
Pembicaraan antara ayah dari Olivia dengan sang suami pada akhirnya tak terelakkan. Kedua lelaki yang sama-sama penting bagi Olivia kini tengah saling menatap dalam diam. Saat ini mereka berada dalam ruangan pribadi Dokter Ozan, berusaha membicarakan titik terang dalam peliknya permasalahan keluarga mereka.
Olivia, menjadi alasan bagi keduanya berada di dalam ruangan itu.
“Sekarang jelaskan, bagaimana bisa itu terjadi,” tanya Dokter Ozan kepada Gustin Justavo.
Gustin menatap ayah dari istrinya, tidak ada ketakutan sama sekali dalam mata lelaki itu. Menurut Gustin, semua yang telah dia lakukan harus dia pertanggung jawabkan apapun yang terjadi.
“Jantung siapa yang ada pada diri Melodi?” tanya Dokter Ozan lagi.
Terasa sangat membingungkan, Gustin benar-benar rapi dalam menjalankan pekerjaannya. Bahkan Dokter Ozan sampai tidak habis pikir kalau putrinya sebenarnya masih hidup dan kini malah menikah dengan Gustin Justavo, pelaku malpraktik yang menyebabkan segala permasalahan ini terjadi.
“Jantung yang ada pada tubuh Melodi adalah jantung orang lain yang aku ambil dari rumah sakit pusat jantung sebelum operasi yang kita lakukan pada Olivia,” jelas Gustin Justavo kepada ayah dari Olivia.
Dokter Ozan menghela napasnya panjang. “Tidakkah kau tahu bahaya penggunaan cairan itu sampai kamu menjadikan Olivia kelinci percobaan?” Dokter Ozan kini menatap Gustin Justavo dengan sorot matanya dingin.
“Bahkan kalau saya harus menukar nyawa saya untuk Olivia saat itu, saya juga bersedia, Dokter Ozan. Tanganku gemetar setiap kali memeriksa tubuh Olivia yang kala itu semakin lemah,” ucap Gustin Justavo tanpa kenal takut.
“Kamu menjauhkan seorang anak dari keluarganya, dan seorang kakak dari adiknya,” tegas Dokter Ozan.
“Tidak, aku tidak merasa menjauhkan Olivia dari siapapun. Hubungan yang terjalin antara Rehan dan Melodi lah penyebab utama Olivia tidak ingin kembali ke Indonesia. Olivia tidak ingin merusak segala hal yang terlanjur terbentuk,” jelas Gustin Justavo membela dirinya.
Memang benar, Olivia sendiri yang memutuskan enggan kembali ke Indonesia ketika mendapatkan kabar bahwa Rehan dan Melodi menjalin hubungan serius. Tidak ingin menjadi perusak suasana, dan tidak ingin menjadi kesakitan bagi semua orang.
Apa yang Olivia dapatkan ketika dirinya tiba-tiba kembali ke Indonesia. Meninggalkan Gustin Justavo yang telah melakukan banyak hal untuk dirinya, lalu menghancurkan cinta yang telah terjalin antara Rehan dan juga Melodi. Olivia tidak sejahat itu, Olivia tak akan mampu membuat segalanya menjadi runyam hanya untuk mendapatkan apa yang telah menjadi miliknya sejak awal.
Itulah mengapa, Olivia selalu berpura-pura tidak mengingat apapun yang telah terjadi sampai pertemuannya dengan Yona dan Regan yang mendesaknya untuk segera kembali ke tanah airnya, bertemu dengan keluarga yang begitu merindukan Olivia.
“Kau sudah menikahi putriku? Dengan identitas siapa?” tanya Dokter Ozan menatap Gustin Justavo mengejek.
“Saya telah mendaftarkan identitas Olivia sebagai warga negara asing yang menetap di Singapura,” jawab Gustin Justavo.
Dokter Ozan tertawa sumbang, bahkan segala hal telah Gustin Justavo rancang begitu bersih dan rapi sampai-sampai mereka tertipu selama lima tahun terakhir ini.
“Lalu jika niatmu menyembunyikan putriku, untuk apa kamu membawanya ke mari? Apa niatmu sebenarnya!”
Kini pandangan mereka beradu, Dokter Ozan menatap suami dari putrinya dengan tatapan menusuk.
“Saya ingin Olivia bahagia, dia ingin bertemu dengan keluarganya.” Gustin Justavo menghirup napas di sekitarnya, lalu menghembuskannya perlahan.
“Tidakkah kau tahu, kedatanganmu ke mari tentu membawa banyak keterkejutan untuk keluargaku. Mendengar dirimu menjadi pelaku permasalahan ini, bagaimana mungkin dirimu yakin kami akan membiarkan Olivia terus menjadi istri dari lelaki sepertimu, Dokter Gustin Justavo,” kata Dokter Ozan membuat Gustin Justavo kehilangan pasokan udara dalam paru-parunya.
Tiba-tiba lelaki itu terkekeh, mengusap wajahnya dengan kalut.
__ADS_1
“Anda pasti bisa melihat, betapa bahagianya Olivia ketika bersama dengan saya. Maka dari itu saya yakin, Anda ayah yang baik tak akan membuat putrinya menjadi sedih karena perceraian,” jawab Gustin Justavo, memberanikan diri menatap ayah mertuanya.
Ayah mertua? Bolehkah Gustin Justavo memanggil Dokter Ozan sebagai ayah mertuanya? Bukankah lelaki itu adalah ayah dari istrinya?
“Saya mohon, restui pernikahan kami. Saya tidak bisa hidup tanpa Olivia,” lirih Gustin Justavo memohon penuh harap.
“Merestui pernikahan penuh kebohongan? Bahkan pernikahan kalian saja tidak sah di mata agama dan negara jika aku membongkar identitas putriku di negaramu!” sentak Dokter Ozan menatap suami dari putrinya dengan mengejek.
Sepertinya perbincangan di antara mereka berjalan begitu alot. Dokter Ozan terlihat jelas tidak menyukai Gustin Justavo setelah mendengar segala kebenaran dari mulut lelaki itu.
“Saya mencintainya, saya juga telah bersumpah untuk menjaga dan menemani Olivia di setiap saat dalam hidupnya,” ucap Gustin Justavo. Lelaki itu menatap Ozan, lalu melanjutkan kalimatnya. “Semoga Ayah Mertua merestui kami,” lanjut Gustin Justavo, membungkukkan badannya kemudian berjalan keluar dari ruangan pribadi milik Dokter Ozan. Meninggalkan ayah mertuanya dengan berbagai pemikiran berkecambuk dalam benak lelaki itu.
Gustin Justavo terlihat begitu haru menatap pemandangan yang kini ada di depannya. Ibu mertuanya memeluk istrinya dengan begitu erat, menjadi pemandangan paling menakjubkan bagi Gustin Justavo saat ini.
Syukurlah jika ibu mertua sudah bisa menerima kepulangan Olivia dalam pelukan mereka. Kini Gustin Justavo berjalan ke arah Regan, mengutarakan niatnya untuk menginap saja di rumah lelaki itu.
Rasanya tidak mungkin kalau Gustin Justavo tetap menginap di rumah keluarga William seorang diri, sedangkan Yona masih single. Takut terjadi prasangka buruk yang bisa meretakkan hubungan semua orang di sana.
Olivia menghampiri suaminya, terlihat jelas betapa Olivia begitu tidak mampu jauh dari Gustin Justavo, suaminya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Olivia menatap suaminya penuh tanya.
Gustin Justavo tersenyum lembut, mengelus puncak kepala istrinya penuh kasih sayang. Dan semua itu kini dipantau oleh Dokter Ozan dan juga Bella yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdua.
“Kamu pasti merindukan keluargamu kan? Lebih baik kamu menginap di sini,” jelas Gustin Justavo kepada Olivia.
Gustin memberikan pengertian kepada Olivia jika wanita itu juga butuh family time dengan keluarganya setelah berpisah bertahun-tahun lamanya.
“Saya pamit dulu, Ayah, Bunda,” ucap Gustin Justavo berpamitan, mencium tangan kedua orang tua Olivia dengan sopan, mengikuti adat tradisi warga negara Indonesia.
Tatapan mata Olivia berubah menjadi penuh kekhawatiran.
“Gus-“
Suara Olivia terhenti karena sang ayah mengintrupsi suaranya.
“Dokter Gustin, bukankah ini juga rumahmu?” tanya Dokter Ozan membuat Gustin Justavo menghentikan langkahnya.
Yona dan Regan saling menatap, mereka mengulum senyumnya. Sepertinya kabar baik sebentar lagi akan mereka dengar, restu yang mungkin akan diberikan orang tua Olivia atas pernikahan keduanya.
Olivia tersenyum bahagia, Gustin Justavo membalikkan badannya menatap seluruh keluarga Olivia dengan lekat. Bisakah kalimat yang diucapkan Dokter Ozan dia artikan sebagai kalimat restu untuk pernikahannya dengan Olivia.
“Sepertinya tugas kita sudah selesai,” ucap Yona merasa lega.
__ADS_1
“Tidak, tugas kita belum selesai,” jawab Regan membuat Yona menoleh ke arah lelaki itu. Menatapnya penuh tanya, menunggu kalimat selanjutnya. “Tugas kita kan membina keluarga yang sakinah, mawadah, waromah,” lanjut Regan mengedipkan matanya menggoda.
Yona tersipu malu, dengan cepat wanita itu mendaratkan cubitan di perut Regan hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.
Bella berjalan ke arah Gustin Justavo, menarik tangan menantunya untuk mendekat ke arahnya.
“Maafkan Bunda, menyambutmu dengan seadanya. Selamat datang di rumah keluargamu,” ucap Bella terharu, meraih tangan Olivia menyatukannya dengan tangan Gustin Justavo.
Wanita itu berdoa, berterimakasih kepada Tuhan karena telah diberikan mukjizat yang sungguh luar biasa menakjubkan. Tidak ada yang bisa Bella lakukan selain mengucapkan rasa syukur atas kebahagiaan yang hari ini dia terima secara tunai.
“Terimakasih, sudah merawat dan menjaga Olivia kami. Terimakasih karena sudah membawanya kembali kepada kami,” isakan haru lolos dari mulut Bella.
Kini Olivia dan Gustin Justavo memeluk wanita itu dengan erat. Hembusan napas lega akhirnya keluar dari mulut semua orang. Tidak adanya bayangan restu orang tua tentu saja menjadi polemik menakutkan bagi pasangan yang telah menikah. Hari ini, dengan bangga Gustin menyatakan bahwa dirinya telah memenangkan hati Olivia, sekaligus keluarga wanita itu.
Yona dan Regan berpamitan untuk segera pulang ke rumah karena malam semakin larut.
“Terimakasih, Regan, Yona,” ucap Gustin Justavo menepuk pelan bahu Regan.
“Kamu harus membayarnya di meja operasi,” jawab Regan membuat Gustin Justavo terkekeh.
“Tidak, jangan Gustin Justavo. Kita cari saja dokter lain,” ucap Yona dengan nada penuh kekhawatiran.
Semua orang menoleh menatap Yona dengan kening saling bertautan. “Kenapa memangnya? Dokter Gustin kan sudah terkenal sebagai ahli bedah terbaik di Asia,” jawab Bella bangga akan prestasi Gustin—menantunya.
Yona merangkul lengan Regan. “Nanti kalau kamu disuntik mati seperti Olivia bagaimana?” tanya Yona dengan polosnya membuat semua orang di sana tertawa.
“Yona, memangnya aku suka pisang?” kekeh Gustin Justavo membela dirinya.
Dia bukan psikopat yang akan membahayakan semua pasiennya. Hanya dengan Olivia saja Gustin sampai senekat itu demi mendapatkan wanita yang telah membuat hatinya berdesir setiap saat kulit mereka bersentuhan.
Masa lalu yang dia habiskan menemani Olivia di dalam ruang perawatan, waktu yang terlalu banyak mereka habiskan berdua membuat dirinya menjadi egois untuk memiliki Olivia seorang diri.
“Siapa tahu kamu punya adik perempuan terus adikmu jatuh cinta sama Regan,” tuduh Yona memicingkan matanya.
“Dia anak tunggal, Yona,” jawab Olivia terkekeh geli. Tidak menyangka jika Yona akan memikirkan hal-hal buruk seperti itu saking cintanya Yona kepada Regan
Regan menatap Yona, manautkan kedua alisnya. “Sebentar, kamu takut kehilangan aku, ya?” tanya Regan menyipitkan matanya.
Mata Yona membulat, wajahnya mendadak pias dengan pertanyaan yang Regan berikan kepada dirinya.
“Hah, enggak!” Yona memalingkan wajahnya, menyembunyikan semburat merah yang kini hadir di pipinya.
--------------
__ADS_1
JANGAN LUPA, CEK NOVEL-NOVEL AUTHOR YANG SELANJUTNYA YA GAESSSS 🙏🙏🙏
DITUNGGU LIKE, KOMEN, DAN JUGA VOTE KALIAN UNTUK MENDUKUNG NOVEL INI TETAP BERJAYA.