Naomi.
"Sudah pak, kami juga sudah selesai meringkasnya. Iya kan Na?" Tanya Yona diangguki Naomi.
"Oh ya? Baguslah kalau kalian menemukannya" jawab Regan dengan menyeruput kembali tehnya.
"Bapak ada kelas lagi setelah ini?" Tanya Yona penasaran
"Nanti jam setengah satu" jawab Regan hanya diangguki Yona dan Naomi.
Kedua wanita itu menatap Regan, mencari-cari sosok absensi yang kini tidak ada diatas meja yang mereka tempati. Regan juga tidak terlihat membawa apapun selain ponselnya yang kini ada diatas meja.
"Kami sudah meringkasnya pak, bisa kami tanda tangan kehadiran?" Tanya Yona menatap Regan dengan alisnya terangkat keatas.
Regan menurunkan kakinya, lelaki itu merubah gaya duduknya. Kembali menyeruput teh itu hingga tandas tak bersisa. Regan berdiri dari tempatnya, membuat Yona dan Naomi menatapnya curiga.
"Absensi sudah saya serahkan di bagian akademik kemahasiswaan" jawab Regan membuat Yona dan Naomi terbelalak.
"Apa????" Pekik kedua wanita itu hingga menarik perhatian beberapa orang disekitar mereka.
__ADS_1
"Terimakasih atas traktirannya ya" ucap Regan melenggang pergi dari sana dan melambaikan tangannya.
"Heiiiiiii berhenti disana, aaaaarghhhh dasar gurita darattttt!!!"umpat Yona terang-terangan.