My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Kita Menikah Saja


__ADS_3

Tatapan mata Regan yang sorot akan kegelisaan membuat Yona, Gustin, dan Olivia menatap lelaki itu dengan khawatir. Yona memegangi lengan Regan, wajah Yona begitu tegang, sama tegangnya dengan tatapan Regan kepada wanita itu. Yona meraih wajah Regan, menghapus keringat dingin yang bercucuran dari kening lelaki itu.


“Regan, kamu kenapa?” tanya Yona menatap Regan dengan cemas.


Regan tidak menjawab, lelaki itu nampak kebingungan atas kilasan balik yang seakan membuatnya kembali berada pada masa lalunya. Tapi kenapa ada suara Yona dan mereka terdengar sangat akrab hingga Regan mengatakan bahwa lelaki itu sangat mencintai wanita itu?


“Hallo, Pak Regan? Anda masih ada di sana kan?” tanya Mbak Desi, Bagian Akademik Kemahasiswaan kampus Regan.


Regan tersadar, lelaki itu mengerjapkan matanya dengan bibirnya tersungging ke atas. Seakan memberitahu Yona jika dirinya tidak apa-apa. Tangan Regan mengelus puncak kepala Yona, mencoba menenangkan pikiran-pikiran cemas wanita itu.


“Saya di sini, Mbak. Bagaimana tadi?” tanya Regan kepada Mbak Desi.


“Jadi, bisakah saya meminta Bapak untuk mengirimkan file elearning yang akan saya unggah ke smart campus atau Pak Regan sendiri yang akan mengirimkannya?” tanya Mbak Desi kepada Regan.


“Biar saya saja, saya tidak terlalu repot di sini. Mbak tenang saja, lanjutkan pekerjaan di sana,” ucap Regan begitu perhatiaan kepada staf-staf di kampus tempatnya mengajar.


“Kalau begitu saya akhiri ya Pak panggilannya, semoga lekas sembuh dan kembali ke Indonesia dengan selamat dan sehat. Maaf, mengganggu waktunya.” Pamit Mbak Desi sebelum wanita itu mengakhiri panggilannya dengan Regan.


“Jaga diri juga, Mbak Desi. Terimakasih atas doanya,” jawab Regan dengan tidak kalah tulusnya.


Panggilan telepon mereka berakhir. Yona mengadahkan wajahnya menatap Regan, tangan  Yona menggenggam tangan Regan. Mata wanita itu masih sirat akan kekhawatiran pada diri Regan.


“Regan, kamu beneran enggak apa-apa?” Tanya Yona menatap Regan.

__ADS_1


Regan mengangguk. “Tadi kepalaku sedikit pusing,” jawab Regan mengelus puncak kepala Yona dengan lembut.


“Sepertinya kita harus kembali ke rumah, Regan butuh istirahat,” ucap Gustin Justavo kepada semua orang.


Yona dan Olivia kompak mengangguk setuju. Mereka berempat langsung keluar dari kamar medis untuk berpamitan kepada anak-anak Rumah Kanker sebelum mereka kembali pulang. Yona menghampiri Emmanuella yang kini duduk di kursi roda yang ada di depannya.


“Aunty Yona sudah berjanji akan kembali dengan membawakanmu hadiah, begitu juga dengan saudara-saudaramu yang lain. Maka, kalian berjanjilah akan tetap semangat menjalani pemeriksaan,” ucap Yona, dia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Emmanuella.


Emmanuella mengangguk, bocah itu memiliki manik mata hijau hazel yang sangat indah sampai Yona takhluk di depan manik mata Emmanuella.


“Aunty berjanji akan sering mengunjungi kalian,” lanjut Yona dijawab anggukan antusias dari mereka semua.


Regan mengelus puncak kepala Emmanuella, begitupun anak-anak yang lainnya.


“Uncle juga sedang sakit, bedanya sakit uncle sangat aneh. Kita saling menyemangati saja, bagaimana? Kalian setuju?” Kekeh Regan membuat anak-anak yang lainnya ikut tertawa bersama dengannya.


Yona menatap Gustin Justavo. “Gustin, apakah anak-anak di rumah kanker tidak bisa diadopsi?” Tanya Yona penasaran.


Olivia, Regan dan Gustin sontak menoleh ke arah Yona. Mereka memicingkan matanya mendengar pertanyaan dari Yona.


“Memangnya kenapa?” Tanya Gustin Justavo balik.


Yona menggeleng, tapi bibirnya ditekuk seakan wanita itu tengah bersedih hati.

__ADS_1


“Kenapa?” Tanya Regan menyentuh bahu wanita yang dia cintai.


Yona menoleh ke arah Regan. “Aku ingin mengadopsi Emmanuella.”


Jawaban Yona tentu saja membuat Regan terbelalak. Bagaimana mungkin Yona mengadopsi anak padahal dirinya masih single. Apa kata warga berflower nanti?


“Kamu tidak bisa mengadopsinya, Yona,” jawab Olivia.


“Kenapa? Masalah materi sepertinya aku tidak kekurangan.”


“Bukan begitu, kamu kan belum menikah. Apa kamu tidak berpikir bagaimana pendapat orang-orang tentang keluargamu nanti?” 


Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bibir Regan melengkung, sepertinya lelaki itu memiliki ide hebat yang bisa memecahkan masalah adopsi anak.


“Ada satu cara,” ucap Regan menarik perhatian ketiga orang dewasa di depannya.


“Apa itu?” Tanya Yona penasaran.


“Kita menikah saja,” jawab Regan dengan senyumannya penuh arti.


------


Selamat membaca sahabat My Sweet Dosen. Maaf mungkin bulan Maret dan April nanti bakalan slowwww update.

__ADS_1


*Authornya lagi ada event kepenulisan di Dre*ame, lalu ada Skipsweet yang sangat-sangat penting di atas kepentingan yang lainnya*.


Semoga dapat dimengerti, sekian ❣️ Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan 🙏


__ADS_2