
Regan segera melajukan mobilnya menuju ke rumah keluarga William. Dari ekspresi wajah Yona nampak jelas bahwa wanita itu tengah salah sangka terhadap dirinya.
“Sial! Sial!“ umpat Regan membayangkan jika Yona akan marah besar kepadanya dan berakhir dengan pembatalan perjodohan mereka berdua.
Kenapa Maisha harus membukakan pintu untuk Yona. Seharusnya adik sepupunya itu menunggu sampai Regan selesai mandi agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti itu pada hubungannya dan Yona.
Regan terpaksa memberhentikan mobilnya saat jalan didepannya diberi garis polisi dengan penjagaan ketat kepolisian.
“Ada apa ini Pak?” tanya Regan membuka jendela mobilnya, bertanya kepada salah satu pengendara motor di sana.
“Tadi ada mobil dari arah sini hilang kendali,“ jelas bapak itu kepada Regan.
Hilang kendali? Mobil dari arah jalan rumahnya?
“Korbannya?” tanya Regan.
“Wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun,“ jawab polisi itu.
Mata Regan terbelalak, lelaki itu langsung turun dari mobilnya untuk kearah TKP. Regan menerjang masuk ke garis polisi hingga membuat beberapa polisi mengikutinya.
“Maaf Mas, selain petugas dilarang masuk,“ ucap petugas polisi itu kepada Regan.
“Minggir,“ teriak Regan dibuat kalang kabut atas pemikirannya jika Yona lah pengendara mobilnya.
__ADS_1
Regan menerobos masuk, helaan napas leganya keluar begitu matanya melihat itu bukan mobil milik Yona.
“Syukurlah bukan kamu,“ gumam Regan mengusap wajahnya frustasi.
Para polisi yang berjaga disana menarik tangan Regan untuk meninggalkan TKP.
“Maafkan saya, saya kira itu tunangan saya,“ ucap Regan meminta maaf karena telah membuat kegaduhan dengan menerobos masuk kesana.
“Makanya Mas kalau punya tunangan dijaga baik-baik,“ ucap polisi itu tersenyum memaklumi apa yang Regan lakukan hanya sebatas khawatir jika itu mobil tunangannya.
Regan tidak bisa berpikir jernih, yang Regan pikirkan saat itu hanya melihat dengan mata kepalanya sendiri jika itu bukan Yonanya, wanita yang telah memiliki suatu tempat di hati lelaki itu.
“Kalau begitu saya permisi Pak, sekali lagi saya mohon maaf,“ ucap Regan.
Regan langsung berputar arah mencari jalan lain untuk menuju rumah Yona. Lelaki itu menancapkan gasnya kencang berharap bisa cepat sampai dirumah wanita itu dan menjelaskan semuanya yang telah terjadi.
Bahwa semua itu bukan seperti apa yang Yona pikirkan, Regan tidak pernah sekalipun berpikir tentang wanita lain sejak hatinya di penuhi tentang Yona disana.
Cittttttt… Regan segera keluar dari mobilnya, lelaki itu berlari kearah pintu utama rumah keluarga William dengan tidak sabar.
Regan menekan tombol bel berkali-kali, tak hanya itu Regan pun menggedor dengan sangat kencang berharap seseorang membukakan pintu untuknya.
“Den Regan?”
__ADS_1
Salah satu pelayan rumah keluarga William keluar, wanita paruh baya itu membukakan pintu untuk Regan.
Yona ada di dalam Bik?” tanya Regan celingukan mencari sosok itu di luar sana.
“Tidak ada orang Den, Tuan dan Nyonya juga ikut pergi.“
“Sampai kapan katanya Bi?” tanya Regan penasaran.
“Ya lama to Den, kan ke luar negeri,“ sahut asisten rumah Yona.
Mata Regan terbelalak. Ke luar negeri? Kenapa begitu tiba-tiba seperti itu?
“Ke luar negeri, ke mana memangnya Yona dan keluarganya pergi Bik?” Regan terlihat begitu frustasi.
“Ke Inggris, Den,“ jawab asisten rumah tangga keluarga William sontak membuat Regan lemas di tempatnya.
Apa alasan Yona dan keluarganya tiba-tiba keluar negeri? Padahal Yona tidak mengatakan apapun pagi tadi saat Regan mengantarkannya pulang. Dan juga, dengan kedatangan Yona ke rumahnya dalam waktu sesingkat itu tidak mungkin jika Yona sempat mengantarkan makanan ke rumahnya.
Ataukah terjadi sesuatu dengan keluarga William atau anak perusahaan mereka di sana? Jika benar, seharusnya Yona tidak ikut serta mereka ke sana.
“Ke Bandara mana Bi?” tanya Regan.
“Mereka naik jett pribadi,“ jawab wanita paruh baya itu seakan menutup kemungkinan kalau Regan bisa menemukan Yona.
__ADS_1
Mungkinkah Yona sengaja pergi meninggalkannya? Batin Regan terasa sakit membayangkannya.