
Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk Yona. Hari di mana dia telah dilahirkan di dunia oleh sang mommy. Hari di mana dia pertama kali menghirup udara di dunia nyata. Persiapan untuk acara ulang tahun Yona juga telah dilakukan sejak kemaren.
Mereka mengundang beberapa kerabat dekat, dan juga sahabat untuk turut andil merayakan hari yang berbahagia ini.
"Kamu sudah mengundang semua kerabat kita kan Yona?" tanya Shinta kembali memastikan bahwa tidak ada seorangpun terlewatkan dalam acara yang akan mereka gelar nanti malam.
"Sudah Mom, jangan khawatir," jawab Yona mengacungnya jari jempolnya ke arah sang mommy.
"Regan, sudah kamu beri undangannya?" tanya Shinta lagi.
Yona menatap mommynya, memicingkan kedua matanya. "Aih Mommy, kayak sama siapa aja. Regan mah enggak usah dikasih undangan juga datang sama keluarganya," ucap Yona memutar bola matanya.
Shinta terkekeh. "Kamu ini suka sembarangan, gitu-gitu juga kamu cinta mati sama dia kan?" ejek Shinta menggoda putrinya.
Yona ikut tertawa mendengarkan ejekan yang keluar dari mulut mommynya. Wanita itu menatap ke layar ponselnya. Sebuah wallpaper yang selalu membuat Yona berseri bahagia setiap hari. Foto dirinya dan juga Regan saat mereka berlibur naik kapal pesiar.
Betapa bahagianya Yona, kebahagiaan yang tiba-tiba saja lenyap karena kecelakaan yang menimpa dirinya dan Regan. Tidak ada yang bisa Yona sesali, wanita itu hanya mampu berdoa dan menguatkan Regan untuk tetap optimis, bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya.
Yona dan Regan tidak ingin larut dalam kekurangan di antara mereka. Bukankah kekurangan yang ada bisa mereka tutupi dengan kelebihan Yona dan Regan? Bukankah pasangan diciptakan untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lainnya?
Maka dari itu, Yona tetap berdiri tegak di samping Regan. Tidak peduli arang melintang yang akan mereka hadapi nanti ke depan. Yang jelas, kekuatan mereka hanya satu. Mereka saling mencintai!
"Itu pasti Nadia," ucap Yona ketika suara bel rumahnya berbunyi.
Yona dengan cepat berjalan ke arah pintu.
"Kamu sudah datang? Cepat sekali," ucap Yona ketika pintu rumahnya telah terbuka.
Nadia melenggang masuk ke dalam rumah Yona dengan menenteng paper bag butik miliknya. Shinta yang melihat Nadia datang langsung merekahkan senyumnya ke arah wanita itu.
"Nadia, bagaimana kabarmu?" sapa Shinta dengan ramah.
"Baik Tante, tapi tidak begitu baik juga sih karena pesanan dadakan dari anak Tante," jawab Nadia sengaja menyindir Yona.
__ADS_1
Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi Yona untuk memesan secara dadakan baju yang akan dia kenakan. Untung saja Nadia tipikal desainer kilat, yang mampu menyelesaikan secepat mungkin garapan yang harus dia kerjakan.
Meskipun secara kilat, hasil yang Nadia capai sangat luar biasa.
Nadia mengeluarkan gaun dari paperbag yang dia bawa.
"Coba dicek lagi," ucap Nadia menyodorkan gaun itu kepada Yona.
Yona menerima pesanannya dengan binar mata bahagia. Wanita itu memang tidak pernah menyesal setiap kali memesan gaun rancangan Nadia Mark jebolan desainer Perancis.
"Kamu memang yang terbaik Nad," ucap Yona memuji bakat Nadia.
Yona menempelkan gaun itu pada tubuhnya dan berkaca di lemari hias yang ada di sana.
"Yona akan menjadi ratu untuk semalam, bukan begitu Tante?" kekeh Nadia diangguki setuju oleh Shinta.
"Untung dia menuruniku, coba kalau menuruni daddynya. Enggak mungkin Yona secantik sekarang ya Nad," ucap Shinta sambari tertawa renyah.
"Oo, begitu rupanya." Hendra berjalan mendekati ketiga wanita cantik yang tengah tertawa di ruang keluarga.
Semua orang menoleh, mulut Shinta menganga lebar saking terkejutnya melihat suaminya pulang lebih cepat dari biasanya. Shinta menggigit bibir bawahnya gugup, bisa mati dia kalau Hendra mendengar ucapan yang dia ucapkan tadi.
"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Shinta dengan senyumnya merekah, tentu saja itu hanya ekting belaka.
"Hm." Hendra nampak acuh kepada Shinta. Mata lelaki itu menatap Yona di sana.
"Anak Daddy cantik sekali, gaun itu pasti nampak sempurna saat kamu pakai," ucap Hendra tersenyum lembut.
Yona memeluk daddynya erat. "Terimakasih Daddy, sudah menjadi Daddy paling hebat," ucap Yona mensyukuri lahir di tengah keluarga William.
Hendra mengelus puncak kepala Yona. "Tanpa Daddy kamu tidak mungkin menikmati kehidupanmu seperti sekarang bukan?" ucap Hendra seakan menyindir Shinta.
Hendra berpamitan kepada mereka semua untuk masuk ke dalam kamar, beristirahat sejenak sebelum mereka sekeluarga menuju lokasi perayaan ulang tahun Yona Anantasya William.
__ADS_1
Shinta mengikuti langkah Hendra, tidak terima dengan sindiran halus yang suaminya berikan kepada dirinya.
"Hendra William, berhenti!" ucap Shinta namun tidak dihiraukan oleh suaminya.
Aishh, Shinta bisa menebaknya kalau Hendra mendengar apa yang tadi dia ucapkan. Sedangkan Yona dan Nadia terkikik geli melihat interaksi orang tua itu.
Shinta mencekal pintu yang hendak ditutup oleh Hendra. Wanita itu memicingkan matanya menatap suaminya dengan kesal.
"Why?" tanya Hendra menautkan kedua alisnya.
"Apa maksudmu menyindir begitu? Yang aku ucapkan tadi hanya gurauan semata. Kamu marah denganku?" tanya Shinta menutup pintu kamarnya, menghampiri Hendra.
"Minggir sana," ucap Hendra menepis tangan Shinta yang hendak membantunya membuka jas kebesarannya.
Shinta menatap suaminya lekat, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Kamu kok kasar sama aku?" tanya Shinta dengan suara serak.
Hendra menoleh, ada rasa terkejut dalam diri Hendra melihat mata istrinya berkaca-kaca. Tumben sekali wanita itu tidak mengajaknya berdebat dan membela dirinya.
Wanita itu berbalik, melangkahkan kakinya keluar dari kamar mereka berdua. Hendra menghembuskan napas kasarnya. Shinta menangis, dan menutup pintu kamar dengan kasar sampai Yona dan Nadia menoleh.
"Mommy, kenapa?"
"Huwaaaaa, Yona. Daddymy marah dengan Mommy," isak Shinta menerjang tubuh Yona, menumpahkan tangisannya pada pundak anak bungsunya.
"Kan sudah biasa kalian berdebat, kenapa Mommy jadi sensitif begini?"
Nadia menatap Shinta dengan mata melebar sempurna.
"Jangan-jangan, Tante hamil?"
"Apaaa? Mommy hamil?" pekik Yona dengan matanya membulat sempurna.
__ADS_1