My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Percobaan Lamaran


__ADS_3

Lalu lalang para penumpang kapal pesiar yang lumayan banyak membuat suasana di kapal pesiar itu sangat ramai. Regan dan Yona memilih untuk mengecek kamar sebelum bergabung bersama para penumpang lainnya untuk menikmati aneka ragam kemewahan yang ditawarkan di sana.


Yona sejak tadi mendiamkan Regan, wanita itu sangat kesal saat Regan memuji wanita lain didepannya. Bagaimana perasaan Regan saat Yona memuji lelaki lain didepannya? Ataukah mungkin itu aksi balas dendam Regan saat Yona memuji mahasiswa lelaki itu?


“Kamu marah denganku?” tanya Regan menoleh ke arah Yona.


“Kenapa marah? Toh wanita itu lebih cantik diriku ke mana-mana,“ ucap Yona menyombongkan kecantikannya tanpa hasil operasi plastik maupun permakan lainnya.


Regan merangkul pinggang Yona, lelaki itu tanpa malu mencium pipi Yona dengan gemas.


“Aku hanya bercanda, kamu tercantik bagiku Yona,” jawab Regan membuat hati wanita itu menghangat.


“Benarkah?” tanya Yona memastikan.


“Mmm, setelah bundaku tentu saja,“ ujar Regan dengan senyuman gelinya.


Yona mendengus, wanita itu berhenti sejenak ketika menyadari bahwa dirinya dan Regan sejak tadi terus saja berkeliling dan belum juga menemukan kamar mereka.


“Tunggu, ini deck berapa?” tanya Yona kepada Regan.


Regan menatap sekelilingnya, lelaki itu menggelengkan kepalanya tanda bahwa dirinya juga tidak mengetahuinya. Regan langsung mengecek nomor kamarnya dan Yona yang berada di deck tujuh.


“Itu lantai tujuh naik satu lantai lagi,“ tunjuk Regan saat membaca petunjuk arah yang ada di sana.


Mereka berdua melanjutkan langkah kakinya menuju ke deck tujuh dimana kamar mereka berada. Yona menoleh sekilas ke arah Regan,


“Kita sampingan?” tanya Yona memastikan.


Ada perasaan takut dalam hatinya, karena ini pertama kalinya wanita itu berlayar dengan kapal pesiar di Benua Amerika. 


“Iya, ini kamarmu dan itu kamarku,“ tunjuk Regan menjelaskan kepada Yona.

__ADS_1


Regan merebut sea pass card milik Yona dan membuka kamar wanita itu dengan kartu serbaguna yang kini ada di tangan lelaki itu. Terlihat koper milik Yona sudah berada di kamar wanita itu dengan rapi tanpa lecet sedikitpun.


Yona mengecek seluruh kamarnya, fasilitas suite yang tidak jauh berbeda dari fasilitas hotel didarat pada umumnya. Bedanya, kamar suite ini berada didalam kapal pesiar dan akan berkeliling sesuai rutenya.


“Gilaaaaa, balkonnya,“ pekik Yona takjub karena terdapat balkon pribadi yang membuatnya leluasa menikmati pemandangan lautan lepas di depan sana.


Regan mendekat ke arah wanita itu, memeluk Yona dari belakang. Mencium aroma shampoo wanita itu dalam-dalam.


“Aku menunggu hari ini, menikmati keindahan dunia dengan ciptaan Tuhan terindah, kamu,” ucap Regan membuat dada Yona berdegup kencang.


Regan memutar tubuh Yona hingga menghadap kearahnya, lelaki itu mencium kening Yona.


“Aku ingin menghabiskan waktu denganmu, seumur hidupku,” lanjut Regan menatap Yona dalam-dalam.


Yona tidak bisa bernapas, tubuh wanita itu terasa terkunci oleh tatapan mata Regan yang menghanyutkan. Yona menatap Regan, terdapat kesungguhan di mata lelaki itu.


“Regan, ak-aku.“


Yona terhipnotis dengan tatapan lembut dan teduh lelaki itu, Yona tidak bisa mengelak apa yang ada dalam hatinya. Yona mencintai lelaki itu, dengan segala tingkah menyebalkan dan keusilan lelaki itu yang mewarnai kehidupannya sampai detik ini.


Krucukk, suara dalam perut Regan membuat ciuman mereka terhenti. Keduanya saling menatap dan tertawa geli.


“Jangan menertawaiku!“ keluh Regan merasa malu.


“Baiklah aku akan berhenti tertawa,“ kekeh Yona menggelengkan kepalanya geli melihat kelakuan aneh Regan yang tidak ada habisnya.


Lelaki itu bisa menempatkan diri dalam berbagai suasana, dia akan sangat serius dalam dunia pendidikan. Tapi begitu dia keluar dari ranah pekerjaannya, Regan terlihat berbeda dan juga menjadi pribadi yang sangat asyik. Awalnya Yona mengira Regan akan sedingin es membuat Yona terasa pusing dengan perbedaan diantara mereka berdua. Namun seiringnya berjalannya waktu, Yona terbiasa dengan sifat lelaki itu.


.


.

__ADS_1


Malam pun telah tiba, gemerlap lampu di kapal pesiar menambah kesan mewah di sana. Mala mini adalah malam yang ditunggu-tunggu semua penumpang, perayaan malam tahun baru dengan pesta kembang api diatas kapal pesiar yang kini berada di tengah-tengah lautan.


Wanita itu sudah siap dengan gaun hitam elegan pilihannya tanpa lengan dengan panjang sampai semata kaki yang ditambah resleting berwarna gold di samping kiri gaun itu sampai di atas lutut. Menampilkan kaki jenjang Yona yang sangat putih dan juga indah.


Rambutnya dia sanggul rapi dengan menyisakan poni samping yang membuatnya tampil elegan malam ini. 


Di samping kamarnya, Regan menatap pantulan dirinya dengan senyuman mengembang di wajahnya.


“Maukah kamu menikah denganku?” tanya Regan dengan cincin yang kini berada di tangannya.


Lelaki itu menatap ekspresi wajahnya sejenak.


“Tidak-tidak ini berlebihan,“ ucapnya mengoreksi ekpresi wajah dan gerak tubuhnya.


Regan berlutut. “Maukah kamu? Aishhh, sepertinya di film-film terlihat mudah. Kenapa aku sangat gugup,“ cibir Regan memukul dadanya yang gemetaran.


Lelaki itu menghela napasnya, mengatur napasnya baik-baik.


“Yona, will you marry me?” tanya Regan dengan tatapan serius seakan-akan Yona ada di depan matanya.


Regan berdecak kesal.


“Bodoh, kenapa memasang wajah memelas. Kamu sedang melamar wanita Regan, tersenyummmm!“ ucap Regan memaki dirinya sendiri seperti orang bodoh.


-----


Ya Gusti Pangerannnnn, Regan yang mau ngelamar Incess Yona kenapa authornya ikut deg-deg'an serasa author yang mau dilamarrrr 🤭🤭


Kalian setujuh nggak sehhh kalau Regan nglamar authornya? Wkwkwkwk #somplak 😄


Hati resah main ke Pantai Marina, ayo tebak jadikah Regan melamar Yona?? 🤭🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2