
Yona langsung berdiri dari posisinya, dia meminta terapis yang menanganinya untuk segera memberikannya handuk bersih. Dia harus pergi segera dari tempat itu sebelum Regan datang kesana dan menyeretnya untuk menikah.
Demi apapun juga, Yona tidak pernah terpikirkan bahwa lelaki itu akan membelikan barang itu untuknya. Apalagi di tambah lingerie yang katanya akan digunakan Regan untuk hantaran pernikahan.
Yona bisa gila, meskipun dia tahu Regan lelaki yang baik dan tidak macam-macam, tapi rasanya Yona enggan menikah sebelum mereka benar-benar saling mencintai.
“Silahkan langsung saja ke kasir Ibu,“ ucap Terapis itu diangguki Yona.
Yona berjalan dengan cepat menuju kasir.
“Ada kartu membernya?” tanya kasir itu tersenyum ke arah Yona.
“Tidak ada, pakai cash,“ jawab Yona menundukkan kepalanya, mengawasi pintu masuk jika sewaktu-waktu Regan masuk ke dalam salon.
“Paket spa kelas satu, totalnya lima juta Ibu,“ jelas kasir itu dengan formal.
Yona mengambil dompet dari dalam tasnya, matanya terbelalak ketika uang cashnya di dalam sana hanya satu juta dua ratus. Yona menatap kasir itu dan tersenyum.
“Bisa pakai kartu?” tanya Yona.
Kasir itu mengangguk dan menyodorkan alat transaksi via kartu yang tersedia di salon mewah tersebut.
“Maaf Ibu, ada kartu lain?”
Alarm dalam diri Yona mulai aktif, kenapa dengan kartunya?
Yona mengangguk, dia mengeluarkan semua kartunya dari dalam dompet. Kasir itu mencoba semua kartu yang dimiliki Yona.
“Ada kartu lain lagi Ibu? Semua kartu sepertinya telah dibekukan,“ ucap Kasir itu sontak membuat Yona menganga tidak percaya.
Apa-apan ini? kenapa semua kartunya dibekukan. Yona selalu membayar tagihan kredit setiap bulannya. Bahkan kartu debitnya sendiri kenapa bisa dibekukan tiba-tiba?
__ADS_1
Yona memukul kepalanya, astaga bagaimana bisa Yona lupa kalau semua kartu debit dan creditnya dibekukan sang daddy karena dia memutuskan perjodohan dengan Regan sepihak dua hari lalu.
Ini semua gara-gara Regan, lelaki itu selalu membawa masalah baru dalam hidupnya. Yona kembali membongkar isi tasnya. Haish, sialan benar nasib Yona hari ini. Kenapa juga dia tidak membawa kartu debitnya sendiri?
Ingatan Yona kembali pada dompet hitam yang dia taruh di dalam laci kamarnya. Dompet card khusus beberapa kartu pribadinya. Dan, semua itu tidak Yona bawa hari ini. Astaga, ceroboh sekali Yona ini. Bisa malu dia kalau sampai meninggalkan barang berharganya di sana untuk membayar tagihan.
“Mbak mengenal saya kan, saya Yona Anantasya William,“ jelas Yona yang merasa tidak nyaman dengan pandangan para pekerja di sana.
Kasir itu mengangguk. “Di salon kami semua bayar di tempat Ibu, kecuali mereka yang sudah terdaftar di member VIP kami baru memakai tagihan kredit,“ jelas kasir itu.
Yona mengeluarkan ponselnya, dia segera menghubungi Regan yang sejak tadi bilang akan menyusulnya ke salon tersebut. Kali ini Yona sangat membutuhkan Regan.
“Cepat datang kemari!” bisik Yona di telepon membuat Regan yang tengah asyik dengan ice creamnya menaikkan satu alisnya.
“Apa lagi? Menggosok punggungmu?” kesal Regan karena menunggu Yona di kedai ice cream sudah dua puluh menit namun wanita itu tidak kunjung datang.
“Sudahlah ke mari, ini penting, darurat!“ ucap Yona dengan nada harap-harap cemas.
“Lupakan ice creammu, datang kemari sekarang juga!“ ucap Yona setengah berteriak saking kesalnya.
Ini kondisi yang memalukan dan juga sangat-sangat darurat. Tapi Regan malah asyik dengan ice creamnya daripada menyusul Yona.
“Maaf Pak, salon kami khusus wanita,“ ucap terapis di.sana ketika Regan masuk.
Regan menunjukkan satu kartu, terapis itu mengangguk mengerti.
“Dia tunangan saya, ke mari sayang,“ ucap Yona menggandeng Regan dengan manja.
Regan merasa ada sesuatu buruk yang telah terjadi, jika tidak mana mungkin wanita itu akan berubah menjadi selembut tepung seperti sekarang.
“Kamu membuat ulah apa?” tanya Regan berbisik.
__ADS_1
“Aku tidak punya uang cash, bayarkan tagihanku dulu,“ bisik Yona, melupakan ego dan harga dirinya yang telah dia junjung tinggi.
Tiba-tiba Rehan terbahak. “Jadi itu alasanmu mengakuiku sebagai tunangan? Seharusnya aku tidak datang ke mari,“ ucap Regan.
Yona bergelayut manja di lengan kokoh lelaki itu, mengedipkan matanya.
“Pleaseee,“ bisik Yona, tidak ingin semua orang disana berbicara buruk tentang dirinya.
Kasak-kusuk pengunjung lainnya yang baru saja selesai perawatan ketika melihat Yona membuat Yona menunduk.
“Ayolahh, mereka bisa berbicara buruk denganku,“ rengek Yona.
“Ada syaratnya.“
Mata Yona menyipit, rasanya Regan tidak ingin menolong Yona begitu saja. Selalu ada berbagai macam cara lelaki itu untuk membuat Yona merasa susah maupun kesulitan.
“Apa itu?” tanya Yona menatap manik mata Regan.
“Kita pikirkan nanti,“ ucap Regan melepaskan tangan Yona dari lengannya.
Lelaki itu menyodorkan kartu debitnya.
“Terimakasih sudah datang ke salon kami, kami tunggu kedatangannya lain kali,“ ucap kasir itu tersenyum.
Yona mendengus, dengannya saja cara bicara kasir itu sangat kasar, tapi dengan Regan dia bisa tersenyum selebar itu.
“Dasar kasir tidak professional, denganku saja dia judes, dengan lelaki tampan dia tersenyum sampai mulutnya mau robek,“ keluh Yona marah.
“Siapa lelaki tampan itu?” tanya Regan mengulum senyumnya
“Kau! Puas?” jawab Yona menghentakkan kakinya kesal.
__ADS_1