
Ketukan keras di pintu kamarnya membuat Yona mengerang di bawah selimutnya. Rasanya baru beberapa hari ini dia bisa tidur dengan nyenyak setelah malam panjang dalam satu tahun terakhir berada satu ruangan bersama Regan di ruangan terkutuk paling menyeramkan bagi Yona seumur hidupnya.
Bagaimana tidak, setiap malam Yona selalu dihantui suara naik turun detak jantung Regan yang bisa berubah-ubah di setiap saat. Maka dari itu, dengan kembalinya Regan bersama keluarga besar membuat beban dalam benak wanita itu menjadi berkurang. Setidaknya Yona tidak akan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi kepada Regan selama ini.
“Yona, cepat bangun!” teriak Shinta menggedor pintu kamar Yona dengan cukup kencang, bahkan getarannya terasa begitu jelas di ranjang yang kini Yona tempati.
Tidak mendapatlan respon sama sekali, Shinta semakin mengencangkan gedorannya sampai Yona merasa terusik dalam tidurnya.
“Ah apa lagi ini! Kenapa mereka tidak bisa membiarkanku merasa tenang sebentar saja,” kesal Yona menendang selimutnya asal.
Dengan cepat Yona menuruni ranjangnya, membuka pintu kamar dan melihat Shinta berdiri di sana dengan tangan yang wanita itu lipat ke depan dada. Mata Yona memicing, menatap lekat sosok mommynya.
“Ada apa lagi sih, Mom? Yona baru saja bisa tidur dengan nyenyak. Tapi Mommy malah mengganggu Yona terus-menerus!” ucap Yona menekuk wajahnya frustasi.
Yona ingin sekali tidur seharian penuh di zona nyaman tanpa gangguan sama sekali. Bahkan Yona sudah menonaktifkan ponselnya untuk mengantisipasi Regan mengganggu kenyamanan tidurnya. Lelaki itu benar-benar menguras emosi Yona. Setiap malam hingga menjelang fajar, Regan selalu mengusik tidur nyenyak Yona dengan dalil bahwa dirinya tidak bisa tertidur karena merasa takut jika dia tidak akan bisa sadar lagi hingga waktu yang lama.
Kalau sudah seperti itu, apa yang bisa Yona lakukan selain menemani Regan sampai kekasihnya itu merasakan kantuk menyergapnya.
“Segera mandi, dan turun ke bawah,” jawab Shinta semakin membuat Yona memicingkan matanya curiga.
Memangnya ada masalah apa sampai Yona harus dipaksa bangun, dan sekarang diminta untuk segera mandi lalu turun ke bawah.
“Kenapa Mommy? Kak Marva mau balik ke Inggris lagi?” tanya Yona merasa bingung dengan gelagat ibunya yang tiba-tiba saja terasa aneh.
Shinta menggeleng. “Bukannya kamu sudah dikasih tahu kalau kakakmu bakalan menetap di sini. Makanya obrolan grup itu dibaca jangan discroll.” Ucap Shinta mengejek Yona.
Siapa juga yang membuka grup? Yona sudah dua hari tidak pernah membuka whatsapp, wanita itu sedang antusias menonton challenge mukbang asal Korea Selatan yang begitu menyenangkan bagi dirinya.
“Benarkah? Itu berita bahagia, Mommy,” jawab Yona merasa bersyukur karena pada akhirnya keluarga kakaknya akan menetap di Indonesia. Setidaknya ada seseorang yang bisa Yona mintai pertolongan ketika kekejaman orang tuanya mulai muncul ke permukaan lagi.
“Eh sudah jangan bengong kayak sapi ompong begitu. Sudah sana cepetan mandi atau Mommy siram sekarang juga?” ucap Shinta menatap galak putrinya yang terkadang begitu lola dalam berpikir saat wanita itu baru saja bangun tidur.
“Iya-iya Yona mandi sekarang,” sahut Yona, menutup pintu kamarnya tanpa permisi sampai membuat ibunya ternganga tidak percaya.
“Kapan aku melahirkan anak sekurang ajar begitu?” gumam Shinta menahan kekesalan dalam hatinya.
Daripada menunggu Yona mandi entah membutuhkan berapa banyak durasi untuk membersihkan dirinya. Shinta memilih turun ke lantai bawah menemui seluruh keluarga Regan yang kebetulan menyambangi rumahnya dengan satu niatan baik bagi kedua belah keluarga.
Shinta dan Lilian sudah mengobrol panjang kali lebar lewat telepon, mereka telah sepakat untuk bertemu hari ini guna membicarakan lebih lanjut niat Regan dan Yona membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius lagi, yaitu suatu pernikahan.
“Yona sudah bangun?” tanya Lilian kepada Shinta saat ibu dua anak itu terlihat berjalan menghampirinya.
Shinta mengangguk. “Aku sudah meminta Yona untuk mandi sebelum turun ke bawah. Ayo dong makanannya dicicipi,” ucap Shinta begitu ramah, mempersilahkan keluarga Regan mencicipi hidangan yang kebetulan dia buat sendiri karena merasa bosan berada di rumah saja.
“Rupanya kamu masih suka memasak kue-kue seperti ini, ya?” ucap Lilian tersenyum.
“Iya, mungkin sudah jadi kebiasaan kali ya,” sahut Shinta nampak asyik dengan bahan perbincangan mereka berdua.
“Aku masih ingat, dulu Azka suka sekali dengan kue-kue buatanmu. Kamu menunggu Azka sampai dia selesai extra basketnya,” kekeh Lilian membuat Hnedra tersedak kopi yang baru saja dia minum.
Mata Shinta dan Lilian terbelalak, menyadari kode alarm yang sebentar lagi akan terdengar di dalam rumah keluarga William. Lilian merutuki ucapannya, kenapa juga dia harus membahas mantan kekasih Shinta sedangkan ada Hendra di sana. Bisa-bisa pasangan itu perang dunia ke lima jika sampai Hendra salah faham.
“Ouh, jadi kamu beneran ada hubungan sama si Azka kucrut itu?” tanya Hendra menatap Shinta dengan matanya menatap tajam, begitu menusuk sanubari Shinta.
__ADS_1
Istrinya menggeleng, tidak mengakui hubungannya dengan Azka, atau lebih tepatnya mengelak untuk menutupi kebohongannya selama ini.
“Ti-tidak, mana mungkin aku memiliki hubungan dengan Azka. Aku nungguin Azka karena dia mau beli kue buatanku, iya kan Lili?” kekeh Shinta dengan sumbang, meminta dukungan pernyataan dari Lili yang telah memulai kesalahpahaman di antara Hendra dan Shinta meskipun tanpa disengaja sama sekali.
“Iya, dulu Shinta sering ikut kewirausahaan. Benar kan Shinta?” tanya Lilian balik tersenyum terpaksa.
“Sejak kapan Shinta ikut kewirausahaan?” Suara itu membuat mereka semua menoleh. Septian yang baru saja selesai menelepon salah satu pegawai di kampusnya merasa heran dengan pernyataan istrinya. Setahu Septian, dia sama sekali tidak pernah mengingat bahwa Shinta pernah ikut program kewirausahaan sewaktu mereka masih duduk di bangku kuliah.
Shinta menganga, kemudian wanita itu menoleh menatap suaminya yang kini nampak membuang mukanya. Tidak percaya dengan bualan yang sedang dirinya karang demi menyelamatkan kebohongannya selama ini.
“Oh iya, dulu aku pernah melihatmu diantarkan Azka pulang. Kalian sempat jadian ya?” tanya Septian semakin menyudutkan posisi Shinta.
Mati dia jika sampai Hendra marah dan memblokade semua kartu kredit dan menutup akses dirinya untuk pergi keluar rumah. Tamat sudah riwayatnya.
Sedangkan Regan hanya terdiam dengan senyuman yang sejak tadi mencoba dia tahan. Tidak enak jika harus menertawakan kecemburuan para orang tua, apalagi kecemburuan calon mertuanya. Bisa-bisa Regan dicoret dari daftar calon memantu jika sudah begitu.
“Begitu rupanya, pantas saja dulu sewaktu kuliah kamu tidak mau aku antarkan pulang,” seloroh Hendra menyilangkan kakinya menatap istrinya dengan marah, lelaki itu mendengus.
Shinta menggeleng dengan cepat. “Tidak begitu, saat itu kamu sedang bimbingan, Sayang. Makanya Azka menawarkan diri mengantarkanku pulang,” jawab Shinta masih berusaha menutupi kesalahannya.
Lilian mencubit tangan suaminya, lewat tatapan mata wanita itu memberitahu suaminya untuk berhenti berbicara. Septian menutup mulutnya rapat, baru faham bagaimana situasi saat ini.
“Mommy! Ada apa?” teriak Yona menuruni tangga rumahnya, memecah pembahasan masa lalu Shinta dengan mantan kekasihnya semasa kuliah.
“Yona? Ke mari,” sahut Shinta merasa bersyukur Yona turun di saat yang tepat.
Satu kali Shinta berhutang budi kepada Yona. Maka dia akan membalas hutangnya nanti saat putrinya sedang membutuhkan bantuannya.
Yona, kamu benar-benar anak Mommy!
“Bunda, Ayah, ke mari?” tanya Yona merasa bingung dengan kedatangan mereka semua di rumahnya.
Rasanya Regan masih begitu lemas jika harus berpegian di saat lelaki itu baru saja kembali pulang setelah satu tahun lamanya menginap di ruangan VIP rumah sakit. Kenapa juga Regan tidak menginap di hotel dengan fasilitas kamar VIP? Bukankah itu justru lebih bagus daripada menginap di ruangan VIP rumah sakit.
Dasar lelaki bodoh!
“Iya, kami ke mari. Regan kangen sama kamu katanya,” jawab Lilian tersenyum geli.
Mata Regan melebar sempurna. Sejak kapan Regan mengatakan hal itu di depan orang tuanya? Seingat Regan lelaki itu sama sekali tidak pernah membahas kerinduannya kepada Yona dengan Lili dan Septian.
“Kamu menonaktifkan ponselmu?” tanya Regan kepada Yona.
Kini semua mata menatap Yona, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut wanita itu.
“Hah? Mungkin ponselku mati. Chargernya rusak, haduh payah sekali,” jawab Yona berlagak kesal dengan charger ponselnya yang sama sekali tidak bermasalah di sini.
“Begitu rupanya, nanti aku beliin charger satu lusin. Pastikan ponselmu tidak akan mati lagi. Mengerti?” tanya Regan dijawab anggukan kepala dari Yona.
Sepertinya Regan sudah tidak mempan dengan alasanku. Habis ini aku akan mengupgrade alasan-alasan baru biar Regan percaya.
“Mereka datang ke mari bukan hanya untuk berkunjung Yona, tapi juga mau mengutarakan niat baik Regan kepada dirimu,” ucap Hendra menyadarkan Yona dari pemikirannya.
“Niat? Niat apa Daddy?” tanya Yona bingung, masih mencoba mencerna apa yang akan terjadi kepada dirinya.
__ADS_1
“Aku ingin melamarmu,” jawab Regan mewakili Hendra, menjawab rasa penasaran dalam benak Yona.
Mulut Yona menganga, tidak menyangka Regan akan mengatakan sefrontal itu bahwa dia akan melamar Yona. Padahal Yona masih ingin dilamar dengan moment yang romantic seperti lamaran saat mereka berada di atas kapal pesiar. Lamaran yang menjadi trending topic bahkan sampai saat ini. Siapa juga wanita yang tidak mau dilamar dengan suasana dan tempat romantic?
“A-apa?” gagap Yona menelan salivanya.
“Aku ingin melamarmu, Yona Anantasya William,” jawab Regan sekali lagi.
Dasar, lelaki ini seperti lempeng galeng yang tidak bisa menangkap maksud perkataan dari wanitanya. Pantas saja Regan tidak memiliki mantan sama sekali sebelum bersama Yona. Em … bukankah itu menjadi keberuntungan sendiri bagi Yona karena menjadi wanita satu-satunya di dalam hidup Regan dan akan menjadi bagian dari hidup lelaki itu.
“Ish, bukan itu maksud Yona. Masa kamu kaku banget sih,” ucap Lilian menegur putranya.
Regan terkekeh geli. “Coba kamu lihat di luar rumah,” kata Regan membuat Yona langsung berdiri dengan cepat dari tempat duduknya.
Wanita itu berjalan keluar rumah, mengikuti petunjuk dari Regan. Alis Yona naik ke atas, merasa bingung dengan perkataan Regan.
“Ada apa memangnya?” tanya Yona kepada dirinya sendiri karena tidak menemukan apapun di luar rumah.
Regan berdiri di belakang Yona. “Arahkan matamu pada jarum jam di angka delapan belas,” ucap Regan diikuti oleh Yona.
Wanita itu menatap Regan. Jarum jam di angka delapan belas pada posisi Yona saat ini adalah Regan.
“Kamu?” tanya Yona merasa bingung.
Regan mengangguk. “Ya, aku,” jawab Regan mengulum senyumnya.
Lelaki itu mengeluarkan cincin dari saku jasnya. Cincin yang sama persis dengan cincin lamaran mereka saat berada di atas kapal pesiar.
“Ini cincin yang sama, cinta yang sama, dan orang yang sama juga. Aku tidak ingin mengganti pasangan, ataupun perasaan,” kata Regan menatap tepat di manik mata Yona.
Mata Yona berkaca-kaca, tidak menyangka Regan mampu mengubah suasana sederhana menjadi begitu hangat dengan kalimat menenangkan yang lelaki ucapkan kepada dirinya. Pribadi yang baik, dengan tutur kata dengan sama baiknya pula. Tidak mungkin Yona menolak Regan, lelaki itu telah memberikan segalanya kepada Yona. Kesedihan dan juga kebahagiaan dengan paket complete.
“Will you marry me?” tanya Regan kepada Yona.
Tanpa Regan tanyakan sekalipun, jawaban Yona tidak akan berubah meskipun satu tahun telah berlalu. Yona telah menerima Regan dengan segala sesuatu yang ada dan tidak ada pada diri lelaki itu. Karena Yona mencintainya, tanpa membutuhkan alasan hingga Yona tidak akan memiliki alasan untuk meninggalkan Regan pada nantinya.
Cinta yang tidak pernah Yona rasakan dengan lelaki lain sebelum Regan. Rasa nyaman yang mungkin tidak akan tergantikan meskipun waktu telah beranjak mengikis kenangan-kenangan yang telah berlalu.
“Menualah bersamaku,” jawab Yona membuat Regan merekahkan senyumnya penuh kebahagiaan.
Regan meraih jemari Yona, melingkarkan cincin itu di tangan Yona.
“Masih pas, seperti kamu yang begitu pas mengisi hatiku,” ucap Regan membuat Yona tersipu malu.
Yona mengangguk, air matanya menitik karena perasaan haru menyeruak dalam sanubarinya.
“Hari ini aku membuktikan satu perkataan yang selalu menjadi mantra indah untukku, kalimat yang selalu aku ingat, menjadi motivasi untuk tetap tegar menunggu kamu yang tidak tahu kapan akan membuka mata lagi,” ucap Yona mengingat kalimat yang terucap dari mulut Dokter Gustin Justavo kepada dirinya.
“Apa itu?” tanya Regan ingin tahu.
“Cinta adalah kuatmu bertahan,” jawab Yona menunduk, bersamaan dengan air mata meluruh dari pelupuk matanya.
Regan merengkuh Yona ke dalam pelukannya, menghirup aroma tubuh wanita yang selalu menjadi candu bagi Regan. Baru kali ini, Regan merasakan nyaman dan juga merasa pas ketika bersama dengan seorang wanita. Berpuluh-puluh wanita datang silih berganti dalam kehidupan Regan, namun hanya satu wanita yang membuat Regan yakin bahwa dia memang layak untuk diperjuangkan.
__ADS_1
Wanita yang tidak pernah mengeluh bagaimanapun jatuh bangun hidup dalam berpasangan. Kisah cinta yang nantinya akan kekal abadi sebagai sejarah kekuatan cinta nyata.
“Tidak akan pernah salah, jodoh yang telah Tuhan takdirkan untuk kita,” lirih Regan mengecup kening Yona dengan penuh cinta.