
"Hei jangan lupa tutup pintu dong, kalau Chiko lihat gimana?!" tegur Marva membuat aktivitas dua orang dewasa itu terhenti.
Yona merasa wajahnya panas karena aksi ciumannya dengan Regan tertangkap oleh kakaknya meskipun kakaknya tidak marah. Kakaknya justru meminta mereka untuk menutup pintu karena di rumah itu ada Machiko yang masih kecil.
Anak-anak terkadang cepat belajar dari apa yang mereka lihat. Maka dari itu Marva mewanti-wanti semua orang yang ada di rumahnya untuk menjaga sikap.
"Lanjutkan saja, kalau sudah selesai langsung gabung ke taman ya," ucap Marva menutup pintu kamar tamu itu dan terkekeh.
Marva memang sengaja membuat adiknya malu, Marva bisa saja menutup pintunya tanpa menghentikan aktivitas Yona dan Regan. Tapi bukan Marva namanya jika tidak mengganggu Yona saat adiknya berada didekatnya.
Yona berdiri, tapi tangannya dicekal oleh Regan.
"Mau ke mana?" tanya Regan menatap Yona dengan tatapan menggoda.
"Ke taman belakang lah," jawab Yona sangat gugup.
"Kan Kak Marva minta kita lanjutin," goda Regan mendapat pukulan maut dari Yona.
Yona melepaskan cekalan tangan Regan, wanita itu membuang wajahnya dari Regan.
"Kamu tidak ke taman?" tanya Yona saat Regan nampak menemukan kenyamanan di ranjangnya.
"Aku maunya ke hatimu," kata Regan merayu.
__ADS_1
"Ihhh bucin," ejek Yona bergidik ngeri.
Wanita itu meninggalkan Regan sendiri di sana, Yona melangkahkan kakinya menuju taman belakang untuk bergabung dengan keluarganya yang lain.
"Sudah selesai Yona?" tanya Marva saat melihat Yona berjalan kearah mereka.
"Selesai apanya Va?" tanya Shinta ingin tahu.
Marva menatap Yona, seakan bertanya pada adiknya haruskah dia menjawab pertanyaan sang mommy dengan jujur atau berbohong. Mata Yona mendelik taj kearah Marva, membuat Marva tertawa ditempatnya.
"Ya selesai mandi dong, Mom" jawab Marva merangkul lengan mommynya manja.
"Daddy manja ya Mom?" tanya Chiko terkikik bersama Ariana.
"Good boy, Aunty akan sampaikan salammu sama Queen," ucap Yona tersenyum.
"Regan, kamu hati-hati ya kalau nikah sama Yona."
Baik Yona maupun Regan menatap Marva penasaran, memangnya kenapa jika Regan menikah dengan Yona?
"Dia kadang masih ngompol," kekeh Marva membuat semua orang disana terbahak.
Regan tidak mampu menyembunyikan tawanya, lelaki itu sampai memegang perutnya yang terasa sakit karena tertawa keras dan tidak bisa berhenti. Sedangkan Yona hanya mendengus kesal dengan bercandaan yang keluar dari mulut kakaknya.
__ADS_1
Ahhhh, seandainya saja Marva bukan kakaknya mungkin Yona akan menendang lelaki itu ke planet Pluto.
"Siapa yang akan membakar ini?" tanya Hendra menunjuk beberapa sosis dan makanan bakaran lainnya yang masih tergeletak di sana.
"Yona dan Regan, Daddy," ucap Marva dan Ariana bersamaan.
Keduanya hanya menganga, Regan jauh-jauh dari Indonesia ke Inggris hanya dijadikan tukang bakar-bakar saja? Wah keterlaluan sekali kakaknya ini.
Regan dan Yona melakukan apa yang mereka mau, meskipun begitu dengan senang hati Regan melakukannya karena ada Yona di sampingnya.
"Hei, bagaimana dengan mahasiswamu?" tanya Yona.
"Kamu juga mahasiswaku Yona, tapi kamu suka bolos sih," jawab Regan membuat Yona menganga.
Benar juga sih, bodoh sekali Yona menanyakan hal seperti itu pada Regan.
"Iya maksudnya kamu liburkan?"
"Ada jam pengganti," ucap Regan.
Yona berdecak kesal, selalu saja lelaki itu meminta jam pengganti meskipun lelaki itu yang tidak bisa datang mengajar. Seharusnya jika dosen tidak bisa mengajar tidak perlu meminta jam ganti, kan salah dosen itu sendiri. Begitulah pemikiran Yona.
"Huh, dikit-dikit minta pengganti. Dasar dosen perhitungan!"
__ADS_1