
Mata Regan langsung terbuka sempurna mendengar teriakan wanita yang telah menemani hari-harinya dalam beberapa bulan ini.
Regan menoleh kearah sumber suara.
"Yona, apa yang kau lakukan di sini?" pekik Regan menutupi bagian bawah tubuhnya dengan selimut.
"Kenapa kamu pornografi sepagi ini?" pekik Yona tidak kalah syok melihat gambaran 'senjata' Regan sepagi itu.
"Siapa yang menyuruhmu masuk kedalam kamarku? " tanya Regan
Yona menatap Regan. "Aku menelponmu lebih dari dua puluh kali," jawab Yona.
Regan mengecek ponselnya di atas nakas, ponselnya mati semalam setelah tiga jam dia pakai untuk bermain game.
"Ya sudah sana keluar, aku mau mandi," usir Regan menyuruh Yona keluar dari kamarnya.
"Hishh, siapa yang mau di kamarmu lama-lama," cibir berbalik, melangkahkan kakinya keluar dari kamar Regan.
Regan menatap senjatanya, untung saja senjatanya tidak bangun seperti biasanya. Jika tidak, maka Yona akan melihat kegagahan senjatanya lebih awal sebelum mereka sah.
Regan terkekeh, lelaki itu langsung menuju ke kamar mandinya sebelum Yona merecoki paginya dengan keluhan-keluhan memekakkan telinganya.
Regan berlari kecil menuruni tangga rumahnya setelah memastikan penampilannya hari ini sudah dirasa cukup. Tidak lupa Regan membawa dompet dan ponselnya untuk dia cash nanti dalam perjalanan.
"Bunda, Regan dan Yona berangkat dulu," pamit Regan mencium pipi bundanya.
Selanjutnya mencium pipi Yona di samping sang bunda.
"Regannnn!" pekik Yona dengan mata terbelalak.
__ADS_1
"Maaf-maaf, keterusan," ucap Regan menahan senyum.
Lili menggelengkan kepalanya melihat interaksi Yona dan Regan yang nampaknya tidak pernah berubah untuk saling menggoda satu sama lain. Lili hanya berharap mereka bisa sampai ke pelaminan, dan hidup bersama dengan rukun meskipun keduanya sering bertengkar untuk urusan kecil sekalipun.
"Sudahh jangan menggoda Yona terus, sana pergi sebelum jalanan macet," ucap Lili diangguki Regan.
Yona berpamitan kepada Lili, tidak lupa Lili menyerahkan bekal roti dan susu untuk mereka makan dalam perjalanan menuju lokasi pemotretan Yona.
"Bawakan koperku!" ucap Yona ketika Regan berjalan mendahuluinya.
"Sudah tahu cerewet," jawab Regan menarik koper Yona menuju mobilnya.
Regan membukakan pintu untuk Yona, mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam mobilnya.
"Kita ke mana ini?" tanya Regan memanasi mobilnya terlebih dahulu.
"Kebun strowberry," ucap Yona.
"Jauh apanya sih, satu jam lebih juga sampai," gerutu Yona.
"Kamu harus membayarku untuk jadi sopir pribadimu hari ini," ucap Regan dibalas tatapan malas dari Yona.
"Salah siapa mobilku disita?" Kini Yona menatap Regan dengan tajam.
"Memangnya kalau tidak disita kamu yakin nggak akan ngajak aku?" tanya Regan membuat Yona tertawa.
Tangannya menepuk punggung Regan dengan pelan. "Lets go, Pak Sopir," kekeh Yona.
Di sepanjang perjalanan, Yona menceritakan bagaimana suka dukanya sebagai model. Mulai dari dia harus menyembunyikan status percintaannya hingga berakhir diselingkuhi kekasihnya. Lalu persaingan kontrak yang kadang membuat saingannya melakukan berbagai cara ekstrim termasuk menerornya dengan bangkai hewan.
__ADS_1
Yona bergidik ngeri membayangkannya, tidak hanya itu. Yona juga memiliki fans fanatik yang selalu saja menemukan lokasi dimana wanita itu berada. Tidak jarang juga media sosialnya diretas orang tak dikenal dengan tiba-tiba.
Regan bergidik mendengar penuturan dari Yona, jika dilihat kehidupan model selalu saja penuh dengan gemerlap duniawi. Maka itu semua tidak benar. Mereka harus menjaga pamor mereka untuk tidak tersingkir dari tempatnya.
"Untung saja aku sudah selesai, aku akan mengakhirinya hari ini," ucap Yona dengan ekspresi wajah tidak terbaca.
Yona sedih, namun juga lega. Dia tidak bisa membayangkan harus turun dari tempatnya untuk mengisi tempat kosong lain dalam hidupnya,yaitu Perusahaan keluarganya. Yona juga merasa lega, dia tidak harus menipu khalayak umum dengan citra buatan yang dia kenalkan atas pribadinya.
Akhirnya Yona sampai pada titik dimana dia harus melepaskan mimpinya untuk mimpi barunya yang telah menunggunya selama ini.
Kruckk ... krkk.
Yona menoleh ke arah suara, rupanya perut Regan sudah berdemo untuk meminta makanannya. Yona terbahak melihat ekspresi wajah Regan yang menahan malu atas suara di perutnya.
"Bunda membuatkan roti dan susu untuk kita, kamu mau?" tanya Yona.
Regan mengangguk mengiyakan, daripada dia harus menahan lapar hingga nanti mereka sampai di lokasi. Belum tentu juga disana mereka bisa makan dengan nyaman.
"Aaa, buka mulutmu," ucap Yona menyuapkan roti ke dalam mulut Regan.
Regan menurut saja, lelaki itu membuka mulutnya. Mengunyah suapan Yona dengan lahap. Regan merasa makanan yang berasal dari tangan Yona lebih nikmat dan juga enak.
Yona menyodorkan botol minuman berisi kepada Regan, tidak lupa Yona memberikan sedotan untuk mempermudah lelaki itu meminumnya.
"Kamu tidak makan?" tanya Regan
"Aku minum jus tomat saja," jawab Yona tersenyum ke arah Regan.
Kenapa Regan tidak melihat sikap Yona yang sangat manis sebelumnya. Wanita itu terlihat begitu cekatan dan juga penyayang. Regan merasakan getaran aneh pada dirinya.
__ADS_1
Benarkah perasaan yang dirasa Regan kini perasaan cinta?
Regan menoleh ke arah Yona, memperhatikan wanita itu yang kini tengah menikmati jus tomat yang dia bawa. Rasanya, Regan ingin merengkuh wanita itu, mengatakan bahwa Regan ingin memilikinya.