
Seperti melihat bidadari tak bersayap, lelaki itu tersenyum sangat lebar ketika tangan lemah gemulai Yona menyuapkan sendok demi sendok bubur hangat buatan Lili masuk ke dalam mulutnya. Entah kenapa, makanan yang disuapkan Yona terasa begitu enak di mulutnya. Regan tahu jika ibunya memang lihai memasak, tapi ini berbeda. Makanan yang disentuh tangan lembut Yona berubah menjadi kenikmatan yang tiada tara.
Uhuk..uhuk.
Regan tersedak bubur ayam itu, salah siapa lelaki itu tidak mengunyahnya lagi dan dengan begitu pasrah menelan cepat bubur yang masih terasa hangat meskipun telah ditiupi oleh sang bidadarinya.
Ah andai saja mata Regan tidak kabur, mungkin Regan bisa melihat bagaimana paras ayu wanita yang kini dengan telaten menyuapi dirinya meskipun dia hanya berpura-pura sakit.
“Ini, minumlah,” ucap Yona menyodorkan satu gelas air putih kepada Regan.
“Kemari, dekatkan ke mulutku. Aku takut gelas itu jatuh, tanganku rasanya gemetaran sekali. Kan sayang gelas itu sangat mahal,” ucap Regan dengan ekspresi wajah lemasnya.
Yona mendengus, lelaki itu sakit tapi masih bisa berkata yang menyiratkan kesombongannya. Ckck, seharusnya Yona menuangkan saja air itu ke atas rambut Regan agar lelaki itu sadar diri sudah merepotkan dirinya dan membuatnya sangat cemas setengah mati.
Krucukkk, suara perut Yona membuat Regan spontan menoleh kearah perut wanita itu. Yona menutupi perutnya dengan kedua tangannya karena malu mendapatkan tatapan mata geli dari lelaki super mengesalkan. Regan tertawa terbahak-bahak, jadi Yona belum makan hingga perutnya berbunyi sangat memalukan seperti itu?
“Kamu belum makan atau memang kamu juga ingin buburku?” tanya Regan dengan menatap Yona geli.
Wanita itu mendengus, meletakkan mangkuk bubur itu di atas meja dengan kasar. Yona melipat kakinya, dan menatap Regan dengan kesal.
“Sepertinya mulut mengesalkanmu sudah kembali lagi, sudah sehat ya rupanya,” ucap Yona melirik Regan dengan lirikan matanya yang tajam.
Sontak saja Regan gelagapan, lelaki itu harus mencari cara agar Yona lebih lama berada di rumahnya. Kalau perlu biarkan saja Yona menginap di rumahnya, satu kamar dengan dirinya, dan bobok bareng seperti pasangan kekasih yang dimabuk asmara.
‘Dalam mimpimu bodoh!’ umpat dewa dalam batin Regan mengejek lelaki itu hingga dirinya menggeram kesal.
“Kenapa kamu tidak makan malam di sini?” tanya Regan menatap Yona penuh harap.
Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sepertinya dia tidak enak jika datang ke rumah orang dengan berujung meminta makan si tuan rumah.
“Tidak usah, aku akan kembali pulang sebentar lagi. Aku makan di rumah saja,” jawab Yona, menahan rasa lapar di perutnya.
“Aku tidak menerima penolakan Yona,” jawab Regan menaikkan satu alis tebalnya, di mata Yona itu sangat menggemaskan menambah aura ketampanan lelaki itu naik satu persen.
Regan berdiri dari tempat duduknya, lelaki itu mengulurkan tangannya meminta Yona untuk menyambut uluran tangan dari lelaki itu. Yona menerimanya dengan malas, wanita itu berdiri dan mengekor di belakang punggung Regan yang terlihat sangat kokoh. Ingin sekali Yona mendekap punggung itu, tapi bayangan itu segera dia tepis sebelum bayangan gilanya merusak segalanya.
Regan menggandeng tangan Yona menuju meja makan rumahnya. Kebetulan sekali orang tuanya masih berada di sana untuk makan malam.
"Bunda ini bagaimana, ada tamu kok malah kalian makan sendiri," keluh Regan menatap bundanya.
__ADS_1
Lili langsung berdiri dari tempat duduknya, menyadari bahwa ada tamu yang datang ke rumahnya dan tidak dia perlakukan layaknya seorang tamu.
"Maafkan bunda Yona, bunda pikir Yona sudah terbiasa apa-apa sendiri di rumah ini," ucap Lili merasa tidak enak.
Terbiasa apa-apa sendiri di rumah ini? Regan memicingkan matanya menatap Lili dan Yona bersamaan. Pikiran Regan di penuhi dengan rasa curiga yang luar biasa kepada semua orang hari ini.
"Terbiasa? Kenapa terdengar sangat aneh ya?" Ucap Regan menatap Lili dan Yona dengan tatapan penuh curiga.
Lili gelagapan, begitu juga Yona yang nampak terkejut Regan menanyakan hal seperti itu kepada mereka.
"Benar ya otak kamu agak gesrek, aku kan sering datang ke sini setiap pagi mengantarkan makanan yang dibuat mommy untukmu. Dasar tidak tahu terima kasih kamu ini," cibir Yona yang akhirnya memiliki jawaban atas pertanyaan Regan.
Regan menatap Yona dengan menyipitkan matanya.
'Matilah, sepertinya Regan tidak percaya dengan ucapanku!' batin Yona berteriak, meminta wanita itu untuk memikirkan alasan lain yang lebih masuk akal.
"Kamu! -," baru saja Yona hendak memaki Regan kembali. Tapi mulutnya lebih dulu dibekap dengan tangan lelaki itu.
"Berhenti berbicara! Kamu tidak ikhlas mengantarkan makanan untukku?" Tanya Regan melotot tidak terima kepada Yona.
Yona memutar bola matanya kesal, bisa-bisanya lelaki itu tidak tahu terima kasih tapi malah mengatai diri Yona tidak ikhlas mengantarkan makanan untuknya. Hahhh, andai saja sang mommy tidak memaksanya mengantarkan makanan dan buah-buahan untuk lelaki itu, mana mau Yona bangun pagi-pagi sekali datang ke rumah Regan.
Lili dan Septian saling menatap, keduanya menghendikkan bahunya tanpa sudah menyerah menghadapi Regan dan Yona yang selalu saja bertengkar untuk masalah sepele saja.
"Sudah cukup!" Ucap Lili pada akhirnya karena tidak tahan dengan suara Regan dan Yona yang saling menyalahkan satu sama lain.
Mungkin semua calon menantu akan menjaga sikapnya di depan calon mertuanya. Berbeda halnya dengan Yona, wanita itu murni menunjukkan sikapnya sehari-hari tanpa mencari muka hanya untuk dianggap baik oleh calon mertuanya.
Calon mertua eh?
"Yona, sudah ke sini. Makan dulu, kamu pasti belum makan kan?" Tanya Lili memberikan sinyal kepada Yona untuk duduk di sampingnya.
Yona mengangguk, wanita itu hendak berjalan kearah Lili tapi Regan segera mencekalnya.
"Kamu duduk di sampingku!" Perintah Regan membuat kedua orang tuanya mendengus.
Baru kali ini mereka melihat pasangan seperti Regan dan Yona. Selalu bertengkar tetapi mereka selalu ingin berdekatan dan tidak ingin saling berjauhan. Hebat sekali pasangan ini, patut diberikan apresisasi. Salah, apresiasi.
Memangnya apresiasi untuk karya apa? Karya cinta kah? Atau nilai seni cinta dan kebodohan mereka?
__ADS_1
Regan menarik kursi di sampingnya, menunjuk kursi itu dengan matanya memberikan Yona kode untuk segera duduk di sampingnya.
"Hhh, ada-ada saja," gumam Septian menghembuskan napasnya jengah melihat pemandangan di depannya seperti lelaki itu tidak pernah muda saja.
Yona duduk di sana, setelah itu diikuti Regan yang duduk di sampingnya.
"Kamu mau apa Yona? Sini biar bunda ambilkan," tanya Lili mengambil piring kosong yang masih bersih.
Yona meraih piring yang dipegang Lili, wanita itu menggeleng, menolak tawaran Lili dengan halus.
"Tidak bunda, Yona bisa ambil sendiri. Yona kan punya tangan, bisa ambil dan makan sendiri," ucap Yona menekan kata makan sendiri menyindir Regan di sampingnya.
Lelaki itu hanya mencebikkan bibirnya tidak peduli mendengar ucapan Yona yang secara terang-terangan menyindir dirinya.
Yona mengambil nasi, lalu lauk pauk dan terakhir mengambil taburan bawang goreng yang terlihat sangat menggiurkan baginya. Wanita itu menatap piring yang kini berada di hadapannya dan bersiap untuk menyantap makanan itu.
"Aku mau punyamu," ucap Regan meraih piring di depan Yona tanpa permisi.
Tingkah Regan yang ada-ada saja itu membuat ketiga pasang mata menatapnya aneh. Regan menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya. Sedangkan Yona menatap Regan dengan matanya mendelik tajam, ingin mencakar wajah tampan lelaki itu sekarang juga.
"Sekarang kamu punya hobby baru ya?" Tanya Yona tersenyum terpaksa.
Regan menatap Yona, "Hobby apa?" Tanya Regan penasaran dengan ucapan Yona barusan.
"Mengambil makanan orang! Puas?" Tanya Yona dengan wajah menyolotnya.
Regan hanya manggut-manggut seperti boneka selamat datang mendengar kata-kata Yona yang terdengar seperti pujian baginya.
"Terimakasih atas pujiannya," jawab Regan mengelus puncak kepala Yona tanpa malu di depan kedua orang tuanya.
Lili sampai tersedak makanannya melihat pertama kalinya Regan bersikap sangat manis sekali kepada seorang wanita. Sepertinya putranya telah tertular virus 'budak cinta' akut yang Lili sendiri yakin tidak ada obatnya di dunia ini.
Haruskah Lili meminta Fernando dan Rehan untuk melakukan penelitian atas virus 'budak cinta' yang kini menyerang putranya?
---
TEMEN-TEMENNN SEMUANYAA AUTHOR DATANG KEMBALI MEMBAWA NASKAH BUCIN KEPADA KALIAN SEMUA.
__ADS_1
"CECANS, AKU MINTA LIKE KOMEN DAN FOLLOW AKUN AUTHORKU YA," 🤭🤭❣️