
Regan mengetuk pintu ruangan Dokter Gustin Justavo. Mendengar bahwa hasil CT-Scan telah dikirimkan oleh Dokter Stefano ke email Gustin Justavo tentu saja membuat Regan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya bagaimana hasil yang didapatkan dari pemeriksaan kemaren.
"Masuk," ucap Gustin Justavo menolehkan kepalanya ke arah pintu.
Regan masuk ke dalam, lelaki itu berjalan menyambangi Gustin Justavo yang kini duduk di kursi kerjanya menghadap laptop.
"Bagaimana hasil CT-Scannya? Semua berjalan baik bukan?" tanya Regan penasaran.
Siapa juga yang tidak penasaran dengan hasil pemeriksaan dirinya sendiri. Tentu saja Regan penasaran, lelaki itu sangat berharap bahwa dirinya bisa sembuh.
"Kemari, lihat ini," ucap Gustin meminta Regan untuk duduk.
Gustin mengarahkan laptopnya ke arah Regan, membiarkan lelaki itu melihat gambar CT-Scan kepalanya.
"Terjadi kerusakan di bagian ini, itu yang menyebabkan dirimu kehilangan kemampuan untuk mengenali wajah seseorang," jelas Gustin Justavo.
Mata Regan menatap lekat gambar yang kini terpampang di layar laptop milik Gustin Justavo.
"Lalu, bagaimana?" tanya Regan kepada Gustin.
"Ini hanya akan membahayakan nyawamu, resikonya terlalu besar jika kita melakukan operasi dengan kondisimu yang sekarang," jawab Gustin menjelaskan.
Raut wajah Gustin Justavo berubah. "Kalau bisa dibilang, kemungkinan dirimu sembuh hanya lima belas persen. Itu kalau kamu selamat dalam operasi saja belum tentu bisa kembali normal seperti semula."
"Maksudmu, aku tidak bisa melihat wajah seseorang lagi?" tanya Regan kembali.
Dengan lesu, dan tidak ada pilihan lain, Gustin mengangguk. "Memang itu yang terjadi, kemungkinan untukmu selamat dari meja operasi sangat kecil. Bahkan aku tidak berani ambil resiko untuk ini, Regan," ucap Gustin Justavo jujur.
Regan menatap Gustin. "Selamatkan aku, bantu aku melihat wajah orang-orang yang aku sayangi," pinta Regan dengan frustasi.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Gustin Justavo. Kalau saja dia bisa membuat magic dalam dunia kedokteran. Mungkin Gustin akan menyelamatkan seluruh pasiennya tanpa membuat mereka merasakan dinginnya ruang operasi, dan tajamnya pisau bedah.
__ADS_1
"Aku telah mendapatkan ingatanku, ini malah menjadi bumerang untuk diriku sendiri. Aku tidak bisa memberitahu Yona bahwa ingatanku telah kembali namun penglihatanku malah memburuk," ucap Regan membuat Gustin Justavo terkejut.
Ini drama yang sering istrinya tonton, keajaiban dalam cinta, yang sangat tidak logis untuk dicerna oleh akal sehat. Bagaimana bisa Regan mendapatkan ingatannya dengan cepat?
"Bagaimana bisa?" Pertanyaan itu keluar dengan otomatis dari mulut Gustin Justavo.
"Aku juga tidak tahu, aku menyebutnya keajaiban. Kilasan-kilasan itu seperti berputar tanpa permisi di kepalaku. Bagaimana bisa aku harus tersiksa dengan perasaan ini?"
Regan tentu saja sangat tersiksa. Kalau boleh memilih, biarlah dirinya tidak mendapatkan kembali ingatannya agar perasaan yang membuncah di hatinya tidak semakin membuat dirinya hancur perlahan-lahan.
Apa yang akan Regan katakan kepada Yona? Kabar baik atau kabar buruk?
Gustin terdiam, menelaah apa yang harus dirinya lakukan sebagai seorang dokter.
"Aku memiliki solusi untukmu," ucap Gustin Justavo.
*
Tidak ingin melewatkan kesempatan, Yona meminta Olivia untuk mengajari dirinya resep membuat kue yang enak. Selama beberapa hari menginap di sana, Olivia menyajikan beberapa kue buatan tangannya sendiri untuk Yona maupun Regan.
"Kamu kenapa tidak belajar memasak dari Nadia? Dia juga pandai membuat kue beginian, lebih jago dari pada aku," ucap Olivia.
"Iya sudah, cuma Nadia kan jarang free. Paling cuma resep-resepnya aja sih yang di share. Praktiknya kan belum pernah, beda rasanya," jawab Yona.
Olivia tersenyum. "Regan pernah mencintai Nadia, kamu sudah tahu?" tanya Olivia penasaran.
"Kamu pikir aku tidak tahu? Mulut teman-teman Regan itu lebih lemes dari pada kita para wanita. Mana pernah mereka menyimpan rahasia dengan rapat," kekeh Yona membayangkan betapa lemesnya para lelaki itu.
Mereka berdua tertawa bersama. Olivia juga ingat benar bagaimana kelakuan-kelakuan para lelaki itu saat dia masih berada di Indonesia.
"Yona," panggil Regan membuat Yona menoleh.
__ADS_1
"Regan? Kamu sudah bertemu sama Gustin?" tanya Yona.
Regan mengangguk. "Kalian sedang buat apa?" tanya Regan menghampiri Yona dan Olivia.
"Ini mau buat kue, kamu harus mencobanya nanti. Kalau enak, aku mau buat toko kue biar kayak artis-artis Indonesia," kekeh Yona membuat Regan tersenyum.
Bagaimana bisa Regan melenyapkan senyuman itu dari wajah Yona.
"Dan kamu akan saingan dengan bakery milik mamanya Nadia?" tanya Regan balik.
"Astaga, Mama Sonia is the best Regan," jawab Olivia mengacungkan dua jempolnya kepada Regan.
Yona mencibir, sepertinya Olivia dan Regan meremehkan kemampuan marketingnya.
"Main tebak-tebakan yuk?" ajak Yona.
"Tebak-tebakan apa?"
Yona bepikir sejenak, wanita itu membalikkan badannya menatap Regan.
"Kue apa yang hanya kamu sukai?" tanya Yona membuat Olivia dan Regan menautkan kedua alisnya.
"Kue yang aku sukai? Kue legit? Kue cucur?"
Yona menyentil hidung mancung milik Regan.
"Bukan, jawabanmu salah," jawab Yona.
"Terus?" Kini Olivia dan Regan menatap Yona dengan penasaran.
Yona melipat kedua tangannya ke depan dada. Wanita itu tersenyum penuh arti menatap Regan.
__ADS_1
"Jawabannya, jeng jeng jeng ... kue mencintaimu," jawab Yona dengan matanya berbinar bahagia.