My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Hadiah Terindah I


__ADS_3

Kedatangan Regan ke rumah Yona secara mendadak tentu saja tidak pernah Yona bayangkan sebelumnya. Pasalnya, lelaki itu beberapa saat lalu mengatakan bahwa dirinya sedang rapat bersama para komite yayasan kampus keluarganya untuk membahas pencalonan rektor baru di kampus keluarganya. 


Tentu saja, pencalonan rektor baru membutuhkan penilaian matang-matang pada setiap syarat kandidat yang akan mencalonkan dirinya pada periode akan datang. Maka dari itu, Regan mengawal sendiri jalannya rapat agar tidak terjadi penyelewengan jabatan dalam yayasan keluarganya. Regan begitu anti dengan KKN yang sering terjadi di dalam ranah pejabat-pejabat negara ini, apalagi KKN pada yayasan milik keluarganya yang harus dia junjung tinggi martabat sekaligus kehormatan keluarga Abimanyu dan Louis.


“Ka-kamu kapan datang ke mari?” tanya Yona begitu gugup karena jarak di antara mereka begitu dekat. 


Deru napas Regan menyapu wajah Yona hingga wanita itu memejamkan matanya dalam beberapa detik. Yona mendorong tubuh Regan ke belakang, melepaskan tangan Regan yang melingkar di pinggangnya.


Yona mendongak menatap Regan. “Kamu merindukanku ya, sampai datang di jam sekarang padahal dua jam lagi kita bertemu di tempat acara,” ucap Yona sengaja menggoda lelakinya.


Regan justru menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan yang Yona tujukan kepada dirinya.


“Hm, kok kamu tahu? Jangan-jangan kamu menaruh CCTV di hatiku ya?” tanya Regan menyengir kuda.


Tawa renyah keluar dari mulut Yona. “Iya kali itu hati tempat umum pakai dikasih CCTV segala,” jawab Yona memutar bola matanya. Sangat tidak masuk akal pertanyaan yang Regan berikan kepada wanita itu.


“Eh hati aku kan bukan tempat umum, Sayang. Ini itu tempat VVIP, ibarat apartemen, hatiku adalah mansion, dan kamu adalah pemiliknya,” sahut Regan tidak terima jika hatinya disamakan Yona dengan tempat umum.


Yona berjalan menuruni tangga, wanita itu meminta Regan untuk duduk di sofa ruang keluarga.


“Kamu mau ke mana?” tanya Regan penasaran.


“Mengambilkanmu minum, atau mau air wastafle?” tawar Yona terkekeh geli.


Regan menggeleng, lelaki itu mencekal tangan Yona. Kening Yona bertautan bingung dengan sikap Regan yang tiba-tiba sangat aneh.


“Tidak usah, aku tidak datang untuk meminta minum,” ucap Regan membuat Yona menautkan kedua alisnya kebingungan.


Wanita itu menatap Regan dengan pandangan penuh tanya. Regan meraih tangan Yona, memberikan satu paperbag yang sejak tadi dia tenteng kepada Yona. Mata Yona beralih menatap bingkisan yang Regan serahkan di tangannya.


“Apa ini?” tanya Yona menebak-nebak isi paperbag itu.


“Kado mungkin? Ah tidak, anggap saja bingkisan kecil untukmu,” jawab Regan mengelus pipi Yona dengan lembut.


Baru saja Yona hendak membukanya, Regan dengan cepat memegangi tangan Yona dan menggeleng.


“Jangan buka sekarang, nanti saja pas aku pulang,” ucap Regan semakin membuat Yona penasaran.

__ADS_1


“Hah? Ya sudah kamu pulang saja sekarang biar aku bisa membuka bingkisannya,” jawab Yona membuat Regan berdecak kesal.


“Bagus ya kamu, sudah dapat kadonya sekarang orangnya didepak,” keluh Regan berlagak marah dengan ucapan Yona.


Yona dengan gemas mencubit hidung mancung Regan. “Uwuww, kamu ini gemesin tahu enggak sih,” ucap Yona tersenyum bahagia.


Bolehkah Yona memamerkan kebahagiaannya saat ini kepada wanita seluruh dunia karena telah memiliki lelaki sebaik dan sepengertian Regan? Yona sangat bersyukur, dipertemukan dengan lelaki yang sangat teguh mempertahankan prinsipnya sebagai seorang lelaki. Sikap yang sering berubah-ubah, membuat Yona selalu ingin mengenal Regan lebih jauh, dan lebih jauh lagi. Mungkin, kalau ditulis dengan kata-kata, Yona tidak akan mampu mengutarakan segala perasaan yang dia bendung untuk Regan.


Satu nama yang membuat Yona enggan berpaling dengan lelaki selain Regan. Satu sosok lelaki yang selalu membuat hati Yona acak-acakan setiap harinya karena kelakuan lelaki itu. Satu alasan yang membuat Yona masih tetap memegang erat tangan Regan di sela-sela kekurangannya. Yona tidak peduli, Yona akan membuat semua orang iri dengan kisah cinta mereka berdua.


“Tapi ini bukan es krim viennetta lagi kan?” tanya Yona menaruh curiga pada sosok Regan.


“Astaga Yona, kamu mencurigaiku?” tanya Regan balik.


Yona mengangguk mengiyakan, memang benar kalau Yona curiga dengan Regan. Masih ingatkah kalian dengan flashdisk pemberian Regan yang katanya dia memiliki hadiah spesial untuk Yona? Lalu yang terakhir hadiah spesial berupa es krim viennetta. Siapa orangnya yang tidak mencurigai Regan kalau pernah dikerjain seperti itu?


Huh, memang dasar Regan biangnya ngeselin dan menyebalkan.


“Serius kan, bukan es krim dan flashdisk?” tanya Yona memastikan sekali lagi.


Regan mengangkat tangannya, menyentikkan dua jari tanda dia serius dengan ucapannya.


Baiklah, mulai sekarang Regan tidak akan bermain-main dengan kata hadiah spesial lagi untuk membuat Yona kesal. Regan sudah kapok jika dicurigai terus-terusan seperti sekarang ini.


“Terimakasih, gumawo Regan,” ucap Yona tersenyum sangat manis.


“Apa? Sawo? Kata-kata apa lagi itu,” keluh Regan mencibir kata yang Yona ucapkan.


“Memang dasarkan kamu ini kudet, jadi enggak tahu arti kata gumawo!” jawab Yona tidak terima.


“Cintailah bahasa negerimu Yona Anantasya William!” sahut Regan, menyentil kening Yona sampai wanita itu mengaduh kesakitan.


Yona mengusap keningnya yang terasa panas. “Kamu hobby sekali menyentil kening orang, sini aku sentil balik!” teriak Yona mencoba menggapai baju Regan namun lelaki itu lebih cepat menghindari serangan Yona.


Regan tertawa melihat Yona kesal akan sikapnya. “Berhenti atau aku blokir nomor teleponmu!” teriak Yona membuat Regan menghentikan langkahnya dengan spontan.


Siapa yang mau nomor teleponnya diblokir sama wanita yang dia cintai? Semalam tidak mendengar kabar dari wanitanya saja membuat tidur Regan tidak nyenyak rasanya.

__ADS_1


Regan berbalik, lelaki itu pasrah dengan apa yang akan Yona lakukan kepada dirinya.


“Oke aku menyerah,” ucap Regan membuat Yona tersenyum puas.


Wanita itu melangkahkan kakinya maju tiga langkah ke depan, berhenti tepat di depan Regan. 


“Kemari, mendekat,” ucap Yona meminta Regan untuk menyamakan tubuhnya dengan tinggi tubuh Yona.


Yona tersenyum bahagia saat Regan menuruti semua yang dia perintahkan. “Tutup matamu,” ucap Yona.


“Kamu tidak ingin membalasku dengan tamparan kan?” tanya Regan menaruh curiga pada Yona.


Wanita itu berdesis, tidak suka jika Regan bertanya-tanya lebih jauh lagi.


“Mendekat Reganera Abimanyu Louis!”


Dengan pasrah, Regan menundukkan kepalanya. Lelaki itu juga memejamkan matanya sesuai perintah yang Yona berikan kepada dirinya. Regan lebih baik menuruti keinginan Yona, daripada harus mengibarkan bendera perangnya pada wanita itu.


Kecupan lembut di pipi Regan membuat lelaki itu membelalakkan matanya. Regan tidak menyangka Yona akan seberani itu mencium dirinya lebih dulu. Lelaki itu mengulum senyumnya. Rasanya, seakan ada air es yang menyirami dadanya saat ini. Begitu sejuk, dan membahagiakan.


“Terimakasih, Regan,” ucap Yona tersenyum bahagia.


“Cuma satu? Yang satu iri, Yona,” protes Regan menunjuk pipi kirinya.


Yona terkikik geli, wanita itu memajukan wajahnya untuk memberikan keadilan pada pipi kiri Regan.


“Sekarang aku yang harus berterimakasih denganmu,” jawab Regan membuat Yona menangkap sinyal-sinyal membahayakan.


Yona hendak mundur selangkah, namun Regan dengan cepat mengunci tubuh Yona hingga wanita itu tidak bisa bergerak. Mata Yona membulat sempurna.


“Wah, sepertinya kita bakalan punya cucu lagi nih, Dad.”


Suara Shinta menghentikan rencana Regan untuk memberikan hadiah terimakasih kepada Yona. Mereka berdua menoleh ke belakang, beradu pandang dengan tatapan menelisik dari Shinta dan Hendra.


Oh shit! batin Yona dan Regan bersamaan.


-Bersambung-

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya. Bulan ini bakalan daily update, yang enggak meninggalkan jejak enggak bakalan dikasih undangan pernikahan Regan dan Yona, byeeeee.. wkwkwk.


__ADS_2