My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Penolakan


__ADS_3

Raut wajah kebingungan kentara jelas di wajah pasangan Tuan Bellvaria dengan Nyonya Bellvaria. Mereka menatap Yona dan Regan silih berganti, penasaran akan sosok ‘tamu sebenarnya’ yang mereka ucapkan. Padahal Dokter Ozan tidak melihat siapapun lagi di luar sana. Hanya ada Yona dan Regan yang datang ke sana karena salah hari untuk mengikuti upacara syukuran tujuh bulanan Melodi.


“Memangnya kalian datang bersama siapa lagi, Yon?” tanya Bella menatap Yona dengan keningnya bertautan penasaran.


“Seseorang, yang mungkin selalu kalian rindukan setiap harinya,” jawab Yona ambigu, semakin membuat Bella penasaran bukan main.


Yona menoleh ke belakang. “Kalian, masuk saja,” ucap Yona sekali lagi, meminta Olivia dan Gustin Justavo masuk ke dalam.


Langkah Olivia tiba-tiba saa dihentikan oleh Gustin Justavo. Lelaki itu menarik tangan Olivia, membuat wanita itu menatap Gustin dengan bingung. ‘Ada apa?’ begitulah kiranya pertanyaan yang Olivia katakan lewat tatapan matanya yang kini beradu dengan netra milik Gustin Justavo.


“Biarkan aku yang masuk lebih dulu,” ucap Gustin, meminta Olivia untuk berjalan di belakangnya.


Mereka berdua masuk ke dalam, dengan Gustin Justavo berada di depan Olivia. Wanita itu mengedarkan pandangannya, menatap seluruh foto yang tergantung di dinding ruang tamu, menyapa setiap tamu yang datang setiap kali mereka masuk ke dalam rumah. 


Dokter Ozan dan Bella menatap sosok Gustin Justavo dengan pandangan berkerut. 


“Dokter Gustin?” panggil Dokter Ozan merekahkan senyumannya melihat Gustin Justavo datang ke rumahnya.


Dokter Ozan terkekeh, dia mengelus lengan istrinya. “Bunda, dia Dokter Gustin. Bunda masih ingat kan, dokter yang menangani Olivia?” ucap Dokter Ozan mengingatkan Bella sang istri pada sosok Gustin Justavo.


Bella mengangguk antusias. “Astaga Dokter Gustin, kenapa datang ke mari tidak memberi kabar?” tanya Bella tersenyum bahagia.


Meskipun nyawa putrinya tak tertolong, namun Dokter Gustin Justavo telah memperjuangkan kehidupan Olivia hingga detik-detik terakhir putrinya ada di dunia ini. Begitulah pemikiran yang kini bersemayan dalam benak Bella. Wanita itu tersenyum begitu bahagia melihat Dokter Gustin Justavo datang ke sana.


Mata Bella mencoba melihat sosok wanita yang kini masih berdiri di belakang Gustin Justavo.


“Anda datang bersama istri Anda, Dokter Gustin?” tanya Bella masih dengan ekspresi wajah bahagia menyapa Gustin Justavo.

__ADS_1


Yona menoleh menatap Regan, wanita itu meraih tangan Regan, menggenggam erat tangan lelaki itu. Suasana dalam rumah keluarga Bellvaria kini mendadak menyesakkan dada Yona. Regan mengelus punggung tangan Yona, menganggukkan kepalanya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


“Kenapa kalian semua hanya berdiri, ayo duduk,” ucap Dokter Ozan mempersilahkan tamunya untuk duduk.


Bella berjalan melangkah mendekati Gustin Justavo. “Nyonya Justavo, kenapa Anda berdiri di belakang suami Anda saja? Mari duduk sini bersama dengan Yona,” ucap Bella belum menyadari bahwa wanita yang dia panggil dengan sebutan ‘Nyonya Justavo’ tidak lain adalah putrinya sendiri—Olivia Dera Bellvaria.


“Bunda, panggil Bik Anum suruh buatkan minuman untuk tamu kita,” ucap Dokter Ozan mengingatkan istrinya untuk memberikan minuman kepada tamu mereka.


Bella menepuk keningnya, saking antusiasnya melihat tamu kehormatan datang ke rumahnya dia sampai lupa untuk menjamu mereka dengan baik.


“Maafkan Tante, saking bahagianya Tante sampai lupa. Nyonya Justavo, silahkan duduk dulu, buat senyaman mungkin. Anggap saja rumah sendiri,” ucap Bella kepada Olivia yang dia sebut sebagai Nyonya Justavo.


Melihat betapa bahagianya Bella hari ini, Yona sampai menghela napasnya panjang, tidak sanggup jika harus melihat keluarga Bellvaria syok atas kedatangan Olivia secara tiba-tiba menemui mereka, setelah tahunan lamanya mereka tercekik oleh kerinduan akan putri yang telah dianggapnya sudah meninggal dunia.


Olivia menggeser tubuhnya, di saat itu pula Bella berbalik untuk menuju dapur memanggil asisten rumah tangganya.


Mendengar suara yang sama, dengan suara almarhum putrinya tentu saja membuat Ozan dan Bella terbelalak. Mereka berdua sontak menoleh dengan cepat ke asal suara, di mana berasal dari balik punggung Gustin Justavo, dokter yang mereka kenal sebagai dokter yang menangani Olivianya.


Mata mereka membulat sempurna, Bella menutup mulutnya, matanya mulai berkaca-kaca ketika pandangan matanya menangkap sosok putrinya yang selama ini dia rindukan. Tangan wanita itu bergetar. Untung saja Yona dengan cepat meraih tangan Bella sebelum wanita itu meluruh ke lantai.


“O-oliv-via,” ucap Bella dengan bibirnya bergetar menahan tangis.


Olivia menangis, kerinduan di mata ibu dan anak itu tidak dapat lagi mereka bendung. Olivia melangkah maju ke depan, namun Bella segera memalingkan wajahnya.


“Aku sudah gila, aku sudah gila,” ucap Bella memejamkan matanya, menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk mengusir bayangan Olivia dari pandangannya.


Bella menarik tangan Yona. “Yona, sepertinya Tante sudah mulai kehilangan akal,” ucap Bella menangis, menghambur dalam pelukan Yona.

__ADS_1


Yona ikut menangis, begitu juga dengan Olivia yang sejak tadi sudah bersimbah air mata. Olivia menatap ayahnya, pandangan mereka bertemu.


“Ayah, ini Olivia,” lirih Olivia, merasa tidak punya nyali untuk datang menemui orang tuanya setelah menghilang begitu lama dengan drama kematian yang Gustin Justavo buat sebelumnya.


Air mata Ozan mulai menetes. “Kau, Olivia?” tanya Ozan mengerjapkan matanya berkali-kali.


“Ayah, Olivia datang,” lirih Olivia melangkah mendekati ayahnya.


Ozan mengangkat tangannya. “Berhenti di sana, putriku sudah meninggal dunia sejak beberapa tahun yang lalu. Pergilah, jangan buat istriku kembali sedih dengan wajahmu!” sentak Ozan mengusir Olivia dari rumahnya.


“Ayah,” isak tangis keluar dari mulut Olivia. Sepertinya dosa atas perbuatannya tidak akan pernah termaafkan oleh keluarganya.


Gustin Justavo melangkah maju ke depan, menemani sang istri untuk meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dia adalah Olivia.


“Dokter Ozan-“


“Kalian berdua, pergi dari sini!” teriak Bella histeris.


“Tante, dia Olivia, anak Tante,” ucap Yona menyadarkan Bella bahwa wanita yang dia lihat benar-benar Olivia, bukan baying-bayang kerinduan semata.


Bella menggeleng, tidak mungkin putrinya yang telah mati bisa hidup lagi dan muncul di hadapan mereka setelah bertahun-tahun lamanya.


“Dia bukan putri keluarga ini, apapun yang terjadi putriku tidak akan meninggalkan keluarganya,” ucap Ozan bagaikan sambaran petir bagi Olivia.


Isak tangis lolos, keluar dari mulut Olivia. Dia tahu luka yang telah dia goreskan pada hati orang tuanya tidak akan mungkin mudah untuk dimaafkan. Olivia tidak bisa memaksakan kehendak orang tuanya guna menerima Olivia kembali ke keluarga Bellvaria.


Tapi kedatangan Olivia tidak hanya meminta maaf, Olivia dan Gustin Justavo datang ke sana untuk meminta restu, meminta doa dari orang tuanya.

__ADS_1


Pernikahan seperti apa tanpa diiringi bayangan restu orang tua? Rumah apa yang sedang Olivia dan Gustin bangun? 


__ADS_2