My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Merindu


__ADS_3

Tiga mobil beriring-iringan menuju rumah sakit swasta terbesar di Kota Bandung tempat dimana Regan dirawat di sana. Rumah sakit swasta milik keluarga Kusuma yang selalu mendapatkan penghargaan dalam pelayanan terbaiknya untuk semua masyarakat dengan berbagai kalangan yang datang berobat maupun rawat inap di sana.


Tidak ada perbedaan perlakuan, hanya kelas ruang rawat dan juga obat yang membedakan secara fasilitas mereka. Baik dokter maupun perawatnya memperlakukan mereka sama tanpa membeda-bedakan antara satu sama lainnya.


Yona berada dalam satu mobil yang sama dengan Sisil dan Nata, wanita itu meremas tangannya cemas. Ada perasaan takut dalam diri Yona saat akan menemui Regan setelah tiga hari mereka dipisahkan oleh keadaan. Belum lagi penolakan Lili yang secara tegas menyalahkan semua yang terjadi atas diri Regan karenanya.


Di ruang rawat VVIP dimana Regan berada, Septian  menghampiri Lili yang tengah membersihkan tempat tidur penunggu pasien di sana.


“Sayang, anak-anak akan datang,” ucap Septian yang memang sejak dulu hingga sekarang selalu menyebut teman-teman anaknya dengan sebutan ‘anak-anak’.


Lili menoleh acuh. “Memangnya kenapa? Kata dokter Regan sudah boleh di jenguk banyak orang meski secara bergantian,” ucap Lili dengan keningnya berkerut menatap ekspresi wajah suaminya yang terlihat tidak tenang.


“Yona bersama dengan mereka,” jawab Septian membuat Lili meletakkan selimut yang dia pegang di atas ranjang.


Wanita itu menatap suaminya lekat. “Bukankah rumahnya dipenuhi dengan wartawan dan awak media? Kenapa dia bersikeras untuk keluar dari rumahnya. Kasus yang melibatkan dia dan Regan saja masih belum diluruskan secara hukum,” tanya Lili penasaran.


“Sayang, apa lagi yang membuat kita bisa melakukan segalanya di saat-saat terburuk kita kalau bukan karena cinta? Yona sangat mencintai Regan, kamu sendiri tahu kan,” ucap Septian meminta istrinya untuk lebih pengertian seperti semula sebelum Regan terkapar tidak berdaya di sana.


Lili menghela napasnya panjang, wanita itu menatap lekat tubuh putranya yang kini terbaring lemah tidak berdaya di sana dengan bantuan alat pernapasan. Memar di wajah Regan sudah berangsur menghilang, hanya ada beberapa bekas luka di wajah tampan putranya dan juga jahitan bekas operasi yang kini masih terlilit perban di kepala lelaki itu.


“Kita akan keluar membeli makanan saat mereka sampai di sini. Aku ingin makan bebek goreng di depan rumah sakit ini yang kata perawat sangat enak,” ucap Lili, sengaja memberikan ruang kepada Yona untuk lebih dekat dengan Regan.


Mungkin saja Yona akan merasa canggung dan tidak enak setelah ucapan yang Lili lontarkan kepadanya saat itu. Dan mungkin saja Yona merasa bersalah setiap kali melihat wajahnya. Padahal, jauh di lubuk hati Lili yang paling dalam dirinya sangat menyesal mengucapkan kalimat sekejam itu kepada Yona.


Yona lah yang telah menyelamatkan hidup Regan. Wanita itu melindungi Regan saat putranya hampir saja ditusuk pisau oleh pelaku perampokan mereka. Wanita itu juga yang menelpon polisi untuk segera datang ke tempat kejadian dan membawa Regan untuk mendapatkan pertolongan di rumah sakit. Dan lagi-lagi, Yona juga yang mendonorkan darahnya karena saat itu stok darah yang sama dengan Regan sedang kosong begitu juga stok darah di PMI. 


Lili ikut merasakan bagaimana perasaan Yona hingga saat ini, dan Lili dengan sangat kejamnya mengatakan bahwa Yona lah yang bertanggung jawab atas semua kejadian yang terjadi kepada putranya.


Yona salah satu wanita yang sangat berani, wanita itu berani untuk mengambil resiko demi menyelamatkan orang yang lain. Wanita itu rela mempertaruhkan keselamatannya sendiri untuk mendonorkan darahnya kepada Regan padahal sudah jelas kondisi mental dan psikisnya saat itu sedang kacau dan membahayakan.


Ketukan di pintu ruang rawat Regan membuat Lili dan Septhian menoleh, di sana berdiri teman-teman Regan datang menjenguk Regan dengan bingkisan yang mereka bawa.


“Kenapa repot-repot bawa beginian segala sih Sil,” keluh Lili saat Sisil di ikuti yang lainnya meletakkan bingkisan parsel itu di atas meja tamu.


“Aduh Tante, nggak apa apa kok. Gimana kabar Tante dan Om?” tanya Sisil memeluk bunda Regan yang terlihat sangat sayu dengan kantung mata hitam di bawah matanya.


“Sepeti biasa, melihat Regan belum juga sadarkan diri membuat kami tidak bisa bernapas lega,” jawab Lili menatap nanar tubuh Regan yang terbujur di atas ranjang rumah sakit.


Kini giliran Nadia yang memeluk Lili, memberikan kekuatan kepada wanita itu untuk tetap sabar dan berdoa untuk kesembuhan Regan.


“Kita semua berdoa untuk kesembuhan Regan kok, Tante,” ujar Nadia menatap Regan dengan perasaan tidak teganya.


Padahal baru beberapa saat yang lalu Regan dan Yona datang ke butiknya untuk memaksa dirinya membuatkan baju untuk pertunangan mereka. Tapi malah musibah seperti itu datang lebih dulu kepada mereka dan membuat pertunangan mereka yang seharusnya akan berlangsung dua hari yang lalu menjadi batal karena kondisi Regan saat ini.


“Anak-anak kalian di mana?” tanya Lili saat tidak menemukan anak-anak Sisil dan Viona.


“Mereka ada di rumah keluarga William, Tante,” jawab Viona.


Berbicara soal keluarga William, keluarga itu masih terus menanyakan kabar Regan kepada Septian tanpa Lili ketahui. Keluarga William tidak mempermasalahkan perlakuan Lili kepada Yona karena mereka tampaknya sangat paham isi hati Lili sebagai seorang ibu yang mengkhawatirkan anak tunggalnya.


Lili menatap semua orang di sana, kata suaminya Yona ikut bersama mereka tapi kenapa tidak ada Yona di sana?


“Yona tidak bersama kalian?” tanya Lili menanyakan sosok wanita yang sangat dicintai putranya itu.


Semua orang menoleh ke belakang mereka, kini semua orang baru sadar jika Yona tidak ada bersama mereka padahal Yona naik lift bersama ketiga pasangan itu menuju ruang rawat Regan.

__ADS_1


“Nadia akan mencarinya,” ucap Nadia hendak berlalu tapi tangannya dicekal oleh Lili.


“Biarkan Bunda saja yang mencarinya,” sahut Lili sontak membuat mereka semua merasa bingung, takut jika Lili akan mengatakan hal-hal yang menambah sedih wanita yang sedang kalut itu.


“Tidak usah Tante, Nadia aja yang cari,” ucap Sisil memegang tangan Lili.


“Dia kan calon menantu Bunda, nggak masalah kalau Bunda yang mencarinya,” jawab Lili membuat semua orang tersenyum bahagia.


Calon menantu bunda? Bukankah itu artinya Lili sudah menerima Yona kembali dan tidak akan menyalahkan Yona atas apa yang terjadi pada Regan? Jika itu memang benar yang terjadi maka semua orang sangat bersyukur untuk kabar yang membahagiakan ini. 


“Oh ya sudah kalau begitu, Tante,” ucap Nadia menyingkir dari jalan, memberikan Lili jalan.


Tapi baru selangkah Lili keluar dari ruang rawat Regan, Lili melihat Yona dan Rehan berjalan kearah ruang rawat Regan.


“Tante? Tante mau ke mana? Mencari calon menantu Tante ya?” tanya Rehan dengan sengaja menggoda ke arah ibu dari teman baiknya itu.


Yona menatap Lili dengan tidak enak, Yona sebenarnya ingin pergi dari sana tapi naasnya Rehan bertemu mereka di lift dan membawa Yona kembali ke lantai lima dimana ruang rawat Regan berada.


Lili mengangguk, wanita itu tersenyum membuat Yona merasa bingung.


“Iya tante mencari calon menantu Tante,” jawab Lili berjalan mendekat kearah Yona hingga membuat wanita itu gugup.


Lili menatap Yona lekat, Yona sampai menundukkan wajahnya karena takut melihat mata dari ibu yang telah melahirkan lelaki yang dia cintai. Astaga, Lili menatapnya dengan tajam bagaimana jika dia menampar Yona di sana. Begitulah kiranya isi hati Yona yang kini tengah khawatir setengah mati.


Betapa terkejutnya Yona saat Lili tiba-tiba saja memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Tubuh wanita itu kini menegang ditempatnya.


“Yona, maafkan Bunda atas segala ucapan bunda yang mungkin melukai perasaan Yona. Bunda tidak bermaksud untuk menyalahkan Yona untuk apa yang terjadi pada Regan,” sesal Lili kepada Yona.


Yona mengerjapkan matanya, mencerna apa yang sekarang ini terjadi.


Lili menatap Yona. “Bunda hanya terbawa emosi saat melihat tubuh Regan seperti itu, Bunda tidak bisa berpikir jernih dan mengucapkan kalimat konyol itu padamu” jelas Lili mengelus puncak kepala calon menantunya.


Yona mengangguk, bahkan tanpa Lili mengatakannya sekalipun Yona tidak memiliki perasaan benci atau yang lainnya kepada Lili. Yona hanya sadar diri, semua itu terjadi karena Lili sangat mengkhawatirkan Regan sama seperti Yona mengkhawatirkan Regan. Bahkan, Lili mungkin jauh lebih cemas dan khawatir kepada Regan dari pada perasaan yang menghinggapi Yona. Lili adalah ibu dari Regan, semua ibu pasti akan melakukan hal yang sama dengan Lili dan Yona mengerti itu.


“Yona mengerti perasaan Bunda,” jawab Yona tersenyum menghapus air mata yang menitik di bawah pelupuk mata Lili.


Lili merasa beruntung saat anaknya akan mendapatkan wanita sebaik Yona dan sepengertian Yona. Mungkin wanita lain akan marah dan tidak akan berani menunjukkan wajahnya lagi di depan keluarga Regan karena telah memarahinya dan menyalahkannya atas musibah yang menimpa Regan. Tapi wanita itu berbeda, Yona nampak sangat tulus dan juga sangat pengertian dengan keluarga Regan meskipun dirinya belum resmi menyandang status menantu dari keluarga Louis.


“Ayo kita masuk dengan yang lainnya,” ajak Lili menggandeng tangan Yona untuk masuk ke ruang rawat Regan.


Semua orang tersenyum bahagia melihat satu badai yang melintang di hadapan Yona kini berangsur padam karena kesabaran wanita itu menghadapi Lili. 


“Bagaimana keadaan Regan, Dokter?” goda Fernando begitu melihat Rehan yang masuk ke sana dengan memakai jas dokter kebesarannya.


“Sialan lu!” keluh Rehan menjitak kepala sahabatnya yang paling tengil dari pada yang lainnya.


Sejak mereka masih sekolah, Rehan dan Fernando memang paling dekat diantara yang lainnya. Keduanya selama tiga tahun duduk di bangku SMA selalu satu kelas dan satu meja. Semua hal tentang lika liku perjalanan cinta Fernando dan Nadia sekalipun ada digenggaman tangan Rehan yang menjadi mak comblang keduanya bersama dengan Olivianya.


Lelaki itu mendekat kearah Regan, mengecek kondisi tubuh sahabatnya dari layar patient monitor di sana.


“Detak jantung dan tekanan darahnya stabil, kita hanya harus menunggu Regan segera siuman,” ucap Rehan membaca apa yang kini tertera di layar.


Rehan bukanlah dokter yang menangani Regan, lelaki itu hanya terkadang mampir mengecek kondisi sahabatnya di luar pemeriksaan formal yang dilakukan dokter yang telah ditugaskan untuk menangani kondisi Regan.


Sebenarnya Rehan selalu berpikir buruk tentang sesuatu hal yang mungkin saja bisa terjadi saat Regan membuka matanya. Dari hasil CT scan kepala Regan, dia sebagai seorang dokter sangat tahu jelas bahwa ada kelainan pada keretakan bagian belakang kepala Regan yang mungkin itu juga penyebab Regan belum juga siuman hingga sekarang.

__ADS_1


“Setelah dia sadar, kita akan melakukan observasi medis untuk cidera tulang tengkoraknya,” jelas Rehan kepada mereka semua.


Yona mendekat ke arah Regan, wanita itu menyentuh tangan Regan yang kini lemas tidak berdaya di atas ranjang pasien. Tidak apa jika Regan selalu mengesalkan baginya, tidak masalah jika Regan selalu membuatnya marah dengan kelakuan kekanakan lelaki itu, tidak masalah juga jika Regan memberikannya nilai C dalam mata kuliah lelaki itu. Yona sudah rela dan juga ikhlas menerima Regan apa adanya. Yona ingin Regan segera sadar dan kembali normal seperti dahulu. Yona tidak bisa melihat lelaki yang dia cintai terkulai lemas di sana.


Yona sangat merindukan tatapan menggoda lelaki itu. Yona sangat merindukan ucapan-ucapan Regan yang terdengar sangat menjengkelkan baginya. Yona sangat merindukan dimana dia bisa berteriak marah ketika Regan mengerjainya habis-habisan. Dan Yona juga sangat merindukan telepon-telepon tidak penting dan juga spam chat lelaki itu disaat Regan merindukan Yona. Rasanya Yona ingin menangis begitu mengingat segala kesehariannya yang selalu dia habiskan bersama Regan dalam beberapa bulan ini.


Yona sangat menyesal, seharusnya dia tidak perlu memaksa Regan untuk datang ke took souvenir hanya untuk menjemputnya dan mengantarkan undangan ke Naomi. Seharusnya Yona menuruti ucapan Regan yang memintanya mengantar undangan itu esok harinya. Ya Tuhannnn, Yona ingin menangis meminta pengampunan dari Regan karena telah membuatnya mengalami musibah seperti itu.


Punggung wanita itu bergetar, menandakan jika wanita itu tengah menangis sekarang. Semua orang sontak saling menatap dan terdiam tidak tahu harus berkata apa.


“Kemungkinan terburuk untuk kondisi Regan saat ini apa Rehan?” tanya Yona menatap Rehan dengan wajahnya bersimbah air mata.


Rehan terdiam, kini semua orang juga menatapnya dengan tatapan keingintahuan mereka akan kondisi Regan. 


“Kita akan tahu setelah Regan sadar, aku tidak bisa menduga-duga karena itu sama saja kita mendoakan hal buruk kepadanya. Aku yakin, dia akan segera siuman karena dia lelaki yang sangat keras kepala,” jelas Rehan berusaha mencairkan suasana di dalam ruang rawat Regan.


“Aku bertanya kemungkinan dari kaca mata seorang dokter sepertimu, Dokter Rehan Prehantara Kusuma.”


Merinding, mereka langsung bergidik ngeri mendengar Yona menyebutkan nama lengkap Rehan dengan nadanya yang terdengar sangat frustasi. Rehan menoleh kearah semua orang, dia menatap Fernando seakan meminta bantuan kepada lelaki itu untuk membantunya dalam kondisi saat ini.


Krucukkk, suara perut dari Septian membuat mereka semua tertawa.


“Astaga ommmmm, Om Tian itu pemilik yayasan kampus yang punya cabang dimana-mana loh. Kok bisa sampai kelaparan gitu sih memalukan sekali,” cibir Fernando dengan bahasa nyelenehnya yang semakin membuat semua orang tertawa kencang.


“Ya kamu dong traktir Om dan Tante makan kek, bawain makanan juga sama yang sehat bukannya bawain makanan untuk yang sakit,” keluh Septian membuat Yona mau tidak mau ikut tersenyum mendengar ayah dari Regan berkata seperti itu.


“Ayo kita ke warung makan bebek goreng didepan rumah sakit. Kalian udah pada makan?” tanya Lili.


“Iya itu bebek goreng rekomended banget,” seru Rehan menimpali.


“Ya sudah ayo semuanya makan sekarang, ruangan ini dipantau langsung kok sama perawat,” ucap Septian.


“Kalian aja, Yona di sini sama Regan,” jawab Yona saat Lili menatapnya.


“Kamu serius?” tanya Sisil memastikan.


“Iya pergi aja,” jawab Yona mengangguk.


Lili menghampiri Yona. “Titip Regan ya, Sayang,” ucap Lili mengelus kepala Yona dengan lembut.


Semua orang keluar dari ruang rawat Regan, hanya menyisakan dia dan Regan seorang di sana. Yona meraih tangan Regan dan mengecupnya perlahan.


“Cepetan sadar, kalau kamu kelamaan sadar aku nikah sama orang lain,” ancam Yona seakan-akan Regan tengah mendengarnya berbicara.


Yona menatap lekat wajah Regan, wanita itu mengelus wajah Regan perlahan dan menghadiahkan kecupan lembut di kening lelaki itu.


“Aku merindukanmu Regan,” lirih Yona dengan air mata yang siap menetes sekarang juga.


Mata Yona terbelalak begitu merasakan tangan Regan yang dia pegang bergerak sangat pelan.


“Apa kamu mendengarku?” tanya Yona menatap Regan yang masih memejamkan matanya.


Tidak ada jawaban ataupun pergerakan lagi, Yona mendesah pasrah.


“Huhh, mungkin aku gila karena terlalu lama merindukanmu,” lirih Yona dengan tatapannya yang kosong.

__ADS_1


Yona menatap nanar lelaki yang dia cintai. “Jika yang merindu adalah jiwa, kenapa yang sakit sekujur raga?” gumamnya berbicara kepada dirinya sendiri.


__ADS_2