My Sweet Dosen

My Sweet Dosen
Percobaan Pembunuhan


__ADS_3

"Yona Anantasya William, putri bungsu pengusaha Hendra William berpontensi menjadi tersangka percobaan pembunuhan yang dilakukan sebagai upaya pembelaan dirinya."


Berita menyebar luas ke seluruh pelosok negeri dan menjadi berita hangat yang layak untuk mereka kupas lebih rinci lagi. Banyak yang memprotes apa yang pihak penyidik simpulkan dalam kasus yang menjerat Yona.


Siapapun pasti akan bersikap yang sama jika mereka ada pada posisi Yona. Dirampok oleh orang yang ingin mereka tolong, dan hampir ditusuk oleh pisau. Tentu saja Yona memilih untuk mencari cara menyelamatkan Regan. Bahkan, kalaupun yang bersamanya bukan Regan dia akan tetap melakukan hal yang sama.


Apakah tidak lucu, itu upaya pembelaan diri Yona. Dan penyidik juga sudah mendapatkan keterangan dari Yona dan salah satu pelaku yang sudah ditangkap. Keterangan mereka bahkan sama persis dan bisa dipertanggung jawabkan secara hukum.


Ada apa ini? Kenapa rasanya ada yang bermain dengan kasus Yona? Siapa dalang dibalik kasus perampokan Yona sehingga terjadi kasus lainnya yang sangat tidak mereka duga sebelumnya.


Semua orang awam pasti tahu, itu upaya perlindungan diri Yona demi menyelamatkan Regan yang saat itu hampir saja ditusuk pisau oleh pelaku yang bernama Nardi dan berakhir dengan hantaman linggis di kepala pelaku itu yang Yona lakukan secara spontan karena keadaan.


Rasanya sangat tidak mungkin dan tidak adil jika Yona berpotensi menjadi tersangka padahal dirinya hanya berusaha membela dirinya dan Regan. Apakah Yona harus membiarkan calon tunangannya ditusuk pisau dan membiarkan mobil Regan beserta barang-barang berharga mereka diambil paksa oleh para perampok?


Jadi, apakah orang-orang yang terkena musibah seperti itu tidak boleh melawan dan dibiarkan begitu saja? Apakah lebih baik mereka yang mati daripada membela diri mereka sendiri?


Wanita yang mereka beritakan baru saja diperbolehkan pulang oleh dokter yang merawatnya. Kini perawat yang ditugaskan untuk merawat Yona tengah melepaskan infus yang tertancap di tangan wanita itu.


Shinta menunggu kedatangan suaminya dengan cemas. Dari balkon kamar ruang rawat Yona, dia melihat banyak wartawan dan awak media yang rupanya tengah menantikan moment saat Yona keluar dari rumah sakit dan mewawancarai dirinya sebagai bentuk obat penasaran publik yang sampai sekarang belum mendapatkan kejelasan berita dari Yona maupun kuasa hukum wanita itu.


"Mereka masih ada di luar?" tanya Yona kepada mommynya.


Shinta mengangguk, sepertinya hampir 24 jam mereka menunggu dibawah sana karena tidak mendapatkan akses masuk untuk kedalam rumah sakit apalagi naik ke lantai empat tempat Yona dan Regan di rawat.


Lagi pula, keluarga William telah menugaskan para bodyguard di depan lift lantai empat dan juga di tangga darurat di sana untuk mengantisipasi para awak media yang menyamar dan masuk ke dalam ruang rawat Yona.


Dengan perlahan, Yona mendekat kearah balkon. Kali ini, rasa gugup yang menyergapnya melebihi rasa gugupnya saat dirinya ketahuan berkencan dengan salah satu aktor Perancis. Yona benar-benar merasakan ketakutan dalam hatinya.


Wanita itu meremas dress selutut yang dia pakai. Membayangkan jika dirinya akan ditetapkan sebagai tersangka atas upaya pembelaan dirinya membuat Yona sangat gugup.


"Para awak media di Negara manapun sama saja, mereka sangat kukuh dengan niat mereka," ucap Yona disetujui sang mommy.


"Sepertinya, setelah kita berhasil membawamu keluar dari sini dan pulang ke rumah, kamu tidak bisa keluar untuk menjenguk Regan," kata Shinta mengamati situasi yang kini tengah terjadi.


Regan telah dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar di pusat Kota Bandung. Dan parahnya, Lili seperti konsisten dengan ucapannya untuk tidak membiarkan Yona mendekati putranya kembali.


Yona menatap langit mendung di sana, suasana mendung yang sama seperti hatinya saat ini. Yona sangat paham, kenapa Lili sampai berubah sikap kepadanya. Itu semua karena Lili sangat menyayangi Regan sebagai anak mereka satu-satunya, anak semata wayang mereka.


Yona hanya sadar diri untuk situasi yang kini tengah terjadi. Yona tidak akan memperkeruh suasana dengan memaksa menemui Regan. Wanita itu hanya berdoa, agar Regan selalu siuman. Lagi pula, Septian selaku ayah Regan selalu mengirimkan pesan berisi kondisi terbaru Regan kepada Yona.


Hanya gambar yang ayah Regan kirimkan yang bisa mengobati keresahan hati Yona kepada lelaki itu.


"Regan belum sadar juga Mom?" tanya Yona kepada mommynya.


Shinta menghela napasnya panjang, seakan memberi pertanda kepada Yona bahwa kondisi Regan masih tetap sama seperti terakhir kali. Padahal tanda vital lelaki itu sudah stabil, tapi entahlah mengapa lelaki itu tidak kunjung membuka matanya dan menjadi saksi dalam kasus yang kini membelit Yona.


"Kita doakan saja, Regan pasti akan segera sadar secepatnya," jawab Shinta mengelus kepala Yona.


Mereka telah terlanjur memesan segalanya untuk pertunangan mereka. Bahkan segala dekorasi yang akan mereka gunakan sudah siap dan tinggal menunggu hari untuk dipasang. Begitu juga souvenir dan baju yang akan mereka gunakan dalam pertunangan.


"Sepertinya pertunangan ini akan benar-benar batal," lirih Yona tersenyum kecut.


"Tidak apa Sayang, mungkin Tuhan punya rencana lain untuk kalian. Souvenir kan bisa kita simpan untuk acara kalian lain kali. Begitu juga gaun dan jas yang kita pesan pada Nadia," ucap Shinta memberikan semangat kepada putrinya.


Lain kali? Apakah kisah cintanya dan Regan akan tetap berlanjut jika Lili menjadi penghalang karena menganggap Yona biang masalah di hidup putranya? Regan tentu saja tidak akan menentang ibu yang melahirkannya karena perasaan cintanya kepada Yona.


Dan lagi, Regan belum tersadar dari komanya. Yona hanya menunggu lelaki itu bangun untuk menyelesaikan segalanya yang tengah terjadi pada dirinya. 

__ADS_1


"Mobilnya sudah siap," ucap seseorang membuka pintu ruang rawat Yona.


Hendra berdiri di sana, menatap istri dan putrinya lekat. Lelaki itu menghampiri kedua wanita yang sangat berharga bagi dirinya. Hendra meminta bodyguard mereka untuk membawa barang-barang Yona masuk kedalam mobil lebih dahulu.


"Bawa barang-barang masuk ke mobil lebih dulu," kata Hendra.


"Baik Pak," jawab mereka membawa tas berisi baju ganti Yona selama dua hari menginap di rumah sakit.


Hendra dan Shinta menutup akses para penjenguk yang ingin menjenguk Yona. Mereka berdua beranggapan jika Yona butuh ruang dan waktu untuk beristirahat, mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya.


Ditambah lagi, semua penjenguk pasti akan bertanya hal yang sama tentang bagaimana kejadian itu bisa terjadi. Semua itu pasti akan membuat Yona tertekan dan merasa sedih dibuatnya karena menceritakan kejadian yang sangat membekas dalam hidupnya secara berulang-ulang kepada orang-orang yang berbeda.


"Ayo kita pulang ke rumah, semua administrasi sudah Daddy urus," ucap Hendra kepada putrinya.


Mereka menggandeng Yona seperti dulu ketika Yona masih kecil.


"Ini pertama kalinya kita bergandengan tangan seperti ini setelah kamu dewasa," beo Hendra tersenyum lembut kepada putrinya.


Meskipun Hendra sangat kerasa kepada anak-anak mereka, tapi Hendra tetaplah ayah yang sangat sayang kepada anak-anaknya. Selayaknya ayah pada umumnya, Hendra selalu mengasihi kedua anaknya dengan caranya sendiri.


"Iya, Mommy baru sadar sekarang," kekeh Shinta membayangkan putrinya yang dulu hanya setinggi perutnya kini  tumbuh setinggi Yona dan menjadi wanita cantik yang di idolakan oleh banyak orang walaupun sudah melepaskan segala hal yang berhubungan dengan dunia modeling yang membesarkan namanya.


"Gimana kalau nanti kita ke pasar malam alun-alun Bandung?" tanya Yona dengan tertawa kecil.


Mereka bertiga tertawa didalam lift yang akan membawa mereka ke lantai basement. Pasar malam alun-alun Bandung adalah pasar malam yang menjadi kesukaan Yona dimasa kecilnya. Pasar malam yang sangat ramai dengan aneka makanan dan juga permainan khas anak-anak kecil.


Bahkan Yona pernah hilang di pasar malam itu karena mengikuti pengamen angklung dan dengan pintarnya Yona mendatangi salah satu polisi yang selalu berjaga di sana untuk meminta bantuan.


"Mommy tidak menyangka, dulu waktu kamu hilang kamu bisa seberani itu minta tolong sama polisi di sana," ucap Shinta mengingat kilas masa kecil Yona.


"Terserah kalian saja," sahut Yona memutar bola matanya kesal mendengar orang tuanya yang selalu saja berebut klaim tentang hal baik pada diri Yona.


Mereka tertawa di sana, hingga lift yang mereka tumpangi telah terbuka dan mereka sudah sampai di lantai basement.


Shinta menuntun Yona memasuki mobil mereka. Hendra dan Shinta menaiki mobil lain yang akan pertama keluar dari basement untuk mengecoh para wartawan dan awak media yang tengah menantikan kedatangan mereka.


Sesuai rencana, Hendra keluar lebih dulu dari basement dengan Shinta bersamanya. Melihat mobil mewah milik keluarga William sontak saja para wartawan dan awak media berlari mengerubungi mobil mereka.


Disisi lain, sopir keluarga mereka membawa Yona keluar lewat pintu masuk dengan penjagaan ketat bodyguard yang telah keluarga William sewa untuk mengawal kepulangan Yona ke rumah utama.


"Bapak yakin tidak ada wartawan dan awak media yang mengikuti kita?" tanya Yona kepada sopir keluarganya yang sudah lama bekerja dengan mereka.


"Iya Non, Bapak sudah memberikan pengawalan ketat untuk kita," jelas sopir keluarganya membuat Yona merasakan lega yang luar biasa di dalam hatinya.


Wanita itu menurunkan sedikit kaca mobilnya, menghirup udara segar Kota Bandung yang dua hari ini tidak bisa dia nikmati karena berada didalam rumah sakit. Pandangan wanita itu terfokus pada layar LED yang ada disamping lampu lalu lintas, di sana muncul berita yang menayangkan kasusnya.


Rupanya kasus yang menimpa Yona telah menyita perhatian publik. Itu artinya masyarakat pasti akan menaruh simpati kepada Yona dan Regan. Mungkin saja, itu menjadi keuntungan bagi Yona dalam argumen hukumnya nanti demi menghapuskan tuduhan para penyidik kepada dirinya karena sama sekali tidak berdasar.


"Apakah beritanya sudah seviral itu, Mang?" tanya Yona kepada sang sopir.


"Iya Non, semua orang membicarakan kasus Non Yona dan Mas Regan. Mereka kasihan sama Non Yona dan Mas Regan," jawab sopir keluarga Yona.


Warga di tempatnya tinggal, semua membicarakan berita yang tengah menyeret nama anak majikannya. 


"Mungkin ini bisa menguntungkanku nanti," gumam Yona kepada dirinya sendiri.


Mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki kawasan rumah utama keluarga William. Ada beberapa penjaga di sana yang menghalau para wartawan yang ingin masuk ke sana.

__ADS_1


Mobil mereka sudah sukses memasuki rumah utama keluarga William dengan penjagaan ketat di gerbang dan juga beberapa yang ditugaskan berpencar mengelilingi rumah mereka.


Bukannya berlebihan atau apa, keluarga William hanya takut para awak media dan wartawan datang sebelum Yona siap dengan berodongan pertanyaan dari mereka.


Takutnya, ada beberapa pihak yang sengaja mengajukan pertanyaan yang nantinya akan menyudutkan Yona.


Yona keluar dari mobil setelah sopirnya membukakan pintu untuknya. Wanita itu menatap ke depan sana dimana terlihat beberapa wartawan ada didepan gerbang rumah mereka meskipun mereka tidak bisa masuk.


"Terlihat mobil yang membawa Yona AW memasuki rumahnya. Para awak media disini masih menantikan Yona AW untuk berkenan memberikan klarifikasi atas kasus yang tengah melibatkan namanya. Sekian laporan dari saya Majendra MNTI."


Seseorang keluar dari rumah Yona, kening Yona berkerut melihat kuasa hukumnya berada di sana.


"Kamu sudah pulang?" Tanya lelaki itu dengan informal membuat Yona menatapnya bingung.


Yona menoleh kebelakang, siapa tahu lelaki itu mengajukan pertanyaan kepada orang lain. Namun tidak ada siapapun di sana selain dirinya dan para bodyguard di tempat itu.


"Kamu bicara denganku? Dengan bahasa formal?" tanya Yona tidak percaya.


Lelaki itu mengangguk, dia menyerahkan selembar kertas kepada Yona.


"Kurasa kamu pintar membaca naskah seperti ini saat kamu shooting iklan. Jadi, hafalkan dan kita lakukan klarifikasi," ucap pengacara itu kepada Yona.


"Sebentar, bukannya ini tugas kamu untuk mengurus semuanya?" tanya Yona tidak menyangka dengan kuasa hukum yang telah daddynya sewa untuknya.


"Kamu mau semua masyarakat menaruh simpati kepadamu atau tidak? Keluarga perampok yang kamu pukul kepalanya melayangkan gugatan kepadamu."


"Apaaa???" pekik Yona dengan matanya terbelalak.


Berani-beraninya mereka melayangkan gugatan kepada Yona sedangkan Yona hanya melakukan upaya perlindungan diri sebelum perampok itu menusuk Regan dengan pisau yang saat itu perampok bawa.


"Kita tuntut balik mereka," jawab Yona menggebu-gebu membuat pengacaranya menggelengkan kepalanya.


"Bukan begitu cara berperang yang sesungguhnya," katanya mendengus.


Yona menyerngitkan keningnya, rasanya Yona tidak asing dengan wajah lelaki itu. Dan juga, cara bicara lelaki itu sangat informal dan terlihat sangat santai seperti telah mengenal Yona sangat lama.


"Kamu, siapa?" tanya Yona penasaran.


"Hah? Kamu masih sakit? Aku kuasa hukum yang menangani kasusmu," ucap pengacara itu menatap Yona bingung.


Yona menggeleng. "Bukan itu maksudku, siapa namamu?" tanya Yona dengan penasaran.


"Ricki Stevano," jawabnya membuat mata Yona melebar sempurna.


"Kamu anaknya Uncle Stevan bukan?" pekik Yona tidak menyangka bertemu dengan sepupu jauhnya yang katanya membuka kantor advokad di luar negeri.


"Baru mengingatku huhh?" ejek Ricki membuat Yona menepuk punggungnya dan terkekeh.


Tiba-tiba saja ada lelaki yang melompat turun dari tembok samping rumah keluarga William dan berlari masuk ke arah Yona.


"Yona AW, benarkah anda melakukan percobaan pembunuhan terhadap tersangka kasus perampokan yang seharusnya anda sebagai saksi korbannya?" tanya wartawan yang menerobos masuk.


Sontak saja Yona menutup wajahnya dengan rambutnya yang kini tergerai. Para pengawal langsung berlari mengerubungi Yona dan mengantarkan wanita itu masuk kedalam rumah.


"Yona, apakah anda sengaja melakukannya?" teriak wartawan itu meskipun para penjaga mencegatnya.


"Segala gambar, foto maupun video yang direkam dan disebarkan tanpa izin akan saya tuntut di muka pengadilan," ucap Ricki memberikan wartawan itu ultimatum sebagai kuasa hukum dari Yona.

__ADS_1


__ADS_2