My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Lingerie


__ADS_3

Setelah tiga jam lamanya Regan dan Yona harus terkungkung dalam lautan tamu undangan yang terus berdatangan demi mengucapkan selamat atas pernikahan mereka berdua. Kali ini, Regan dan Yona masih harus menunggu seluruh tamu undangan kembali pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing.


Regan mengelap keringat sebesar biji jagung dari kening istrinya. Tercetak jelas, raut wajah kelelahan pada wajah cantik istrinya. Mungkin memang benar kata orang, beberapa pasangan memilih tidak merayakan pernikahan karena mereka tidak ingin merasakan lelahnya menjadi raja dan ratu dalam satu hari.


Berdiri, menyalami semua tamu undangan, tersenyum bahagia meskipun pergelangan kaki mereka ingin berteriak menyuarakan perasaannya bahwa ia sudah merasakan lelah karena beberapa jam berdiri seperti patung selamat datang.


"Sebentar lagi selesai,” ucap Regan kepada Yona.


Tetapi apa daya, Regan merupakan anak tunggal, otomatis ini menjadi pesta pernikahan pertama dan terakhir pasangan Lili dan Septian. Begitu juga dengan pasangan Shinta dan Hendra yang tidak akan lagi membuat pesta pernikahan karena Yona menjadi anak terakhir mereka. Tidak heran, jika mereka mengadakan pesta mewah dengan segala fasilitas VVIP di hotel yang menjadi salah satu cabang dari Corlyn Company.


“Kalian naik saja ke kamar hotel, Yona pasti sudah lelah,” ucap Shinta meminta Regan mengajak Yona masuk ke dalam kamar hotel yang telah Sisil siapkan secara khusus sebagai persembahan pernikahan sahabatnya.


"Bagaimana?" Regan menatap istrinya dengan penuh perhatian.


Jujur saja Sisil dan Nata sangat antusias, mereka bahkan rela tidak mendapatkan satu peserpun fee ketika Regan dan Yona mengadakan acara resepsi pernikahan di hotel milik keluarga Sisil. Wanita itu hanya ingin membagi kebahagiaan atas pernikahan Regan dan Yona, pasangan ruwet yang melangsungkan pernikahannya paling akhir.


“Kita tidak pulang saja, Mom?” tanya Yona kepada Shinta.


Shinta menggeleng. “Di rumah enggak ada kamar fasilitas malam pertama, Yona. Kalau di hotel kan sudah lengkap semua,” jawab Shinta mengulum senyumnya geli.


Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa malu sekali dengan kalimat ambigu ibunya.


“Ayo, kita ke kamar saja,” ucap Regan menyentuh lengan Yona.


Shinta terlihat memanggil Marva, meminta putranya menyerahkan kunci kamar yang sudah Sisil berikan kepada Shinta sebelum ijab qobul dimulai.


“Ini kuncinya.” Shinta menyerahkan card kepada Regan.


“Tapi Mommy, barang-barang Yona bagaimana? Make up, baju ganti, dan-“ Kalimat Yona terputus, disusul Shinta yang memberitahu bahwa semua telah mereka siapkan.


“Sudah Mommy siapkan semuanya, jangan khawatir,” jawab Shinta tersenyum lembut.


Padahal bukan khawatir karena barang-barangnya, Yona hanya merasa gugup  jika harus satu kamar bersama dengan Regan. Wanita itu tidak tahu harus melakukan apa saat nanti mereka ada di dalam kamar, hanya berdua, dengan status baru mereka, suami-istri.


Astaga, memikirkannya saja membuat jantung Yona memburu begitu cepat.


“Sudah sana istirahat dulu,” kata Lilian menyetujui perintah Shinta sebelumnya.


Yona memandang Regan, lelaki itu mengangguk pertanda bahwa dirinya setuju dengan perintah orang tua mereka.


“Ya sudah kalau begitu, Yona sama Regan masuk ke kamar dulu,” pamit Yona kepada semua orang.


Regan menggandeng pinggang Yona dengan begitu posesif, sedangkan di belakang mereka para orang tua terkikik geli dengan persiapan yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Para orang tua itu menjadi penasaran bagaimana ekspresi wajah Regan dan Yona ketika mereka membuka isi lemari yang ada di sana.


Seperti tidak merasakan kejanggalan apapun, Regan dan Yona melenggang masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai paling atas dari hotel yang mereka tempati. Kamar dengan tipe suites, semakin membuat Regan dan Yona tidak enak dengan keluarga Corlyn.


“Em, aku jadi tidak enak dengan Sisil,” ucap Yona kepada Regan.


Regan mengelus puncak kepala Yona. “Bagaimana kalau kita ajak mereka bulan madu juga ke Bath? Bulan madu ke sekian kalinya bagi pasangan itu?” usul Regan ingin membalas kebaikan Sisil dan Nata dengan mengajak pasangan itu bulan madu bersama yang segala pengeluaran akan Regan tanggung nantinya.


“Aku setuju, terimakasih Regan,” ucap Yona memeluk Regan.


“Regan? Panggil suamimu dengan benar, Sayang,” beo Regan tidak suka jika istrinya memanggil dirinya dengan nama saja.


Yona terkikik geli. “Baiklah, suamiku tersayang,” kekeh Yona tidak tertahankan. Melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya dengan mesra.


“Terdengar sangat menenangkan di hatiku,” jawab Regan tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Mereka melangkah keluar dari lift, menelisik sekitarnya mencari nomor kamar yang ada di dalam kartu yang Regan bawa.


“Ayo masuk,” kata Regan menggandeng tangan Yona memasuki kamar hotel mereka.


Yona berdecak kagum dengan tatanan kamar itu, benar-benar luar biasa sampai Yona tidak mampu berkata-kata untuk mendeskripsikan isi dari kamar yang mereka tempati. Nampaknya Sisil mengenal benar bagaimana kesukaan pasangan itu. Mulai dari sprai, pencahayaan yang pas, dan pemandangan kabut khas Kota Bandung membuat kamar itu semakin menenangkan.


Wanita itu melepas high heels yang saat ini dia kenakan. Yona memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar hotelnya tanpa memperdulikan lambang cinta dari kelopak bunga mawar menjadi berceceran di sekitarnya. Yona menghela napasnya panjang.


“Aku masih tidak menyangka kita benar-benar menikah,” ucap Yona memandang langit-langit kamar.


Regan melepas jasnya, menyampirkannya di gantungan baju yang ada di walk in closet.


“Kenapa? Kamu berpikir ini mimpi?” tanya Regan menatap istrinya dengan senyuman hangat mengembang di bibirnya.


Yona mendongak, senyumnya terukir di bibir tipis miliknya.


“Siapa tahu ini hanya mimpi,” seloroh Yona.


“Apa aku perlu menamparmu biar kamu sadar bahwa ini benar-benar nyata?” tanya Regan membuat Yona membulatkan matanya.


“Ya ampun, kita baru sah menikah tiga jam yang lalu dan kamu mau menamparku? Kamu KDRT terlalu cepat, Sayang,” keluh Yona yang dijawab kekehan dari mulut Regan.


Lelaki itu menaiki ranjang, membuat Yona menatapnya penuh waspada. Yona belum siap jika singa jantan menerkamnya sekarang juga. Yona membutuhkan waktu untuk merelaxkan pikiran dan otot-otot tubuhnya sebelum bergelung dalam gelombang hasrat asmara mereka berdua.


“Aku tidak mungkin menamparmu, melukai kulitnya satu gores saja aku tidak akan mampu,” kata Regan mendaratkan kecupannya di pipi Yona.


“Bohong,” ucap Yona tidak percaya.


Regan memainkan jemarinya pada wajah Yona. “Memangnya kapan aku pernah berbohong?” tanya Regan begitu dekat, hingga deru napasnya menyapu permukaan kulit tengkuk Yona.


Yona memejamkan matanya. “I-iya, tidak pernah,” jawab Yona begitu gugup dengan jarak mereka yang begitu intens saat ini.


“Ada apa?” Regan menatap wajah istrinya dengan bingung.


“Aku harus mandi, badanku sangat lengket,” sahut Yona diangguki mengerti oleh Regan.


Yona dengan cepat turun dari ranjang, melepas perhiasan yang dia kenakan di atas meja rias. Lalu tangan wanita itu begitu gemulai menarik satu persatu jepit lidi yang digunakan untuk membantu tatanan rambutnya.


Namun gerakan Yona terhenti, saat Regan tiba-tiba berdiri di belakangnya dan membantu wanita itu mencabut satu persatu jepit lidi dari rambutnya.


“Terimakasih,” ucap Yona dengan tulus.


Tangan Yona hendak membuka resleting belakang gaun yang dia pakai, tetapi tangannya tidak sampai pada pangkal resletingnya.


“Sayang, bolehkan aku meminta tolong?” tanya Yona yang dimengerti oleh Regan.


Lelaki itu dengan perlahan menurunkan resleting gaun Yona, sangat hati-hati karena lelaki itu tahu benar berapa harga gaun rancangan Nadia Mark yang sempat menghebohkan dunia fashion beberapa hari yang lalu.


“Sudah, sampai di sana saja,” kata Yona menghentikan gerakan tangan Regan sampai di setengah panjang punggungnya.


Regan menelan salivanya dalam-dalam, punggung halus Yona terekspose begitu indah di depan matanya. Menyadari arti tatapan mata Regan, Yona berusaha cepat menyingkir dari sana. 


“Aku mandi lebih dulu.” Yona melenggang memasuki kamar mandi, menutup pintu kamar mandi dan memastikan pintunya telah terkunci.


Detakan jantung Yona sangat tidak beraturan, tangannya menyentuh sumber detakan.


“Aish, aku sangat gugup berdekatan dengan Regan,” gumam Yona memukul pelan dadanya yang sampai saat ini masih berdetak tidak karuan.

__ADS_1


Yona membuka lemari kecil yang ada di kamar mandi, mengambil satu buah kimono berwarna ungu lavender dari sana. Bahkan mereka telah menyiapkan barang-barang kebutuhan Yona sesuai warna yang wanita itu sukai.


Saatnya untuk membersihkan dirinya dan menikmati sentuhan air hangat yang mampu menangkan kegugupannya kali ini.


Cukup hanya dua puluh menit, Yona segera keluar dari kamar mandi. Mata Yona menyipit, melihat Regan sudah meringkuk di ranjang tanpa melepaskan kaos kaki dari kaki jenjangnya. Yona tersenyum, wanita itu dengan lembut meraih kaos kaki Regan dengan perlahan dan melepaskannya dari kaki lelaki itu. Mungkinkah yang dilakukan Yona saat ini sudah menjadi tugas perdananya sebagai seorang istri dari Reganera Abimanyu Louis?


Yona menuju meja rias, menyalakan hair dryer yang sudah tersedia di laci meja itu. Aroma wangi shampoo menyeruak, menyapa penciuman Regan yang tengah tertidur saking lelahnya. Lelaki itu membuka matanya perlahan, menatap punggung Yona dari tempatnya saat ini. Tarikan napas dalam yang dilakukan Regan saat ini menjadi pertanda bahwa lelaki itu sangat menyukai aroma wangi dari tubuh istri tercintanya.


“Sudah selesai mandinya?” tanya Regan membuat Yona menoleh ke belakang.


“Sudah, kamu terbangun karena suara hairdryer ini?” Yona menatap Regan dengan tatapan tidak enak karena sudah membangunkan suaminya tanpa sadar.


Regan menuruni ranjang, mendekati istrinya, berdiri di belakang wanita itu.


“Tidak, aku terbangun karena aroma tubuhmu,” jawab Regan mengecup puncak kepala Yona dengan lembut.


Yona menyentuh jemari Regan. “Kamu mau mandi? Biar aku siapkan airnya dalam bath,” ucap Yona tapi dijawab gelengan kepala dari Regan.


“Aku bisa sendiri, kamu hanya perlu menyiapkan diri untuk tugas sejatimu nanti malam,” kata Regan membuat wajah Yona bersemu merah.


Tugas sejatinya nanti malam? Siapkah Yona melepaskan mahkota yang selama ini dia jaga untuk suaminya? Bukankah sudah menjadi hak dari Regan mendapatkan mahkota suci itu dari Yona?


“Sana mandi, kamu bau asem,” ucap Yona berpura-pura menutup hidungnya.


Regan mendengus kesal, menjadi istri ternyata tidak menghilangkan kebiasaan Yona untuk mengejek dirinya. Baguslah, Yona tidak perlu berubah menjadi orang lain, karena Regan telah mencintai wanita itu apa adanya.


Yona terkekeh saat Regan mendumel sambari berjalan menuju kamar mandi. Sambil menunggu suaminya, Yona memilih untuk menyiapkan baju ganti untuk Regan dan baju ganti untuk dia sendiri.


Mata Yona terbelalak, satu lemari isinya hanya lingerie dengan corak berwarna ungu. Yona mengubek-ubek seisi lemari, dirinya tidak menemukan baju ganti lainnya selain lingerie itu. Ini pasti ulah Shinta dan para wanita lainnya. Yona sangat menyesali keputusannya menginap di kamar hotel tanpa memastikan terlebih dahulu barang-barang keperluannya.


“Mereka nampaknya mengerjaiku,” keluh Yona menggigit bibir bawahnya.


Berpikir akan melakukan apa, ternyata cukup menyita waktu wanita itu sampai Regan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang lelaki itu.


“Sayang?” panggil Regan membuat Yona tersentak dari lamunannya.


“Hm, iya? Kamu butuh sesuatu?” tanya Yona.


“Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Regan balik, tapi pertanyaan Regan terjawab sudah saat matanya menemukan puluhan lingerie tergantung pada lemari pakaian.


Semburat merah muncul di wajah Yona, wanita itu secepatnya meraih baju ganti untuk Regan dan menutup lemari itu sebelum Regan berpikir macam-macam.


“Gantilah,” kata Yona menyodorkan baju ganti kepada Regan.


“Kamu juga tidak ganti?” Regan menautkan kedua alisnya bingung.


Yona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung mau menjawab pertanyaan Regan dengan apa.


“Oh rambutku masih basah, kimono sepertinya lebih cocok untuk saat ini,” jawab Yona beralasan.


Regan menatap penampilan Yona saat ini, lelaki itu mengangguk membenarkan.


“Kamu benar, kamu jauh lebih sexy memakai kimono mandi itu,” beo Regan membuat Yona blushing.


Sexy apanya? Yona malah merasa tidak nyaman dengan kimono yang saat ini dia pakai. Tidak mungkinkan Yona harus tidur dan melakukan aktivitas lainnya hanya memakai kimono mandi saja?


“Lagi pula kamu tidak memerlukannya nanti,” lanjut Regan saat lelaki itu hilang, masuk ke dalam walk in closet.

__ADS_1


Oh God, Yona lupa bahwa dirinya menikahi lelaki berotak mesum. Sepertinya Yona harus bergelung di dalam selimut supaya Regan tidak melihat tubuhnya untuk malam ini. 


❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️


__ADS_2