
Bandar Udara Changi Singapura
Regan menarik kopernya dan juga koper milik Yona menuju pintu keluar Bandara. Hari ini mereka akan dijemput langsung oleh Dokter Gustin Justavo yang telah menawarkan diri untuk menjemput pasiennya. Tidak sampai di sana, Dokter Gustin Justavo juga mempersilahkan Regan dan Yona untuk menginap di rumahnya yang terbilang sangat besar jika hanya dihuni dirinya dan sang istri, Livia.
Regan dan Yona berjalan ke tepi pintu keluar, Yona menatap layar ponselnya melihat bagaimana sosok lelaki yang katanya menjadi dokter bedah terbaik pada tahun ini. Yona sendiri takjub mendengar Regan menceritakan semua keberhasilan Dokter Gustin Justavo yang terbilang luar biasa suksesnya.
Yona berdecak kagum, bahkan wanita itu sampai menatap lekat foto yang kini tertera di layar ponselnya. Lelaki setampan itu bisa menggunakan pisau bedah? Astaga, bahkan agency Yona saat di Perancis saja belum pernah bekerja sama dengan model setampan itu.
Luar biasa, Dokter Gustin Justavo memang sangat tampan dan terlihat begitu pintar dari ekspresi wajahnya. Lelaki itu tersenyum simpul dengan jas kebesarannya yang menjadi penanda bahwa lelaki itu adalah dokter, bukan model maupun aktris seperti visualnya. Ckck, kenapa sampai ada dokter setampan itu dalam dunia ini. Yona sampai menelan salivanya, lelaki itu punya aura yang berbeda dari kebanyakan lelaki pada umumnya.
“Kamu melihat siapa?” tanya Regan mengecek ponsel Yona, karena sedari tadi Regan menatap Yona yang menahan napasnya semenjak mengecek ponselnya.
Regan menautkan alisnya, lelaki itu tidak tahu siapa sosok lelaki gagah berbalut jas dokter dalam ponsel Yona. Akan tetapi nama yang tertera di jas itu membuat Regan sadar jika lelaki itu adalah Dokter Gustin Justavo.
“Kamu pasti mengagumi ketampanannya ya?” tanya Regan menatap Yona tidak suka.
“Tidak, untuk apa aku mengagumi ketampanan suami orang,” jawab Yona mengelak.
Haishhh, sayang sekali Dokter Gustin Justavo sudah menikah. Andai saja lelaki itu masih lajang mungkin Yona akan berpikir lagi akan memilih Regan atau lelaki itu.
‘Memangnya Dokter Gustin Justavo mau?’ dewi dalam diri Yona terkekeh mengejek wanita itu.
Siapa yang tidak mau bersanding dengan Yona? Mungkin semua orang akan rela mengantre untuk mendapatkan perhatiannya. Wanita yang memiliki wajah cantik sekaligus kekayaan yang berlimpah. Untung saja wanita itu rendah hati, jika tidak mungkin Yona akan menindas siapapun yang dia pikir mengganggu kehidupannya.
“Kamu itu kalau lihat lelaki tampan selalu ngiler, memangnya aku kurang tampan apa hah?” kesal Regan dengan percaya dirinya.
Yona menganga, baru kali ini dia menemukan lelaki sepercaya diri seperti Regan. Kurang tampan apa? Hmm kalau Regan sudah tidak ada tandingannya di hati Yona, lelaki itu sudah memiliki tempat tersendiri di kehidupan Yona. Bahkan jika Regan tidak setampan sekarang, atau memiliki kekurangan lainnya, Yona tidak akan pernah meninggalkan Regan sejengkal pun.
Bagi Yona, Regan adalah lelaki terbaik yang pernah dia miliki seumur hidupnya. Tidak peduli jika Regan akan selalu kehilangan ingatannya setiap hari, tidak peduli jika Regan tidak bisa melihat wajahnya sekalipun. Yona akan berbesar hati menerima segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Alasannya hanya satu, karena Yona telah memilih Regan untuk menjadi lelaki yang menempati ruang di hatinya.
Yona telah memilih Regan, sebagai lelaki yang akan menjadi imam untuknya kelak. Yona telah memilih Regan untuk menemani segala proses hidupnya, baik suka maupun duka, baik lara maupun sehat. Yona ingin menghabiskan waktunya dengan lelaki yang telah menyimpan rasa cinta untuk Yona di hati lelaki itu.
Yona merasa beruntung, sekalipun ingatan Regan tidak pernah mengingatnya sama sekali, tapi hati lelaki itu selalu bergetar untuk dirinya, hanya diri Yona seorang. Tidak ada lelaki lain yang lebih baik dari pada Regan, Yona menjaminnya untuk itu.
“Ah maaf membuat kalian menunggu,” ucap seseorang dengan bahasa Indonesia membuat mereka berdua menoleh.
Seorang lelaki yang terlihat berumuran seperti Regan tersenyum kea rah mereka dengan sangat ramah. Bukan karena ketampanannya hingga Regan dan Yona menatap lekat Dokter Gustin Justavo, tapi karena lelaki itu seperti sangat pandai dalam logat berbahasa Indonesianya.
“Saya Dokter Gustin Justavo,” ucap Dokter Gustin Justavo memperkenalkan dirinya di depan Regan dan Yona.
Yona gelagapan, begitu juga Regan yang langsung mengerjapkan matanya membawa kesadaran dirinya kembali kea lam nyata.
“Saya Reganera, dan ini Yona calon istri saya,” ucap Regan menekan kata di ujung kalimatnya.
Sedangkan Yona merasakan dadanya berdesir hebat ketika Regan memperkenalkannya di depan Dokter Gustin Justavo. Yona pernah mendengar ada kalimat seperti ini,
‘Lelaki yang serius padamu tidak akan malu memperkenalkanmu pada dunia dan keluarganya.’
Yona tersenyum lembut, wanita itu menerima uluran tangan Dokter Gustin Justavo dengan ramah.
“Saya Yona, seperti yang lelaki di samping saya bilang, saya calon istri Reganera,” ucap Yona memperkenalkan dirinya.
Dokter Gustin Justavo terkekeh ringan, hari ini dia bertemu dengan pasangan yang telah membuatnya bertanya-tanya bagaimana bisa otak Regan tidak mengenal wanitanya tapi hati lelaki itu masih berada di tempat yang sama. Sungguh, ini adalah hal yang luar biasa bagi Dokter Gustin Justavo sendiri. Menurutnya, Regan mungkin terlalu dalam mencintai wanita itu sampai hati Regan tidak pernah kehilangan siapa pemiliknya.
Luar biasa, mereka mengenalkan Dokter Gustin Justavo akan satu hal, cinta tahu siapa pemiliknya.
“Sayang sekali wanita secantik Nona Yona sudah dicap sebagai calon istri pasien saya, dan sayang juga karena saya sudah menikah dengan wanita yang tidak kalah cantinya dari anda. Sepertinya kita tidak berjodoh,” goda Dokter Gustin Justavo membuat Yona menunduk malu.
Regan hanya tersenyum mendengar godaan dari Dokter Gustin Justavo, Regan telah mendengar jika istri Dokter Gustin Justavo sangat cantik.
__ADS_1
“Dokter dari Indonesia? Atau ada kerabat di sana? Sepertinya logat bahasa Indonesia anda sangat lancar,” tanya Regan penasaran.
“Iya, kebetulan istri saya yang asal Indonesia,” jawab Gustin Justavo menjelaskan rasa penasaran Regan dan Yona.
Regan dan Yona hanya beroh ria, mereka berdua hanya dengar jika wanita yang menikah dengan Dokter Gustin Justavo adalah pasiennya yang pernah dia selamatkan sendiri.
“Mari kita segera menuju rumah, istri saya pasti senang sekali melihat kalian tinggal di rumah kami,” ucap Dokter Gustin Justavo mempersilahkan Regan dan Yona menuju mobilnya.
Dokter Gustin Justavo membantu Regan membawa satu koper untuk mereka masukkan ke dalam bagasi, Dokter Gustin Justavo terkekeh pelan.
“Beginilah lelaki, harus bekerja lebih extra dari para wanita. Pokoknya kita dapat bagian yang berat-berat,” ucap Dokter Gustin Justavo membuat Regan ikut terkekeh.
“Para wanita hanya punya dua pasa dalam hidupnya dokter, pasal pertama wanita tidak pernah salah, dan pasal yang kedua jika wanita salah maka kembali lagi ke pasal pertama. Mereka menang-menangan sendiri, kita para lelaki selalu tertindas,” ucap Regan tersenyum.
Dokter Gustin Justavo menepuk bahu Regan, lelaki itu berharap semoga saja dengan kemampuan yang dia miliki mampu menyembuhkan penyakit Regan meskipun tidak sepenuhnya. Dokter Gustin Justavo akan melakukan pengobatan semaksimal mungkin untuk mengembalikan penglihatan normal Regan agar lelaki itu bisa menjali kehidupannya secara normal dan baik seperti sebelumnya.
Belum lagi permintaan sang istri yang meminta Dokter Gustin Justavo untuk menangani Regan sebaik mungkin. Rasanya, lelaki itu akan melakukan dan mengerahkan semua tenaga dan koleganya dalam tim bedah untuk menangani Regan.
“Ayo,” ucap Dokter Gustin Justavo mengajak Regan segera masuk ke dalam mobil.
Regan memilih duduk di depan, menemani Dokter Gustin Justavo di tempat kemudi. Sedangkan Yona berada di bangku belakang sambari menikmati pemandangan indah di depannya kini, dua lelaki bak bunga mekar yang menggoda matanya.
Astaga, kenapa Yona sampai segila ini memikirkan dua lelaki tampan di depan sana.
“Regan? Bisa ya aku hanya memanggilmu begitu? Sepertinya umur kita tidak jauh berbeda,” ucap Dokter Gustin Justavo tersenyum.
Regan mengangguk, “silahkan saja, mana yang Dokter Gustin nyaman,” jawab Regan membalas senyum ramah Dokter Gustin Justavo.
Dokter Gustin Justavo menoleh kea rah Yona, “begitu juga denganmu nona cantik, aku akan memanggilmu dengan Yona, bagaimana kamu keberatan?”
Ya ampunn, jantung Yona rasanya mencelos ketika Dokter Gustin Justavo menatapnya. Mata mereka bertemu, di tambah dengan senyuman ramah yang lelaki itu arahkan kepadanya. Memang ya, wanita pasti akan meleleh jika bicara dengan para lelaki tampan.
Ckckck, siapapun pasti ingin bertukar posisi dengan Yona saat ini. Kenapa bintang keberuntungan selalu berpihak kepada Yona? Kapan bintang keberuntungan berpihak pada authornya?
Yona tersenyum lembut, tangannya menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
“Terserah Dokter Gustin Justavo,” jawab Yona lembut.
What to the hell? Regan sontak saja menoleh ke belakang mendengar Yona menjawab pertanyaan Dokter Gustin Justavo dengan sangat lembuh. Hah, bahkan Regan belum pernah mendengar Yona menjawab pertanyaannya selembut itu. Yona selalu saja meninggikan suaranya ketika berbicara dengannya. Entah apa salah Regan sebenarnya, kenapa wanita itu selalu memusuhinya setiap waktu.
Bukankah Regan tidak kalah tampan dengan Dokter Gustin Justavo?
‘Jika dia dokter, maka aku seorang dosen dan juga anak tunggal pemilik Yayasan beberapa kampus. Bukankah itu artinya kami memiliki kelebihan masing-masing? Kenapa Yona sampai menatap Dokter Gustin sampai berwajah bodoh seperti itu.’
Regan mendengus di dalam hatinya, awas saja nanti kalau mereka hanya berdua. Regan akan memarahi Yona dan membalaskan kekesalannya hari ini.
Setelah menempuh perjalanan hampir sejauh sepuluh kilo meter jauhnya, mereka memasuki pelataran rumah berlantai dua yang cukup besar. Dari rumahnya saja, Regan dan Yona tahu jika Dokter Gustin Justavo amatlah kaya dan sukses. Bayangkan sendiri semahal apa harga tanah di tengah kota Singapura yang menjadi lirikan para investor tanah untuk meraup keuntungan melimpah dari sana.
“Ayo kita masuk ke dalam, istriku pasti senang melihat kalian ada di sini,” ucap Gustin Justavo setelah memarkirkan mobilnya di depan garasi rumah mewahnya.
Regan dan Yona keluar dari mobil, mereka menatap kagum desain rumah yang Dokter Gustin Justavo pilih.
“Sepertinya anda pandai sekali memilih desain interior,” ucap Regan memuji tata letak rumah Dokter Gustin Justavo yang terasa pas di matanya.
Dokter Gustin tersenyum, “semua ini ide istriku, dia ingin terasa nyaman ketika berada di rumah. Kadang desain rumah juga mempengaruhi mood seseorang loh tanpa kita sadari,” ucap Dokter Gustin Justavo memberikan pendapatnya soal desain rumah.
Dokter Gustin Justavo mengajak Regan dan Yona untuk masuk ke dalam rumahnya, rumah itu dalamnya begitu luas dan rapi. Pasti istri Dokter Gustin Justavo seorang wanita yang sangat memperhatikan kebersihan.
“Istri Dokter Gustin di rumah?” tanya Yona mencari-cari sosok wanita yang telah beruntung dinikahi oleh lelaki sebaik dan sesukses Dokter Gustin Justavo.
__ADS_1
“Sepertinya tidak, istriku pasti pergi ke Rumah Kanker untuk berkunjung. Itulah kegiatan istriku setiap kali tidak memiliki pekerjaan apapun di rumah. Maklum saja, aku seorang suami yang menentang keras istriku untuk bekerja selagi aku mampu membiayai segala kebutuhannya. Lagipula, istriku tidak boleh terlalu lelah karena riwayat penyakit yang pernah dia derita sebelumnya,” jelas Dokter Gustin Justavo membuat Regan dan Yona saling ber’oh’ ria.
Yona menatap foto pernikahan yang tergantung di ruang tamu, foto pernikahan Dokter Gustin Justavo dengan istrinya. Wanita itu terlihat sangat cantik, wajahnya begitu putih bersih dengan senyuman yang merekah di bibir wanita itu.
Tapi ada satu yang membuat Yona berpikir keras, kenapa tidak ada foto keluarga besar Dokter Gustin maupun istrinya? Semua foto yang tergantung hanya foto mereka berdua dan lukisan-lukisan yang tergantung di sana dengan rapi.
“Rumah kanker?” tanya Yona yang masih penasaran dengan rumah kanker yang Dokter Gustin Justavo bicarakan.
“Oh itu adalah rumah untuk para pasien kanker, istriku mendirikannya karena dia pikir dengan seperti itu mereka saling menguatkan. Istriku pernah mengalami penyakit mengerikan seperti itu, untung saja aku bisa menyelamatkannya,” ucap Dokter Gustin Justavo membayangkan kilas baliknya di meja operasi ketika menyelamatkan Olivia.
Semua tenaga dan segala kehormatannya sebagai dokter telah dia pertaruhkan untuk satu wanita, Livia Justavo.
“Anda pasti berat sekali mengoperasi kekasih anda sendiri,” ucap Yona dengan wajah yang nampak memahami bagaimana perasaan Dokter Gustin Justavo saat itu.
Dokter Gustin Justavo mengangguk, “aku bukan manusia ketika menanganinya, aku menjadi orang lain dan membuang perasaan manusiawi dalam diriku, sangat menegangkan sekali,” ucapnya melanjutkan.
Ya menegangkan, lelaki itu bekerja sama dengan dokter yang membantunya saat itu. Mengumumkan kematian wanita yang dia cintai dan menukar tubuh wanita itu dengan wanita lain yang kebetulan meninggal sehari sebelum kejadian. Untung saja, keluarga wanitanya tidak ada yang membuka jenazah setelah terakhir kali melihatnya di ruang pengobatan.
Cairan yang mampu membuat jantung wanitanya berhenti berdetak selama satengah jam lamanya, dan membuat wanita itu akhirnya koma hampir dua tahun lamanya karena terlalu lama didiamkan. Bagaimana Dokter Gustin bisa menolong wanita itu jika keluarga Livia masih menungguinya di ruangan seraya menangis sesegukan menangisi Livia yang dikabarkan telah meninggal.
“Sayang, ada tamu siapa?” tanya Livia yang baru saja masuk membuat ketiga orang menoleh menatapnya.
-
-
BERSAMBUNG
-
-
SPOILER LOVE YOU BOSS, LENGKAPNYA BISA CAP CUSSS KE PL*AY ST*RE YA MAN TEMANN UWUWWW.
Adinata Dirga beserta pasangannya dan juga Jaxon Group, Darwin Jaxon. Tepuk tangan untuk tamu istimewa saya malam ini “ Charles ikut bertepuk tangan bersama tamu undangan lainnya.
Nata mengulurkan tangannya menggandeng Sisil untuk maju ke panggung, disusul seseorang yang bernama Darwin Jaxon yang kini berjalan dibelakang Sisil. Nata menyalami Charles kembali, sontak saja Sisil kesulitan berjalan karena gaun panjangnya. Seseorang membantu mengangkat gaun Sisil,
“Terimakasih “ ucap Sisil mendongak menatap seseorang itu.
Bukankah itu lelaki yang duduk bersamanya sore tadi?
“Kita bertemu lagi “ bisiknya membuat tubuh Sisil meremang merinding.
Sisil menganga, disampingnya Nata menyenggol lengan Sisil hingga wanita itu kembali ke alam sadarnya. Sisil dan lelaki itu saling melempar pandangan, akhirnya Sisil memutuskan untuk membuang mukanya untuk memutuskan kontak mata mereka berdua.
“Kenapa wajahmu berkeringat ?” tanya Nata mengelap keringat dari kening Sisil.
“Hah? Aku tidak apa-apa “ jawab Sisil gugup.
Mereka berempat diminta berfoto bersama, Nata memandang lelaki yang diketahuinya bernama Dawrin Jaxon. Nata mendengus, memangnya siapa lelaki itu hingga berani menatap miliknya seperti itu. Kini posisi Sisil sangat sulit, dia diapit oleh Darwin Jaxon dan juga Nata disamping kanan kirinya karena Charles Maldev berada disisi kiri dari Nata.
‘Ini keberuntungan juga kesialan yang bersamaan ‘ batin Sisil ingin sekali berteriak.
Sisil menoleh kearah Nata, kemudian menoleh kearah Darwin. Dia diapit dua lelaki tampan dan kaya raya. Sisil bahkan tidak bisa bernapas dengan benar saat ini.
‘Mommyyyyy bawa aku masuk kedalam rahimmu lagiiii ‘
- SILAHKANN CUSSSSS DI PINANG EBOOK ATAUPUN VERSI CETAKNYA YAH 🙏
__ADS_1