My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Konferensi Pers


__ADS_3

Tangan wanita itu bergetar menerima surat pemanggilan yang kepolisian tujukan kepada dirinya. Ini seperti mimpi baginya, pertama kalinya Yona berurusan dengan kepolisian dan para penyidik yang berniat menyelidiki kasus perampokan sekaligus percobaan pembunuhan yang mereka tuduhkan kepada dirinya.


Yona menatap kedua orang tuanya dan juga kuasa hukumnya, Ricki. Yona tidak tahu jika semua ini akan terjadi kepadanya. Padahal sewaktu penyidik datang menemuinya, Yona sudah menjelaskan sedetail-detailnya. Kenapa mereka masih bersikeras untuk mendatangkan Yona ke sana.


“Ini artinya aku harus datang ke Polrestabes?” tanya Yona kepada daddy, mommy, dan pengacaranya.


Mereka mengangguk, kalau Yona menghindar mungkin para wartawan dan awak media semakin gencar untuk mengejarnya. Bahkan sampai pagi ini sekalipun, mereka masih menunggu didepan gerbang rumah utama Keluarga William untuk meminta klarifikasi dari Yona.


Yona mengusap wajahnya kasar, seharusnya dia berada di samping Regan saat ini. Kini dirinya harus pasrah bersembunyi didalam rumahnya sendiri karena kejaran para wartawan dan juga awak media yang siap membombardirnya dengan segala pertanyaan.


Suara klakson mobil membuat keluarga Yona menyerngit heran.


“Siapa yang datang?” tanya mereka satu sama lain.


Yona hanya menghendikkan bahunya tidak tahu. Sedangkan di luar sana para wartawan dan awak media dengan cekatannya merekam mobil yang berhenti didepan gerbang rumah keluarga William.


“Kita lihat, mobil mewah akan memasuki rumah utama Keluarga William. Dari mobilnya saja, kita pasti tahu pemiliknya bukan sembarang orang. Mari pemirsa kita mendekat untuk mengetahui siapa pengemudi dibalik mobil mewah tersebut” ucap sang pembawa berita didepan kamera yang kru-nya arahkan padanya.


Mereka dengan cepat mendekat kearah mobil, sang pengemudi mobil menurunkan kaca mobilnya saat pengawal rumah keluarga William menghampiri mereka bersamaan dengan para wartawan dan awak media yang tampaknya sangat penasaran dengan mereka.


“Saya Adinata Dirga Pratama, beserta istri dan anak saya ingin menjenguk Yona, Pak,” ucap Nata melepas kaca mata hitamnya hingga membuat para wartawan dan awak media di sana terpekik melihat sosok menantu dari Corlyn Company tersebut.


Tidak ingin membuang kesempatan, mereka langsung mengarahkan kamera mereka untuk mengambil foto dan merekam pasangan luar biasa itu yang kebetulan membawa putra mereka dalam pangkuan Sisil. Nata dan Sisil hanya melambaikan tangan dan tersenyum kearah kamera.


“Ibu Cecilia, bagaimana pendapat Anda dan Bapak Adinata perihal kasus yang menimpa teman baik kalian?” tanya salah satu wartawan yang sepertinya mewakili para rekan-rekannya yang lainnya.


“Tentu saja kami merasa sedih musibah itu menimpa sahabat kami, apalagi dua hari lagi seharusnya pasangan itu bertunangan. Ini seperti jatuh tertimpa tangga pula,” jawab Cecilia kearah kamera yang berkilat merekamnya saat berbicara.


“Bagaimana tanggapan kalian tentang kemungkinan Yona AW dijadikan tersangka atas tuduhan percobaan pembunuhan dari salah satu tersangka kasus perampokan dirinya dan Regan?”


Sisil terlihat tersenyum. “Ah itu kan baru asumsi, bapak penegak hukum di Negara kita sudah pintar-pintar kok. Masa iya mencoba melindungi diri sendiri saat mau dirampok dijadikan tuduhan percobaan pembunuhan? Sudah ya, pokoknya doakan saja semuanya akan berjalan baik-baik saja, dan Regan akan segera siuman,” papar Sisil melambaikan tangannya.


“Buka gerbangnya sekarang juga,” ucap Nata diangguki penjaga gerbang rumah keluarga William.


Nata melambaikan tangannya dan melajukan mobilnya masuk ke dalam pelataran rumah keluarga William. Nata dan Sisil menoleh ke belakang, setelah gerbang itu tertutup, mereka berdua segera keluar dari mobil.


Nata menekan tombol bel rumah keluarga William, baru beberapa detik pelayan rumah mereka membukakan pintu disusul dengan langkah kaki Shinta yang berjalan kearah mereka dengan penasaran.


“Kalian datang?” sapa Shinta mengulum senyumnya melihat teman baik anaknya datang menengok Yona yang sudah bagaikan tahanan rumah saja.


Shinta memeluk Sisil seperti biasa, dilanjutkan memeluk singkat Nata. Shinta mengambil alih Baby Zio dalam gendongannya.


“Aduduuu kamu semakin gendut dari terakhir kali Grandma melihatmu,” kata Shinta gemas melihat tubuh baby Zio yang sangat menggemaskan.


Shinta mengajak mereka untuk masuk kedalam dimana Yona, Hendra, dan pengacara mereka berada.


“Yonaa, lihat siapa yang datang,” pekik Shinta membuat Yona dan yang lainnya menoleh.


Mata Yona berbinar, wanita itu langsung berlari memeluk Sisil.


“Maaf kami bisa datang menjengukmu sekarang,” beo Sisil menenangkan Yona yang kini menangis dalam pelukannya.


Di antara yang lainnya, Yona memang lebih dekat dengan Sisil dan Nadia. Mungkin karena mereka yang lebih sering berkomunikasi dengan wanita itu. 


“Semua akan baik-baik saja,” ucap Sisil seakan mengerti kekhawatiran Yona saat ini.


Semua wanita pasti akan berpikir sama, pertunangan yang batal, ditambah dengan calon tunangannya yang belum sadarkan diri membuat pikiran mereka akan berkecambuk tidak karuan arahnya. Belum lagi, asumsi jika Yona kemungkinan menjadi tersangka percobaan pembunuhan semakin membuat pikiran wanita itu semakin runyam saja.

__ADS_1


“Regan ... Regan seperti itu karena salahku Sisil,” isak Yona dalam pelukan Sisil.


Sisil mengelus kepala Yona, menenangkan sahabatnya yang tengah mendapatkan musibah beruntut. Sebagai seorang sahabat dan teman yang baik, Sisil sangat mengerti bagaimana kondisi Yona saat ini.


Berbeda dengan semua orang yang merasa sedih melihat kondisi Yona saat ini. Ricki justru tidak bisa menutupi kebahagiaan di hatinya karena bisa melihat Dewi Business yang selama ini hanya bisa dia lihat lewat televisi, media sosial, dan beberapa media cetak yang menampilkan foto Cecilia Fanyandra Corlyn yang sudah terkenal karena kepiawaiannya dalam dunia bisnis. Bahkan wanita itu sangat mengerikan jika menyangkut bisnis dan juga sangat konsisten dengan perusahaannya. Sisil tidak akan mengampuni mereka yang berani bermain-main dengan bisnis keluarganya.


Kesuksesan di usia muda membuat para pembisnis lainnya ingin bekerja sama dengan Sisil dan banyak juga mereka yang harus menerima kenyataan pahit saat Sisil menolak bekerja sama dengan mereka karena belum memenuhi syarat di mata wanita itu.


“Tutup mulutmu sebelum air liurmu itu menetes” cibir Hendra menyenggol lengan keponak!an jauhnya.


“Dia Dewi Business, Om,” bisik Ricki membuat Hendra menggelengkan kepalanya.


Ricki benar-benar tidak menyangka, wanita itu sudah melahirkan dua anak tapi tubuhnya masih terlihat sangat kencang dan juga terlihat seperti wanita single yang belum memiliki anak.


“Teman-teman akan ke mari sebentar lagi,” ucap Nata ketika Yona sudah mulai tenang.


“Iya, nanti kami akan mengajakmu ke rumah sakit menemui Regan. Para awak media tidak akan berani menghentikanmu saat bersama dengan kami,” jelas Sisil.


Dan benar, baru saja mereka berbicara suara mobil beriringan masuk kedalam halaman rumah keluarga William membuat keluarga Yona bisa bernapas lega. Setidaknya kehadiran teman-teman Yona dan Regan ke sana mampu mengobati rasa cemas dalam hati Yona.


“Yonaaa!” pekik Nadia berlari memeluk Yona.


Nadia sudah sangat tidak sabar untuk segera menemui Yona dan menjenguk Regan setelahnya. Ingin sekali Nadia beserta yang lainnya untuk segera menjenguk keduanya namun kondisi kasus yang mengharuskan keluarga William menolak semua pengunjung yang ingin menjenguk Yona membuat mereka semua mengurungkan niatnya dari pada harus kembali pulang dengan kecewa karena tidak bisa menemui Yona maupun Regan yang kondisinya sampai saat ini masih belum sadarkan diri.


Mereka duduk melingkar di ruang keluarga rumah Keluarga William, membicarakan sebuah cara untuk membuktikan ketidaksalahan Yona.


“Polisi sudah mengamankan kamera black box mobil milik Regan?” tanya Nata kepada Ricki selaku kuasa hukum Yona.


Ricki mengangguk, baik kamera black box, pisau, dan juga linggis yang Yona gunakan menghantam salah satu perampok itu sudah diamankan oleh pihak kepolisian. Sidik jari di pisau dan linggis itu juga sudah keluar hasil pemeriksaannya.


“Semua sudah diamankan,” jawab Ricki.


“Tim kuasa hukum kami sudah memberikan surat balasan untuk pemanggilan Yona sebagai saksi, nyatanya semua bukti menunjukkan bahwa Yona melakukan penyerangan itu untuk melindungi Regan dalam kondisi yang sulit,” jelas Ricki disetujui semua orang.


‘Apa aku sudah terlihat berwibawa didepan para wanita cantik ini?’ batin Ricki membatin.


Dia sama sekali tidak membayangkan sebelumnya jika hari ini dia akan bertemu dengan para wanita high class yang selama ini wara-wiri di media sosialnya karena banyak orang yang membagikan tautan tentang mereka.


“Masalahnya itu, pihak keluarga perampok yang aku pukul pakai linggis melaporkanku” ucap Yona membuat mereka semua terbelalak.


“What? Yang bener aja?” pekik Nadia membuat baby Valeria dalam pangkuannya menangis karena terkejut mendengar suara pekikan Nadia.


Viona mendengus kesal, kini Viona mengambil alih baby Valeria dari tangan Nadia.


“Ih sampai kejer gitu nangisnya,” keluh Sisil menunjuk wajah Baby Valeria yang memerah karena menangis sangat kencang.


“Maafin Aunty ya, Sayang, Aunty Nadia kan hanya spontan,” ucap Nadia memberikan pembelaan.


“Nahh, sama kayak kamu gini Nad. Di posisiku saat itu, aku melihat perampok yang bernama Nardi mau nusuk Regan dari dalam mobil. Spontan aku ke jok belakang dong ambil linggis, aku pukul dia dari belakang,” jelas Yona kepada mereka semua.


Semua orang membayangkan ilustrasi yang terjadi malam itu, bahkan para wanita di sana sampai bergidik ngeri membayangkan Yona mampu seberani itu untuk melindungi Regan dari tusukan pisau salah satu perampok yang bernama Nardi.


“Eh Yon, kamu nggak kepikiran klarifikasi sekarang juga?” tanya Sisil.


“Kita lagi menunggu situasi yang pas Sil,” jawab Yona.


“Sekarang aja, kita adakan disini. Lebih banyak orang yang menemanimu, kamu pasti lebih kuat menghadapinya. Sebisa mungkin, kamu harus mencari dukungan public yang saat ini masih bertanya-tanya tentang kejadian yang terjadi sebenarnya,” ucap Sisil meminta pendapat yang lainnya.

__ADS_1


Mereka semua saling menatap, tidak ada salahnya juga melakukan jumpa pers sekarang juga sebelum banyak berita miring yang beredar untuk semakin memanasi situasi yang terjadi.


“Yona sudah siap?” tanya Ricki yang nantinya akan menemani wanita itu dalam melalui serangkaian proses hukumnya.


Siap tidak siap, Yona harus tampil didepan public seperti biasanya untuk mencari dukungan mereka sebagai seorang korban perampokan yang justru terlilit kasus lain, percobaan pembunuhan itu sendiri.


“Aku akan bersiap lebih dulu, Fernand dan Racka tolong siapkan linggis dan pisaunya untuk kita nanti reka ulang adegan,” ujar Yona diangguki teman-temannya.



Para wartawan dan awak media sudah berkumpul didepan rumah keluarga William atas perintah Nata dengan penjagaan ketat dari para pengawal yang tengah bertugas. Yona keluar ditemani Sisil dan Nadia yang sudah memberikan banyak masukan kepada Yona.


“Kamu bisa!” ucap Sisil mengangguk.


Yona berjalan keluar disambut dengan kilatan blits dari kamera yang mereka bawa. Yona melemparkan senyumnya yang sangat mempesona di sana.


“Selamat siang menjelang sore teman-teman media, saya Yona Anantasya William. Butuh nyali besar untuk bisa berdiri disini didepan kalian.” Sapa Yona tersenyum kearah depan sana.


“Yona bisakah Anda menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?”


“Apa benar Anda melakukan percobaan pembunuhan?”


Yona mengangkat tangannya, meminta para wartawan di sana untuk diam sejenak agar dirinya bisa berbicara. Yona memberikan kode kepada Fernando dan Racka untuk mendekat.


“Kami akan melakukan reka ulang adegan singkat, detik-detik dimana saya harus melakukan sesuatu untuk melindungi calon tunangan saya yang sampai saat ini masih tidak sadarkan diri,” ucap Yona meremas tangannya gugup.


Mulailah Fernando yang berlaku sebagai Regan dan Racka sebagai Nardi. Fernando mengalahkan Racka dan melempar pisau dalam genggaman tangan Nardi.


“Setelah itu, Fernando melawan Sutrisno yang mecoba melawannya. Dari dalam mobil saya melihat Nardi bangkit dengan pisau dalam genggaman tangannya. Spontan saja saya langsung melangkah ke jok belakang dan mengambil linggis yang ada di sana. Saya memukul Nardi dengan linggis itu, dalam pikiran saya bagaimana cara saya melindungi calon tunangan saya yang awalnya berniat menolong mereka yang berpura-pura terjatuh dari motor,” jelas Yona dengan matanya yang berlinang air mata.


“Anda melalui kesulitan yang sangat mengerikan, bagaimana tanggapan anda setelah mendengar bahwa nama anda kemungkinan akan menjadi tersangka atas saudara Nardi?


Yona menghapus air matanya. “Sekarang giliran saya yang bertanya kepada saudara sekalian yang ada disini. Apa yang akan anda lakukan jika berada dalam posisi saya? Membiarkan tunangan anda ditusuk pisau dan dipukuli kedua pelaku perampokan?” tanya Yona balik.


Terlihat para wartawan dan awak media berkasak-kusuk.


“Kami pasti akan melakukan hal yang sama seperti apa yang Yona lakukan,” jawab mereka satu suara.


Yona mengangguk, itulah yang Yona rasakan sekarang.


“Apakah melakukan pembelaan diri suatu tindak pidana? Lalu bagaimana dengan Sutrisno yang dengan sengaja menghantam kepala Regan dengan maksud dan tujuan menguasai harta dan benda milik kami secara paksa? Tentu saja ini berbeda arti, aku melakukannya sebagai upaya perlindungan diri, sedangkan mereka melakukan kekerasan untuk memiliki harta benda milik kami,” ucap Yona dengan deraian air mata yang mencelos membasahi pipinya.


Yona menunduk. “Pertunangan saya batal, calon tunangan saya masih belum sadarkan diri. Bisakah kalian bayangkan menjadi saya?” isak Yona dengan punggung yang bergetar.


Semua orang di sana saling menatap, ikut merasakan rasa sesak dalam dada mereka mendengarkan penjelasan yang Yona tuturkan secara rinci di sana.


“Saudara Yona akan mengikuti segala serangkaian pemeriksaan secara terbuka dan adil sebagai warga Negara yang baik. Tapi kami akan menuntut segala pihak yang kiranya memperkeruh keadaan dan tergolong sebagai pencemaran nama baik,” seloroh Ricki sebagai kuasa hukum Yona.


“Bagaimana langkah Yona dan kuasa hukum untuk membuktikan Yona tidak salah?” tanya salah satu diantara mereka.


“Ada rekaman black box mobil yang jelas-jelas mempertunjukkan saudara Nardi hendak menusuk Regan. Ini criminal yang bisa terjadi pada siapapun, kita berantas pelaku perampokan di jalan yang membahayakan. Kalau upaya perlindungan diri saja disalahkan, itu cikal bakal para perampok semakin gencar melakukan aksinya,” jelas Ricki kepada mereka semua.


Mereka merekam segala yang Yona dan kuasa hukumnya ucapkan.


“Yona, kami doakan kasus ini segera selesai dan saudara Regan segera siuman dan kembali sehat. Jangan lupa undangannya kepada kami saat pertunangan kalian digelar kembali nantinya,” ucap mereka kepada Yona.


Konferensi pers yang Yona lakukan sudah tersebar hingga ke seluruh pelosok Negeri. Yona berharap ada banyak dukungan dari masyarakat yang akan semakin menguatkan dirinya untuk melewatkan kasus yang menimpanya.

__ADS_1


‘Regan, aku butuh kami di sini’ batin Yona menangis.


__ADS_2