My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Jagoan


__ADS_3

“Kyaaaaaaa!!”


Suara pekikan dari lantai atas rumah utama Keluarga William membuat pasangan Shinta dan Hendra mendongak spontan ke atas. Regan yang baru saja mengambil minum dari dapur rumah dengan cepat meletakkan gelas di pantry. Lelaki itu menghampiri kedua mertuanya, menatap mereka penasaran.


“Ada apa, Mommy, Daddy?” tanya Regan kebingungan.


Shinta dan Hendra menghendikkan bahunya, pertanda bahwa mereka tidak tahu apa yang tengah terjadi. Mereka bertiga berlari menaiki anak tangga menuju kamar Yona. Suara teriakan Yona yang sangat memekakkan telinga tentu saja membuat mereka semua penasaran dan juga khawatir atas apa yang tengah terjadi kali ini.


Regan membuka pintu kamar mereka dengan cepat. Shinta dan Hendra ikut menerobos masuk ke dalam kamar Regan dan Yona, menghampiri Yona yang saat ini terlihat begitu panik.


“A-apa yang terjadi, Sayang?” tanya Regan menghampiri istrinya. Menelisik dari kaki hingga ujung kepala istrinya, memastikan bahwa tidak terjadi sesuatu apapun yang terjadi pada Yona dan kandungannya.


Ya, wanita itu sudah mendapatkan hadiah terindah dalam kehidupan rumah tangganya bersama dengan Regan. Satu bulan usai bulan madu di Kota Bath selama tiga minggu, kedua keluarga besar mendapatkan berita bahagia. Yona tengah hamil, anak pertamanya bersama dengan Regan. Betapa bahagianya pasangan Regan dan Yona. 


“Mommy, Daddy, ini sangat mengerikan! Lebih horror dari film setan Amerika!” pekik Yona terlihat begitu panik.


Shinta menghampiri Yona, menyentuh lengan putrinya yang saat ini terekspose bebas karena wanita itu hanya memakai dress santai tanpa lengan.


“Why? Ada apa?” tanya Shinta begitu khawatir.


“Mommy! Bagaimana bisa timbangan badanku naik begitu drastis dari biasanya?” Yona menatap ibunya dengan matanya berkaca-kaca.


Wanita itu sepertinya begitu syok dengan apa yang dia lihat pada hari ini. Iseng-iseng, Yona ingin melihat timbangan tubuhnya karena badannya terasa begitu berat sampai Yona merasa malas untuk bangun dari posisi rebahannya.


Betapa kagetnya Yona saat jarum angka pada timbangan badan digital miliknya menunjukkan angka kepala enam. Seumur hidupnya, Yona tidak pernah memiliki berat badan melebihi berat badan ideal dirinya. Sungguh, itu sangat mencengangkan bagi Yona.


“Huwaaa, Mommy, Daddy. Sepertinya Yona harus diet sekarang,” isak Yona menjadi mellow drama, efek dari hormon ibu hamil yang mempengaruhinya.


Shinta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wanita itu menatap Hendra yang kini menghendikkan bahunya masa bodoh. Sulit memang bermain logika bersama dengan ibu hamil yang mudah sekali berubah-ubah moodnya.


“Sayang, kamu kan sedang hamil. Tentu saja berat badanmu bertambah. Itu sangat baik untuk perkembangan janin dalam kandunganmu,” jelas Regan dengan begitu lembut.


Yona menghentakkan tangan Regan dari bahunya, tidak sudi disentuh lelaki yang sudah membuatnya berbadan dua dan mengalami fase penggemukan seperti sekarang ini.

__ADS_1


“Semua ini salah kamu! Kamu membuatku gendut!” keluh Yona menghentakkan kakinya kesal.


Wanita itu menangis histeris, rasanya ingin sekali Yona mencakar wajah Regan untuk saat ini.


“Mulai sekarang kamu tidur di luar saja! Pakai kamar lain, aku kesal harus bunting karena suntikanmu yang tidak ada bosannya!” ucap Yona melipat tangannya ke depan dada.


Wajah Regan memerah seketika, tidak menyangka jika Yona akan mengatakan hal berbau vulgar di depan kedua orang tua wanita itu. Shinta dan Hendra hanya mengulum senyumnya geli.


“Sepertinya kamu akan melewatkan malam dengan kedinginan, Regan,” kekeh Shinta menatap menantunya dengan raut wajah kasihan, nestapa.


Shinta menarik suaminya untuk segera keluar dari kamar putrinya, tidak enak terlalu lama di sana karena mungkin saja Yona dan Regan mau melakukan suntikan lagi.


Yona memicingkan matanya, menatap Regan seakan-akan lelaki itu adalah musuh bebuyutannya. Yona duduk di tepi ranjangnya, membuang wajahnya ke samping tanpa berniat menatap lelaki itu lagi.


“Sana, keluar! Aku enggak suka melihat wajah kamu!” ucap Yona mengusir Regan dengan teganya.


Mulut lelaki itu menganga, entah kenapa semenjak berbadan dua istrinya berubah menjadi wanita paling sadis di dunia ini. 


“Sayang, jangan begitu. Sudah kodratnya wanita itu hamil dan melahirkan,” jelas Regan dengan halus, memberikan pengertian kepada istrinya.


Regan mendekati istrinya, memeluk tubuh Yona yang kini tengah bergetar hebat menahan tangis. Sebenarnya Regan tidak bisa mengerti bagaimana jalan pikiran para ibu hamil yang terkadang sangat aneh dan tidak masuk di akal. Regan sudah tidak asing lagi dengan kelakuan-kelakuan para ibu hamil, karena dia juga pernah menjadi korban kekerasan Nadia saat kehamilan wanita itu memasuki usia delapan bulan.


Katanya, Nadia sangat kesal setiap kali melihat wajah Regan, dan selalu saja melempar Regan dengan tas yang saat itu dia pakai ketika bertemu dengan Regan tanpa melihat tempat sekalipun.


“Nanti setelah melahirkan, kamu pasti kembali langsing lagi kok,” ucap Regan mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut.


“Apa kamu bilang? Maksud kamu saat ini aku gendut, begitu?” tanya Yona dengan matanya berkilat marah, siap untuk melalap Regan atas kobaran emosinya saat ini.


Sial, sepertinya Regan salah memilih kata-kata untuk menenangkan istrinya.


“Siapa yang bilang gendut? Kamu sangat sexy dengan tubuhmu yang sekarang ini, Sayangku. Setiap kali kamu memakai dress santai, kakimu terlihat lebih menggoda,” bisik Regan menghirup aroma rambut istrinya.


Hei, Regan bukannya ngegombal hanya untuk menenangkan istrinya saat ini. Tapi semua yang dia katakana lebih mengarah pada fakta real kehidupan mereka. Tubuh Yona lebih berisi dari pada biasanya. Bokong Yona juga terlihat lebih sental, sangat menggairahkan ketika mereka bermain di ranjang. Regan sampai tidak rela mengakhiri setiap pergulatan panas di antara mereka berdua saking memabukkannya tubuh istrinya.

__ADS_1


Meski begitu, Regan harus menahan hasrat dalam tubuhnya setiap kali bagian bawah miliknya meminta jatah terlalu sering. Kata dokter, ibu hamil tidak boleh sering-sering melakukannya. Kecuali nanti saat mendekati HPL, para pasangan diminta melakukannya lebih sering agar memudahkan prosesi persalinan nantinya.


“Maksud kamu dulu aku tidak sexy? Keluar sekarang juga!” pekik Yona semakin tersulut emosinya.


Regan sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk meredakan emosi istrinya. Lelaki itu berjalan menuju pintu, membuat Yona melebarkan matanya.


“Ka-kau mau ke mana?” tanya Yona tidak rela jika Regan benar-benar keluar dari kamarnya.


Lelaki itu menutup pintu kamar, menguncinya dari dalam lalu membalikkan badannya menatap sang istri.


“Menurutmu?” tanya Regan balik dengan tatapan mata menggoda seperti biasanya.


Yona langsung menyibak selimut dan melilit tubuhnya dengan selimut. Regan menggelitiki tubuh Yona sampai wanita itu mengaduh dan meminta ampun kepada suaminya.


“Aku ingin menengok anak-anakku,” bisik Regan, tangannya membuka resleting dress Yona tanpa peringatan terlebih dahulu.


Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya, Regan mencumbu dan memberikan tanda-tanda kepemilikan pada tubuh Yona dengan kecupan basah yang menimbulkan bulu halus pada punggung Yona meremang seketika.


“Katakan, kamu menginginkannya juga, Sayangku,” ucap Regan membelai wajah Yona dengan lembut.


Yona mengangguk. “Hm, aku menginginkanmu dalam diriku, menghujamku penuh cinta dan kenikmatan,” jawab Yona membuat senyum merekah penuh kemenangan menghiasi bibir Regan.


Bukan Regan namanya jika lelaki itu tidak memanfaatkan moment sebaik mungkin, Regan langsung saja menyatukan tubuh mereka berdua dengan penuh cinta. Terkadang hormone kehamilan Yona membuat Regan jadi belingsatan sendiri. Kadang-kadang wanita itu menggodanya terlebih dahulu, namun tidak jarang juga Yona meminta pergulatan mereka berdua dihentikan secara tiba-tiba dan menarik junior Regan keluar dari pusat tubuhnya dengan alasan wanita itu sudah mengantuk.


Menjadi seorang suami dari wanita seperti Yona memang membutuhkan hati seluas segara untuk menerima setiap tingkah kekanakan Yona kepada dirinya. Meski begitu, tidak sedikitpun rasa cinta Regan luntur dari istrinya. Justru perbedaan-perbedaan itu seakan menjadi kombinasi paling sempurna sepanjang hidup mereka berdua.


“Kamu, jangan pernah berpikir kamu tidak cantik dan tidak sexy lagi,” bisik Regan  pada telinga istrinya. Tangan Regan mengelus pipi istrinya dengan penuh cinta. “Tidak ada wanita cantik dan wanita sexy selain Nyonya Reganera di dunia ini,” lanjut Regan kembali menghujami pusat tubuh Yona dengan juniornya.


Mereka mencapai puncak kenikmatan, klimaks yang selalu mereka dapatkan di sesi akhir percintaan mereka berdua. Regan mengecup perut buncit istrinya, membisikkan sesuatu mantra di sana.


“Cepat lahir, jagoan-jagoan mommy daddy,” bisik Regan merasa bahagia karena empat bulan lagi dirinya resmi menjadi seorang ayah dari dua jagoan yang nantinya akan meramaikan kedua keluarga besar.


------------------------

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMEN, LIKE, DAN JUGA VOTE BUAT REGAN DAN YONA.


BAGI READERS KESAYANGAN, KALAU AUTHOR CREJI UPDATE, BAB PERTAMA UP JANGAN DILEWATIN LIE KOMENTARNYA DONG. AUTHOR JADI SEDIH ASLI 😭😭😭


__ADS_2